
El masih betah menutup mulutnya dan menatap fokus kearah botol wine yang ia pegang. Semua orang saling melempar tatapan bingung satu sama lain menunggu pertanyaan El untuk Luna.
"Gimana perasaan kamu sama orang yang udah nyatain perasaan nya ke kamu?" Kata El dingin dan datar tanpa melihat kearah Luna membuat Clara dan Dara penasaran tidak terkecuali Daniel yang sejak tadi merasakan sikap dingin El pada Luna.
"Harusnya gue gak milih game ini." Ucap Daniel pelan menundukan kepalanya dan mengusap wajahnya frustasi dengan sikap El dan Luna.
"Siapa yang baru nembak kamu? Kok kamu gak bilang-bilang sih? Selesai pesta aku tunggu penjelasannya." Bisik Dara ditelinga Luna yang memasang wajah serius. Dengan cepat Daniel mencolek lengan Dara yang duduk disebelahnya hingga gadis itu kaget dan melihat kearah Daniel. Daniel meletakan telunjuknya didepan bibir agar Dara berhenti menanyai Luna dan gadis itupun mengerti maksud Daniel ia kembali duduk rapi menunggu jawaban dari sahabatnya itu.
"Wow, Jadi Luna baru aja ditembak ya sama cowok. Pantes aja muka abangnya langsung galak hahaha, Jangan gitu dong El kamu bikin Luna takut." Celetuk Clara yang ikut ambil suara namun bukan ucapan Clara yang jadi pusat perhatian melainkan sikapnya saat ini yang dengan santainya meletakan dagu dibahu besar milik El tentu sukses menyita perhatian Luna, Luna berpaling menghindari pemandangan yang ada didepannya.
"Ganjen banget sih nempelin bang El mulu." Gerutu Dara pelan dan hanya Luna yang mendengar, Dara terlihat sangat kesal saat ini pada Clara karena menurutnya terlalu menempeli El.
"Jawab." Ucap El melihat kearah Luna, Kini tatapan mereka saling beradu satu sama lain menyimpan pikirannya masing-masing.
Luna diam sejenak, Ia berpaling melihat kearah gelas yang terisi penuh oleh wine. Dengan cepat Luna meraih gelas itu dan meminum isinya hingga habis tak bersisa membuat Clara, Daniel dan Dara kaget melihatnya. El melihat datar kearah Luna saat ia memilih untuk meminum segelas penuh wine daripada harus menjawab pertanyaan El.
"Ooww.....Great a little girl." Puji Clara bertepuk tangan sambil tertawa.
"I am not a little girl." Jawab Luna tegas dengan senyum datar melihat kearah Clara dan meletakan gelas wine kosong itu.
"Oh, Sorry I'm only praising." Sahut Clara merasa tidak enak dengan tatapan Luna saat ini.
"Oke clear." Kata Daniel memecah ketegangan yang ada. Kini ia kembali memutar botol itu, Hanya tersisa dua orang yang belum kena giliran yaitu Clara dan El.
"Oh it's my turn now." Botol itu memilih Clara, Clara melipat kedua tangannya diatas meja menunggu pertanyaan yang diberikan oleh seseorang. Dengan cepat Luna mengangkat tangannya ingin memberikan pertanyaan.
"Apakah ada seseorang yang kakak sukai?" Clara tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Luna.
"Ada seseorang yang udah lama aku kenal, Awalnya aku cuma ngira kalo itu hanya perasaan sesaat karena emang saat itu aku masih kecil. Tapi lambat laun perasaan itu gak berubah, Malah makin bertambah dan masih sampai saat ini. Ah, Aku jadi curhat gini Daniel lanjutin." Kata Clara menyudahi ucapannya.
Luna terdiam mendengar itu semua, Ia seolah mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Clara. Ia juga sesekali melihat kearah El yang tidak menghiraukan cerita Clara dan malah asik memainkan gelas wine kosong miliknya.
"Karena cuma tinggal El yang belum kena giliran, Waktu dah tempat langsung dipersilahkan." Kata Daniel, Baru saja Dara ingin mengangkat tangannya untuk bertanya pada El tentang kriteria wanita yang ia sukai tapi ia kalah cepat dengan Daniel membuat Daniel berhak untuk bertanya apapun pada El.
"Ish.....Dia yang muter dia juga yang banyak tanya." Gerutu Dara pelan mendengus kesal pada Daniel.
"Rahasia besar apa yang lo sembunyiin?" Tanya Daniel yakin, Ia tidak berharap El menceritakan rahasianya saat ini tapi ia ingin memberikan kesempatan pada El untuk bercerita padanya sebagai seorang sahabat yang sangat dekat.
Mendengar itu El menyunggingkan senyum tipis. Ia kembali mengisi gelas kosong miliknya hingga penuh.
"Semua orang pasti punya rahasia masing-masing. Rahasia akan tetap menjadi rahasia tidak akan berubah sampai kapanpun, Karena itu memang sebuah rahasia." Kata El santai, Luna yang mendengar pun kembali meminum wine yang ia sudah terisi kembali.
