
"Beib kamu tau gak, Pak Kenan itu ngerayain pesta tepat 7 hari setelah kematian papanya. Gila ya, Gak ada sedih-sedihnya gitu malah dia ngadain pesta." Kata Daniel saat mereka sudah ada dirumah.
"Mungkin dia ngadain pesta buat ngilangin kesedihannya?" Sahut Dara tanpa minat dengan obrolan itu sambil membantu melepaskan dasi suaminya.
"Ngilangin kesedihan dengan cara berpesta? kelamaan tinggal diluar negeri sih menurutku." Sambung Daniel terus membahas topik pembicaraan yang tidak penting menurut Dara.
"Ya udahlah biarin aja, Asal jangan kamu aja ngikut kea dia. Entar baru seminggu aku meninggal kamu ngadain pesta." Kata Dara sambil tersenyum.
"BEIB!!!!!" Bentak Daniel nyaring membuat Dara kaget.
"Kamu apaan sih ngomong kea gitu gak lucu tau!" Sambung Daniel lagi dengan wajah serius dan raut marah terlihat jelas dari matanya. Dara langsung terdiam menundukan kepala, Selama ini Daniel memang tidak pernah bicara nyaring apalagi sampai membentaknya. Sekesal apapun itu Daniel tetap berusaha sabar dan tersenyum tapi kali ini Dara sukses membuat pria yang biasa terlihat konyol itu marah dan membentaknya.
Melihat Dara yang langsung diam tertunduk, Daniel menangkup kedua pipi Dara. Ia sadar baru saja membentak wanita yang paling ia cintai.
"Aku bisa kehilangan apapun di dunia ini asal jangan kamu dan anak-anak karena kalian adalah nyawaku. Aku mati tanpa kalian dan aku hidup untuk kalian, Jangan pernah ngomong gitu lagi ya." Ucap Daniel pelan dan lemah lembut pada istrinya. Mendengar hal itu air mata Dara jatuh dengan sendirinya, Ia mengangkat kepalanya lalu menatap dalam wajah Daniel yang tersenyum padanya. Tanpa diminta Dara langsung mencium bibir Daniel hanya itu yang bisa mewakili semua isi hatinya saat ini. Daniel pria yang sama sekali jauh dari kata romantis tapi selalu bisa membuat Dara meneteskan air mata karena cinta yang diberikan Daniel tidak terukur banyaknya dan lagi-lagi Dara dibuat jatuh cinta pada pria itu.
***
"Aku inget sekarang, Waktu jemput abang di bandara aku dan Dara ketemu sama pak Kenan dan dia kenal sama Dara." Kata Luna sambil mengusap lembut kepala El yang saat ini sedang berbaring manja di pangkuannya sambil asik bermain game di hapenya.
"Masa sih? Kamu salah orang kali sayang, Buktinya tadi waktu dipesta mereka baru kenalan." Sahut El tetap fokus pada layar hape.
"Gak bang, Aku yakin itu pak Kenan. Dara juga sempat nyebutin namanya kok waktu itu dan mereka kea udah kenal lama, Mereka sempat ngobrol sebentar." Mendengar hal itu El meletakan hapenya dan segera bangun duduk disamping Luna.
"Beneran Kenan Abner?" Tanya El kurang yakin.
"Iya sayang, Beneran pak Kenan yang di pesta barusan. Dia bilang baru pulang dari luar Negeri dan papanya baru meninggal satu minggu yang lalu." Tambah Luna menjelaskan kalau yang ia lihat itu memang Kenan.
"Kok bisa dia kenal sama Dara? Dan kalo emang mereka udah saling kenal sejak lama kenapa harus kembali berkenalan di pesta tadi dan bersikap seolah-olah tidak saling kenal." Luna diam memikirkan ucapan suaminya, Semua itu memang masuk akal. Jika mereka memang saling kenal kenapa harus bersikap tidak saling kenal.
"Apa jangan-jangan Dara dan pak Ken dulunya sempat punya hubungan yang cukup dekat?" Kata El menebak-nebak antara hubungan Dara dan Ken.
"Maksudnya?" Tanya Luna mengerutkan dahinya tidak yakin dengan pemikiran suaminya.
"Pak Ken mantan Dara." Sahut El memperjelas maksudnya.
"Coba deh entar kamu tanya Dara, Kalo emang sampai itu beneran berarti Daniel bakalan sering ketemu sama mantan istrinya." Luna mengangguk pelan.
"Terus gimana sama kak Daniel, Kalo dia tau apa dia bisa terima dan bersikap seperti biasa." El mengangkat kedua bahunya karena ia memang tidak tau jika sampai kemungkinan itu benar dan Daniel tau, Dengan Rendy saja Daniel pernah salah faham.
"Oh iya bang, Tadi siang kakek Zea datang untuk ngeliat Zea." Luna merebahkan kepalanya dibahu besar El.
"Oh ya? Ayah sama bunda kesini? Tumben gak ngasih tau abang."
"Hmmmm bukan ayah yang aku maksud, Tapi....." Luna tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena El sudah pasti tau siapa orang yang dimaksud oleh Luna. Dan benar saja saat mendengar hal itu El langsung malas untuk menanggapi.
"Dia masih sering datang?" Kata El seperlunya sambil membelai rambut panjang Luna.
