
Setelah ibunya pulang Zea langsung kekamarnya untuk mandi. Sudah lama sekali ia tidak tidur dikamar miliknya pribadi yang ada dirumah Daniel.
Selesai mandi Zea mendatangi Dara yang sedang asik memasak untuk makan malam.
"Hai sayang, udah mandi?" Tanya Dara menyapa Zea.
"Udah dong bun, bunda masak apa?" Tanya Zea sambil mengintip masakan yang berjejer diatas meja saji.
"Ummm masak makanan kesukaan Zea, kesukaan bang Davin, seafood kesukaan Devan dan makanan kesukaan ayah."
"Wah, enak semua bun. Mau Zea bantuin gak?" Ucap gadis kecil itu menawarkan tenaga.
"Ummm boleh, Zea tolong bawa makanan ini ke meja makan ya." Dengan cepat Zea mengangguk dan melaksanakan tugasnya. Setelah selesai membantu Dara, gadis kecil itupun mulai memikirkan hal konyol untuk mengusili Devan yang saat ini sedang duduk diruang keluarga sambil memainkan gamenya.
Gadis kecil itu kembali menghampiri Devan. Devan yang dari jauh sudah melihat Zea berjalan kearahnya langsung buru-buru berdiri ingin pergi dari sana. Ia tau jika gadis usil itu akan terus mengganggunya. Apalagi saat ini hanya ada Devan dirumah, karena Davin masih berada ditempat les.
"Hei mau kemana?" Kata Zea meneriaki Devan, Devan pura-pura tidak mendengar dan terus saja berjalan menuju tangga. Dengan cepat Zea berlari mengejar Devan hingga kakinya menyandung sesuatu dan mengakibatkan gadis itu terjatuh.
"Awwwww...." Kata Zea, sontak Devan berlari menghampiri Zea.
"Sakit..." Rengek Zea sambil memegangi lututnya yang berdarah.
"Kamu bisa gak sejam aja duduk diam! Liat tuh jadinya." Kata Devan memarahi Zea.
"Kamu apaan sih? Udah sakit gini masih aja dimarah-marahin! Pergi sana kalo gak mau nolongin, lagian aku jatuh juga karena ngejar kamu!" Ucap Zea balik memarahi Devan, membuat anak laki-laki itu merasa bersalah karena menghindari Zea saat tadi.
"Iya maaf, habisnya kamu usil sih makanya aku buru-buru pergi ke kamar. Ya udah sini aku bantuin ngobatin." Devan lalu membantu mempapah Zea duduk disofa.
"Tunggu sebentar aku ambilin obatnya dulu. Jangan cengeng." Kata Devan, anak itu lalu berlari menuju kamarnya untuk mengambil kotak obat.
Tidak menunggu begitu lama, Devan kembali dengan membawa kotak obat ditangannya. Ditiupnya pelan luka dilutut Zea lalu mengolesinya dengan obat luka.
"Perih..." Rengek Zea hampir menangis.
"Udah gak apa-apa, perihnya cuma sebentar aja kok." Bujuk Devan dengan sabar sambil terus meniupi luka itu.
"Bu...bu, mbak Zea kenapa?" Ucap bi Siti memanggil Dara. Dara menaikan alisnya lalu menghampiri bi Siti untuk melihat Zea.
"Ya ampun bi, Zea luka." Kata Dara langsung melepaskan celemeknya dan berlari menghampiri Zea.
"Zea kenapa nak?" Tanya Dara khawatir sambil melihat luka dikaki Zea yang sudah diberi obat oleh Devan.
"Jatoh bun." Sahut Zea
"Kok bisa sih? Devan kamu kok gak bgasih tau bunda kalo Zea jatuh dan terluka?" Tanya Dara pada Devan yang masih ada ditempat itu.
"Orang dia baru aja jatuhnya, lagian Devan langsung ambil kotak obat mana sempat ngabarin semua orang." Sahut Devan membuat Dara mengerutkan dahi.
"Iya bun, udah diobatin kok sama Devan. Tadi Zea yang salah karena lari-lari." Sambung Zea tersenyum menunjukan jika saat ini ia tidak apa-apa.
"Ya udah kalo gitu bunda lanjutin masak ya. Devan temenin Zea ya." Zea mengangguk lalu Dara pergi melanjutkan pekerjaannya yang sempat terganggu.
Setelah ibunya benar-benar pergi dari tempat itu Devan duduk di sofa lain.
"Masih sakit?" Tanya Devan begitu penuh perhatian. Zea mengangguk pelan menjawab pertanyaan Devan.
