Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Zea & Davin



Seminggu sudah berlalu, Semua berjalan sesuai aturan Tuhan. Mereka hanya pemain yang mengikuti namun memiliki pemikiran dan rencana masing-masing. Semua sudah diatur namun ada sebagian manusia yang tidak bisa terima dengan jalan yang sudah diberikan untuknya.


"Bisa bertemu dengan pak Kenan Abner?" Tanya Eriska yang saat ini sedang berada di kantor milik Kenan.


"Apa anda sudah memiliki janji sebelumnya? Dan siapa nama anda?" Tanya Resepsionis wanita itu tidak begitu menghiraukan Eriska.


"Saya Eriska, Saya belum membuat janji dengan pak Kenan tapi beliau sendiri yang menyuruh saya datang." Jawab Eriska tersenyum padahal ia sangat mengerti dan tau jika resepsionis tersebut tidak menghiraukannya. Mungkin karena penampilan Eriska saat ini yang hanya mengenakan celana jeans, Baju kaos sepatu sneaker serta tas selempang kecil.


"Kalo gitu anda gak bisa ketemu sama pak Kenan. Lagipula pak Kenan itu sibuk, Gak bisa diganggu sama sembarang orang." Katanya lagi sambil meletakan kaca ketas meja yang ia pegang sejak tadi.


Mendengar hal itu Eriska tersenyum pasi. Ia menggenggam erat kartu nama yang diberikan Kenan saat itu lalu pergi dari sana.


"Siapa sih tuh cewek? Kok pengen ketemu sama pak Ken?" Tanya salah seorang staf yang baru datang ke meja resepsionis.


"Gak tau, Dibilang cewek ONS nya pak Ken juga gak mungkin lah liat aja penampilannya lebih mirip kurir makanan gitu." Sahut resepsionis tadi terdengar jelas ditelinga Eriska saat kedua wanita itu menertawakan nya. Eriska hanya tertunduk malu sambil terus berjalan menuju pintu keluar, Harusnya ia tidak datang ketempat ini. Ini bukan tempat yang tepat untuknya ia sadar betapa tidak pantasnya ia berada disini.


"Bodoh! Harusnya aku gak datang kemari." Ucap Eriska sambil berlalu hingga tidak sengaja ia menabrak seseorang.


"Maaf." Kata Eriska singkat dan terus berjalan.


"Eriska." Ucap pria itu yang tidak lain adalah pemilik dari tempat yang ia datangi saat ini. Eriska mengangkat wajahnya, Kenan sudah berdiri dihadapannya.


"Kenapa gak telepon kalo kamu mau kesini?" Tanya Kenan.


"Maaf dan permisi." Sahut Eriska lalu pergi begitu saja dari hadapan Kenan membuat Kenan heran.


"Eriska, Tunggu sebentar." Kata Kenan mengejar dan menghentikan Eriska.


"Kamu mau ketemu aku kan?"


"Tadinya gitu, Tapi sekarang gak jadi."


"Kenapa? Ayo masuk kita bicara diruanganku." Ajak Kenan, Namun Eriska menolaknya kembali ingin pergi dan lagi-lagi Kenan menahannya.


"Aku gak tau apa tujuan kamu datang kesini, Tapi aku yakin ada sesuatu yang buat kamu datang kesini. Ayo bicara, Kita sudah lama saling mengenal tapi baru kali ini kita saling bicara, Kalo kamu gak keberatan mari berteman." Kata Kenan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan, Eriska diam. Ia takut jika ia meraih jabat tangan itu ia akan kembali terjebak dalam dunia yang tidak ia inginkan namun ia juga tau Kenan tidak sebe*at Baron. Akhirnya Eriska menjabat tangan Kenan, Selain itu ia juga sangatbutuhkan pekerjaan yang ditawarkan oleh Kenan karena saat ini ibunya sedang dirumah sakit dan ia perlu dana untuk biaya pengobatan. Pekerjaan nya sebagai penjaga toko bunga serta pelayan di club malam tidak mencukupi untuk biaya pengobatan itu sebabnya ia datang ke tempat ini.


Kenan tersenyum lalu mengajak Eriska untuk masuk dan bicara di dalam ruangan nya namun Eriska menolak karena tidak ingin dihina kembali oleh karyawan dikantor Kenan. Tapi Kenan terus membujuk hingga wanita itu akhirnya mau untuk diajak masuk. Melihat Eriska datang bersama Kenan resepsionis tadi tercengang, Ia tidak menyangka jika Eriska bisa sedekat itu dengan Dirut mereka.