"Oh.....Oke, Everybody it's time to start the party YEAH....." Teriak Daniel sambil berdiri dari tempat duduknya diikuti Dara yang sudah tidak tertandingi semangatnya.
Kini semua orang sibuk sendiri Daniel sibuk bersama Dara, El dan Clara juga asik menghabiskan waktu berdua bahkan mereka mengambil beberapa photo bersama. Sedangkan Luna, Luna hanya duduk dibangku taman sendirian namun tidak sendiri, Ia ditemani sebotol wine sisa dari permainan tadi.
"Heh......Kamu pikir kamu lebih cantik dari aku? Aku tau kamu cantik tapi kamu jahat....." Mulut Luna mulai meracau sendiri, Kini ia benar-benar sudah mabuk. Ia tertawa dan kadang merengek sendirian ditempat itu sambil terus meminum minuman memabukan itu.
"Kamu tau gak sih? Dia itu udah punya istri! Dan kamu pasti kaget kalo tau siapa istrinya." Katanya lagi menunjuk kearah Clara dan El yang bahkan tidak melihat Luna saat ini.
"Eh pak El, Bukan.....Bang El tapi, Kamu kan suami aku. Aku panggil sayang mau? Kamu jahat......" Kini ia menangis menunjuk El. Entah berapa banyak wine yang sudah ia habiskan hingga ia benar-benar hilang kesadaran total seperti saat ini.
"Kamu cuekin aku, Kamu jahat. Salahku apa? Aku diam bukan berarti gak suka kamu. Aku kaget kamu bilang suka secara tiba-tiba. Ayah, Dia gak nepatin janjinya. Dia bikin aku sedih, Dia bikin aku nangis dan sekarang dia sama perempuan lain." Rengek Luna dalam tangisannya.
"Kamu cewek aneh! Jangan deketin El. Awas ya kamu!" Luna berdiri dari tempat duduknya dengan sempoyongan Luna berjalan menuju El dan Clara membawa segelas wine ditangannya. Ia bersusah payah agar cepat sampai ke tempat El dan Clara saat ini hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan El.
El melihat Luna yang sudah hangover berat menghampirinya dan memegang tangannya agar tidak terjatuh namun ditepis oleh Luna.
"Luna, Kamu.....Kamu minum berapa banyak sampai-sampai jadi begini?" Tanya Clara menghampiri Luna.
"Elang Edgar Wirayudha, Kamu jahat!" Katanya meletakan jari telunjuk tepat didada bidang milik El. Membuat Clara bingung dan melihat kearah El.
"Kamu mabuk berat, Abang anter kamu ke kamar." Kata El ingin membawa Luna masuk kekamar, Namun Luna kembali menolaknya.
"Gak mau, Nanti kamu sama dia." Ucapnya lagi kini menunjuk kearah Clara sontak membuat Clara makin bingung. Melihat keributan itu terjadi Daniel dan Dara menghampiri El, Luna dan Clara.
"Luna, Kamu kok sampai gini sih? Udah jelas kamu gak kuat sama alkohol ngapain juga minum sampai mabuk berat gini." Protes Dara melihat Luna.
"Hai Dara, Kamu dari mana aja sih? Aku nungguin kamu dari tadi." Jawab Luna tidak karuan, El mengusap wajahnya frustasi melihat Luna saat ini.
"Biar aku yang bujuk dia untuk kekamar." Kata Clara sambil mengusap lembut pundak El. Melihat itu Luna yang benar-benar tidak bisa berpikir waras lagi menyiram Clara dengan wine yang ia bawa sontak membuat semua orang disana kaget termasuk El yang tidak percaya jika Luna berani melakukan hal itu.
"Luna cukup!" Bentak El membuat Luna terdiam kaku melihat El, Matanya mulai berkaca saat melihat El yang tidak sengaja membentaknya. Semua orang seketika diam saat itu suasana pun menjadi dingin dan sepi.
"Lun, Ayo kita ke kamar aku anterin kamu." Dara meraih tangan Luna ingin membawanya pergi kekamar namun Luna menepis tangan Dara. Air matanya jatuh saat itu juga sambil terus melihat El yang kini juga merasa menyesal.
Luna tersenyum pada El disela air matanya yang terus jatuh. Ia memilih berjalan sendiri menuju kamar.
El sangat merasa bersalah saat ini, Ia langsung mengejar Luna dan menggendong Luna membawanya masuk kedalam rumah. Walaupun sekuat tenaga Luna memberontak apalah artinya kekuatan Luna bagi El.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Daniel memastikan keadaan Clara saat ini.
"Aku gak apa, Tapi El dan Luna?"
"Mereka bisa kok selesein masalah mereka sendiri."
"Ya udah kalo gitu aku ganti baju dulu ya." Clara segera pergi dari sana untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya yang basah karena disiram oleh Luna.
***
El membawa Luna kekamar milik El ia juga mengunci pintu kamar mengurung Luna didalamnya setelah itu El mendudukan Luna ditepi ranjangnya.
