
Dengan sangat kesal Daniel membuka pintu kamarnya, Nyata saja ini malam pertamanya kenapa ada saja orang yang tidak mengerti pikirnya saat itu.
"Ngapain lo disini malam-malam?" Tanya Daniel heran melihat El sudah berdiri didepan pintu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Buruan pake baju, Temenin gue minum."
"Lo harus banget ya ganggu malam pertama gue? Lo kan tau gue baru aja nikah, Dan lo kan tau artinya malam ini gue sibuk gak bisa diganggu!"
"Bodo amat! Lo juga waktu itu ganggu malam gue." Balas El mengingatkan Daniel pada malam saat ia nekat mengetuk pintu kamar El.
"Jadi lo ngebales?"
"Gak, Cuma lagi pas kebetulan aja."
"Lo gak asik, Apa-apa main balas-balasan kek anak kecil lo."
"Cepet pake baju lo atau gue seret lo kebelakang ginian dong." Ancam El, Namun Daniel bersikeras tidak ingin menghiraukan El.
Mendengar suara El di depan pintu Dara yang sudah selesai mandi dan mengenakan bajunya langsung mendatangi dua pria itu.
"Bang El, Kenapa?" Tanya Dara bingung.
"Maaf Ra abang ganggu malam kamu dan Daniel. Abang bisa pinjam Daniel sebentar gak?" Dara melihat kearah Daniel yang menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada Dara agar Dara menolak El.
"Iya bang, Gak apa-apa bawa aja Daniel nya." Hilang sudah harapan Daniel saat ini, Serasa hanya ia yang merasakan jika hari ini hari yang spesial untuknya.
"Tuh Dara aja dengan senang hati nyuruh lo ikut gue. Buruan pakai baju!"
"Lo manusia paling sialan diantara yang paling sialan. Dan lebih sialannya gue selalu ngikutin mau lo!" Gerutu Daniel menutup pintu kamarnya dengan keras tanda hatinya sedang kesal.
"Beib tungguin aku ya, Gak lama kok." Katanya mengecup bibir Dara. Dara tersenyum sambil mengangguk lalu Daniel pergi sesuai perintah sang bos besar.
"Kenapa sih lo?" Ucap Daniel masih ketus, Saat ini mereka sudah berada bar hotel.
"Gak ngerti gue akhir-akhir ini rasanya gue gak suka banget liat Luna ngobrol sama cowok lain. Ya gue tau Luna gak akan macem-macem, Itu juga yang gue tegasin sama hati gue tapi tetap aja tiap kali gue liat gue ngerasa jengkel banget pengen marah saat itu juga."
Daniel menghela nafas panjang mendengar keluhan dari El lalu menegak minumannya.
"Lo lagi ada ditahap posesif." Jawab Daniel membuat El melihat kearahnya.
"Maksud lo gue cemburu berlebihan?"
"Terus menurut lo apa? Gue saranin mending lo buang jauh-jauh sikap posesif lo sebelum Luna merasa jenuh." Imbuhnya lagi mengingatkan El.
"Lo pikir gue mau punya perasaan gini? Tadi gue juga mau cuek saat Luna ngobrol sama tuh anak. Tapi rasanya nyesek banget, Apalagi ngeliat Luna ketawa lepas gitu gue ngerasa dia nyaman banget sama dia."
"Dia siapa?"
"Anak pak Rudi." Daniel mencoba mengingat orang yang dimaksud oleh El yang ternyata adalah Andra.
"Oh, Siapa namanya ya lupa gue......."
"Andra." Sahut El datar seolah tidak suka dengan nama itu apalagi menyebutkan namanya.
"Oh iya Andra. Udahlah El, Dia kan juga tau kalo Luna udah nikah dan suaminya itu lo gak mungkin lah dia berani macem-macem sana Luna. Lo kebanyakan mikir yang gak-gak otak lo perlu di restart ulang kebanyakan kerja makanya negatif mulu pikirannya." Katanya menegak habis minumannya lalu berdiri ingin segera kembali kekamarnya.
"Lo mau kemana?" Tanya El melihat Daniel yang sudah bersiap pergi.
