Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Deal or no deal?



"Vin, bangun. Gue pinjem hp lo bentar." Kata Dave membangunkan saudara kembarnya yang masih tidur pulas padahal ini sudah jam 9 pagi.


"Huh? Apaan? Buat apa?" Sahut Davin masih dengan mata tertutup.


"Gu.....gue mau kirim pesan tapi hp gue mati dan sekarang lagi di charge. Urgent ini urgent makanya pinjem hp lo bentar." Kata Dave beralasan.


"Nih." Davin memberikan hpnya pada Dave lalu kembali tidur dan Dave meraih hp tersebut dengan cepat lalu membawanya pergi kekamarnya sendiri.


Dave mengunci pintu kamarnya dan mulai mencari rekaman video saat Zea menyanyi tadi malam. Pria itu terlalu gengsi untuk mengambil rekaman sendiri atau meminta secara langsung pada Davin. Setelah mendapatkan rekaman tersebut dan mengirimnya Dave buru-buru mengembalikan hp milik saudara kembarnya.


"Nih hp lo. Lo gak siap-siap? Gak jadi emang rencana tadi malam?" Tanya Dave berdiri disamping ranjang kakaknya.


"Sekarang udah jam berapa sih emang?" Tanya Davin malas dan masih enggan membuka matanya.


"5 menit lagi jam 10." Sahut Dave lalu pergi meninggalkan Davin yang langsung duduk dan membuka matanya secara paksa.


"Kenapa gak ngomong daritadi!" Kata Davin meraih hp nya dan melihat jam yang ternyata baru jam 9 lewat 5 menit.


"Sial*n tuh anak!" Umpat Davin kesal karena matanya masih benar-benar sangat mengantuk akibat begadang tadi malam. Dan akhirnya karena sudah terlanjur bangun, dengan langkah berat Davin turun dari tempat ridur lalu masuk kekamar mandi.


Sedangkan si adik yang bernama Dave malah asik menonton video Zea, didalam kamarnya dengan senyum mempesona khas Dave.


***


Davin yang kini sudah siap pergi langsung meraih kunci mobilnya dan setelah berpamitan pada Dara, ia menuju tempat parkir.


Tint.....Tint....Tint....Suara klakson mengagetkan Davin. Dave sudah duduk manis didalam mobilnya menunggu Davin.


"Mau kemana lo?" Tanya Davin tidak jadi masuk kedalam mobilnya.


"Gue bosen dirumah, buruan masuk." Jawabnya singkat seperti biasa. Davin menghela nafas panjang lalu masuk kedalam mobil adiknya.


"Lo bilang gak mau ikutan." Tanya Davin memulai obrolan.


"Kan tadi gue udah bilang, gue bosen astaga. Ya udah gue balik aja kalo gitu." Sahut Dave mulai membuat lawan bicaranya kesal.


"Halah, gaya lo pake acara ngambek kek cewek." Jawab Davin membuat laju mobil yang dikendarai Dave melambat.


"Ya udah puter balik atau lo turun disini aja terus naik taksi kerumah daddy." Sahut Dave mengancam, membuat Davin tidak punya pilihan.


"Heh! Ade kurang a*ar!" Umpat Davin yang akhirnya benar-benar kesal dengan tingkah laku Dave.


"Ade-ade! kita seumuran berhenti bersikap lo lebih tua dari gue." Sahut Dave cuek, dari sini terbukti walaupun kembar bukan berarti bisa selalu akur tanpa ada masalah.


"Heh! Terima gak terima, suka atau gak. Kenyataannya gue emang abang lo, gue lebih tua dari lo!" Bantah Davin penuh penekanan membuat Dave terkekeh.


"Entar dikampus jangan sampai ada tau kalo kita sodara. Kita emang kembar, tapi muka kita jelas beda. Inget itu baik-baik." Ucap Dave bicara santai.