Berbeda dengan tadi, Kini Luna hanya duduk diam menundukan kepalanya. El berjongkok dihadapan Luna menatap Luna penuh penyesalan.
"Maafin abang." Kata El pelan, Ia tau bahwa ia sudah sangat melukai hati Luna saat ini ia pun benci hal itu. Luna masih diam dalam tundukan nya. El memberanikan diri mengangkat wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
"Maafin abang." Katanya lagi, Kini wajah mereka saling berhadapan. El menghapus lembut air mata Luna yang jatuh karena nya.
Tanpa di duga oleh El, Luna langsung memeluk erat tubuh El.
"Jangan diam lagi, Jangan menjauh dari aku." Katanya dalam isak tangis sambil terus memeluk tubuh suaminya. El membalas
pelukan Luna mengusap pundak istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Maafin abang karena egois, Maafin abang udah bikin kamu nangis, Maafin abang, Maafin abang." Kata El, Hanya maaf yang saat ini selalu keluar dari mulut El karena saat ini ia benar-benar merasa sangat bersalah pada Luna.
Luna melepas pelukannya pada El menatap dalam wajah El yang kini juga sedang menatapnya intens.
Luna mendekati wajah El perlahan namun El tidak ingin buru-buru menyimpulkan maksud Luna saat ini. El malah menjauhkan wajahnya dari Luna dan saat itu juga Luna menarik tangan El hingga El jatuh keatas tubuh Luna.
El melihat wajah Luna yang kini sudah melingkarkan tangannya dileher El. Kini El yakin dengan maksud istrinya itu. Dengan cepat bibir El menuju ke bibir Luna, Luna pun memejamkan kedua matanya menikmati ciuman hangat dari El.
Keduanya larut dalam kenikmatan yang telah lama tertunda, El kini menuruni leher Luna menciuminya tiap inci membuat tubuh Luna merinding hebat. Luna hanya bisa menutup mata menikmati semua sentuhan ditubuhnya.
"Kamu yakin?" Tanya El berbisik ditelinga Luna sebelum melakukan hal yang lebih jauh lagi.
"Aku milik mu." Kata Luna yakin dengan keputusannya. El tersenyum lalu kembali melanjutkan nya. Ia membuka kancing baju Luna satu per satu begitu juga Luna yang sedang membuka kancing kemeja hitam El memperlihatkan tato burung elang dibelakang leher hingga punggungnya dan Luna baru mengetahui itu.
El terus menghujani tubuh Luna dengan ciuman lembut membuat gadis itu merasa menginginkannya lagi dan lagi.
"You make me crazy." Kata El yang kini sedang menciumi dada Luna, Meninggalkan banyak jejak disana.
Dan batasan yang selama ini mereka jaga akhirnya roboh ambruk. Nyatanya kini mereka bersatu dalam kenikmatan dunia. Luna menyerahkan dirinya pada El bukan karena ia sedang mabuk, Tapi karena hatinya memang sudah tidak bisa lagi menahan semua rasa untuk El.
Malam ini mereka berdua menjadi sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta menikmati malam pertama.
***
"Aaaaaaa! Ka......Kamu, Apa yang udah kamu lakuin sama aku? Ke.....Kenapa aku bisa ada ditempat ini?" Gadis itupun teriak histeris saat bangun dan tidak mengenakan sehelai kain pun ditubuhnya ditambah lagi tanda kissmark ada hampir disekujur tubuhnya. Ia hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh bugilnya saat ini.
"Kita bahkan melakukannya dalam keadaan sadar. Kamu lupa itu semua?" Ucap pria yang baru bangun dan kini duduk disamping nya. Sejenak gadis itu kembali mengingat kejadian tadi malam hingga ia berada ditempat ini dan sampai melakukan nya bersama pria bertato yang ada disampingnya.
"Ta..... Tapi tetap aja, Kenapa? Kenapa kamu ngelakuin ini?" Ia masih tidak terima dengan apa yang ia ingat tadi malam.
"Hei, Kamu yang narik aku dan lagi kamu juga tadi malam yang duluan nyium aku."
"Ya tapi kamu harusnya gak ngambil keuntungan gitu dong! Udah tau aku lagi dalam pengaruh alkohol."
"Hei, Aku ini cowok normal kamu kira perlakuan kamu tadi malam gak ngaruh sama aku? Ya kamu pikir dong kamu deketin aku dan secara tiba-tiba nyium bibir aku da....-"
"STOP!!!" Udah jangan dilanjutin oke, Ki.....Kita lupain aja dan anggap ini gak pernah terjadi antara kita berdua. Dengan cepat gadis itu membungkus tubuhnya dengan selimut hendak turun dari ranjang namun langsung ditahan dengan cepat oleh pria itu.
"Kamu yang mulai, Maka jangan pernah berpikir untuk lari begitu saja tanpa menyelesaikan nya." Ucap pria itu serius tidak main-main.
Bersambung yay......ðŸ¤