
"Lucknut emang lo El! Lo ngancurin harga diri gue sama tuh ikan-ikan ular. Andai gue gak inget sama Luna dan Zea udah gue kubur lo idup-idup sumpah."
"Ya mana gue tau kalo tuh ikan-ikan mau nyerang lo. Lagian lo kenapa gak bilang sama penjualnya minta diiket yang kuat biar gak loncat, Udah tau ikan hidup yang dibawa."
"Lu yang GILA ngapain lo taro dibawah kaki gue? Kenapa gak ditaro dibelakang aja? Lo emang seneng nyiksa gue intinya gitu kan?"
"Lo soudzon banget sih jadi orang! Mana gue kepikiran. Jadi nih lo mau gue anterin kemana? Pulang atau kantor?"
"Basi alasan lo! Anterin gue ke kantor, Kerjaan gue masih banyak!" Sahut Daniel ketus.
"Oke brader oke.....Davin dan Devan pasti bangga banget punya bapak kek lo."
"Bodo amat! Badan aja lo gedein sama ikan gitu doang lo lari ngacir."
"Kan gue udah bilang, Gue gak takut tapi gue geli. Lo bisa kan bedain antara geli dan takut?"
"Alasan lo gak logis! Daripada lo bikin gue naik darah mulu mending lo bikin gue naik haji."
"Hahaha oke-oke gue diam. Tapi btw sorry ya rada jauhan dong duduknya, Bau amis banget sumpah." Sambung El sambil menutup hidungnya membuat Daniel serasa ingin menguliti hidup-hidup boss yang ada disamping nya saat ini.
"Beneran gue tabok lu lama-lama! Tu mulut bangkenya kek sumber air gak ada habisnya." Jawab Daniel melonggarkan dasinya benar-benar gerah dengan mulut pedas El.
"Oh iya gue baru inget, Clara ada digudang." Ucap El sontak membuat Daniel melihat kearahnya.
"Lo nyekap Clara?" Tanya Daniel ragu dan tidak percaya. El hanya mengangkat kedua bahunya enggan berkomentar lebih banyak yang jelas ia akan segera menemui Clara.
"El gue tau Clara udah kelewatan, Tapi apa gak berlebihan lo nyekap dia disana?"
"Terus dia apa gak kelewatan ngeracunin istri dan anak gue uang bahkan belum lahir. Lo gak tau gimana rasanya saat dokter nyuruh gue milih salah satu diantara mereka berdua. Lo gak tau gimana hancurnya hati gue saat dokter bilang cuma salah satu yang bisa selamat. Lo gak tau gimana rasanya denger istri lo mohon untuk tetap nyelamatin anaknya ketimbang dia. Hati gue hancur, Jiwa gue serasa hilang." Jawab El mendadak serius membungkam Daniel. Ia tau bagaimana perasaan El, Tapi ia juga tidak ingin El berbuat nekat yang bahkan akan merugikan dirinya sendiri.
"Gue tau lo orangnya gimana, Gue percaya sama lo." Ucap Daniel menyudahi pembicaraan nya tentang Clara.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, Mereka tiba dikantor. El tidak ikut masuk, Ia hanya mengantarkan Daniel lalu buru-buru pulang kerumah sebelum ikan-ikan itu mati.
Daniel yang benar-benar risih dengan bau amis ditubuhnya cepat-cepat masuk menuju ruangannya sangking terburu-burunya ia sampai menabrak seorang karyawan magang yang baru masuk hari ini dikantor milik El.
"Sorry saya gak sengaja." Ucap Daniel membantu membereskan kertas-kertas yang dibawa oleh karyawan tersebut.
"Iya pak, Gak apa-apa." Ucap karyawan itu, Daniel memberikan kertas itu lalu segera pergi dari sana. Ia ingin segera mandi dan berganti pakaian. Jangan kaget dengan fasilitas ruangan milik El dan Daniel yang memang memiliki kamar mandi sekaligus kamar kecil untuk istirahat.
Gadis magang itu terus melihat punggung Daniel yang makin jauh meninggalkan nya.
"Apa dia yang namanya pak El? Kata karyawan lain, Pak El itu satu-satunya bos yang paling baik dikantor ini. Ditambah lagi mukanya juga ganteng banget." Katanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan nya.