"Mau lanjutin bikin baby. And don't disturb me!" Katanya tegas lalu pergi meninggalkan El.
"Tapi kenapa gue masih ngerasa kesal banget Aaaahhhhh........." Katanya frustasi sambil mengacak rambutnya.
Sedangkan Daniel dengan perasaan yang sudah tidak sabar lagi berjalan cepat menuju kamarnya. Sepanjang jalan ia tersenyum bahagia masih tidak percaya jika ia sudah menikah.
"Aku gak tau Ra, Tapi bang El beda banget dia gak kek biasanya. Kalo emang aku ada salah ya se'enggaknya dia ngomonglah biar aku tau jangan diam gitu." Baru saja Daniel ingin menarik gagang pintu suara Luna sudah menyambut telinganya. Daniel lalu membuka pelan pintu mengintip dari luar dan benar saja Luna sedang berada dikamarnya bersama Dara.
"Ya Tuhan apa salahku? Kenapa ujian ini berat banget? Kenapa harus malam ini? Kenapa??????" Keluh Daniel pasrah putus asa, Dengan berat hati ia kembali melangkah menuju bar hotel.
"Coba kamu inget-inget lagi kali aja ada sesuatu yang bikin bang El diemin kamu."
"Perasaan gak ada apa-apa kok serius. Aku juga gak ada salah ngomong sama dia."
"Tadi dipesta ada nyuekin dia atau apa gitu?" Luna kembali mengingat-ingat kembali namun tidak juga tau penyebab diamnya El.
"Gak ada Ra, Serius gak..... Atau jangan-jangan....." Katanya mengingat satu hal.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Dara penasaran memasang wajah serius.
"Dia marah karena tadi aku ngobrol sama Andra terus gak sengaja ada anak-anak nabrak aku, Aku hampir jatuh tapi keburu ditahan Andra dan saat itu juga dia datang."
"Kemungkinan itu penyebabnya." Jawab Dara menerka-nerka
"Loh lo ngapain lagi kesini?" Tanya El heran saat Daniel kembali mendatanginya.
"Luna ada dikamar Dara, Keknya dia juga lagi curhat sama bini gue." El tersenyum menang karena Daniel kembali untuk mendengarkan keluhannya lagi
"Makanya jangan berani sama gue, Kualat kan lo." Ejek El puas, Daniel berdecih kesal sambil mengisi ulang gelasnya yang kosong.
"Kalo gue jadi lo gue gak mau meributkan hal yang gak penting begini. Lo tau saat ini gue ngerasa lo itu egois, Lo gak pernah tau apa yang bakal terjadi besok, Lo gak tau gimana rasanya saat tubuh lo gak bisa gerak tapi lo tau seseorang nungguin lo bangun dengan perasaan yang hancur. Mungkin kedengarannya lucu kalo gue tiba-tiba ngomong gini, Tapi ini nyata yang pernah gue alami sendiri.Dari alam bawah sadar gue liat tubuh gue baring diatas ranjang rumah sakit, Muka gue pucat kek vampir, Jangankan untuk bangun untuk nafas aja gue dibantu oksigen. Gue jelas liat Dara saat itu, Dia senyum, Dia nangis bahkan dia marah karena gue gak juga bangun. Percaya sama gue, Walaupun lo gak sadar hati lo tetap terasa sakit.
Makanya gue gak mau lagi buang-buang waktu, Gue mau sama-sama Dara untuk waktu yang lama gak cukup gue dan dia tua, Selamanya gue cuma pengen sama dia baik itu didunia sekarang ataupun didunia yang berbeda." El terdiam mendengar semua ucapan Daniel, Untuk pertama kalinya ia mendengar kata-kata yang masuk akal dari mulut Daniel, Peran Dara memang membawa pengaruh besar untuk pria bejad disampingnya ini.
"Lo gak liat gue waktu lo koma kemaren? Gue juga sering nengok lo dan yang lo inget cuma Dara?" Daniel melihat tajam kearah El sambil mengepalkan jari-jarinya kesal pada respon yang diberikan El.
