Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Hot daddy



El dan Daniel saat ini sama-sama diam sambil melihat hape masing-masing berharap wanita-wanita pujaan hati mereka memberikan kabar.


"Kenapa lo? Bosen nunggui gue dirumah sakit?" Tegur Daniel melihat El yang duduk disofa sambil uring-uringan.


"Emang......Rasanya lebih enakan dikantor daripada disini."


"Sialan lo." Daniel melempar bantalnya pada El dan diwaktu yang sama Clara datang menjenguk Daniel.


"Gue keluar bentar ya, Laper." Ucap El menghindar enggan bertemu Clara.


"El, Kita perlu bicara." Cegah Clara cepat namun El tidak menghiraukan nya dan memilih tetap pergi dari sana membuat Daniel heran dengan sikap El.


"Dia kenapa?" Tanya Daniel penasaran pada Clara yang meletakan sekeranjang buah untuk Daniel. Namun Clara tidak menjawab pertanyaan Daniel, Ia hanya diam tersenyum membuat Daniel makin penasaran dengan dua sahabatnya ini.


"Kamu gak apa-apa? Sorry ya aku baru sempat kesini."


"Santai aja, Besok juga udah boleh pulang kok." Mereka banyak mengobrol menceritakan kejadian yang menimpa Daniel.


"Ummmmm Dan, Aku bisa minta tolong gak sama kamu?" Tanya Clara, Daniel mengernyit melihat tingkah Clara yang terlihat sedikit pendiam tidak seperti biasanya.


"Kenapa?" Ucap Daniel sambil mengupas jeruk.


"Dari dulu kamu udah tau kan gimana perasaanku sama El? Untuk kali ini aja aku minta tolong sama kamu. Tolong yakinkan kalo perasaanku itu tulus dan gak main-main. Aku yakin kalo kamu yang bilang, Dia bakal ngerti dan mau dengar." Ucap Clara setengah memohon pada Daniel, Daniel meletakan buah yang ingin ia makan ke atas meja dan melihat serius kearah Clara.


"La, Kamu itu wanita yang baik, Kamu cantik dan bisa dibilang sempurna. Semua laki-laki pasti akan bilang hal yang sama denganku, Tapi gak semua lelaki punya perasaan yang sama. Kamu bahkan tau kalo perasaan itu gak bisa dipaksain. Apa lagi kamu tau El orang nya gimana, Apa yang dia bilang gak sampai kapanpun tetap gak." Bujuk Daniel agar Clara mengerti dan tidak lagi memaksakan keinginan nya.


"Tapi Dan, Kamu juga tau sendiri kan gimana perasaanku sama dia. Coba kamu liat dari posisiku. Aku gak bisa gitu aja ngelupain semua perasaanku buat El 25 tahun aku nyimpan perasaan itu kamu tau." Daniel benar-benar bingung harus berbuat apa saat ini, Ia hanya berharap dokter atau suster datang dan membuat Clara diam.


"Oke, Aku tau kamu gak akan mau ngebantu. Kamu hanya perlu bilang ke El kalo aku gak akan berhenti sampai disini." Clara menghapus air matanya dan meraih tasnya lalu pergi meninggalkan Daniel yang kini menatapnya.


***


Tidak lama El kembali masuk membawa segelas coffe ditangan nya.


"Lo sama Clara kenapa?" Sambar Daniel tidak sabar karena El tidak akan mungkin bercerita padanya.


"Kenapa? Gak ada apa-apa." Jawab El santai sambil membaca pesan yang dikirimkan Luna.


"Tadi Clara udah ceritain semua sama gue."


"Terus?" Jawab El cuek tidak ingin tau.


"El, Lo itu bukan anak kecil lagi. Harusnya lo bisa tegas kalo emang lo gak punya perasaan apa-apa ya lo bilang alasannya."


"Alasan. Gue gak punya alasan untuk itu semua, Yang gue tau gue gak bisa bohong sama perasaan gue."


"Terus hubungan lo sama Luna?" Dan Akhirnya Daniel membongkar semua rahasia yang disembunyikan El selama ini. El kaget namun ia tetap berusaha menutupi.


"Maksud lo apaan sih? Kok lari ke Luna?"


"Gue tau El, Lo mungkin bisa bohong sama semua orang tapi gak sama gue." Tegas Daniel membuat El membisu tidak bisa berkata apapun lagi.