Daniel yang tiba diruangan nya langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ia menggosok tubuhnya berulang-ulang sampai-sampai menghabiskan setengah botol sabun dan shampo. Setelah yakin bau amis itu sudah hilang, Daniel keluar dari kamar mandi menyemprotkan parfum ditubuhnya lalu menggunakan pakaiannya. Belum selesai Daniel mengenakan kemejanya pintu ruangan nya diketuk.
"Masuk." Ucap Daniel sambil mengancing kemejanya. Seketika mata gadis itu melotot melihat pemandangan yang ada didepan matanya saat ini. Walaupun tubuh Daniel tidak se-atletis tubuh El tapi tetap saja ia memiliki tubuh yang teramat indah untuk dipandang. Ditambah lagi rambut Daniel yang berwarna cokelat itu basah membuat para wanita menggila.
"Kenapa?" Tanya Daniel santai lalu duduk dikursinya. Gadis tadi masih diam menatap Daniel saat ini.
"Hallo......" Sambung Daniel lagi sambil menjentik tangannya hingga menimbulkan suara, Membuat gadis tadi sadar.
"Oh....Ma...Maaf pak, Sa....Saya mau minta tanda tangan bapak." Kata gadis magang yang ditabrak Daniel saat di lobi tadi. Ia menyerahkan map berwarna biru pada Daniel.
"Oke nanti kalo udah selesai saya periksa, Saya telepon kamu." Gadis itu menundukan kepalanya lalu berbalik badan.
"Kamu bukannya yang dilobi tadi?" Tanya Daniel menghentikan langkah itu.
"Iya pak, Saya Jessy karyawan magang dibagian penjualan." Katanya memperkenalkan diri, Daniel mengangguk mendengarnya.
"Oke kamu boleh pergi." Gadis itupun pergi dari ruangan Daniel yang ia sangka adalah El.
Daniel mulai memeriksa dokumen yang baru saja diantarkan oleh Jessy. Saat akhir bulan seperti saat ini kerjaan nya akan menumpuk seperti sekarang.
"Anak istri gue ngapain ya?" Daniel meraih hpnya lalu menghubungi Dara.
"Sayang, Kangen......" Rengek Daniel manja saat telepon tersambung.
"Hallo Dan, Ini mamah." Jawab bu Fina yang mengangkat telepon Daniel. Sontak Daniel kaget minta ampun. Malu sudah pasti ia bahkan tidak bisa bicara lagi saat ini sangking ia menahan malu.
"Dara lagi bikinin susu buat Davin, Sebentar ya mamah panggilin." Tambah bu Fina membuat Daniel menutup matanya sambil menggeleng.
"Gak usah mah, Daniel juga lagi banyak kerjaan. Kalo gitu Daniel matiin ya teleponnya." Tanpa menunggu jawaban sang ibu mertua Daniel langsung memutus sambungan telepon membuatnya terlihat seperti seorang menantu yang kurang ajar.
"Ish sumpah ini entar pulang kerumah muka gue mau gue taro dimana coba? Aaaah gara-gara El nih nularin begonya ke gue, Jadi ikutan geser kan otak gue kek dia." Celetuk Daniel frustasi karena malu.
Saat ingin kembali bekerja Dara kembali menghubunginya. Daniel sempat ragu ingin menerima panggilan telepon itu, Tapi ia tetap menjawabnya.
"Kenapa ay?" Tanya Dara, Daniel langsung sumringah mendengar suara istrinya yang bicara ditelepon.
"Kangen tau, Pas ditelepon yang angkat mamah. Mana pas manggilnya sayang lagi." Sahut Daniel sontak membuat Dara tertawa lucu.
"Iya tadi aku bikinin susu buat Davin."
"Sekarang anak-anak lagi ngapain?"
"Tidur, Kamu udah makan siang belum?"
"Belum sempat kerjaan numpuk. Gak pengen makan, Pengennya kamu." Jawab Daniel kembali manja seperti seorang bocah.
"Apaan sih ay......Manja banget." Sahut Dara tersenyum.
"Kangen.....Pengen peluk, Pengen cium, Pengen.....----"
"Ay! Dikantor loh itu entar dikira kamu orang mesum." Kata Dara menghentikan ucapan Daniel.
"Why? You are my wife......Lagian gak ada yang denger juga." Sahut Daniel santai membuat istrinya menggelengkan kepala.
