
7 tahun sudah berlalu, Kini hidup El dan Luna kembali seperti sedia kala dan tidak ada lagi hal yang disembunyikan antara mereka. El memilih untuk melanjutkan bisnis peninggalan ayahnya dan kini ia lah yang menjadi bos geng tersebut. Bisnis yang sejak kecil sudah ia hindari, Bisnis yang menurutnya hanya tentang kekerasan, Kekuasaan dan keributan kini ia lah yang menjadi pemimpin di kelompok tersebut.
Hari ini El tidak pergi ke kantor karena sibuk menyiapkan pesta ulang tahun anaknya. Ini juga tahun ke 7 bagi Zea merayakan ulang tahun nya. Zea tumbuh sangat cepat, Ia menjadi gadis kecil yang lucu, Cerdas, Cantik, Centil dan sangat cerewet. Zea memiliki wajah cantik yang diturunkan oleh mommy nya namun Zea lebih banyak mewarisi wajah ayahnya. Sama-sama memiliki lesung pipi di kedua pipinya, Mata serta dagu mereka pun sangat mirip membuat siapa saja yang melihat akan langsung tau jika mereka adalah anak dan ayah.
"Daddy......" Panggil Zea berlari kearah El yang sedang asik dengan laptopnya. Walau ia tidak pergi ke kantor bukan berarti ia tidak bekerja, Mengingat tanggung jawabnya kini makin bertambah.
"Hei......Anak daddy baru pulang sekolah ya." Sahut El mencium pipi gembul milik Zea yang baru saja pulang sekolah.
"Daddy, Does uncle Kenan come to my birthday?" Tanya Zea, Jangan heran jika ia sering berbicara dengan menggunakan bahasa inggris itu karena program standar pendidikan yang ia ikuti di sekolahnya. Mendengar pertanyaan itu El tertawa, Ia sangat heran kenapa gadis kecilnya itu sangat tergila-gila dengan sosok Kenan. Bahkan Zea mengklaim jika Kenan adalah suami masa depannya. Jika bertemu Kenan ia akan terus menempel pada pria yang masih betah membujang itu.
"I haven't had the chance to invite uncle Kenan, Sorry." Sahut El mencubit hidung mancung Zea membuat wajah Zea seketika masam.
"Ih daddy, Buruan telepon om Kenan. Pokoknya dia harus datang ke pesta ulang tahun Zea." Rengek Zea dengan manja sambil terus menariki lengan baju El membuat El makin tertawa lucu.
"Kenapa Zea? Baru pulang sekolah kok udah berantem sama Daddy?" Tanya Luna yang datang membawa secangkir kopi untuk El.
"Daddy belum ngasih undangan ke om Kenan kalo besok acara ulang tahun Zea. Entar om Kenan gak sempat nyari hadiah buat Zea." Sahut Zea mengadu pada ibunya yang kini duduk disebelah El.
"Daddy belum sempat honey......Ya udah sekarang Zea ganti baju dulu habis itu daddy telepon om Kenan, Oke." Bujuk El agar puteri kecilnya itu berhenti merajuk. Dan cara itu selalu sukses, Zea langsung memeluk El sambil menciumi pipi ayahnya itu.
"Thank you dad." Ucapnya lalu ia segera berlari menuju kamarnya untuk mengganti baju.
"Sampai sekarang abang masih suka bingung, Zea itu centilnya ngikutin siapa ya? Perasaan abang gak gitu deh." Ucap El yang terus memperhatikan anak perempuan nya. Luna yang mendengar hal itu langsung mendekati telinga El sambil menyipitkan kedua matanya.
"Aku juga gak centil." Sahutnya lalu meniup telinga El membuat suaminya merinding dan langsung mencium bibir Luna dengan cepat sebelum Luna berpaling.
"Terus apa namanya ini huh?" Tanya El yang wajahnya kini makin dekat dengan wajah Luna.