"Oke-oke gue becanda doang sensian banget sih selama nikah. Ya udah kalo gitu kita balik sekarang, Gue bakal jemput Luna." Mendengar hal itu Daniel langsung merubah raut wajahnya dalam hitungan detik yang tadinya terlihat seperti akan runtuh berubah menjadi wajah tampan khas Daniel.
Mereka berdua lalu kembali, El merasa bersalah pada Luna karena sudah mengabaikan istrinya itu.
"Tunggu bentar gue panggilin Luna." Ucap Daniel saat mereka sudah berada didepan pintu kamar Daniel. El mengangguk lalu Daniel masuk namun ia tidak melihat ada Luna lagi disana Dara juga sudah tertidur disofa.
"Kamu pasti cape ya sampai-sampai ketiduran disini." Ucap Daniel lalu perlahan menggendong tubuh Dara membawanya keatas ranjang.
"Kamu udah pulang?" Ucap Dara dalam gendongan Daniel. Daniel tersenyum menjawab istrinya sambil meletakan Dara perlahan. Dara yang ingat pesan Daniel agar tidak tidur langsung duduk ingin mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa ngantuk.
"Kamu mau kemana?"
"Mau cuci muka."
"Gak usah, Kamu pasti capek banget. Ini juga udah malam, Kamu istirahat aja ya. Kasian baby kita dia juga pasti ikut capek." Ucap Daniel mengusap lembut perut Dara, Dara tersenyum tidak menyangka jika Daniel seromantis ini padahal tidak heran karena Daniel mantan playboy romantis adalah modal utama nya untuk memikat hati para wanita, Tapi itu dulu.
"Kalo gitu aku maunya tidur sambil dipeluk kamu." Ucap Dara, Wajah Daniel seketika memerah sambil tersenyum lalu ia juga ikut berbaring disamping istrinya sambil memeluk erat Dara.
***
El yang tiba dikamarnya melihat Luna sedang berdiri dibalkon melihat pemandangan kota yang makin malam makin terlihat sangat indah. El langsung menghampiri Luna dan memeluk Luna dari arah belakang.
"Maafin abang." Katanya, Luna tersenyum lalu membalikan tubuhnya menghadap kearah El.
"Maafin aku juga ya, Tapi bener tadi kita cuma ngobrol kek biasa aja dan dia nyelamatin aku karena ada anak-anak yang gak sengaja nabrak aku." Kata Luna berusaha menjelaskan pada suaminya, El tersenyum menyeka helai rambut Luna yang menutupi wajah cantiknya.
"Maaf ya karena udah bersikap posesif dan gak denger penjelasan kamu. Abang takut kehilangan kamu, Bahkan gak akan bisa hidup tanpa kamu. Kamu hidup mati abang." Luna tersenyum mengecup bibir El lalu memeluknya.
***
Pagi ini semua orang berkumpul untuk sarapan pagi, Disana sudah ada kedua orangtua Dara dan kedua orangtua El. Mereka bercengkrama hangat menyambut hari baru untuk anak-anak mereka.
"Bu Mela beruntung banget punya anak seperti El." Puji bu Fina membuat bu Mela merasa bangga dengan anak yang bukan darah dagingnya itu.
"Ya begitulah bu, Biarpun kadang dia ngeselin tapi dia bener-bener anak yang baik." Sahut bu Mela merendah.
"Gak kadang sih bun, Setiap hari dia ngeselin." Sambung Daniel tidak tau menahu bicara asal-asalan.
"Kek nya menantu tante minta dipuji juga deh." Celetuk El, Mereka langsung tertawa mendengarnya kecuali Daniel yang melirik kesal kearah El.
"Kalian sekarang sudah memiliki tanggung jawab. Pesen papa sebagai mertua sekaligus orangtua Dara tolong jaga Dara. Dia satu-satunya bunga kami, Bagi kami berdua dia tetap Dara kecil kami. Jangan buat dia sedih apalagi menangis, Kami memang salah saat itu maka sekarang dan untuk yang akan datang kami gak mau berbuat kesalahan itu lagi." Ucap pak Restu.
"Daniel janji pah, Dalam keadaan apapun Daniel gak akan ninggalin dia. Karena dia adalah sebagian dari hidup Daniel."
