Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Bangunlah, Jangan membuatku lama menunggu



Saat ini El sedang menunggu Luna didalam ruangannya. Zea juga sudah dibawa pulang oleh Dara kerumahnya.


"Sayang...." Ucap El pelan sambil mengusap lembut pucuk kepala Luna yang masih belum juga sadar.


"Sayang..."Panggilnya lagi terdengar lirih.


"Sayang...." Katanya mengulang lagi.


"Apa kamu lelah? Apa kamu sedang beristirahat? Abang disini, Akan tetap disini sampai kamu bangun sampai kamu tersenyum seperti biasanya. Abang mohon, Bangun cepat bangun." Kata El yang akhirnya menumpahkan semua airmatanya yang sudah terlalu lama ia tahan dan ia simpan.


"Kamu ialah tempat bagi segala rinduku berpulang, Juga tempat bagi kesedihanku mememukan pelukan paling nyaman dan menenangkan. Aku mohon peluk aku sekarang."


Waktu terus berlalu namun pria itu masih duduk setia disana menemani separuh jiwanya yang masih tertidur belum juga membuka matanya. Walau terus bicara seorang diri, Ia tidak pernah lelah dan bosan.


***


Hal yang sama pun dilakukan Eriska, Saat ini ia sedang duduk diam tanpa mengatakan hal apapun sambil menunggu Kenan. Ia hanya duduk diam sejak tadi menatap wajah pucat Kenan.


"Maaf...." Ucapnya pelan sambil menundukan wajahnya, Menyembunyikan matanya yang mulai berkaca menahan tangis.


"Hai...." Mendengar suara itu Eriska langsung mengangkat wajahnya dengan cepat melihat kearah Ken yang baru saja sadar.


"Kamu udah sadar? Tunggu sebentar aku panggilin dokter." Belum lagi sempar Eriska berdiri tangan Ken menahannya.


"Aku buka mataku bukan untuk melihat Dokter, Tapi melihat kamu. Tetap disini, Hanya kita berdua." Kata Ken pelan dengan tatapan sayu. Eriska lalu kembali duduk sesuai permintaan Kenan.


"Masih sakit?" Tanya Eriska melihat kearah luka tembak di bahu Kenan.


"Sedikit, Ternyata biarpun tua dia adalah penembak yang jitu." Jawab Kenan tertawa pelan sambil menahan sakit.


"Kamu masih bisa bercanda dalam keadaan begini?" Protes Eriska kesal.


"Aku gak becanda serius, Aku pikir pelurunya bakal melesat paling parah gores doang. Ternyata pelurunya masuk, Si El gak sekalian aja sih ngabisin tuh orang." Jawab Kenan membuat Eriska diam.


"Kamu daritadi disini?" Tanya Ken lagi, Eriska mengangguk menjawab pertanyaan dari Ken.


"Setelah tau kamu ada disini, Aku langsung kesini." Sahut Eriska menundukan pandangannya yang jelas sekali terlihat jika ia sedang mengkhawatirkan Kenan. Mendengar hal itu Kenan berusaha menahan senyum bahagianya.


"Kenapa?" Tanya Kenan lagi


"Kenapa apanya?" Jawab Eriska mulai bingung dengan ucapan Kenan.


"Kenapa kamu langsung kesini? Kamu khawatir?" Ucap Kenan membuat Eriska bertambah kesal.


"Kamu temenku wajar aku khawatir." Sahut Eriska singkat tidak ingin membahas hal itu.


"Dan kamu rela nunggu temen kamu dari tadi siang sampai jam segini?" Tambah Kenan yang terus menerus membuat Eriska merasa kesal dengan semua ucapannya.


"Ya udah aku pulang!" Kata Eriska berdiri namun Kenan buru-buru menarik tangan Eriska hingga Eriska terjatuh menimpa tubuh Kenan.


"Sorry aku gak sengaja." Kata Eriska buru-buru ingin menjauh dari tubuh Kenan takut Kenan kesakitan tapi pria itu malah menahan Eriska dalam pelukannya.


"Tetap begini, Sebentar saja." Ucap Ken mendadak serius membuat jantung Eriska serasa 10 kali berdetak lebih kencang dari biasanya.