"Sejak kapan lo tau?" Jawab El datar. Tidak seperti biasanya yang selalu bercanda kali ini mereka berdua terlihat sangat serius.


"Sejak lo sakit, Lo nyuruh gue buat ambil dokumen di ruang kerja lo dan gak sengaja gue nemuin buku nikah lo sama Luna. Awalnya gue bener-bener gak percaya, Karena penasaran gue langsung nyari tau yang sebenernya. Gue pergi kerumah sakit tempat lo nikah sama Luna, Disana gue hampir putus asa gak nemuin apa-apa tapi akhirnya ada dokter yang jadi saksi pernikahan lo dan Luna. Dia nyeritain semua ke gue kenapa lo bisa nikah, Dan siapa Luna sebenernya.


Gue berusaha banget nahan pertanyaan gue ke lo berharap lo bakal cerita sendiri ke gue, Gue pengen denger langsung pengakuan dari lo. Tapi gue lupa sama siapa gue berharap." El hanya bisa diam mendengar ucapan Daniel saat ini. Terlintas rasa bersalah di otaknya karena tidak memberi tahu sahabatnya itu padahal Daniel tidak akan membuka mulut pada siapapun walaupun ia tau.


"Maaf, Gue gak punya pilihan lain. Saat itu gue dan Luna bener-bener belum bisa nerima keadaan masing-masing." Daniel mengangguk mengerti posisi El.


"Lo harus tegas El sama Clara. Dia keliatan kacau banget."


"Dia udah tau kalo gue udah nikah sama Luna."


"Hah? Serius?" Daniel kaget dengan apa yang ia dengar, Ia pikir Clara belum tau.


"Mmmmm.......Tapi dia tetap maksa gue untuk bisa nerima perasaannya." Daniel mengangguk, Kini ia mengerti betul kenapa El bersikap dingin pada Clara.


***


Bus yang membawa Luna dan Dara akhirnya sampai ditempat tujuan.


"Oke anak-anak, Kita langsung bagi beberapa team. Tiap team terdiri dari 5 orang 1 ketua team dan 4 anggota team. Disini udah ada nama team masing-masing kalian bisa ambil satu orang satu." Ucap dosen pembimbing mengangkat toples kaca berisi gulungan kertas.


Mereka pun mengambil satu persatu kertas itu sesuai perintah begitu juga Luna dan Dara.


"Pokoknya kita harus satu team." Ucap Dara optimis pada Luna, Luna tersenyum dan mengangguk berharap hal yang sama.


Pembagian team pun dimulai. Sebagian sudah lengkap menjadi satu team.


"Luna kamu dapat apa?" Tanya Dara penasaran.


"Biru. Kamu?"


"Yah, Kita beda dong. Aku merah muda." Jawab Dara langsung tidak bersemangat begitu juga dengan Luna.


"Ya udah deh gak apa-apa. Yang penting kita masih bisa ngobrol pas jam istirahat." Sambung Luna, Dara mengangguk lesu kurang bersemangat. Mereka pun berpisah mencari warna bendera masing-masing. Dari jauh Luna melihat bendera warna biru, Ia langsung bergegas mencari letak bendera itu.


"Lo masuk team sini?" Tanya Queenza ketus.


"Hmmmm....." Jawab Luna singkat.


"Oke semua udah nemuin team masing-masing. Sekarang kalian bisa putuskan siapa yang akan menjadi leader di team kalian dan setelah itu kalian bisa cari tempat untuk mendirikan tenda." Ucap pembimbing itu.


"Andra kamu yang jadi leadernya ya." Ucap Queenza manja memegangi tangan Andra.


"Gue mana bisa. Gimana kalo Lu.....Luna aja, Gue rasa dia lebih baik daripada gue." Kata Andra melihat kearah Luna, Luna hanya diam melihat kesembarang tempat.


"Kok dia sih? Kamu kan satu-satunya cowok diteam kita." Protes Queenza tidak terima dengan saran yang diberikan Andra.


"Oke team biru siapa leader kalian?" Tanya pembimbing saat menghampiri mereka.


"Andra pak." Dengan cepat Queen mengangkat tangan Andra membuat pria itu menjadi leader di team mereka. Andra mendengus kesal mau tidak mau ia menjadi leader diteam yang beranggotakan gadis semua hanya ia satu-satunya pria.


