
"Selamat siang pak El." Sapa Daniel saat bertemu dengan El diruang meeting.
"Siang." Sahut El singkat dan berwibawa. Didepan karyawan lain mereka tetap seorang atasan dan bawahan, Apalagi saat ini mereka akan melakukan meeting dengan para investor tentu tidak sama seperti saat mereka sedang berdua.
***
"Lah kok jam lo samaan kek punya gue?" Tanya Ken memperhatikan jam tangan milik Daniel yang mirip dengan jam yang diberikan El kemarin sore, Hanya berbeda dibagian warna.
"Dad, Lu ngasih gue jam KW ya? Kok bisa samaan sama punya Daniel? Akh ketipu gue." Celetuk Ken membuat El hanya bisa diam memasang wajah kesal.
"Ini barang ORI, Edisi khusus dan terbatas. Mereka cuma ngedesain lima jam tangan. Dan dari kelima jam tangan itu El beli tiga biji sekaligus. Kan si*lan nya kelewatan beli jam harga milyaran kek beli kacang rebus doang. Yang kita pake ini harga termurah, Yang paling mahal tetap ada sama sang mulia raja. Tuh lagi dipake di tangan kotornya." Sahut Daniel memberikan penjelasan sekaligus menistakan bos nya itu.
"Pantes ikhlas banget ngasih ke gue, Yang dikasih remahan doang buat dia. Dad, Entar kalo gue jadi mantu lo harta lo buat gue ya."
"BANGKE! Gue giling juga lo lama-lama." Sahut El yang akhirnya membuka suara. Mendengar hal itu.
"Udah jam makan siang nih, Kita ke cafe gue yang traktir." Ajak Ken, El dan Daniel langsung menerima ajakan Ken tanpa basa-basi dan mereka bertiga pergi.
***
"Malam ini kalian sibuk gak?" Tanya Ken pada El dan Daniel saat mereka sudah berada di cafe.
"Gue sih sibuk mulu tiap malam sama Dara." Sahut Daniel cuek sambil meraih gelas minumannya.
"Bangke ngajak gelud! Maksud gue acara keluarga." Sahut Ken kesal namun Daniel tetap cuek tidak tau menahu.
"Free, Kenapa emang?" Sahut El serius.
"Pengen ngajak kalian semua ngumpul." Sahut Ken sambil menyandarkan punggungnya.
"Acara apa?"
"Harus ada acara dulu ya biar bisa ngumpul?" Tanya Ken balik membuat Daniel kesal.
"Lah ngeselin gitu jawabannya, Bangke." Balas Daniel tidak mau kalah karena itu memang sifat alaminya dan hanya dengan Dara ia akan mengalah.
"Entar malam dirumah gue, Jam 8." Kata Ken sambil mulai menikmati makanannya.
"Oke." Sahut El dan Daniel bersamaan lalu mereka menikmati makan siang bersama.
***
"Babe, Belum selesai dandannya?" Tanya Daniel yang sudah siap bersama kedua anaknya hanya tinggal menunggu Dara yang sejak tadi tidak juga siap.
"Bentar sayang, Masih pake lipstik." Sahut Dara dari dalam kamar membuat ketiga laki-laki yang sednag menunggunya menghela nafas panjang.
"Kata orang sebentarnya cewek itu bisa dipakai untuk makan, Minum, Nyuci mobil, Belanja ke mall, Dan menyelamatkan dunia." Kata Daniel bicara pada kedua anak laki-lakinya.
"Emang iya, Udah lama-lama dandan pas keluar biasa aja." Sahut Devan cuek membuat ayahnya tertawa.
"Sssstttttt......Entar kedengaran bunda." Tegur Davin membuat tawa Daniel langsung berhenti.
"Ayo kita berangkat." Kata Dara yang akhirnya siap. Ketiga laki-laki itu langsung saling melempar tatapan saat melihat penampilan Dara saat ini.
"Kenapa?" Tanya Dara merasa aneh karena tatapan Daniel, Davin dan Devan.
"Gak apa-apa, Kamu gitu aja?" Tanya Daniel yang melihat Dara hanya memakai dress putih bersih.
"Acara ngumpul biasa juga gak perlu heboh sayang." Sahut Dara santai padahal ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersiap-siap.
"I....Iya sih. Ya udah ayo kita berangkat." Ajak Daniel berdiri dari tempat duduknya.
"Ucapan kamu 100% bener." Bisik Daniel ditelinga Devan membuat Devan tertawa lucu.
***
Sesampainya dirumah Ken, El dan Luna sudah berada disana lebih dulu bersama Zea. Begitu juga dengan Rendy yang sudah datang sejak tadi membawa seorang wanita yang ia akui jika wanita itu adalah seorang sahabat.
"Loh itu bukannya kak Nay ya?" Ucap Dara dari jauh saat melihat wanita yang dibawa Rendy.