"Makanya jadi cewek jangan suka usil. Liat anak perempuan lain mana ada yang tingkahnya kek kamu. Aku bahkan sering ragu kalo kamu itu anak perempuan." Kata Devan berusaha mengajak bercanda agar Zea tidak lagi fokus dengan rasa sakit dilututnya.
"Kamu itu jahat banget sih! Aku jatoh juga karena kamu cuekin mulu." Balas Zea tidak terima.
"Ummm main? aku bukan anak kecil yang kerjaannya cuma main. Kita udah 10 tahun, bisa gak sih jangan ngomong kek anak TK gitu?" Celetuk Zea makin menguji kesabaran Devan.
"Kamu cerewet banget sih! Aku tinggal ke kamar nih." Ancam Devan berdiri dari tempat duduknya, ingin pergi ke kamar.
"Jangannnn...." Sahut Zea cepat dengan wajah memelas membuat Devan menghela nafas panjang dan kembali duduk menemani Zea.
"Terus mau mu apa? Kenapa semua cewek itu ribet? Gak bisa apa jadi cewek yang simple?" Protes Devan yang mulai frustasi menghadapi tingkah Zea.
"Ih kok kamu marah-marah? Kamu gak mau temenin aku?"
"Ya Tuhan.....Terus daritadi aku ngapain disini kalo gak nemenin kamu?" Sahut Devan hampir menyerah.
"Kalian ributin apa sih?" Terdengar suara Davin menghampiri mereka berdua.
"Abang..." Sapa Zea tersenyum manis. Devan kini bisa bernafas lega karena Davin sudah datang ia tidak lagi harus repot menemani Zea.
"Syukur deh akhirnya kamu pulang. Tuh ade kamu temenin, aku gak sanggup." Celetuk Devan sambil berlalu meninggalkan Davin dan Zea ditempat itu.
"Kalian berantem lagi?" Tanya Davin menggelengkan kepala.
"Devan tuh nyebelin." Sahut Zea cepat seperti biasa, membuat Devan hafal dengan dialog anak perempuan tersebut.
***
Malam pun tiba, saat ini Daniel dan keluarganya berkumpul dimeja makan untuk menikmati makan malam bersama. Mereka mengobrol dan bercanda, hanya satu orang yang tidak banyak bicara dan fokus pada makanannya yaitu Devan.
Setelah selesai makan malam, mereka menikmati waktu bersama. Pasangan suami istri itu menemani ketiga anaknya. Mereka bukan hanya sekedar menjadi pendengar tetapi menjadi sahabat untuk para anak-anak mereka.
"Udah malem, waktu tidur." Kata Daniel menutup acara malam ini. Ketiga anak itupun berpamitan dan pergi ke kamar masing-masing.
***
"Sayang....." Kata Daniel memeluk Dara yang sedang menyisir rambut panjangnya di depan kaca.
"Hmmmm...." Sahut Dara singkat, pria itu mulai menggerayangi tubuh istrinya dan Dara pun mengerti maksud dari Daniel. Dara meletakan sisir lalu memutar tubuhnya menghadap Daniel. Wanita itu memeluk Daniel penuh cinta.
"I love you." Ucap Daniel tersenyum lalu mencium bibir Dara dengan lembut.
Baru saja Daniel membuka pakaiannya dan bersiap untuk menikmati malam bersama Dara. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan siapa lagi yang ada diluar sana kalau bukan si Zea Leondra. Gadis kecil yang mendapat julukan dari Devan sebagai si pengganggu.
"Bunda.....Ayah...." Panggil Zea sambil mengetuk pintu kamar. Dara buru-buru mengenakan kimononya begitu juga dengan Daniel yang langsung memakai bajunya lalu masuk kedalam selimut dan pura-pura tidur.
"I....iya sayang, sebentar." Sahut Dara, wanita itu langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
"Kenapa sayang?" Tanya Dara saat membuka pintu dan melihat Zea sudah berdiri didepan pintu.
"Bunda, Zea tidur sama bunda ya. Zea takut tidur sendirian." Kata Zea manja sambil memeluk tubuh Dara.
"Zea takut apa? Gak ada apa-apa sayang. Ya udah kalo Zea mau tidur dikamar bunda. Yuk masuk." Sahut Dara menarik tangan Zea.
"Yeay...." Zea melompat kegirangan dan langsung masuk ke kamar Dara.
"Ayah udah tidur ya bun?" Tanya Zea lagi melihat Daniel yang ada didalam selimut. Dara tersenyum dan mengangguk sedangkan Daniel hanya busa pasrah saat semua harus ia pendam.
Zea berbaring diantara Daniel dan Dara membuat Daniel makin tidak bisa melakukan apa-apa pada istrinya. Bahkan hanya untuk memelukpun ia tidak bisa.
Bersambung........