Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Kamu adalah Singaku, Kamu adalah Elangku



El masih betah diam di dalam ruangan operasi menemani ayahnya. Ia terus menceritakan semua kisah kehidupannya setelah memutuskan pergi dari rumah. Tidak lama pak Wira masuk bersama Luna, Pak Wira sendiri adalah orang kepercayaan pak Bram yang bekerja dengannya sejak El belum lahir hingga sekarang.


Luna mendekati El yang menggenggam kuat tangan pak Bram, Ia pun merasakan kesedihan yang teramat dalam atas kepergian ayah mertuanya. Begitu juga dengan pak Wira. Ia mendekati El dan menyentuh bahu El turut berduka cita atas meninggalnya ayah kandung El.


"Pak Bram adalah pria yang baik, Bahkan sangat baik. Dia bukan orang jahat seperti yang di tuduhkan orang-orang. Bahkan dia sama sekali tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan." Ucap pak Wira memandangi wajah pak Bram bos sekaligus sahabatnya itu. Mendengar hal itu El dan Luna melihat kearah pak Wira dengan bersamaan.


"Maksud om Wira?" Tanya El mulai bingung. Pak Wira menarik nafas dalam lalu ia menceritakan kejadian puluhan tahun lalu saat malam kejadian terjadi kecelakaan yang di alami pak Dewa dan menyebabkan ibu Mentari tewas.


"Dulu pak Bram dan Dewa memiliki hubungan yang sangat baik, Kami bertiga bersahabat. Bisnis yang di bangun dan dipimpin oleh pak Bram berkembang pesat. Banyak yang iri dan ingin menjatuhkan nya saat itu namun karena ayah mu seorang petarung yang kuat hingga tidak mudah menjatuhkan nya. Hingga malam itu tiba, Dua hari sebelum terjadi kecelakaan pada Dewa. Tidak ada yang menyangka dan mengira jika ternyata Dewa berkhianat. Ia mencoba menjatuhkan pak Bram dan membuat pak Bram mengalami kerugian besar. Pak Bram tau hal itu dan menanyakan apa alasan nya berbuat seperti itu mengingat hubungan yang mereka bangun sejak masih sangat muda hingga mereka memiliki keluarga. Namun Dewa bersikeras tidak ingin menjelaskan semua pada pak Bram hingga terjadi pertengkaran dan membuat hubungan mereka sebagai sahabat berakhir malam itu.


Namun pak Bram selalu yakin jika Dewa masih sahabatnya yang dulu dan tidak akan mengkhianati nya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Pak Bram mencari tau semua hal yang dianggap nya tidak masuk akal, Hingga ia tau alasan dibalik pengkhianatan itu adalah aaat itu kamu (Melihat ke arah Luna) Di diagnosa oleh Dokter mengidap kanker darah. Tentu itu memerlukan biaya yang tidak sedikit dan saat itu bisnis ayah kamu sedang mengalami kemerosotan. Ia tidak ingin meminta bantuan pada pak Bram karena pak Bram selalu membantunya hingga ia merasa malu jika terus menerus meminta bantuan pada pak Bram. Hingga ada seseorang yang menawarinya sejumlah uang yang nilainya tidak sedikit tapi dengan satu syarat Dewa harus melakukan apapun yang ia perintahkan. Karena terdesak oleh biaya pengobatan yang mengharuskan kamu untuk menjalankan operasi besar Dewa langsung menyetujui nya tanpa bertanya lebih dulu apa yang harus dilakukan untuk menebus semua itu.


Hingga pada akhirnya si pemberi dana meminta Dewa untuk mengambil beberapa aset penting milik pak Bram dan menyerahkan nya pada orang tersebut. Saat itu juga Dewa mengalami dilema besar, Ia benar-benar tidak ingin mengkhianati sahabatnya sendiri tapi ini semua menyangkut hidup dan mati kamu. Dan akhirnya Dewa bersedia melakukan hal itu.


Tanpa sepengetahuan pak Bram, Dewa menjalankan semua itu.


Dan hingga malam itu tiba, Malam ulang tahun kamu (Melihat El) sekaligus malam meninggalnya Mentari ibu kamu (Melihat Luna)."