"Oke, Andra kamu bertanggung jawab atas semua anggota kamu. Kamu juga harus siap membantu mereka terlebih anggota kamu semuanya perempuan. Kalian bisa cari tempat untuk mendirikan tenda dan jangan lupa pasang bendera simbol ditenda kalian." Andra mengangguk berat, Setelah pembimbing itu pergi Andra langsung membawa para anggotanya untuk mencari tempat mendirikan tenda.


"Disini keknya bagus, Tempatnya juga tinggi jadi walaupun hujan gak akan banjir." Ucap Andra, Merekapun meletakan tas bawaannya masing-masing dan mulai merakit tenda.


"Andra, Bantuin aku gak ngerti caranya pasang ini." Rengek Queenza yang sejak tadi tidak juga bisa mendirikan tendanya padahal semua anggota team termasuk Luna sudah hampir selesai mengerjakan tugas masing-masing.


Andra sebenarnya cukup bosan dengan sifat manja Queenza yang kerjanya selalu mengeluh sejak tadi, Tapi karena ia leader yang bertanggung jawab pada anggotanya jadi mau tidak mau ia menuruti semua keluhan Queenza.


***


"Belum ada kabar dari Luna?" Tanya Daniel penasaran, Sebenarnya ia lebih penasaran tentang Dara tapi karena malu dan belum siap memberitahu pada El tentang malam nya bersama Dara ia bertanya tentang Luna.


"Kenapa lo? Lagi nunggu kabar juga?" Tanya El melihat sahabatnya yang kurang bersemangat.


"Gue? Gak apa-apa.......Bosen aja." Jawabnya mengalihkan pembicaraan.


"Sama, Gue kangen sama istri gue." Ucap El sambil melihat photo-photo Luna di hapenya. Mendengar itu Daniel berdecih pada El.


"Sekarang aja lo terang-terangan ngomong didepan gue kangen istri. Dulu aja lo sosoan gak tau-tau." Ejek Daniel....


"Ya terus lo iri? Makanya buruan cari istri, Asal lo tau ya, Nikah itu enak banget. Tiap hari ada yang meratiin, Nyayangin, Pelukin, Ciumin-...."


"STOP! Jangan diterusin, Gue udah tau lanjutannya." Ucap Daniel cepat memotong ucapan El, Melihat tingkah Daniel El pun tertawa. Beginilah mereka mengisi rasa rindu pada wanita-wanita yang mereka cintai.


"Terus kapan lo mau kasih gue ponakan? Ummmm kalo bisa kembar ya, Cewek cowok." Mendengar hal itu El langsung meletakan hapenya.


"Iya ya, Kalo gue udah nikah berarti gak lama lagi gue bakal jadi daddy. Berarti gue masuk kategori Hot daddy dong." Kata El tersenyum sendiri membuat Daniel mengernyit melihat tingkah sahabatnya itu.


"Serah lo deh, Mau jadi apaan. Hot daddy, Hot pants, Hot dog, Hot wheels kek suka-suka elu." Ucap Daniel cuek, Ia tau saat ini El merasa sangat bahagia dan ia pun merasa ikut bahagia.


***


Setelah selesai memasang tenda, Luna langsung masuk kedalam tenda tersebut. Ia ingin segera menelepon El karena sejak tadi ia belum memberi kabar pada suaminya itu.


"Sayang kok baru nelepon?" Ucap El saat telepon tersambung.


"Iya, Aku baru selesai masang tenda. Oh iya gimana keadaan kak Daniel?"


"Kok malah nanya Daniel? Gak nanya abang lagi apa? Dimana? Udah makan atau belum?" Protes El, Kini dengan terang-terangan ia menerima telepon dihadapan Daniel membuat pria yang sedang terluka itu jengah mendengarnya.


"Lama-lama kok gue jadi jengkel ngeliatnya." Gerutu Daniel pelan sambil melirik kearah El.


"Apaan sih? Kek anak kecil aja deh." Sahut Luna tertawa mendengar rengekan suaminya.


"Luna bisa keluar sebentar." Terdengar suara Andra memanggil Luna dari luar.


"O.....Oke bentar." Jawab Luna cepat.