"Sekarang kamu bisa bicara, Apa yang membuat kamu datang kesini?" Tanya Kenan saat mereka sudah berada di dalam ruangan mewah milik Ken.


"Apa tawaran mu minggu lalu masih berlaku?" Tanya Eriska sedikit ragu dan malu.


"Kamu tertarik?" Tanya Ken tersenyum. Eriska menunduk lalu mengangguk pelan.


"Kamu yakin gak masalah kerja dibagian itu? Kerjaanya cukup banyak dan melelahkan."


"Apapun asal aku bisa mendapatkan uang." Sahut Eriska menangkat wajahnya melihat Kenan.


"Kamu perlu uang? Apa untuk biaya pengobatan ibumu?" Eriska kembali menunduk dan mengangguk menjawab pertanyaan tepat dari Kenan.


"Baiklah, Besok pagi kamu bisa datang dan mulai bekerja." Jawab Kenan santai, Mendengar hal itu Eriska langsung mengangkat wajahnya. Wajahnya tersenyum bahagia menunjukan paras cantiknya yang selama ini ia sembunyikan dibalik wajah datarnya.


"Serius aku bisa kerja disini?" Tanya Eriska tidak percaya. Kenan tersenyum dan mengangguk membuat wanita itu seketika kembali tersenyum manis membuat Kenan juga merasa senang karena akhirya ia bisa membantu Eriska.


"Sebentar, Aku siapin kontrak kerjanya dulu ya." Kata Kenan, Ia lalu menelepon bagian HRD untuk segera menyiapkan kontrak kerja milik Eriska. Dan Eriska tidak tau lagi betapa ia merasa sangat bahagia saat ini, Itu artinya ibunya bisa kembali mendapatkan pengobatan.


Setelah menandatangi kontrak, Eriska langsung pergi dari kantor Kenan untuk menemui ibunya yang saat ini sedang menunggunya. Tentu ibunya sangat bahagia mendengar kabar ini, Eriska memang hanya tinggal berdua dengan sang ibu yang sudah lama sakit-sakitan.


"Pak, Saya minta tolong untuk menambah satu anggota lagi di bagian cleaning service. Namanya Eriska Linara, Dia akan mulai bekerja besok pagi dan tolong jangan bilang ini semua karena saya yang minta." Kata Kenan saat menelepon bagian HRD nya.


***


"Anak-anak study tour kita kali ini ke kebun binatang raya. Kalian harus mematuhi aturan dan tetap berada dalam kelompok serta jangan pernah memberikan makanan pada hewan-hewan yang ada disana." Ucap guru pembimbing, Hari ini kelas Zea mengadakan study tour dan tentu mereka sudah mendapatkan izin dari orangtua murid. Kegiatan belajar dialam terbuka ini dilakukan dua minggu sekali di tiap kelas.


Semua murid mengerti arahan dari guru mereka termasuk ketiga bocah itu, Davin, Devan dan Zea. Tidak lama mereka sampai ditempat tujuan yaitu kebun binatang raya, Satu persatu murid turun dari bus sekolah mereka.


"Zea, Jangan jauh-jauh ya." Ucap Davin mengingatkan Zea karena ia tau gadis kecil itu tidak bisa diam.


"Iya bang, Zea tau kok." Sahut Zea, Davin tersenyum sambil menepuk pelan pucuk kepala Zea.


"Kamu gak nyembunyiin makanan kan dalam tas kamu? Dikebun binatang kita gak booeh kasih makan hewan-hewan yang ada disini." Tambah Devan mencurigai Zea.


"Ya gak lah, Kalo gak percaya liat aja sendiri nih." Sahut Zea menyodorkan tasnya, Devan lalu memeriksa isi ransel milik Zea dan benar saja ia tidak menemukan makanan atau benda aneh lainya di dalam sana. Hal ini memang selalu dilakukan oleh kedua anak laki-laki tersebut mengingat Zea sudah seperti adik untuk Davin dan Devan.


"Tuh kan gak ada apa-apa selain buku catatan." Celetuk Zea, Devan lalu mengembalikan tas milik Zea.


Saat memasuki pertengahan kebun binatang beberapa petugas kebun binatang tersebut menemui guru pembimbing untuk memberitahu jika anak-anak tersebut tidak bisa memasuki area akhir yaitu tempat yang mengurung beberapa primata langka termasuk orang utan yang berasal dari pulau kalimantan dan sumatera karena adanya satu orang utan yang sedang lepas dan mengamuk. Mendengar hal itu, Guru mereka tidak mengajak anak muridnya untuk melihat sosok hewan yang mulai langka itu.