"Daddy......Mommy....." Teriak Zea yang berdiri di depan pintu kamarnya membuat El dan Luna kaget dan Luna langsung mendorong tubuh El menjauh darinya padahal sedikit lagi El akan memberikan shoot di bibir Luna.
"Ini salah satu faktor kenapa dia belum punya ade sampai sekarang." Ucap El mendengar hal itu Luna tertawa geli karena memang Zea tidak mengizinkan ayah nya itu berdekatan dengan ibunya.
"Kenapa sayang?" Tanya Luna pada Zea yang kini memaksa duduk diantara kedua orangtuanya membuat El memutar kedua bola matanya sambil menghela nafas.
"Udah ditelepon belum om Kenan nya? Entar daddy lupa lagi, Daddy kan suka lupa orangnya." Gerutu gadis kecil itu sambil memonyongkan mulutnya membuat El dan Luna gemas.
"Iya Zea Leondra, Ish cerewet banget sih." Sahut El menahan rasa gregetan pada anaknya sendiri. El langsung meraih hp nya dan menghubungi Kenan.
"Halo.....Gue ganggu kerjaan lo ya?" Tanya El saat telepon diangkat oleh Kenan.
"Gak, Kebetulan gue lagi gak banyak kerjaan. Kenapa?" Belum sempat El menjawab pertanyaan Kenan, Zea buru-buru merebut hp milik ayahnya.
"Om Ken......" Panggil Zea manja, Membuat El menggelengkan kepalanya begitu juga Luna yang hanya bisa menarik nafas panjang.
"Yes beib, Kenapa?" Sahut Kenan, Sifat manja Zea sangat di dukung oleh Ken. Itu sebabnya ia terus menempel dengan Ken. Ken sangat memanjakan Zea, Apapun keinginan nya hampir semua ia turuti. Padahal El sudah sering membahas masalah itu, Ia tidak ingin Zea terlalu manja hingga melewati batas pada Ken tapi tetap saja Ken dan Zea tidak ada bedanya. Lagipula siapa yang bisa tahan mengacuhkan anak selucu, Secantik dan secerdas Zea.
"Tomorrow is my birthday party." Ucap Zea sangat faseh bicara dalam bahasa inggris.
"Oh really? What do you want as a gift?"
"Mmmmmmm I want you to come."
"Cuma itu?" Tanya Ken memastikan.
"Ummmm......Tentu tidak." Sahut Zea polos yang masih mengharapkan hadiah dari Kenan. Mendengar hal itu Ken tertawa, Ia tau semua barang kesukaan Zea bahkan El menjuluki Kenan sebagai ayah kedua bagi Zea.
"Oke baby.....Sekarang kasih hp nya ke daddy dulu ya, See you tomorrow my girl." Zea tertawa malu mendengar hal itu, Ia langsung mengembalikan hp milik ayahnya itu.
"Zea ke kamar yuk sama mommy." Ajak Luna, Zea mengangguk lalu mereka berdua pergi ke kamar Zea.
"Sorry ya tentang Zea, Gak tau gue makin hari makin jadi aja tingkahnya." Ucap El yang merasa tidak enak pada Kenan.
"Biasa aja lah El, Kita kan udah sering bahas. Gue sayang sama Zea kek anak gue sendiri walaupun gue belum punya anak. Tapi bener-bener udah ngerasa jadi bapak gue." Sahut Kenan lalu tertawa, Mendengar hal itu El ikut tertawa.
"Ya udah besok jangan lupa jam 2 siang acaranya." Setelah itu sambungan telepon berakhir. El menutup laptopnya lalu menyusul anak dan istrinya.
"Stttttt......." Kata Luna saat menunjuk kearah Zea yang sedang tertidur pulas dalam pelukannya. El berjalan pelan lalu ikut berbaring disamping Luna sambil memeluk istrinya dari arah belakang.
"Sayang......" Panggil El pelan berbisik ditelinga Luna membuat Luna.