Luna benar-benar shock dengan apa yang ia dengar, Ia tidak percaya jika ayahnya lah yang bersalah pada pak Bram. Semua sangat sulit dipercaya oleh Luna dan begitu juga El yang masih belum mengerti dengan semua yang baru ia dengar.


"Malam itu, Dewa berniat menyerahkan aset milik pak Bram yang ia ambil secara diam-diam pada seseorang yang sampai sekarang kami tidak mengetahui siapa orang tersebut. Dewa membawa kamu dan istrinya dalam mobil itu, Pak Bram yang tau semua alasan dibalik perbuatan Dewa mengejarnya. Ia tidak marah apa lagi berniat menyakiti, Pak Bram malah ingin memberikan bantuan pada Dewa. Namun takdir berkata lain, Karena merasa dikejar-kejar oleh pak Bram Dewa melajukan mobilnya sangat cepat hingga ia kehilangan kendali dan akhirnya kecelakaan itu tidak dapat di hindari. Pak Bram yang menyaksikan hal itu benar-benar shock, Ia ingin segera turun dan menolong Dewa tapi dari arah berlawanan sebuah mobil hitam mengawasi mereka. Jika pak Bram turun dan membantu Dewa saat itu juga kemungkinan terbesar Dewa dan seluruh anggota keluarganya tidak akan selamat karena ia pasti akan membuka mulut tentang penyalur dana. Itu sebabnya pak Bram memilih untuk mengabaikan Dewa."


Mendengar hal itu Luna terduduk lemah dilantai, Kenapa takdir bisa sejahat ini memperlakukan nya? Dunia apa ini? Tempat apa yang ia tinggali? Semua terasa sulit dan sangat sulit untuk diterima.


"Kamu tau betapa sakit hati pak Bram saat itu terlebih saat ia melihat kamu dan saat bersamaan kamu juga sedang menatap kearahnya. Pak Bram berusaha seolah-olah bahwa ia senang melihat Dewa mengalami kecelakaan dan segera meninggalkan tempat itu berlaku cuek dan tidak perduli. Padahal hatinya terasa hancur, Ia juga langsung menelepon ambulan lalu mengurus semuanya termasuk membawa Dewa sekelurga ke Rumah Sakit terbaik yang ada di Singapura. Namun sayang ibu kamu, Mentari tidak dapat diselamatkan karena mengalami luka yang sangat serius.


Dan saat itu juga kamu menjalani operasi, Akibat dari kecelakaan itu ayah kamu Dewa mengalami kerusakan pada kedua ginjalnya dan pak Bram juga yang mendonorkan satu ginjal miliknya pada Dewa.


Dua hari pak Bram berada di Singapura, Hingga ia tidak tau jika seseorang datang ke rumah nya dan hal paling buruk terjadi, Mereka membunuh ibu kamu (Ibu El). Mendengar hal itu pak Bram langsung pulang ia benar-benar hancur saat itu karena kematian istrinya. Saat ia tau siapa pembunuh istrinya, Pak Bram langsung melakukan hal yang sama dan sebulan kemudian ia tau bahwa yang ia bunuh bukanlah dalang dari semua itu melainkan seorang pembunuh bayaran yang disewa oleh seseorang."


Tangisan El dan Luna benar-benar pecah, Kenapa baru sekarang mereka tau kenyataan nya? Kenapa pak Bram membiarkan El hidup dalam kebencian padanya. Sungguh El merasa sangat durhaka pada ayah kandungnya.


"Kenapa pa? Kenapa papa gak bilang semua dari awal? Kenapa papa biarkan sepanjang hidup El membenci papa? Kenapa pa? Kenapa?" Ucap El benar-benar merasa lebih menyesal.


"Pak Bram memang sengaja membiarkan kamu pergi dari rumah. Karena ia tau pembunuh istrinya masih berkeliaran di luar sana tentu itu juga sangat membahayakan nyawa kamu jika kamu tetap berada di sisi pak Bram. Walaupun ia membiarkan kamu tinggal di panti asuhan lantas ia tidak langsung begitu saja melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ayah pada anaknya. Dia lah pemasok dana terbesar di panti asuhan yang kamu tinggali saat itu, Setiap minggu ia datang secara diam-diam untuk memastikan keadaan kamu. Dan saat keluarga Wirayudha mengadopsi kamu, Kepala panti meminta izin dari pak Bram lebih dulu.