"Batas kita hanya sampai disini, Tidak ada yang boleh masuk ke area hewan primata karena terjadi suatu masalah." Ucap guru pembimbing mereka. Sedang asik mendengar gurunya menjelaskan tentang jenis unggas Davin sibuk mencari sosok Zea yang sejak tadi tidak ia lihat dan dengar suaranya.


Sebenarnya Davin ingin langsung melapor tapi ia urungkan karena takut jika Zea hanya sedang pergi ke toilet bersama teman-temannya. Namun setelah lama menunggu Zea tidak juga datang membuat Davin khawatir.


"Pak, Zea tidak ada dalam rombongan." Ucap Davin yang akhirnya melapor, Mendengar hal itu Devan yang sejak tadi berdiri dibarisan depan langsung mencari-cari Zea dalam kerumunan murid lain namun ia tidak menemukan sosok Zea.


"Yang lain kembali ke bus bersama bu Tiara, Jangan ada yang meninggalkan bus hingga bapak membawa Zea kembali." Ucap pembimbing tersebut semua anak lalu dibawa kembali ke bus tapi dua orang anak laki-laki itu malah berlari tanpa sepengetahuan guru-guru mereka. Sambil terus memanggil nama Zea mereka mencari kesemua tempat.


Hingga akhirnya Davin berdiri didepan gerbang area akhir, Tempat yang dilarang untuk dimasuki.


"Zea...." Panggil Davin untuk memastikan jika Zea tidak berada didalam sana.


"Abang, Abang Davin. Zea disini." Namun Davin salah besar, Nyatanya suara Zea terdengar dari dalam sana.


"Zea kamu disana? Tunggu sebentar abang panggil petugas kebun binatang ya." Kata Davin ingin segera meminta pertolongan.


"Jangan tinggalin Zea bang, Disini gelap Zea takut." Ucap Zea sambil menangis ketakutan


tentu hal itu langsung menghentikan langkah Davin. Tempat itu memang dibuat seperti ruangan dan besar karena mereka mengurung hewan langka dan karena ada salah satu hewan yang lepas mereka sengaja membuat gelap tempat itu agar tidak dimasuki pengunjung.


"Zea, Kamu tunggu disana ya abang masuk jemputin kamu." Ucap Davin namun sebelum menjemput Zea ia lebih dulu mengirim pesan pada Devan lewat smartwatch miliknya lalu ia memberanikan diri untuk masuk kesana. Dinyalakan nya cahaya kecil dari sebuah gantungan kunci berbentuk bintang yang selalu menggantung di tasnya. Davin terus berjalan sambil memanggil dan mencari Zea hingga ia melihat sosok Zea sedang duduk memeluk kedua lututnya di sudut ruangan. Davin langsung menghampiri Zea yang terlihat ketakutan, Zea mewarisi rasa takut gelap dari sang ibu.


"Abang... " Panggil Zea, Davin menghampirinya dan memeluk Zea yang sedang menangis sendirian ditempat itu.


"Udah gak apa-apa, Kamu jangan nangis lagi ya. Udah gak gelap lagi kok, Kita bisa keluar sekarang." Ucap Davin menenangkan Zea.


"Zea takut." Ucap Zew terisak dalam pelukan Davin.


"Udah gak apa-apa kan ada abang disini. Kita keluar dulu yuk, Disini berbahaya." Ucap Davin dengan sabar layaknya seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya.


Davin membantu Zea berdiri, Entah kenapa Zea bisa berada ditempat ini. Baru saja mereka ingin keluar namun seekor orangutan yang sedang mengamuk itu datang menghentikan langkah keduanya dan saat itu juga lampu ruangan menyala mungkin karena Devan sudah melapor pada pihak penjaga kebun binatang tersebut. Melihat hewan besar itu membuat Zea kembali menangis ketakutan, Bahkan tubuh Davin seketika dingin melihat hewan yang tepat berada dihadapannya tersebut. Davin mnggenggam erat tangan Zea dan menyembunyikan gadis itu tepat dibekangnya.


Hewan itu terlihat marah dan terganggu belum lagi suara ribut dari hewan-hewan lain ada ada dalam kandang membuat nyali kedua bocah ini tenggelam.


Hewan itu berlari cepat kearah mereka berdua dan dalam sekejab ia menyerang punggung Davin yang sedang menyembunyikan Zea dalam pelukannya agar tidak terluka. Punggung Davin menjadi sasaran empuk dari cakaran hewan itu Zea terus menangis dalam pelukan Davin, Walaupun merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya tapi itu tidak membuat pelukan Davin mengendor sedikitpun.