"Makan dulu sana, Jangan sampai sakit."
"Kamu gak kangen aku?"
"Gak." Sahut Dara singkat.
"Serius? Gak ada kangen-kangen nya? Aku lembur loh hari ini, Pulangnya agak malam."
"Kan udah ada Davin dan Devan, Mereka tuh nyuri semua perasaan aku. Aku juga udah gak ngerasa kesepian lagi kalo kamu telat pulang kerja." Sahut Dara bersemangat tidak tau kalau wajah Daniel saat ini seperti sedang terkena tsunami mendengar ucapan Dara.
"Ya udah kalo gitu aku lanjut kerja ya sayang. Dah, Love u." Kata Daniel ingin menyudahi obrolan berharap Dara kembali memperbaiki mood nya yang rusak hari ini
"Love u too ayah." Balas Dara, Hilang sudah harapan Daniel.
"Bad day." Ucap Daniel mendengus kesal lalu melanjutkan pekerjaan nya.
***
Setelah selesai mandi El membawa sup ikan gabus tadi ke Rumah Sakit. Bi Irah yang memasaknya bukan El, El hanya membawanya saja.
"Sayang sorry lama ya nunggunya?" Kata El menghampiri Luna sambil mengecup kening istrinya yang masih terbaring diatas ranjang Rumah Sakit itu.
"Iya kamu kemana aja sih El? Masa nyari ikan aja lama banget." Protes bunda membongkar rantang bawaan El.
"Gak apa-apa bun, Luna juga belum lapar kok." Sahut Luna membela suaminya membuat El.
tersenyum.
"El pulang dulu bun. Mandi bersih-bersih badan, Bau amis soalnya."
"Cuma beli ikan aja masa iya amis sih El, Kamu berlebihan banget deh."
"Loncat semua? Kok bisa? Terus gimana?" Tanya Luna penasaran begitu juga dengan bu Mela.
"Ya untungnya mereka loncat ke Daniel bukan ke abang. Tapi cipratan airnya lumayan amis, Makanya abang langsung pulang kerumah mandi yang bersih."
"Kamu sama Daniel pergi ke pasarnya?" Tanya bu Mela sambil menuangkan sup ikan kedalam mangkok untuk diberikan pada Luna.
"Iyalah, Daniel kan manager pemasaran jadi mesti harus bawa dia. Dan kebukti Daniel yang beli ikan itu pake bahasa jawa lagi ngomongnya."
"Hah? Kak Daniel ngomong pakai bahasa jawa gitu?" Tanya Luna tidak percaya.
"Iya, Abang aja kaget banget pas denger Daniel ngomong. Dodol-dodol apa gitu dia bilang, Abang juga gak ngerti."
"Sebenernya gak ada hubungannya sih beli ikan sama bawa manager pemasaran kesana. Itu sih bisa-bisanya kamu aja karena kamu gak ngerti sekaligus gak pede masuk pasar tradisional sendirian, Iyakan?" Ucapan bu Mela langsung mengenai sasaran, El tersenyum menjawab pertanyaan ibunya itu.
"Ya El kan gak pernah belanja dipasar bun. Lebih-lebih beli ikan lagi, Itu aja El searching dulu di internet gambar ikan gabus. Sini biar El yang suapin." Katanya meraih mangkok yang dibawa bu Mela lalu menyuapi Luna.
"Pelan-pelan panas." Kata El menyuapi Luna dengan hati-hati.
"Bunda kangen Zea, Pengen kesana bentar ah. Luna sup nya dihabiskan ya sayang biar kamu cepat pulih." Luna tersenyum sambil mengangguk lalu bu Mela pergi keruangan rawat inap baby Zea.
"Enak gak sayang?" Tanya El penasaran. Luna mengangguk padahal ia baru kali ini memakan ikan gabus dan tidak begitu menyukai rasanya. Tapi karena El sudah susah payah mencarikan untuknya, Ia tetap memakan habis sup ikan itu.
***
Tok......Tok.....Suara ketukan di pintu ruangan Daniel.
"Masuk." Kata Daniel sambil tetap fokus.
"Ay......" Ucap Dara manja saat membuka pintu. Daniel langsung melihat kearahnya, Dara sudah berdiri disana sambil tersenyum.
"Sayang......Kamu...." Daniel tersenyum lalu menghampiri Dara dan memeluknya.