Mata mereka saling beradu menatap dalam satu sama lain, Kenan yakin betapa kuat perasaannya untuk Eriska dan dari tatapan Eriska ia juga yakin jika wanita itu merasakan hal yang sama dengannya. Kenan kembali mencoba mendekati bibir Eriska makin dekat dan sangat dekat. Hal yang tidak pernah di sangka oleh Kenan sebelumnya pun terjadi Eriska menutup kedua matanya seolah menanti Kenan melihat hal itu Kenan tersenyum yakin dan bibir itu kembali bertemu dengan perasaan yang terbalaskan.


Kenan melepaskan ciumannya dari bibir Eriska, Eriska memasang wajah malu saat Kenan tersenyum melihatnya.


"Aku benar kan." Katanya tersenyum melihat Eriska yang menunduk menyembunyikan wajah merahnya.


"Seseorang bilang sama aku miliki, Jalani dan nikmati rasa itu." Jawab Eriska membuat Kenan mengerucutkan dahinya.


"Siapa?" Tanya Kenan mulai penasaran.


"Seseorang. Seorang teman yang baik dan setia." Jawab Eriska tersenyum membuat Kenan makin penasaran.


"Yang jelas sekarang aku tau keputusan yang mana yang harus aku ambil." Tambah Eriska melihat kearah Kenan tersenyum dibalas oleh senyum senyum Kenan yang kini meraih tangannya dan mengecup punggung tangan Eriska.


"Perjuanganku untuk mendapatkan mu harus melalui timah panas dan meja operasi maka jangan pernah berpikir untuk meninggalaknku walau hanya sedetik waktu." Kata Kenan, Eriska tersenyum mendengar hal itu. Kata-kata sederhana yang sangat berharga untuknya, Andai tidak malu ingin rasanya ia merekam semua ucapan Kenan tadi sangking ia bahagianya saat ini.


***


Pagi pun tiba menutup hari sedih bagi yang berduka dan sebaliknya. El membuka tirai jendela ruangan yang merawat Luna. Luna sangat suka sinar matahari pagi yang terasa masih hangat dan lembut saat menyentuh kulit.


"Pagi sayang." Kata El sambil mengecup bibir, Kedua pipi dan kening Luna yang masih saja belum sadarkan diri.


"Selamat pagi pak El." Kata Dokter yang baru masuk kedalam ruangan itu, El tersenyum sembari membalas sapaan Dokter tadi.


Dokter itupun memeriksa keadaan Luna secara menyeluruh dan menyuntikan obat kedalam infus yang masih terpasang ditangan Luna.


"Ibu Luna wanita yang hebat Keinginannya untuk cepat sadar sangat kuat hingga kondisinya pasca operasi juga ikut membaik. Satu jam sekali saya akan datang memeriksa keadaan ibu Luna, Kalau begitu saya permisi dulu."


"Baik Dok, Terimakasih." Sahut El tersenyum ramah tampak seperti biasanya. Setelah Dokter keluar El buru-buru mengambil air hangat ke kamar mandi.


Pria itu mengusap lembut tangan serta wajah Luna dengan handuk yang ia basahi dengan air hangat tadi.


"Bagaimana bisa Tuhan menciptakan kamu sangat sempurna? Bahkan kamu tetap terlihat sangat cantik walaupun sedang tertidur." Kata El tersenyum melihat wajah Luna yang mulai berwarna tidak seperti kemarin yang terlihat sangat pucat.


Setelah selesai membersihkan wajah Luna ia memesan bunga untuk diletakan diruangan khusus istrinya itu. Seikat bunga mawar merah yang terdiri dari 100 tangkai memiliki makna cinta hingga akhir hayat.


"Kamu suka?" Tanya El tersenyum mengusap lembut pipi Luna.


"Daddy, Mommy upsssss sorry..." Kata Zea yang baru datang bersama Daniel, Dara, Davin dan Devan. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya takut membangunkan Luna. El tersenyum dan langsung memeluk Zea.


"Maaf ya daddy, Zea lupa kalo mommy lagi bobo." Katanya polos berbisik ditelinga El membuat El tertawa.


"Iya sayang, Zea gak ganggu kok. Sapa mommy dulu sebelum berangkat sekolah." Kata El membawa Zea mendekati ranjang Luna.


"Morning mom." Sapa Zea sambil mencium pipi Luna yang terasa hangat. Lalu Davin, Devan dan Luna ikut menghampiri Luna dan melakukan hal yang sama pada Luna.