"Hueeeeeekkkkkk.......Sayang minta air dong, Perut abang tiba-tiba mual banget." Sambung El, Suasana romantis yang baru diciptakan Daniel pun berubah menjadi suasana ribut karena tawa mereka.
"Liat aja entar lo, Gue bakal bales." Kata Daniel pelan jelas kekesalan nya terlihat.
"Oh iya, Gimana kalo pernikahan kalian diadakan seminggu setelah pernikahan Daniel." Saran bu Mela.
"El terserah Luna aja bun. Gimana sayang?" Tanya El, Luna mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan sarapan pagi bersama sebelum kembali ke ibukota.
***
Dua bulan sudah berlalu setelah pernikahan El dan Luna, Kehidupan mereka juga berjalan dengan lancar dan baik selalu dipenuhi cinta setiap harinya.
"Sayang, Aku kok pengen banget ya makan mangga." Luna menghampiri El diruang kerjanya.
"Dikulkas udah abis? Bukannya baru beli ya?"
"Aku gak mau mangga yang dikulkas, Aku maunya abang petik sendiri dari pohonnya langsung."
"HUH?" El kaget mendengar permintaan istrinya itu, Bukan hal yang sulit baginya menyediakan apa yang diinginkan Luna tapi yang jadi masalah ia meminta El memetik buah mangga itu sendiri.
"Kenapa? Abang gak mau? Aku gak mau yang lain, Maunya buah mangga yang abang petik sendiri kalo abang gak mau aku juga gak mau makan." El memijat kepalanya, Kehamilan Luna yang memasuki 3 bulan membuat El sedikit kerepotan selain Luna yang mengalami mabuk berat permintaan nya juga terkadang tidak masuk diakal namun El selalu memberikan apapun yang Luna inginkan.
"Ya udah abang cariin ya, Jangan ngambek gitu dong." El berdiri menangkup kedua pipi istrinya yang sangat manja saat hamil ini.
"Eh ada satu lagi." Kata Luna membuat El merasa was-was.
"Mangganya harus punya orang, Dan abang ambilnya gak boleh ketahuan sama orang itu oke."
"Ma......Maksud kamu abang mesti nyolong mangga?" Luna mengangguk tersenyum membenarkan dugaan El.
"Sa......Sayang, Itu gak boleh loh. Ma.....Masa abang harus nyolong sih? Jangan ya cinta, Kita beliin aja pohonnya ya biar kamu juga bisa puas makannya." Bujuk El berharap Luna memberinya keringanan dalam menjalankan tugas namun Luna menggeleng cepat tanda tidak setuju dengan ucapan El. El hanya bisa pasrah menghela nafas panjang.
"Ya udah abang cariin dulu ya." Luna mengangguk dan tersenyum pada El.
"Mesti nyari dimana pohon mangga yang ada buahnya? Ini kan lagi gak musim mangga." Gerutu El dalam mobilnya sambil melihat-lihat pekarangan rumah yang dilewatinya.
"Masa iya gue harus nyolong? Kalo ketahuan media mati gue Elang Edgar Wirayudha ceo dari diamond group mencuri mangga tetangga karena istrinya mengidam. Ya Tuhan jelek banget jadinya nama gue. Aaaaa Daniel, Dia kan dulu ahlinya." Baru berniat menghubunginya, Daniel lebih dulu menelepon El.
"Kebetulan banget lo nelepon, To the point gue butuh bantuan lo." Ucap El tidak basa-basi.
"Sama, Gue juga butuh bantuan lo. Lo dimana?"
"Gue dijalan, Lo?"
"Sama, Gue juga."
"Lo daritadi nyamain gue terus sih?"
"Ya udah si gak usah ribut, Ada hal yang lebih penting dari itu. Kita ketemuan di taman kota aja, Gue udah deket gue tunggu disana." Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Daniel.
"Kok gue ngerasa gak enak ya?" Gumam El namun ia tetap melanjutkan perjalanan menuju taman kota untuk bertemu Daniel.
Sesampainya disana mereka berdua langsung bertemu dan bicara hal penting.
"APA?" Ucap El dan Daniel secara bersamaan.
Bersambung dulu yes author sakit kepala ini.....