
Setelah menghabiskan waktu bersama berakhir, Ken pergi ke makam Eriska. Seperti biasa pria itu membeli setangkai mawar merah segar untuk diletakan dibatu nisan milik Eriska.
*Hai wanita, Pemilik seluruh cintaku. Aku sedang merindukanmu bahkan sangat merindukanmu. Sapalah aku walau hanya lewat hembusan angin atau setidaknya panggil namaku lewat bisikan gelap malam.
Hai wanita, Apa kau tau jika aku sedang berusaha belajar membiasakan diri dengan semua ini. Aku sedang belajar bagaimana untuk mengikhlaskan sebuah kepergian.
Aku belajar bagaimana melepaskan tanpa beban. Dan belajar bagaimana seharusnya seorang manusia menerima ketetapan Tuhan.
Hai wanita, jika saja rindu bisa bersuara mampukah ia menyampaikan ini padamu? Aku lumpuh karena terbelenggu oleh kehilanganmu.
Jika aku seorang seniman, Akan
kudesain rindu ini untukmu. Menggambar pola sinar terang di antara gelap sunyi.
Jika aku seorang musisi, Akan kulantunkan nada-nada kesejukan dengan notasi cinta
di tengah gersangnya hidupmu
yang tak lagi berirama*.
Kenan berdiri diam didepan makam Eriska. Entah apa yg sedang dipikirkan oleh pria itu, Tatapannya lurus tertuju kearah batu nisan bertuliskan nama Eriska Linara.
Ia hanya bisa mengungkapkan semua yang ia rasa lewat tatapan mata. Rasa lelah sebenarnya sudah hinggap di tubuhnya namun ia masih betah ditempah sepi ini dalam diam.
***
"Abang, Kenapa mukanya bisa memar gitu?" Tanya Luna kaget saat melihat wajah El yang lebam dan sudut bibir yang sedikit terluka karena pukulan dari Kenan.
El tersenyum santai sambil menangkup kedua pipi Luna membuat Luma makin merasa penasaran.
"Gak apa-apa sayang. Tadi latihan sama Daniel, Ken dan bang Rendy." Sahut El tersenyum manis memamerkan lesung pipinya yang dalam.
"Ken? Tumben dia ikutan." Jawab Luna sambil mengeringkan rambut El dengan handuk kecil karena El baru saja selesai mandi.
"1M." Sahut El singkat sambil tersenyum tanpa beban karena kehilangan jam bernilai 1M.
"Maksudnya?" Tanya Luna penasaran melihat kearah suaminya. El menarik tangan Luna dan membawanya duduk ditepi ranjang.
"Kalo abang cerita kamu jangan marah ya." Ucap El sebelum berkata jujur dengan istrinya.
"Tergantung ceritanya." Sahut Luna singkat memasang wajah serius membuat El mengerucutkan alisnya.
"Ummmm.....Jam tangan abang, Abang jadiin taruhan dan Ken tertarik makanya dia mau ikutan. Sebenernya bukan niat taruhan sih, Tapi lebih ke hiburan untuk Ken. Kamu tau sendiri gimana Ken setelah kepergian Eriska." Jelas El santai karena ia tau Luna tidak akan marah selama itu tidak salah.
"Harus ya pake cara itu?" Pertanyaan Luna membuat El sedikit kaget karena biasanya Luna tidak pernah memusingkan masalah uang jika tujuannya jelas.
"Ka....Kamu marah?" Tanya El sedikit ragu apalagi melihat raut wajah datar Luna saat ini.
"Ya enggak, Tapi harus ya pake acara pukul-pukulan gini? Gak ada cara lain emang?" Mendengar hal itu El tersenyum lega, Ia pikir Luna akan marah karena jam miliknya yang kini sudah berpindah tangan menjadi milik Ken.
"Gimana dong kita hobi nya sama. Kalo ngobrol aja entar Ken malah tambah bete, Makanya abang sama bang Rendy lebih milih ke sasana aja alhasil dia bisa kek biasa walaupun ada sedikit pengorbanan." Kata El menjelaskan pada Luna sambil memainkan rambut panjang Luna.
"Ya udah tunggu disini bentar biar aku ambil kotak obat." Kata Luna berdiri lalu pergi mengambil kotak obat.
Tidak lama Luna kembali datang membawa kotak obat ditangannya dan langsung mengobati wajah El.
"Sayang..." Panggil El sambil terus menatap wajah cantik wanitanya itu.
"Hmmm....." Sahut Luna singkat dan tetap fokus pada luka disudut bibir El.
"I love U." Kata El sambil tersenyum melihat Luna. Seketika wajah Luna merona hatinya ditumbuhi bunga-bunga.
"Dih abang apaan sih." Sahut Luna menyembunyikan wajah merahnya dari El.
Belajar bagaimana caramu memandang sesuatu.