"Bangke! Makin lama makin ngeselin lho, sumpah. Lo kira aib sodaraan sama gue jadi harus ditutupi segala. Sia*an emang lo!" Sahut Davin yang akhirnya tidak bisa lagi menahan emosi menghadapi Dave yang selalu bicara semaunya sendiri.


***


Sesampainya dirumah El, terlihat mobil berwarna merah sudah terparkir disana dan mobil tersebut tidak lain adalah mobil milik Tian yang lebih dulu berada disana.


Setelah memarkir mobil Dave dan Davin langsung masuk kerumah orangtua angkat mereka tersebut.


"Pagi mommy." Sapa kedua pria tampan itu pada Luna yang sedang asik menyirami bunga ditaman kesayangannya.


"Pagi Davin, pagi Dave. Si Zea masih sarapan tuh sama Tian, kalian sarapan juga sana." Kata Luna tersenyum. Mendengar hal itu Dave langsung berlalu menuju ruang makan dan benar saja, disana Tian sedang asik mengobrol dengan Zea sambil menikmati sarapan mereka dan hanya berdua.


"Nih orang dirumah om Rendy gak dikasih makan pasti." Celetuk Dave dengan nada sinis melihat Tian yang terlihat sudah sangat akrab dengan Zea.


"Lo kenapa sewot banget sama Tian? Tian punya hutang sama lo?" Tanya Davin sambil berlalu menuju meja makan.


"Lo juga kenapa sewot banget coba sama gue? Suka-suka gue mau ngomong apaan." Sahut Dave ikut menyusul Davin yang kini sudah hergabung bersama Zea dan Tian.


"Hai Dave, sarapan dulu yuk." Sapa Tian saat Dave duduk disebelah Davin.


"Udah tadi dirumah." Jawab Dave singkat tanpa menunjukan ekspresi ramah.


"Ngapain nawarin dia? dia itu gak suka apa-apa. Ngomong baik dan ramahpun dia gak suka." Kata Zea cuek membuat Dave melihat kearahnya seperti sepasang mata elang.


"Oh gitu, ya udah sorry." Jawab Tian kembali melanjutkan sarapannya.


"Kita udah sarapan kok dirumah." Sahut Davin tersenyum sambil menuang juice mangga kedalam gelasnya.


"Kata siapa? gue belum dan gue lapar." Kata Dave yang langsung mengambil nasi goreng kedalam piringnya dengam wajah cuek tidak perduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya.


***


Setelah selesai dengan drama sarapan pagi, mereka berempat berpamitan dan langsung pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Disepanjang jalan pun Dave memasang wajah masam karena Zea memilih ikut mobil Tian ketimbang mobilnya.


Sesampainya di mall, Tian dan Zea langsung masuk begitu juga dengan Davin dan Dave. Mereka mulai memasuki toko-toko yang menjual perlengkapan anak dan bayi.


"Tian sama gue beli pakaian, Zea sama Dave beli makanan dan susu. Entar kita ketemu lagi disini, oke." Kata Davin membagi tugas agar pekerjaan lebih cepat selesai.


"Abang...... Aku sama abang aja." Teriak Zea langsung memprotes keputusan Davin.


"Abang mau bahas sesuatu juga sama Tian, Ada sedikit bisnis kecil." Sahut Davin tersenyum kearah Zea yang memasang wajah mengiba.


"Tian.......Sama aku aja ya." Rengek Zea menggantungi lengan baju Tian seperti seorang bocah meminta permen.


"Ta.....Tapi, bener deh apa kata Davin. Kita lagi ada yang mau dibahas." Sahut Tian tersenyum menyesal karena menolak Zea dan tentu itu membuat Zea berwajah masam.


"Gue sendiri aja!" Sahut Dave yang langsung berjalan sendirian tidak perduli.


Dave menoleh ketika ingin menaiki lift, gadis itu sengaja memperlambat langkahnya membuat Dave mengela nafas panjang. Ia bersandar sambil menunggu Zea yang uring-uringan.


"Lo bisa cepat dikit gak jadi cewek? Langkah aja pake acara dihitung makanya lama." Celetuk Dave saat Zea berdiri didekatnya.