Beruntung para petugas kebun binatang serta guru dan juga Devan cepat datang kesana, Para petugaspun langsung menembakan suntikan bius kearah hewan itu dan dalam hitungan detik obat bius bekerja. Hewan itu sedikit demi sedikit mulai tumbang hingga akhirnya tidak sadarkan diri begitu juga dengan Davin yang ikut tidak sadarkan diri sambil terus memeluk Zea.


Dengan cepat mereka menolong kedua anak tersebut Davin juga langsung dilarikan kerumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Zea pun ikut terluka dibagian lengan serta kakinya.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit Zea menangis didalam ambulan. Bukan karena rasa sakit dari lukanya melainkan melihat keadaan Davin yang terluka karenanya.


"Zea, Zea tenang ya. Sekarang Zea bilang sama bapak kenapa Zea ada diruangan itu?" Tanya Guru pebimbing yang ikut mengantar Davin.


"Ze...Zea juga gak tau, Tadinya Zea lagi liat-liat burung tau-tau tas Zea ditarik dari arah belakang. Habis itu Zea gak ingat apa-apa dan tau-tau Zea ada didalam sana." Jelas Zea bercerita pada guru pembimbingnya. Devan yang juga ikut dalam ambulan tersebut dan duduk disamping Zea menghapus air mata gadis kecil itu.


"Jangan nangis ya, Davin kuat sama kek aku karena kami satu." Ucap Devan tersenyum agar Zea berhenti menangis.


"Apa dalam tas kamu ada makanan?" Tanya guru tersebut, Zea menggeleng begitu juga dengan Devan yang sebelumnya sudah memeriksa tas Zea.


Tidak lama mereka sampai diRumah Sakit, Davin langsung ditangani petugas medis begitu juga Zea yang langsung mendapatkan suntikan anti rabies. Mereka semua menunggu disana dan tidak lama El, Luna, Daniel dan Dara datang saat diberitahukan kabar tersebut mereka langsung datang kemari.


"Gimana Davin? Dimana dia sekarang?" Tanya Dara pada guru pembimbing, Ia terlihat sangat panik saat ini begitu juga dengan Daniel.


"Kok bisa sampai begini sih pak? Kalau ada apa-apa dengan anak saya. Saya akan menuntut pihak sekolah dan pihak kebun binatang tersebut." Ancam Daniel tidak main-main.


"Dan, Tenang dulu. Kita denger dulu ceritanya." Ucap El yang langsung menenangkan sahabatnya itu begitu juga dengan Luna yang langsung menenangkan Dara yang kini sudah duduk sambil menangisi Davin.


"Maaf pak, Kami pihak sekolah sangat menyesali atas kelalaian kami hingga menyebabkan Davin terluka. Tapi ini 100% murni adalah kecelakaan, Hewan yang awalnya menyerang dan membawa Zea mengalami stres hingga ia kabur dan mengamuk. Hewan itu baru didatangkan ketempat itu bersama bayinya yang sedang kritis karena tertembak peluru dari pemburu liar dan akhirnya menyebabkan bayinya mati. Dia menyeret Zea ketempat itu namun beruntung Zea tidak terluka parah, Dan saat kami datang untuk menyelamatkan Davin berserta Zea hewan itu sedang mengamuk dan menyerang Davin. Sekali lagi kami minta maaf pak, Ini semua terjadi karena kelalaian kami dan pihak kebun binatang."


Mendengar hal itu Daniel terduduk disamping Dara ia benar-benar shock, Ia tidak tau harus marah pada siapa saat ini yang jelas ia berdoa semoga Davin tidak apa-apa. Melihat kedua orangtua angkatnya seperti itu Zea yang tadinya duduk dalam pelukan Luna berdiri dan menghampiri Dara serta Daniel.


"Maafin Zea ayah, Bunda. Ini semua karena Zea, Bang Davin terluka karena nolongin Zea. Bang Davin terluka karena ngelindungin Zea." Ucap Zea menangis meminta maaf. Dara menggeleng sambil mengusap lembut pipi Zea yang basah.


"Ini bukan salah Zea nak." Sahut Dara, Daniel duduk bertumpu pada kedua lututnya.


"Doain bang Davin ya sayang biar dia gak kenapa-napa. Zea gak salah, Ini musibah Zea jangan nangis lagi ya." Kata Daniel lalu memeluk tubuh mungil Zea. Ia tau jika anaknya berusaha melindungi Zea, Dibalik rasa sedihnya ia juga merasa bangga pada putra sulungnya tersebut karena berani menghadapi bahaya besar untuk melindungi Zea.


Bersambung