Ia merasa gagal menjadi seorang ayah dan orangtua, Ia tidak bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk kamu maka pak Bram menyetujui nya dan rela nama Leondra di ganti dengan nama Wirayudha." Tambah pak Wira menceritakan semua kenyataan pahit yang harus diterima oleh El dan Luna. Luna berdiri memandangi wajah pucat pak Bram.


"Maafin Luna karena ini semua salah Luna dan ayah Luna. Maafin Luna atas semua yang terjadi, Maafin Luna. Terimakasih karena sudah memberikan Luna kesempatan untuk hidup hingga sekarang, Papa bukan hanya orangtua yang baik tapi papa seorang malaikat." Ucap Luna menangis sesegukan sambil menggenggam tangan pak Bram. Sedangkan El kini hanya bisa meratapi diri. Rasa penyesalan pun tidak bisa lagi mewakili perasaan nya saat ini.


"Pak Bram menulis surat ini untuk kalian juga cucunya. Semenjak kelahiran Zea, Setiap malam ia menulis selembar surat yang nantinya akan ia berikan setiap satu tahun usia Zea bertambah. Ia selalu membayangkan bisa bermain bersama Zea dalam waktu yang sangat lama bahkan ia ingin melihat Zea menikah." Tambah pak Wira menyerahkan amplop besar berwarna cokelat yang berisi beberapa lembar surat. El menerima amplop cokelat itu namun tidak langsung membacanya. Ia masih sangat terpukul dengan semua hal yang baru saja ia dengar dari pak Wira.


"Dewa juga sebenarnya tau siapa kamu." Tambah pak Wira bicara pada El. El makin bingung dengan semua kenyataan yang harus ia terima dan hadapi.


"Maksud om?" Ucap El.


"Dewa mengetahui identitas kamu sebagai anak dari pak Bram. Itu sebabnya saat di akhir hayatnya kamu lah orang yang dipilih untuk menikahi Luna." Mendengar hal itu betapa terkejutnya Luna dan El. Saat ini mereka benar-benar tidak bisa berpikir lebih banyak lagi.


"Pak Bram juga sudah menulis surat wasiat yang isinya menyerahkan semua harta kekayaan nya untuk Zea. Dan menyerahkan geng yang ia buat dan ia pimpim selama ini pada kamu El, Keputusan ada di tangan kamu. Pak Bram tidak memaksa kamu untuk menjadi seperti dia ingin kamu bubarkan atau kamu lanjutkan itu hak kamu sekarang." Mendengar hal itu hati El remuk redam, Pak Bram bahkan sudah menyiapkan semua itu seolah tau jika umurnya tidak lama lagi.


"Percayalah El, Dia adalah ayah terbaik yang pernah ada. Dia sangat menyayangi kamu lebih dari apapun bahkan nyawanya sendiri." Sambung pak Wira mengusap pundak El lalu keluar dari ruangan itu untuk mengurus pemakaman.


Kini tinggal El dan Luna di dalam sana yang benar-benar merasa sangat hancur. Kesedihan dan kepedihan yang mereka rasakan sama kuatnya, Bahkan Luna menyalahkan dirinya atas semua kejadian yang menimpa pak Bram.


Tidak lama Daniel, Ken dan Rendy masuk kesana. Mereka turut berduka cita dan ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh El.


"El, Lo kuat kita semua tau lo pasti kuat. Bahkan disaat terakhirnya om Bram percaya kalo lo bisa bertahan sampai akhir. Lo kuat karena lo adalah singa sama seperti om Bram." Ucap Daniel menenangkan El, Ia tau El sangat terpukul namun ia tidak ingin El terpuruk.


"Dia papa gue Dan, Dia.....Dia bahkan gak ngasih kesempatan untuk gue menjadi seorang anak. Gue anak durhaka Dan, Gue anak gak tau diri." Tangis El makin pecah dikala sahabatnya itu datang.