"Udah deh gak usah bikin rusuh!" Sahut Zea kesal. Tidak lama pintu lift terbuka, Zea masuk lebih dulu baru disusul oleh Dave dan beberapa orang pria. Si*lnya hanya Zea satu-satunya wanita didalam lift tersebut membuatnya sedikit merasa risih.


"Ehheemmmm." Kata seorang pria berdeham sambil melihat kearah Zea dengan tatapan nakal. Sadar akan hal itu Zea mengalahkan egonya dan langsung mendekati Dave yang awalnya berdiri jauh darinya. Sedangkan Dave hanya diam sambil bersandar dan melipat kedua tangannya didepan dada.


"Hai manis." Kata pria tadi ikut mendekati Zea, sebenarnya sangat mudah untuk Zea memberi pelajaran pada pria yang menurutnya genit tersebut namun akan terlihat aneh jika tiba-tiba ia menghajar pria tersebut hanya karena pria itu menyapanya.


Dave menurunkan kedua tangannya dan tanpa diduga ia menarik Zea kesudut ruangan lift tersebut.


"Dia cewek gue." Ucap Dave tegas dengan raut wajah tajam membuat pria tadi langsung menjauh. Tidak lama pintu lift terbuka, semua orang keluar dari sana termasuk Dave namun Zea malah masih berdiri diam didalam sana sambil memandangi punggung pria yang baru saja menyebutnya seorang pacar. Masih terngiang ditelinganya saat Dave mengatakan hal tersebut.


"Tuh cewek maunya apa sih? Mau turun atau naik lagi heran gue." Celetuk Dave lihat kearah Zea. Dave kembali mengahampiri Zea sebelum pintu lift tertutup kembali.


"Masih mau naik lagi?" Tanya Dave menyadarkan Zea. Zea terpekik dan langsung mengambil kesadarannya lalu segera keluar dari dalam sana.


"Dih, bingungin." Sambung Dave melihat Zea yang malah berjalan lebih dulu didepannya.


Mereka berdua memasuki sebuah toko khusus yang menjual makanan dan susu untuk bayi dan anak-anak. Dave mendorong stroler belanjaan sedangkan Zea mulai memilih-milih produk yang akan dibeli.


"Cari yang untuk umur berapa dan sampai berapa sih?" Tanya Dave bingung saat melihat Zea yang begitu teliti dalam hal memilih suatu barang.


"Kalo susu untuk 0 bulan sampai 1 tahun, setelah itu tinggal cari susu lanjutan. Sama kek bubur, tapi kalo bubur dari usia 6 bulan." Jawab Zea tetap fokus pada barang yang ada ditangannya.


"Emang gak ada bubur buat 0 bulan? Terus bayi 0 bulan makan apa?" Tanya Dave lagi yang ikut memilih produk susu.


"Haduh, gitu doang kamu gak tau? Bayi usia 0 bulan itu belum boleh makan karena sistem pencernaan yang belum sempurna. Makanan yang paling tepat untuk bayi 0-6 bulan yaitu ASI. Setelah itu baru bisa dilanjutkan ke MP ASI atau lebih tepatnya makanan pendamping ASI." Kata Zea me jelaskan pada Dave membuat pria itu mengangguk mengerti dengan penjelas yang diberikan oleh Zea.


"Wah, kalian orangtua yang cerdas walaupun terbilang masih sangat muda." Tegur seorang wanita yang sedang menggendong bayi kecilnya.


"Hah? Maksudnya tante?" Tanya Zea kaget dengan pernyataan dari wanita tadi.


"Biarpun kalian orangtua yang masih sangat muda tapi kalian kompak dan memiliki pemikiran yang cerdas. Jarang ada orangtua seusia kalian yang punya pemikiran begitu, anaknya gak dibawa?" Ucap wanita tadi membuat Zea dan Dave speecless tidak bisa berkata-kata karena mereka dikira sepasang suami istri.