Mengetahui warna apa saja yang kamu suka.
Sesekali merasakan bagaimana caramu bersedih, Bagaimana caramu agar terlihat kuat.
Aku ingin memahami bagaimana rasanya menjadi matamu.
Lalu mengerti apa yang kamu rasakan saat menatapku."
Sesaat Luna terdiam memandangi wajah El. Pria yang menjadi suaminya selama kurang lebih 7 tahun, Pria yang selalu membuat nya tersenyum kapanpun itu. Pria yang bahkan tidak pernah sama sekali membuatnya menangis karena sakit hati dan sedih. Pria itu, Pria itu Elang. Satu-satunya pria yang sangat ia cintai.
"Kamu priaku, Akan terus begitu hingga nanti. Hingga kita kembali disatukan dalam pelukan Tuhan."
Ucap Luna membalas senyuman El membuat El tidak tahan jika tidak memeluk istrinya itu. El langsung membawa Luna kedalam pelukannya, Mencium pucuk kepala Luna hingga berulang kali. Entah dengan cara apalagi ia menunjukan rasa cintanya yang amat besar untuk wanita itu, Yang jelas rasa yang ia miliki untuk Luna tidaklah bisa diukur dengan apapun itu.
***
"Babe.....Sakit." Ucap Daniel mengeluh manja pada Dara yang sedang asik memeriksa tugas rumah kedua anaknya.
"Kamu sakit?" Tanya Dara meletakan buku milik Devan dan Davin lalu berdiri san menghmpiri Daniel yang sedang berbaring di atas ranjang sambil memegangi perutnya.
"Iya, Sakit. Gara-gara si El." Ucapnya manja sambil berbaring di pangkuan Dara.
"Kenapa emang? Kok bisa gara-gara bang El?" Tanya Dara penasaran. Ia memang belum tau tentang acara suaminya tadi siang karena sibuk mengurus kedua anak laki-lakinya.
"Tadikan kita berempat hangout tuh, Lah mereka hangout bukannya nongkrong dicafe malah ngajak ke sasana El main gelud, Dan karena ditantangin mulu akhirnya aku maju lebih dulu ngelawan El dan beginilah hasilnya. Sakit babe, Peluk babe, Cium." Kata Daniel kembali berakting manja pada istrinya padahal ia sama sekali tidak merasakan apa-apa lagi diperutnya.
"Ya bagus dong nongkrong disana daripada di cafe, Club atau pub." Sahut Dara santai bersikap cuek membuat wajah Daniel berubah masam.
"Babe, Kok gitu sih? Aku sakit lho ini gara-gara gelud sama El ya walaupun akhirnya El nyerah karena udah gak kuat tetep aja ak ngerasa sakit."
"Mana yang sakit coba liat." Kata Dara melihat kearah perut Daniel, Daniel mengangkat bajunya memamerkan perutnya yang bahkan tidak tergores sedikitpun itu. Dara mendekat dan mengamatinya dan dengan jahil wanita itu menggelitik perut suaminya hingga Daniel tertawa kegelian.
"Masih berani akting huh? Ampun gak?" Ucap Dara sambil terus menggelitik perut Daniel.
"Iya.....Iya ampun babe, Gak lagi." Kata Daniel sambil memegangi tangan Dara yang kini sudah berhenti menggelitik perut suaminya.
"Kok bisa sih kamu tau kalo aku lagi pura-pura?" Tanya Daniel yang kembali berbaring di pangkuan Dara.
"Taulah, Lagian gak mungkin kalo bang El bener-bener mukul kamu. Paling dia nyentil kamu doang, Ya kan?" Sahut Dara sambil mencubit pipi Daniel.
"Heiiii, Gak gitu juga kali. Kamu berlebihan, Aku sama El tadi siang beneran gelud, Ya walaupun gak separah Ken tapi lumayan rasanya." Kata Daniel kembali mengusap perutnya.
"Gimana keadaan Ken?" Tanya Dara sambil mengusap lembut rambut Daniel.
"Awalnya dia nolak ikutan gabung, Tapi El kelewat pintar untuk ditolak. Dan semua berakhir didalam ring. Dia udah sedikit merasa lebih baik, Syukurlah."
"Semoga Ken bisa secepatnya balik kek dulu."
"Gak! Dia dulu kelewat bangke keganjenan sama bini orang, Rasanya pengen nguluti hidup-hidup." Sahut Daniel santai membuat Dara mengerucutkan alisnya.
"Suka-suka kamu ajalah, Mau kamu giling juga silahkan." Sahut Dara cuek membuat Daniel merasa gemas dengan wanita itu, Seketika tangan Daniel bangun dari pangkuan Dara lalu mencium bibir Dara membuat mata Dara membulat.
"You are mine." Ucap Daniel tersenyum begitu juga dengan Dara.
Dan begitulah cara mereka masing-masing melewati malam.
Bersambung.....