"Bang, Entar kita lanjutin ya......Miss u bye....."


"Ta.....Tapi Lun...."


Tut.....tut......tut......Sambungan telepon pun langsung terputus.


"Kek pernah dengar suaranya, Tapi dimana ya?" Ucap El bicara sendiri berusaha mengingat suara yang baru saja ia dengar.


"Hahahaha..... Kenapa lo bete?" Tawa Daniel pecah saat itu juga melihat El yang tidak percaya jika Luna mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


"Mmmmm......Udah sehat dong lo bisa ngetawain gue. Ikut gue ke ring yuk temenin gue latihan." Kata El tersenyum namun penuh penekanan membuat Daniel langsung menutup rapat mulutnya.


"Aaaahh, Sakitnya perut gue. Keknya lukanya dalam, Gue istirahat dulu ya." Ucap Daniel menutup tubuhnya dengan selimut untuk menghindari El.


"Ya udah entar malam gue kesini lagi, Sekarang gue ada janji." Ucap El setelah itu ia langsung meninggalkan Daniel.


***


"Kita bagi-bagi tugas, Tessa dan Tiara ngambil air ke sungai. Kamu dan Queenza bagian konsumsi dan gue nyari kayu bakar dihutan."


"Kok gitu? Aku gak mau ah masak." Bantah Queenza, Lagi-lagi gadis manja ini mengeluhkan tugasnya membuat para anggota merasa kesal termasuk Andra sebagai leader team itu.


"Ya terus lo mau nyari kayu bakar? Atau ambil air? Atau dua-duanya sekaligus." Ucap Andra yang mulai kesal membuat Tessa dan Tiara 2 gadis di anggota itu tertawa.


"Aku maunya ikut kamu ke hutan, Nyari kayu." Jawabnya manja tersenyum manis pada Andra.


"Nyari kayu dihutan itu susah, Lo pikir hutannya kek taman? Belum lagi didalam hutan ada beruang, Harimau, Ular, Serangga, Singa, Macan, Gajah, Sampai badak juga ada. Bahaya, Lo masak aja sama Luna." Tambah Andra menakuti Queenza berharap agar gadis berwajah blasteran ini menuruti aturan yang ia buat. Mendengar ucapan Andra, Luna menunduk menyembunyikan senyuman nya ia merasa lucu saat Andra menyebut semua nama hewan itu.


"Asal sama kamu walaupun sulit aku pasti bisa kok. Lagian kalo ada apa-apa kan ada kamu yang bakal ngelindungi aku, Pokoknya aku ikut kamu titik." Andra benar-benar frustasi menghadapi gadis ini, Ia mengusap wajahnya dengan kasar tidak tau lagi harus mengatakan apa.


"Serah lo deh. Tapi inget, Jangan ngerepotin gue dan banyak ngeluh. Satu lagi, Pake lotion anti nyamuk biar lo gak heboh saat digigit nyamuk." Mendengar itu Queenza kegirangan setengah mati, Akhirnya ia bisa memiliki waktu berduaan dengan Andra.


"Ummmmm Luna, Lo gak apa-apa masaknya sendirian?" Tanya Andra, Luna mengangguk tidak masalah. Setelah selesai membagi tugas mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing.


***


Sementara Luna yang sedang sibuk memasak untuk anggota team, Dara sekarang sedang galau berada didalam tenda nya. Ia membaca pesan yang dikirim oleh Daniel untuknya, Terlintas rasa bersalah dalam hatinya karena menyebabkan Daniel masuk rumah sakit.


"Bales gak ya? Tapi kalo dibales entar dia ke ge-er an lagi, Dikira gue maafin dia tentang masalah malam itu. Gak dibales tapi gue pengen tau gimana keadaannya sekarang." Ucapnya bicara sendirian sambil terus melihat layar hapenya hingga hape itu tiba-tiba berdering dan membuatnya kaget.


"Gila ya ni orang, Peka banget dia tau kalo gue lagi ngebahas dia." Ucap Dara kesal namun tetap menerima panggilan dari Daniel.


"Kok gak bales pesan aku beib?" Tanya Daniel santai seolah ia dan Dara sudah resmi berpacaran.


"Bab beib bab beib.....Aku punya nama dan namaku bukan beib." Jawab Dara Ketus membuat Daniel menjauhkan hape dari telinganya karena penging.