"Ki......kita bukan orangtua tante, maaf. Saya bahkan masih kuliah." Ucap Zea langsung memberi penjelasan pada wanita tersebut.


"Kita sepupuan tante." Sahut Dave ikut membela diri.


"Oh maaf, saya kira kalian itu pasangan suami istri muda." Kata wanita tadi tertawa membuat Zea dan Dave juga terpaksa ikut tertawa padahal mereka berdua sama-sama merasa canggung.


"Hai ade ganteng, lucu banget sih ya ampun. Namanya siapa?" Tanya Zea mengalihkan pembicaraan dan mencoba mencairkan suasana yang terasa kikuk antara dirinya dan Dave.


"Iya kak, nama aku Kiano." Sahut wanita tadi memperkenalkan anak yang ada didalam gendongannya.


"Hai Kiano salam kenal." Sahut Zea tersenyum manis.


"Maaf ya sekali lagi, tante kira kalian suami istri soalnya cocok banget sih." Wanita tadi kembali berucap membuat Dave dan Zea kembali terlihat salah tingkah.


"Heee......Ng....gak apa tante." Sahut Dave membuka suara.


"Ya udah kalo gitu Kiano pamit ya kakak-kakak, mau belanja dulu sama bunda."


"Bye Kiano." Balas Zea melambaikan tangannya dan mereka berdua kembali melanjutkan pemburuan makanan bayi serta susu namun lebih menjaga jarak.


***


"Jadi niatnya gue mau mulai bisnis kecil gitu, lo kan ahli dibidang photography nah Zea cita-cita jadi model. Gimana kalo kita buka bisnis endorse tapi untuk sekitaran kampus aja." Kata Davin bicara pada Tian sambil berbelanja.


"Endorse? Emang laku kalo cuma sekitaran kampus?" Tanya Tian mulai tertarik.


"Ya kita coba aja, kan banyak tuh yang sekarang lagi bisnis online dari dagang baju, kometik, dan makanan. Nah kita bisa tawarin jasa kita ke mereka."


"Bagus sih ide lo. Terus yang lain udah pada tau? Dan lo udah izin sama orangtua lo?"


"Belum, makanya gue tanya lo dulu selaku photographer bersedia gak? Kalo Zea pasti oke lah dia tinggal izin sama para orangtua aja."


"Dave gak ikutan?"


"Dave mana tertarik sama hal begitu. Dave itu dari kecil anaknya cuek, dingin, ketus, judes, jutek, ngomong semaunyandan seperlunya."


"Ya kali aja dia tertarik."


"Entar deh kalo kekurangan orang gue coba ajak dia." Mereka berdua kembali melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti.


Sementara itu Dave dan Zea sudah selesai berbelanja makanan dan susu. Dave membawa banyak tas belanjaan begitu juga dengan Zea. Langkah Zea terhenti saat melihat sebuah mesin permainan mengambil boneka. Dengan cepat gadis itu berlari menghampiri mesin permainan tersebut.


"Ngapain? Tangan gue udah penuh gini, jangan bilang lo mau main ini." Ucap Dave yang sudah tau jalan pikiran Zea.


"Kenapa? Suka-suka aku dong. Lagian kamu mana ngerti main begini." Sahut Zea ketus. Dave meletakan semua tas belanjaan lalu pergi membeli banyak koin.


"Ayo taruhan 9 koin untuk 1 bonaka. 9 koin untuk 3 kali kesempatan. Kalah harus jadi followers setia selama 3 hari." Tantang Dave sambil memamerkan koin di tangannya.


"Berapa/berapa koin?" Tanya Zea tertarik dengan tantangan tersebut karena Zea memang menyukai tantangan.


"Gue punya 18 koin. 9 buat lo dan 9 buat gue. Deal?" Tanya Dave menyunggingkan senyum disudut bibirnya. Zea mengambil koin tersebut dengan percaya diri tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Deal." Jawab Zea pasti dan yakin.


Bersambung