"Aku bawain kamu makan siang." Kata Dara memamerkan kotak makan yang ia bawa. Daniel kembali tersenyum menghadiahi ciuman singkat di bibir istrinya itu.
"Makasih ya sayang....." Ucap Daniel.
"Kamu kok wangi banget? Baju kamu juga ganti. Kenapa?" Tanya Dara yang baru sadar dengan kemeja Daniel.
"Iya gara-gara El. Aku dipaksa buat nemenin dia belanja ikan kepasar, Katanya sih ikan itu bagus buat orang yang habis operasi." Mereka berdua duduk dan Dara mulai menyuapi Daniel.
"Oh.....Ikan gabus ya?"
"Iya, Amis banget lagi sumpah. Untung waktu kamu habis lahiran kamu gak makan ikan itu ya yank, Ikannya aneh kek ular gitu. Geli banget liatnya apalagi makan nya." Kata Daniel sambil bergidik.
"Kata siapa aku gak makan? Tiap hari juga dimasakin mamah ikan itu. Bukannya kamu juga seneng banget sama sup ikan yang dimasak mamah buat aku, Tiap hari kamu yang ngabisin." Gigi Daniel langsung berhenti mengunyah makanan yang disuapkan oleh istrinya, Serasa ingin segera menelan namun tidak bisa.
"Ja.......Jadi yang aku makan waktu itu i.....Ikan ular itu?" Tanya Daniel tidak percaya, Namun Dara mengangguk cepat meyakinkan keraguan Daniel. Daniel langsung berdiri sambil menutup mulutnya ia berlari cepat ke toilet membuat Dara bingung.
"Ay.....Kamu kenapa? Kamu sakit?" Ucap Dara menghampiri Daniel yang muntah-muntah. Daniel menggeleng menjawab pertanyaan istrinya.
"Kamu sih lambat makan." Dara membantu Daniel berjalan menuju Sofa untuk duduk kembali.
"Tiba-tiba perutku gak enak aja yank mau makan." Jawab Daniel, Ia tidak percaya jika ia sudah memakan dengan suka hati ikan gabus yang ia sebut ikan ular itu.
"Kenapa sih hari ini gue sial mulu? Ada apa gitu sama hari rabu? Apa perlu gue puasa tiap hari rabu biar gak sial gini mulu?" Celetuk Daniel dalam hatinya.
***
Pagi ini setelah meeting selesai El buru-buru pergi ke gudang untuk menemui Clara. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Clara wanita yang ingin melenyapkan kedua cintanya itu dari dunia.
"El lo mau kemana buru-buru banget?" Tanya Daniel penasaran melihat El berjalan cepat menuju parkiran kantor.
"Mau nyelesein urusan gue." Ucap El lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Daniel.
"Dia mau ketemu Clara? Bahaya kalo dibiarin sendirian." Daniel langsung berlari kearah mobilnya lalu mengikuti El yang sudah tidak terlihat lagi.
Dalam perjalanan mengikuti El, Hp Daniel terus berdering. Ia menepi sejenak lalu menerima telepon yang ternyata dari Rendy.
"Dan lo dimana?"
"Gue dijalan, Kenapa?"
"Barusan Clara nelepon gue tapi gak gue angkat tapi karena terus-terusan neleponin akhirnya gue angkat. Dia nangis-nangis minta tolong sama gue, Katanya dia disekap. Beneran gak sih?" Tanya Rendy, Daniel menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya itu.
"El yang nyekap dia." Jawab Daniel.
"Apa? Ja.....Jadi beneran dia disekap?"
"Iya, Dia yang udah ngeracunin Luna dan anaknya El sampai-sampai El nyaris kehilangan anaknya waktu itu."
"Gila banget sih Clara. Panteslah El nyekap dia."
"Sekarang gue lagi nyusul El ketempat penyekapan Clara. El gak bisa dibiarin sendirian disana, Lo gak tau siapa El dan gimana El kalo udah marah. Terlalu beresiko kalo dibiarin ."
"Lo kirim alamatnya ke gue, Gue juga bakal nyusul kesana."
"Oke." Daniel langsung mengirimi alamat gudang kosong tempat El menyekap Clara lalu melanjutkan perjalanan nya. Rendy pun langsung bergegas pergi saat menerima alamat yang dikirim Daniel.
***
"El kamu gila ya? Apa salahku sampai-sampai kamu perlakukan aku kek gini?" Ucap Clara sambil terisak menangis saat El duduk tepat didepannya. Clara saat ini duduk disebuah kursi dengan kaki dan tangan yang terikat.
"Dan kamu tau betul gimana aku kalo aku sudah gila! Aku udah sering peringati kamu untuk menjauh dari keluargaku terutama Luna. Tapi mungkin karena aku terlalu lunak menghadapi kamu, Kamu mulai bertingkah." Kata El datar membuat Clara merasa takut untuk menatap wajahnya saat ini.
"Apa maksud kamu? Aku bahkan gak ada ketemu Luna."
"Kamu masih mau bohong setelah semua yang kamu lakuin sama anak dan istri aku? Demi obsesi gila kamu, Kamu bahkan tega ngeracunin anak yang belum lahir kedunia!" Teriak El membuat Clara makin ketakutan dan menangis sejadi-jadinya.
"El sumpah, Aku gak ngelakuin apa-apa. Aku emang bener-bener mencintai kamu dan o
pengen milikin kamu, Tapi aku gak akan nyakitin darah daging kamu El. Walau aku gak suka sama anak kamu dan Luna tapi aku gak akan nyakitin dia karena dia adalah kamu, Darah kamu mengalir dalam tubuhnya dan aku gak bisa nyakitin dia karena sama aja aku nyakitin kamu." El yang makin kesal dengan semua kebohongan Clara langsung berdiri mendatangi Clara. Dipegangnya rahang Clara membuat Clara makin ketakutan saat ini. Baru kali ini ia melihat El semarah ini padanya.
"El......" Teriak Daniel, Daniel dan Rendy sudah ada disana. Mereka berdua lalu berlari menghampiri El.
"El, Gue tau lo marah banget tapi gak gini caranya. Ini udah termasuk kriminal El, Seenggaknya lo pikirin anak istri lo kalo mereka tau lo begini, Terlebih Luna." Tangan El langsung melepas wajah Clara yang basah karena airmata nya. Hanya itu titik kelemahan El, El melampiaskan kemarahannya pada bangku yang tadi ia duduki. Bangku ia ia lempar hingga patah hancur.
"Daniel kamu percaya kan sama aku? Aku gak ngelakuin apa-apa sama Luna Dan. Please percaya sama aku." Kata Clara berharap Daniel percaya padanya. Daniel hanya diam tidak tau harus mengatakan apa tapi jauh di hati nya ia merasa kasihan pada Clara.
"Kalo bukan karena Luna dan anakku. Mungkin aku udah ngabisin kamu!" Tegas El lalu pergi dari tempat itu disusul oleh Daniel yang berlari mengejar El.
Kini hanya Rendy yang ada ditempat itu menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ren, Tolong percaya sama aku. Aku gak bohong, Sumpah untuk kali ini aku gak bohong Ren......Please percaya sama aku." Rengek Clara setengah memohon sambil menangis. Rendy mendekati Clara lalu menundukan tubuh tingginya hingga wajah mereka berhadapan.
"Aku pernah mempercayai kamu, Tapi kamu ingkari. Dan sekarang kamu minta agar aku percaya? Maaf harus berkata kasar, Tapi kamu pantas dapatkan ini semua. Seandainya aku yang jadi El, Aku gak akan bersabar lagi ngadepin kamu karena tempat nya setan itu di neraka bukan di dunia." Tangis Clara pun pecah mendengar ucapan Rendy. Ia tidak bisa lagi berkata-kata menahan sesak didada. Timbul rasa penyesalan karena telah membohongi Rendy, Seandainya ia tidak berbohong mungkin Rendy tidak akan sebenci ini padanya.
Rendy lalu pergi meninggalkan Clara sendirian didalam sana, Ia memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Ada rasa sakit dihatinya yang ia rasakan saat ini namun ia tidak ingin terkecoh dengan perasaan ini makanya ia memilih pergi.
Bersambung.....
**Sorry baru up karena author lagi sibuk.....
Dan maaf di eps ini mungkin ceritanya ngebosenin......Buntu banget otak author gak bisa nyusun kata2 padahal udah punya alur cerita.
Jgn lupa like n vote nya ya....
Makasii yg setia nunggu PH 😘😘😘😘**