"Gimana keadaan Luna El?" Tanya Daniel yang sudah siap dengan baju kerjanya.


"Kata Dokter semua normal, Tinggal nunggu Luna sadar dan semoga dia cepat siuman. Oh iya gimana keadaan Kenan?"


"Habis nganter anak-anak gue sama Dara mau kesana."


"Gue belum sempat kesana." Kata El melihat kearah Luna.


"Siapa?" Tanya El menaikan sebelah alisnya. Daniel hanya tersenyum menjawab rasa penasaran El.


"Ayah ayo kita kesekolah." Kata Zea menghampiri Daniel.


"Udah ngobrol sama mommy?" Tanya Daniel ketiga anak itu mengangguk bersamaan membuat para orangtua mereka tertawa.


"Daddy, Kita sekolah dulu ya." Kata Zea mencium tangan El lalu mencium kedua pipi El, Davin pun melakukan hal yang sama seperti Zea hanya Devan yang tidak mencium pipi El.


"Devan gak mau cium daddy?" Tanya El melirik kearah Devan.


"Cium tangan aja daddy." Sahutnya berdiri jauh dari El enggan mencium atau di cium.


"Jangankan sama lo, Sama gue aja gak mau kecuali sama bunda dan mommy nya." Ucap Daniel tertawa, Mendengar hal itu El dan Dara ikut tertawa.


"Ya udah gue jalan dulu lah. Kalo ada apa-apa langsung telepon gue atau Dara ya." Kata Daniel menepuk bahu El. El tersenyum sambil mengangguk.


"Kita berangkat dulu bang." Kata Dara sambil membawa anak-anaknya.


"Makasih ta Ra." Kata El tersenyum.


"Dadah daddy...." Zea, Davin dan Devan melambaikan tangan kearah El.


El beruntung memiliki dan dikelilingi oleh orang-orang baik di sekitarnya yang selalu siap membantunya kapanpun dan dimana pun mengingat zaman kini yang sangat sulit menemui orang-orang memiliki hati tulus. El kembali duduk menemani Luna sambil membacakan novel kesukaan Luna. Ia tau wanita itu mendengar suaranya, Ia tau wanita itu sedang berusaha keras untuk kembali sadar agar bisa memeluknya.


"Layaknya senja kau memancarkan indahmu, Layaknya senja kau membuatku mengucap syukur,


Layaknya senja kau membuatku berdecak kagum.


Seyakin itu aku menunggumu,


Seyakin itu aku percaya kamu sedang menatapku sambil tersenyum, Kamu sedang mendengarkanku sambil sambil bergelayut manja padaku. Cepatlah bangun, Jangan membuatku menunggu lama menahan perasaan rindu yang teramat besar dan makin membesar."


***


"Gimana keadaan lo?" Tanya Daniel yang kini sudah berada di ruang rawat Kenan bersama Dara.


"Super hero lo tanya, Gitu doang sih cuma gores aja kulit gue." Kata Kenan menyombong sambil tersenyum membuat Daniel berdecih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nyesel gue nungguin lo lama-lama disini kemaren." Sahut Daniel santai.


"Lo yang nungguin gue? Gue pikir soulmate gue. Ra, Aku udah punya pengganti kamu loh." Ucap Kenan tersenyum sambil memainkan kedua alisnya membuat Daniel serasa ingin kembali membawa pria ini keruang operasi dan membedahnya dengan tangannya sendiri.


"Siapa?" Tanya Dara penasaran.


"Babe, Kok kamu terkesan penasaran gitu sih?" Celetuk Daniel membuat dahi Dara mengerucut.


"Kan cuma tanya ay." Sahut Dara santai


"Kan gue udah sering hilang bro, Kalo gue ini mantan terindahnya istri lo." Sambar Kenan, Daniel mendekati ranjang Kenan sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Ma.....Mau a....apa lo?" Tanya Kenan terbata melihat wajah Daniel serius sedangkan Dara hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa orang itu dia?"Tanya Daniel duduk disamping ranjang Kenan padahal Kenan sudah memiringkan badannya menjauhi Daniel takut jika luka operasinya diganggu oleh ayah dari anak yang sangat membencinya yaitu Devan.


"Huh?" Tanya Kenan bingung.