"Hmmm......" Sahut Luna singkat sambil terus mengusap kepala anaknya.
"Baring di kamar kita aja yuk, Entar Zea bangun." Bisiknya lagi membuat Luna berpaling melihat kearahnya sambil mengerucutkan dahi.
"Kangen........Zea udah makin besar, Waktu untuk berduaan makin dibatasi sama dia." Sambung El lalu mengecup pipi Luna.
"Ya udah sini aku peluk juga kek Zea." Sahut Luna membalikan tubuhnya menghadap El. El tersenyum memandangi wajah Luna.
"Sayang, Pernah bayangin gak sebelumnya di usia kamu yang masih semuda ini kamu udah punya anak sebesar Zea. Kamu gak iri liat perempuan-perempuan lain yang diusia nya sama seperti kamu saat ini mereka masih asik dengan dunianya sendiri. Ada yang masih kuliah, Ada yang masih kerja juga. Kamu gak pengen kek mereka?" Tanya El yang kini merebahkan kepalanya di bahu Luna.
"Abang, Entar kalo Zea bangun terus nyariin ke kamar gimana?" Tanya Luna, Namun bukan El namanya kalau ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Setelah masuk ke dalam kamarnya El tidak langsung menurunkan Luna di atas tempat tidur melainkan terus membawanya ke dalam kamar mandi.
"Abang......Apaan sih?" Tanya Luna yang sebenarnya sudah tau apa yang di inginkan oleh El dan hal apa yang akan terjadi. Setelah berada di dalam kamar mandi El menurunkan Luna dan langsung mengunci pintu kamar mandi. El mengurung Luna dalam pelukannya membuat Luna tidak bisa bergerak.
"Sekarang gak ada yang ganggu." Ucap El tersenyum penuh kemenangan. Luna pun ikut tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher El.
"I love u." Ucap El, Belum sempat Luna menjawab bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh El dan karena sudah terjadi Luna pun mengikuti permainan itu.
Mereka kian larut dalam besarnya cinta dan hasrat yang kian menyala, El menekan tombol shower yang berada tepat diatas kepala mereka berdua dan air segar pun langsung turun membasahi tubuh keduanya. El terus mencumbui istrinya bibirnya terus menerus turun menjelajahi tiap jengkal leher jenjang milik Luna membuat Luna merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Dipeluknya erat tubuh El tidak kuasa menahan rasa nikmat yang terus menerus diberikan oleh El. Tangan Luna mulai meraba punggung berotot milik El, Disentuhnya pelan dan sangat lembut hingga membuat bulu kuduk El berdiri.
"Kamu selalu membuatku gila." Bisik El ditelinga Luna membuat Luna merasa egois jika hanya ia lah wanita paling beruntung sedunia. Luna kembali mencium bibir El dan terus memainkan nya hingga El tidak bisa lagi untuk menahan semua rasa dan segera menjalankan tugas pentingnya sebagai seorang suami.
***
Sedangkan itu Davin dan Devan sedang sibuk memilih hadiah untuk Zea, Mereka pergi berbelanja bersama Dara.
"Abang Davin beliin apa buat Zea?" Tanya Dara pada putra sulungnya. Davin langsung memamerkan sebuah flower crown berwarna putih berpadu dengan warna merah muda lembut.
"Zea pasti cantik kalo pakai ini di hari ulang tahun nya." Sahut Davin menjelaskan pada ibunya dengan senyum mengembang di wajahnya memamerkan ketampanan yang sudah ia miliki sejak bayi. Dara tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
"Kalo Devan beliin apa buat Zea?" Giliran anak keduanya yang ia tanya. Berbeda dengan kakaknya, Devan memiliki sifat yang lebih usil, Sangat aktif, Dan jahil. Benar-benar cerminan ayah nya siapa lagi kalau bukan Daniel. Tapi tidak bisa dipungkiri jika Devan juga memiliki otak yang cerdas sama seperti kembaran nya.