"Mmmm.....Dia keliatan seneng banget tiap kali ketemu Zea, Bahkan dia gak mau dipanggil kakek atau opa tapi big bos." El tau maksud dari pembicaraan Luna, Luna ingin El memperbaiki hubungan dengan ayah kandung nya itu.
"Bang, Gak baik kalo terus-terusan begini. Seburuk dan sejahat apapun dia, Dia tetap orang tua abang." Bujuk Luna berharap El melunakan hatinya dan bisa berdamai dengan ayah kandungnya.
"Sayang, Untuk hal lain kamu bisa bujuk aku. Tapi untuk satu itu, Maaf aku gak bisa." Sahut El tegas namun tetap dengan cara yang lembut membuat Luna diam.
"Udah malam, Kamu tidur gih subuh Zea udah bangun loh." Tambah Daniel mengecup pucuk kepala Luna.
"Abang gak tidur?" Tanya Luna
"Abang masih ada sedikit kerjaan. Kamu tidur duluan aja." Luna pun segera tidur dalam pelukan El mengingat bayinya yang sudah mulai pintar mengoceh dan bangun lebih awal setiap subuh nya.
El memeluk Luna menemaninya hingga tertidur lelap dan setelah yakin Luna sudah tertidur ia dengan sangat pelan melepaskan pelukannya ditubuh Luna agar Luna tidak terusik.
El keluar dari kamar tidur mereka menuju ruang kerja, Suasana rumah sudah sepi karena semua orang sudah beristirahat mengingat ini sudah hampir tengah malam.
Sesampainya disana El mengambil salah satu buku tebal yang tersusun rapi di rak buku. Dibukanya langsung halaman tengah buku itu dan selembar photo lama itupun masih terselip rapi disana. Satu-satunya barang tentang keluarga utuhnya yang ia punya. El duduk dan terus menatapi gambar lama itu, Potret dirinya saat masih kecil dengan kedua orangtua kandungnya pak Bram Leondra dan almarhumah bu Hanum. Photo yang diambil tepat dihari kematian ibu Mentari dan tiga hari setelahnya ibu kandungnya pun meninggal karena dibunuh oleh para mafia dan sudah jelas jika itu adalah musuh dari ayahnya sendiri. Beruntung pada saat itu ibu El lebih dulu mengunci El didalam lemari jika tidak mungkin El hanya tinggal nama saat ini.
El menyaksikan sendiri kematian ibunya dari celah lemari, Tubuh wanita itu dihujani butiran timah panas dan El hanya bisa merekam semua kejadian itu dari balik pintu lemari tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sejak kecil El sudah tau rasa sakit nya kehilangan orang yang ia cintai itu sebabnya ia tidak bisa menerima pak Bram dalam hidupnya. Seandainya ayahnya itu bukanlah seorang bos mafia mungkin ia tidak akan menyaksikan kekejaman itu, Seandainya ayahnya itu hanyalah orang biasa mungkin saat ini mereka masih bersama dan berkumpul dalam satu keluarga. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa menerima pria itu sebagai orang tua kandungnya. Lebih baik ia menjadi seorang yatim piatu daripada harus berdamai dengan pak Bram.
El kembali menyimpan photo itu ditempat semula lalu pergi menyusul Luna.
***
"Daddy bangun udah pagi." Kata Luna membangunkan El bersama Zea. Zea dibaringkan didekat El sedangkan Luna membuka tirai agar sinar matahari masuk.
Ocehan lucu dari mulut Zea tidak bisa diacuhkan oleh El, Pria itupun langsung bangun dan menciumi pipi Zea gemas.
"Anak Daddy cantik banget sih, Dah wangi juga." Ucap El menggendong Zea dan terus bermain dengan anak semata wayangnya itu.
"Anak Daddy cantik kea mommy." Ucap El sambil menciumi leher Zea yang tertawa geli.
"Geli Daddy, Zea habis minum susu entar muntah." Ucap Luna duduk bergabung dengan anak dan suaminya.
"Oh habis minum tutu ya tayang, Sorry ya habisnya kamu makin lucu sih." El benar-benar menikmati perannya sebagai ayah, Hidupnya benar-benar terasa sempurna memiliki segalanya yang sama sekali tidak pernah ia impikan sebelumnya. Harta yang berlimpah, Jabatan yang tinggi, Istri yang sangat sempurna walau ia tau tidak ada satupun manusia yang sempurna tapi baginya Luna adalah kesempurnaan dunia yang diciptakan oleh Tuhan. Dan kini ditambah dengan hadirnya malaikat kecil ditengah kebahagian El dan Luna maka lengkaplah sudah hidup El tidak ada hal lain lagi yang ia inginkan karena semua sudah diberikan oleh Tuhan untuknya.
"Mommy juga mau ciumin kea Zea?" Tanya El saat melihat kearah Luna dengan senyum menggoda.
"Gak mau, Daddy bau belum mandi." Sahut Luna mengolok membuat El ingin sekali menariknya dan menciumnya namun saat ini ia sedang memegangi Zea membuatnya tidak bisa berbuat banyak selain menerima ejekan itu.
"Liat entar malem ya Mommy, Bakalan Daddy bales olokan Mommy." Balas El membuat Luna mengernyit.
"Ya udah Zea sama Mommy dulu ya, Daddy mau mandi dulu." Sambil mencium Zea lagi dan lagi lalu memberikan bayi cantik itu pada ibunya.
Bersambung