"Kamu jangan jutek gitu dong. Kamu lupa aku rela mati demi nyelamatin kamu, Dan sekarang aku masih terbaring lemas dirumah sakit. Jangankan bediri, Buat ngomong aja luka ku perih banget." Kata Daniel berbohong, Padahal saat ini ia sedang duduk santai menonton tv sambil makan sebatang coklat. Makanan kesukaan nya sejak kecil.


"Ya......Ya maaf. Bukan maksud aku begitu, Kemaren malam aku bener-bener gak tau kalo pria itu bakalan nekat gitu." Sahut Dara melemah, Terdengar sekali saat ini ia sedang merasa bersalah pada Daniel.


"Gak apa-apa.....Auuuuu....Aku begitu biar kamu tau, Kalo aku bener-bener tulus sama kamu dan gak seperti yang kamu bilang bahwa aku cuma ngambil kesempatan saat itu. Biar ini jadi tebusan untuk ngebalas sakit hati kamu, kemarahan kamu, Dan kebencian kamu." Sandiwara Daniel benar-benar berjalan lancar dan Dara benar-benar terjebak saat ini. Semakin ia merasa bersalah semakin jadi kebohongan yang Daniel lakukan.


"Maaf, Setelah pulang nanti aku janji bakal nengokin kamu." Kata Dara, Mendengar hal itu Daniel makin bersemangat berbohong tentang keadaan nya pada Dara.


"Iya, Semoga aku bisa cepat keluar dari rumah sakit. Kata dokter luka tusukan itu bisa aja robek lagi dan menyebabkan pendarahan, Jadi aku harus hati-hati dan gak boleh banyak gerak." Sambungnya membuat hati Dara makin lemah mendengarnya.


"Ya.....Ya udah kalo gitu, Kamu istirahat aja. Aku juga bentar lagi mau ngumpul sama temen-temen aku."


"Iya, Kamu hati-hati disana ya dan satu lagi jangan pernah berhenti untuk menghubungi aku karena aku gak tau besok masih bisa bangun atau gak."


"Ja.....Jangan ngomong gitu, Kamu harus optimis kamu pasti bisa cepat sembuh. Iya aku janji bakal terus hubungi kamu. Ya udah aku matiin ya teleponnya." Saat telepon terputus Daniel langsung melompat kegirangan tanpa merasakan sakit sedikitpun seperti yang ia keluhkan pada Dara ditelepon tadi.


***Bersambung......


Hai para readers baik yg author sayang ๐Ÿ˜˜ author mau menjawab sebagian pertanyaan yang ada dikolom komentar.


-kenapa judul novel ini perfect husband? Judul dan isi kurang nyambung, Atau kurang cocok. Jadi gini ya manisku, Yg ngikuti cerita El dan Luna dari awal pasti udah tau seperfect apa bang El. Dari awal mereka terpaksa nikah dan saat itu juga El memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh pada Luna yang kebetulan saat itu masih belum bisa nerima takdirnya yang berakhir sebagai seorang istri.


Seperti yang author bilang tadi, Yang ngikuti kisah ini dari awal pasti paham alur cerita ini. Gimana perjuangan El untuk tetap bersikap baik sama Luna, Gimana cara El ngejaga Luna bahkan tanpa seijin Luna dia gak mau ngelakuin hal apapun ke Luna padahal gampang banget kalo dia mau, Toh Luna istri sahnya. Tapi dia tetep gak kau gais, Coba bilang dimana ada suami sesempurna El? Udah gantengnya maksimal auto full, Baik, Sopan, Kaya raya pula.


Terus pas dipaksain sama Clara buat nyentuh badannya, Dengan tegas El menolak tanpa basa-basi atau sebagainya. Padahal kalo dia mau, Bisa aja dia ambil kesempatan itu toh Luna gak akan tau ya kan?


-Dan kenapa sampai saat ini mereka belum ngadain presconfers tentang hubungan mereka?


Sabarlah sayang2ku, Semua akan ada saatnya tunggu aja tanggal mainnya.......


Author ngucapin makasiiiiiii banget sm semua yg udah ngebaca, Like, Vote, Komen di Perfect Husband.....Semua komentar kalian itu jd penyemangat buat author ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ Stay terus ya ElunaLoversโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ***