
"Bangun!" Bentak Baron sambil menyiram wajah El dengan segelas minuman alkohol. Walaupun El merasakan sakit yang luar biasa karena lukanya terkena cairan yang mengandung alkohol itu, Sedikitpun tidak ada suara erangan terdengar dari mulut El.
"Ayo lawan gue, Bukannya lo orang yang hebat? Cih! Segini doang kemampuan lo?" Ucap Baron yang lanjut memukuli El, Tidak perduli jika tubuh El sudah berlumuran darah.
Mendapatkan semua perlakuan buruk yang benar-benar jauh dari kata kemanusiaan, El malah tertawa di sisa tenaganya.
"Cara lo bener-bener nunjukin kalo lo itu lemah dan pecundang." Sahut El ngos-ngosan. Ia tau itu hanya akan membuat Baron geram tapi tetap saja ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan hal itu pada Baron.
"BAN*SAT!!!!!" Teriak Baron kembali meninju wajah El, Menambah luka di wajahnya yang sudah tidak karuan.
"Lo lagi sekarat dan lo masih bisa nyombong? Lo pikir lo ini film yang pada akhirnya lo bakalan di selamatin dan gue mati? Detik ini juga lo harus sadar, Nyawa lo ada di tangan gue!" Ucap Baron murka, Ia benar-benar sangat marah karena El tidak takut sedikitpun padanya.
"Cih!...... Kalo lo ngerasa nyawa gue ada ditangan lo, Maka lo harus sadar kalo nyawa lo ada di tangan Tuhan. Dan seandainya Tuhan emang mengakhiri hidup gue dengan cara ini, Gue gak pernah menyesal karena hidup gue sangat indah bahkan terlalu indah dan gue bisa mati dengan tenang." Sahut El tidak merasa takut.
"Gue akui nyali lo besar, Kalo gitu silahkan buat permintaan terakhir untuk anak dan istri lo." Ucap Baron tertawa sambil memutari El yang duduk disebuah bangku tunggal.
***
"Aku mau ikut masuk." Ucap Luna saat mereka baru sampai ketempat penyekapan El.
"Gak, Kamu gak boleh kemana-mana. Ini terlalu berbahaya. Serahin semua sama pak Bram dan anggotanya." Cegah Rendy, Ia tidak mau mengambil resiko karena tempat ini sangat berbahaya.
"Tapi kak, Aku mau nyari El." Jawab Luna yang terus menangis dan memaksa.
"Luna, Please jangan mempersulit keadaan. Syukur kamu boleh ikut, Jangan buat semua jadi susah. Maaf kalo kakak ngomong kasar gini, Tapi tolong pikirkan lagi kalo ini sangat berbahaya dan kalo kamu mau El cepat kembali tolong bersikap tenang." Kali ini Luna langsung menurut ucapan Rendy. Ken ikut meyakinkan Luna jika semua akan baik-baik saja dan akhirnya Luna tetap berada di dalam mobil sesuai perintah mertuanya.
Pak Bram turun dari mobil begitu juga dengan Daniel. Belum lagi mereka masuk, Anak buah Baron sudah menghadang mereka namun pak Baron dan Daniel tidak perlu susah payah membuang tenaga untuk melawan mereka karena tentu anak buah pak Bram lah yang maju lebih dulu.
Pak Bram dan Daniel masuk dengan mudah menuju tempat persembunyian Baron dan benar saja mereka langsung bertemu dengan pria bertato itu yang sedang asik bermain, Menyiksa El dengan sebuah stik besi yang terus ia pukul kan ke tubuh El.
"Welcome to Hell. Gimana acara nonton nya? Seru?" Ucap Baron saat Daniel dan pak Bram ada disana. Sedangkan El sudah tidak sadarkan diri karena terus menerus menerima pukulan keras dari Baron hingga darah nya terus menetes dari kepala juga mulutnya.
"BA**NGAN! Lo bener-bener IBLIS!" Kata Daniel menyumpah. Betapa ia sangat murka melihat perbuatan Baron terhadap El. Begitu juga dengan pak Bram yang merasa hatinya hancur saat itu juga melihat darah dagingnya disiksa seperti sekarang.
"Wow bukannya ini bos mafia terbesar yang paling ditakuti? Apa yang membuat anda datang kemari? Ingin ikut menonton? Atau ingin ikut melakukan hal sama pada anak......Ah maaf maksud saya pada musuh anda." Ucap Baron lalu tertawa puas. Tangan pak Bram mengepal kuat ia bejalan kearah Baron yang sedang berdiri tepat dibelakang El , Ingin segera menghajar Baron hingga ia mati.
"Hoooo sabar pak tua, Selangkah lagi anda maju maka kepala anak ini akan hancur!" Ancam Baron menarik rambut El sambil menodongkan senjata api ke kepalanya. Dan saat itu juga langkah pak Bram berhenti.
"Lo bener-bener seorang psikopat! Lepasin El atau hari ini bakalan jadi hari terakhir untuk lo!" Balas Daniel yang ikut diam tidak bisa melakukan banyak hal karena ancaman Baron.
"Apa mau kamu?" Tanya pak Bram langsung ke titik masalah.
"Nah gue suka cara bokap lo El, Dia emang bener-bener pembisnis sejati. Beda kek lo yang bisanya cuma bikin gue marah." Ucap Baron memainkan kepala El membuat Daniel tidak tahan melihatnya.
"Gue mau uang cash sebesar 5 miliyar dan beberapa saham aktif, Gak banyak tapi melebihi dari milik El." Baron tau pak Bram tidak akan mau memberikan semua itu, Mengingat jika hubungan El dan ayah kandungannya itu selama ini jauh dari kata baik.
"Akan saya berikan semua yang kamu inginkan, Dan untuk gantinya lepaskan El." Jawab pak Bram membuat Baron dan Daniel kaget karena ia menyetujui permintaan Baron.
"Wow......Apa anda sedang berusaha menipu saya?" Sahut Baron tidak percaya. Mendengar hal itu pak Bram mengeluarkan hpnya dan langsung menghubungi orang kepercayaan nya.
"Siapkan uang tunai sebanyak 50 miliyar dan semua saham aktif milik saya. Dan tolong antarkan semua itu ke alamat yang saya kirim." Lalu pak Bram menutup teleponnya dan langsung mengirimkan alamatnya saat ini.
"Wow.....You are a good father. Tapi sayangnya El gak bisa liat pengorbanan anda. El ayo bangun, Lo harus liat pengorbanan bokap lo hari ini." Ucap Baron menarik rambut El sedangkan Baron sibuk bicara pada El yang tidak sadar, Pak Bram melihat kearah Daniel. Pak Bram sudah menebak hal ini akan terjadi maka ia dan Daniel memang sudah merencanakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Baron dengan uang.
Saat Baron lengah dengan cepat pak Bram bergerak menangkap tangan Baron yang memegang senjata api hingga senjata itu jatuh. Pak Bram menghajar Baron membabi buta, Walaupun umurnya tidak lagi muda namun tenaganya sangat kuat bahkan Baron kewalahan menghadapinya.
"Ini untuk mengganti tiap tetes darah El yang sudah kamu tumpahkan." Kata pak Bram meninju kuat wajah Baron sampai-sampai hanya dengan satu kali tinju darahnya mengalir deras. Baron terjungkal ia tidak menyangka tenaga pria paruh baya ini benar-benar kuat.
"Kalian sama gilanya! Lo dan El bener-bener punya darah pembunuh!" Teriak Baron mulai ketakutan. Sedangkan pak Bram tidak perduli walaupun ia juga mengalami luka karena pergulatannya dengan Baron. Sementara itu Daniel melepaskan ikatan El dan berusaha menyadarkan sahabatnya.
"Dan ini untuk tiap tetes airmata dari Luna karena sangat mengkhawatirkan suaminya." Pak Bram kembali meninju wajah dan perut Baron hingga pria licik itu muntah darah.
"Dan ini untuk cucuku karena kamu sudah membuatnya rindu pada ayahnya." Pak Bram benar-benar sama persis dengan El ketika ia benar-benar sudah marah, Jangankan ampun kesempatan untuk bicara sedikit pun tidak ia berikan.
"El bangun El, Ini gue Daniel." Ucap Daniel berusaha menyadarkan El. El batuk lalu kesadaran nya kembali, Ia membuka paksa matanya dan melihat Daniel sedang menopang tubuhnya.
"Lo denger gue kan? Lo bebas. Ayo kita pulang." Ucap Daniel tertawa namun matanya berkaca tidak kuat menahan perasaan nya karena El sadar.
"Hai.... Lo nang.... is? Jang..... an nang....is gueh geli liat.....nyah." Ucap El tersenyum. Sementara itu pak Bram masih menghajar Baron hingga Baron terkulai tidak bertenaga.
"Abang......" Teriak Luna yang datang bersama Rendy dan Ken. Luna berlari menghampiri El begitu juga dengan Rendy dan Kenan.
"Maafin aku, Maafin aku......Ini semua karena aku, Maafin aku." Ucap Luna menangis hebat sambil memeluk tubuh El yang basah. El tersenyum lalu menghapus airmata Luna dengan jarinya.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, Disini terlalu berbahaya." Ucap pak Bram setelah membuat Baron lumpuh, Ia menghampiri El dan Luna. El yang baru sadar jika ayah kandungnya berada ditempat itu langsung diam, Ia tidak berniat untuk menyapa pria itu dan memilih untuk tidak menghiraukan nya karena menurutnya semua ini terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh pak Bram.
Pak Bram sadar akan sikap El padanya, Namun ia tidak mempermasalahkan nya. Baginya El selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya itu sudah cukup. Ini untuk pertama kalinya ia melakukan tugasnya sebagai seorang ayah, Memang terasa sangat canggung karena hubungan mereka sangat jauh. Namun hatinya benar-benar bahagia saat ini.
Luna mengangguk, Ia dan Daniel lalu membantu El untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu. Namun siapa yang menyangka jika Baron masih sadar dan disaat yang bersamaan suara tembakan terdengar keras. Semua orang kaget lalu berbalik termasuk El dan yang lebih mengagetkan lagi pak Bram berdiri tepat di belakang El menahan peluru yang ditembakan Baron. Peluru itu tepat mengenai dada pak Bram.
Seketika El merasa tubuh dan mulutnya kaku, Matanya terbuka lebar menatap tubuh pak Bram yang mulai oleng.
Baron yang ingin kembali melepaskan tembakan ke arah El langsung dihentikan oleh Rendy dan Kenan. Bahkan Rendy mematahkan kedua tangan Baron dan Kenan menghajar Baron hingga pria itu benar-benar pingsan.
Daniel langsung menahan tubuh pak Bram agar tidak terjatuh, Darah segar langsung mengalir tumpah dari luka tembak tersebut. El menatap diam kearah pak Bram sambil mendekat sedikit demi sedikit. Luna pun langsung mendatangi pak Bram yang kini sudah terbaring dilantai sambil memegangi luka tembakan di dadanya.
"Pa, Papa.....Papa bertahan pa. Kita akan ke Rumah Sakit." Ucap Luna kembali menangis namun kini menangisi ayah mertuanya.
Sedangkan El hanya memegangi luka tembak di dada ayahnya tanpa bisa bicara, Ia benar-benar shock melihat ini semua.
"Wak....tu pa...pa sud...ah gak ba....nyak." Ucap pak Bram menarik nafas dalam. Ia meraih tangan El yang sedang menutupi luka tembakan di dadanya agar darahnya tidak banyak keluar.
"El, Maafin pa....pa. Maaf kare.....na pa...pa buk...an ay....ah yang ba....ik unt....uk ka....mu. Luna, Ma.....afin pa...pa nak, Se.....mua ya....ng ter....jadi di mas....a la...lu buk....an ke....salah....an El. Di....a gak ta...u a...pa-a....pa." Ucap pak Bram sangat berat, Luna menggelengkan kepalanya sambil menangis hebat.
"Gak ada yang salah. Ini memang sudah takdir yang digariskan oleh Tuhan. Papa tahan ya, Papa harus kuat. Zea nungguin bigbos nya, Papa janji mau ajarin Zea bela diri jadi papa harus kuat." Sahut Luna terisak, El pun saat ini hanya bisa menangis ia tidak tau harus bicara apa. Ia hanya bisa menangis sambil menggenggam kuat tangan ayah kandungnya. Tangan yang sudah lama tidak ia genggam, Tangan yang terakhir kali ia genggam saat ia masih berumur 10 tahun. Rasanya begitu sakit, Rasanya begitu sesak padahal ia sangat membenci pria ini namun nyatanya hatinya terasa hancur lebur melihat pria ini terluka.
"Cepat kita bawa om Bram ke Rumah Sakit." Teriak Daniel, Rendy dan Kenan pun bergegas memapah tubuh pak Bram membawanya ke mobil dan langsung pergi ke Rumah Sakit terdekat.
"Ceri....takan ten....tang pa...pa pa....da Zea su....paya Zea tau dan ing...at bah...wa dia me....miliki bigbos yang sang...at men.....cinta...i dan me...nyayang....i nya." Ucap pak Bram saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kondisinya makin parah, Nafasnya kian sesak dan berat suaranya juga makin melemah.
"Papa sendiri yang akan bercerita sama Zea betapa hebatnya kakek yang dimiliki oleh Zea. Dan Zea akan bangga sekaligus senang karena darah Leondra mengalir ditubuhnya." Sahut El yang akhirnya bicara karena sejak tadi ia hanya bisa diam menangis sambil menggenggam kuat tangan ayahnya itu.
Mendengar hal itu pak tersenyum, Matanya mulai terasa sangat berat dan sulit untuk tetap terbuka. Suara Luna dan El pun sedikit demi sedikit tidak bisa ia dengarkan lagi. Dan akhirnya mata itu terpejam tangan yang tadinya menggenggam kuat pada tangan El melemah dan terlepas, Tidak terlihat diwajah nya yang sedang menahan sakit. Ia bahkan tersenyum saat matanya tertutup menggambarkan betapa hatinya tenang dan bahagia saat ini.
"Pa.....Papa bangun pa, Papa gak boleh tidur. El mohon pa, Papa buka mata papa." Teriak El sambil menangis membangunkan pak Bram.
"Pa....Bangun pa." Tambah Luna yang ikut menangis hebat.
"Dan buruan Dan...." Kata El menyuruh Daniel untuk melaju cepat. Daniel yang sejak tadi sudah mengemudikan mobilnya dengan cepat langsung menambah kecepatan nya.
"Tuhan, Ku mohon berikan kesempatan walau hanya sehari." Kata El berdoa....
Tidak lama mereka sampai disebuah Rumah Sakit terdekat, Pak Bram langsung dilarikan keruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya. El juga di obati mengingat kondisinya juga sedang tidak baik saat ini. Mereka semua menunggu di depan ruangan operasi, Tidak lama tangan kanan pak Bram datang membawa koper yang diperintahkan nya tadi.
Ia benar-benar kaget dengan apa yang terjadi pada bosnya itu, Bersama El, Luna, Daniel, Rendy dan Kenan ia ikut menunggu majikan nya dengan setia.
Tidak lama lampu ruangan operasi berganti warna yang menandakan operasi selesai. Dokter yang bertugas pun keluar namun ada yang aneh dengan wajah mereka semua. El dan Luna langsung menghampiri Dokter tersebut dan menanyakan keadaan pak Bram.
"Gimana keadaan papa saya Dok? Apa
operasinya sudah selesai? Saya ingin melihat papa saya." Ucap El tidak sabaran, Dokter itu menarik nafas dalam lalu melepaskan topi sterilnya.
"Maafkan kami, Kami sudah sangat berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien namun karena peluru menembus dada nya dan tepat mengenai otot jantung. Dengan berat kami katakan pasien tidak bisa diselamatkan." Mendengar hal itu El serasa di lempar ke dalam jurang yang sangat curam hingga ia tidak bisa melihat apapun, Mendengar apapun dan merasa apapun. Daniel, Rendy dan Kenan yang juga ada disana langsung tertunduk ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh El.
"Gak....Gak mungkin Dok. Papa saya orang yang kuat, Dokter pasti salah. Tolong kembali dan periksa lagi saya mohon." Ucap Luna memohon pada Dokter yang bertugas namun Dokter itu hanya menunduk diam. El berjalan pelan masuk keruang operasi walaupun para perawat melarangnya ia tidak peduli. Saat ini ia hanya ingin melihat ayahnya, Saat ini ia ingin bicara berdua dengan ayahnya. Hal sering mereka lakukan saat dulu.
El melihat datar kearah meja operasi disana terbaring tubuh mati ayahnya. El mendekat sambil terus menatap wajah pak Bram.
"Papa tidur? Apa papa sangat lelah hari ini? Bangun pa, Kita belum mengobrol. Banyak hal yang mau El ceritain ke papa." Ucap El, Kata-kata itu biasa ia ucapkan saat masih kecil saat ia melihat ayahnya tertidur karena kelelahan bekerja ia selalu mengatakan hal itu dan saat mendengar hal itu pak Bram langsung bangun.
"Papa tidur? Apa papa sangat lelah hari ini? Bangun pa, Kita belum mengobrol. Banyak hal yang mau El ceritain ke papa." Ucapnya lagi didekat pak Bram yang sudah beristirahat dengan tenang.
"Papa tidur? Apa papa sangat lelah hari ini? Bangun pa, Kita belum mengobrol. Banyak hal yang ingin El ceritain ke papa." Tangisan nya pun pecah, Rasanya begitu sakit bahkan sangat sakit. Ketika kita mendapatkan sesuatu kenapa harus ada pula yang hilang?
"Pa, El juara satu taekwondo. El juga bisa karate, Muay thai, Dan kick boxing. El menguasai 6 bahasa asing Inggris, Jepang, Arab, Prancis, China dan baru-baru ini El belajar bahasa Korea. Pa, Papa tau El sekarang menjadi orang yang berhasil dan sukses walaupun El gak mau mengakui tapi itu semua juga karena papa. El menikah sama wanita yang baik, Lembut juga penyayang. Persis dengan almarhumah mama. Dan sekarang El punya anak yang cantik dan lucu banget yang biasa papa gendong. Pa, El akan tambahkan nama papa dibelakang nama Zea supaya orang-orang tau, Bahwa dia adalah cucu dari Bram Leondra." Ucap El menceritakan semua pada ayahnya yang kini terbujur kaku.
**Semua yang pergi pasti akan kembali, Hanya wujudnya saja yang berbeda. Beberapa berbentuk fisik dan beberapa lagi hanya berbentuk kenangan.
Dan akhirnya akan selalu ada batas untuk setiap perjalanan. Dan selalu ada kata selesai untuk semua yang di mulai.
"Perfect Husband"
*Bersambung***