"Lo bukan anak durhaka, Lo gak tau apa-apa. Itu semua jalan yang memang sudah dipilih oleh om Bram dan dia tau resikonya. Sekarang lo bediri, Lo bangkit dan segera urus pemakaman om Bram karena lo satu-satunya anak om Bram." El berdiri ia menatap diam wajah pak Bram sebelum menyelesaikan tugas akhirnya sebagai seorang anak laki-laki.


"Mulai sekarang, Akan El ceritakan setiap hari pada Zea betapa hebat bigbos nya. Mulai sekarang El akan terus ceritakan pada Zea betapa baik bigbos nya dan sampai nanti saat ia dewasa dia yang akan meneruskan semua milik bigbos nya." Ucap El, Lalu ia membawa Luna untuk keluar dari ruangan itu dan segera mengurus pemakaman pak Bram.


***Aku gontai oleh hujan airmata


Tenggelam dalam kebisuan


Terkepung sunyi yang kau hadirkan


Kau gandakan luka bersama kepergian mu


Hati ku serasa ikut mati melihat tubuh mu teruntai lemas, Mulut mu membisu, Mata mu tak lagi mampu melihatku Nafas mu pun ikut terhenti serentak bersama detak jantungmu.


Sungguh, Betapa waktu ingin ku ulang


Saat kita berjalan dengan langkah yang sama


Saat kita tertawa bahagia


Saat aku menangis dan kau memanja


Kuat......Aku harus kuat karena kau akan segera bertemu dengan bidadari yang sudah lama menanti mu di surga.


"Elang Leondra***"


Pemakaman pun selesai, Keinginan pak Bram memiliki makam tepat disamping makam istrinya yang lebih dulu pergi meninggalkan nya dan El.


Mereka semua kini sudah berada dirumah termasuk El dan Luna. Setelah acara tahlilan selesai El membuka amplop yang diberikan oleh pak Bram untuknya dan juga Zea. Terlihat itu semua adalah tulisan tangan pak Bram sendiri. El mulai membaca isi surat yang ditujukan untuknya.


***Kamu adalah singa kecilku yang suatu saat akan menjadi penguasa yang hebat dan kuat, Kamu juga Elangku yang selalu terbang dengan gagah dan tangguh. Terasa aneh setelah sekian tahun kita tidak saling bicara dan tiba\-tiba kamu membaca surat yang papa tulis untuk kamu. Saat surat ini kamu baca, Maka itu artinya papa sudah tidak lagi ada. Percayalah papa pergi dengan rasa bahagia karena akan bertemu dengan bidadari kita siapa lagi kalau bukan mama. Dan saat bertemu mama, Akan papa ceritakan semua hal tentang kamu, Tentang hidupmu, Tentang istri mu dan tentang malaikat kecil mu. Kamu pasti tau bagaimana bahagianya mama saat mendengar itu semua.


El, Maafin papa selama ini papa selalu bersembunyi dan melupakan tugas sebagai seorang ayah. Jangan pernah marah pada takdir apalagi diri sendiri karena Tuhan lebih tau mana yang terbaik untuk hamba-NYA......


Melihatmu tumbuh menjadi pria yang sempurna membuat papa merasa malu pada diri sendiri. Tuhan begitu baik hingga IA kirimkan orangtua yang sangat baik untuk kamu.


El tetaplah menjadi pria sempurna untuk istri kamu dan ayah terbaik untuk Zea***.


Membaca surat itu membuat El kembali meneteskan air mata nya. Tidak pernah ia sangka jika pak Bram selama ini sangat menyayanginya. Pria yang sangat ia benci, Pria yang bahkan tidak ia anggap sebagai seorang ayah. Bagaimana bisa El harus menjalani semua ini? Rasa penyesalan kian membesar begitu juga dengan rasa bersalahnya. Kenapa dunia harus sekejam ini padanya? Tidak bisakah ia seperti orang lain yang merasakan bahagia tanpa akhir? Luna menghampiri El lalu duduk disamping suaminya lalu memeluk El yang sangat rapuh.


"Istirahatlah, Ini sudah malam. Mama dan papa tidak akan suka saat melihat abang lemah seperti ini. Kuatlah karena abang seorang singa, Singa seperti papa." Ucap Luna menenangkan El sambil mengusap lembut rambut El.


Bersambung......