"Gue udah bilang. Milik, Jalani dan nikmati rasa yang ada. Moga lo cepat sembuh, Gue musti antar istri tercinta gue pulang habis itu langsung ke kantor." Kata Daniel berdiri dari tempat duduknya sambil menepuk pundak Kenan membuat Kenan melongo sadar jika seseorang yang dimaksud oleh Eriska adalah Daniel.


"Moga cepat sehat ya, Zea udah ngerengek minta ketemu kamu." Kata Dara ikut berdiri.


"Yah entar babeku Zea sedih kalo liat aku begini. Kangen banget sama dia, Udah lama gak ketemu." Ucap Kenan merindukan gadis kecilnya itu.


"Entar gue ajak kesini, Tapi jangan pas cewek lo disini ya." Jawab Daniel tertawa.


"Oh iya El nitip salam, Dia belum bisa nengok lo karena sampai saat ini Luna belum juga sadar." Tambah Daniel lagi.


"Luna kenapa?" Tanya Kenan yang belum mendengar berita terbaru tentang Luna.


"Kemaren dia mengalami kejang dan halusinasi berlebih waktu Zea diculik. Dokter harus mengambil tindakan cepat yaitu dengan cara operasi dan kebetulan operasi kalian barengan." Kata Dara menjelaskan pada Kenan.


"Jadi saat Luna dioperasi El malah nungguin gue disini?" Tanya Kenan sedikit ingat saat El membawanya kerumah sakit ini. Daniel mengangguk pelan.


"Ya udah entar gue telepon El. Makasih ya kalian udah mampir kesini." Ucapnya, Daniel melambai lalu mereka berdua pergi.


"Harusnya lo kemaren gak perlu nungguin gue." Celetuk Kenan sambil meraih hpnya dan menelepon El.


"El gimana Luna?" Tanya Kenan saat sambungan telepon tersambung.


"Masih sama, Gue minta doanya ya semoga Luna bisa cepat sadar."


"Maaf gue gak tau kalo Luna juga operasi. Semoga Luna cepat sadar dan pulih."


"Aamiin, Lo sendiri gimana keadaan lo? Maafin gue gara-ga.....-"


"Bukan gara-gara lo. Ini gara-gara si tua bangke, Gue pikir matanya udah rabun gak bakal kena sasaran kalo nembak ternyata gue salah yang ada dia ngirim gue kerumah sakit dasar tua bangke!" Kata Kenan tertawa, Mendengar hal itu El pun ikut tertawa.


"Terimakasih untuk semuanya, Terimakasih karena lo gak apa-apa." Kata El benar-benar bersyukur.


"Tenang, Calon mantu lo ini jagoan." Katanya kembali tertawa, Andai El tidak ingat jika yang menyelamatkan nyawanya adalah Kenan mungkin ia akan menyumpahi Kenan saat ini.


"Ya udah gue mau liat anak gue dulu. Cepat sehat ya." Kata El mengakhiri obrolan karena ia akan melihat anaknya yang baru lahir. Ini hari pertama El diperbolehkan untuk melihat bayinya itu.


"Ya udah, Nitip salam buat mommy dan sayank Zea ya. Moga mommy cepat sadar." Sahut Kenan santai pura-pura tidak tau jika El kesal mendengarnya.


"Buruan matiin gak teleponnya, Mulut gue udah gak tahan ini pengen nyumpah." Mendengar hal itu Kenan tertawa nyaring dan matikan sambungan telepon.


"Gue rasa kekonyolannya bertambah." Celetuk El sambil berjalan menuju ruang inkubator.


***


Saat ini El sedang berdiri didepan kotak kaca yang di dalamnya ada bayi mungil dan lucu berjenis kel*min laki-laki itu.


"Calla, Doain mommy ya nak semoga cepat bangun dan bisa gendong Calla. Dia wanita pertama yang sangat mencintai kamu jauh sebelum dia tau dan melihat wajahmu. Dia wanita yang kuat dan hebat yang mampu bertahan hanya untuk kamu." Kata El tersenyum, Ingin sekali ia menggendong putra kecilnya yang ia beri nama Callandra Nael Leondra itu namun keadaannya belum memungkinkan. Yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah berdoa untuk kesembuhan istrinya dan bersyukur atas kelahiran anak keduanya.


Bersambung.....