Devan membawa sebuah kotak kecil mirip kado, Ia menunjukan pada Dara kotak itu.
"Devan, Bunda gak mau kalo Devan berniat jahil apa lagi di hari ulang tahun Zea." Ucap Dara memperingati anaknya terlebih dahulu sebelum membuka kotak tersebut.
"Iya-iya, Kan biar seru." Sahut Devan tidak jadi memamerkan hadiah yang ia pilih pada Dara. Devan kembali memilih hadiah untuk diberikan pada Zea sementara itu Davin sudah selesai membungkus hadiah untuk Zea. Devan terus mengelilingi toko mainan sambil terus melihat-lihat hadiah yang cocok untuk diberikan pada Zea sampai-sampai tidak sengaja ia menabrak tubuh Kenan yang saat itu juga sedang mencari hadiah untuk Zea.
"Devan, Kamu sama siapa?" Tanya Kenan sambil berjongkok.
"Sama bunda." Sahut Devan datar, Ia kurang menyukai Kenan padahal Kenan sangat baik padanya.
"Oh, Nyari hadiah buat Zea ya?" Tanya Ken lagi. Ken sendiri tidak mengerti apa alasan sikap dingin Devan padanya berbeda dengan kakaknya Davin yang sangat ramah.
"Gak, Jalan-jalan aja." Sahutnya lagi ketus membuat Kenan tersenyum.
"Van, Udah selesai belum?" Tanya Dara yang menghampiri Devan.
"Loh, Kamu disini juga?" Tanya Dara, Kini hubungan mereka baik sebagai seorang teman, Daniel dan Kenan juga kini bersahabat.
"Mmmmmm......Nyari hadiah buat pacarku." Sahut Kenan sambil tertawa, Mendengar hal itu Dara ikut tertawa sedangkan Devan langsung pergi dari tempat itu tidak ingin mendengarkan percakapan kedua orang dewasa.
"Kek nya kamu harus sering-sering perawatan, Jadi entar kalo pacar kamu udah dewasa kamu gak keburu tua."
"Bukannya yang lebih itu lebih menarik ya?" Sahut Kenan membuat Dara mengernyitkan kedua alisnya.
"Daniel gak ikut?"
"Gak, Dia ada kerjaan di kantor."
"Siang om...." Sapa Davin yang baru saja datang.
"Hai, Udah dapat hadiahnya?" Tanya Kenan menunduk bertumpu tangan pada kedua lututnya. Davin mengangguk tersenyum memamerkan paper bag ditangan nya.
"Ayo kita pulang." Ucap Devan yang baru saja datang sambil membawa sesuatu yang sudah dibungkus rapi.
"Kamu ngasih Zea apa?" Tanya Dara melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalo dikasih tau, Namanya bukan kejutan." Jawab Devan cuek sambil berlalu membuat Dara menggelengkan kepala.
"Dah om Ken." Ucap Davin melambaikan tangan pada Kenan dan langsung menyusul adik kembarnya itu ke mobil.
"Anak itu judesnya bener-bener ngikutin kamu." Celetuk Kenan tidak sadar melihat tingkah laku Devan yang menurutnya sangat mirip dengan Dara.
"Aku? Aku sejutek itu emang?" Sahut Dara berkacak pinggang.
"Huh? Hehehe dulu, Dulu banget pokoknya." Jawab Kenan tersenyum kaku.
"Ya udah aku duluan ya. Anak-anak udah pada nunggu di mobil." Ken mengangguk lalu mereka berpisah disana. Dan Kenan kembali melanjutkan untuk mencari hadiah untuk kekasih kecilnya itu.
**Bersambung......
Hai Eluna lovers sorry nii ya mungkin eps kali ini kurang ngefell n kurang seru karena pengenalan tokoh baru yaitu Zea, Davin, Dan Devan.
Tp entar pasti seru lg kok, Jd ttp setiap ya sama mereka......
😘😘😘**