"Siapa babe?" Tanya Daniel ikut melihat kearah pandangan Dara.
"Itu, Cewek yang lagi ngobrol sama Luna. Namanya kak Nayla, Sahabat kak Rendy dari zaman SMA nya."
"Oh yang itu, Kirain cewek barunya."
"Mereka itu dari zaman SMA udah disangka pacaran sama semua orang karena emang kek orang pacaran. Tapi mereka bilang, Kalo mereka itu cuma sahabatan aja gak lebih."
"Welcome babe." Ucap Ken mengulurkan tangan kearah Dara yang langsung disambut oleh Daniel.
"Tangan lo minta diab*rsi?" Sahut Daniel ketus sambil tersenyum sinis.
"kalian berdua sama-sama aneh." Celetuk Dara lalu pergi mengampiri Luna dan Nayla yang sedang asik mengobrol membuat Ken dan Daniel tertawa.
"Kak Nay." Sapa Dara ramah sambil memeluk wanita yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya itu.
"Dara, Kakak kangen. Kamu apa kabar? Anak-anak dan suami kamu mana?" Sahut Nayla renyah karena mereka memang memiliki hubungan yang dekat sejak dulu.
"Itu anak-anak aku. Namanya Davin dan Devan, Dan itu suamiku namanya Daniel." Jawab Dara menujuk kearah dua bocah laki-laki yang sedang asik dengan Zea dan menunjuk Daniel yang sedang mengobrol dengan Rendy, Ken juga El.
"Anak kamu ganteng-ganteng banget sih ya Tuhan." Kata Nay sambil tersenyum gemas melihat
"Bentar aku panggilin mereka. Devan, Davin sini sayang." teriak Dara memanggil kedua anaknya. Devan, Davin juga Zea langsung berlari kearah Dara.
"Iya hun bentar." Ucap Ken lalu berdiri dari tempat duduknya membuat yang lain bingung melihatnya.
"Lo kenapa? Mau kemana?" Tanya Rendy penasaran.
"Dipanggil Dara tuh barusan." Jawab Ken santai tidak tau menahu dengan Daniel yang sedang duduk disampingnya.
"BANGKE!!!!!! Lo minta dikasih sianida sepertinya!" Sahut Daniel menarik Kenan hingga pria bertubuh besar itu kembali duduk disampingnya membuat Rendy dan El tertawa.
"Lah itu barusan dia teriak sini sayang dia bilang." Balas Kenan tidak mau kalah.
"Manggil anak-anak gue Tejoooo astagaaaa. Pengen gue cabutin rasanya tuh bulu idung." Mendengar hal itu Kenan langsung menutupi hidungnya dan menjauh dari Daniel.
"Mending gelud di ring." Sahut Ken sambil terus menutupi hidungnya.
"What the fu*k friend!" Umpat Daniel kesal.
***
Setelah selesai dengan semua obrolan masing-masing, Ken mengumpulkan semua orang yang ada disana.
"Sorry semuanya, Gue ngumpulin kalian disini semuanya karena gue mau pamit." Ucap Kenan mendadak membuat suasana hening dan semua orang kaget.
"Pamit kemana lo?" Tanya Daniel.
"Gue mau pindah ke Aussie." Sahut Kenan tersenyum kaku terlihat sangat dipaksakan.
"Bisnis lo disini mau lo apain kalo lo pindah kesana?" Giliran El yang mengajukan pertanyaan.
"Tetap berjalan. Asisten gue yang urus semua, Tapi tetap dalam pengawasan gue. Thanks untuk semua waktu kalian buat gue, Thanks untuk semua persahabatan kita. Kalian bukan cuma sahabat tapi keluarga buat gue." Mendengar hal itu El, Daniel dan Rendy langsung menghampiri Ken dan memeluk pria itu.
"Apapun pilihan lo, Yang menurut lo terbaik. Kita selalu dukung itu." Ucap El tersenyum sambil menepuk pundak Ken.
"Gue gak suka suasana begini, Sumpah. Lo mesti balik lagi entar kesini, Kalo gak bakalan gue kirim santet online buat lo." Kata Daniel memeluk rival sekaligus sahabatnya itu.
"Pasti, Pasti gue balik lagi. Handsome squad tanpa gue gak akan ada auranya." Sahut Kenan tertawa pelan bercampur rasa sedih.
"Gue tunggu lo di sasana El, Pulang dari Aussie lo harus bisa ngalahin gue." Ucap Rendy santai, Ken tertawa sambil memegangi perutnya.
"2M gue pasti datang." Jawab Ken lalu memeluk Rendy.
"Cepat kembali, Gak enak tinggal berlama-lama di negara orang." Kata Luna memberikan salam perpisahan pada Ken, Ken tersenyum sambil memeluk Luna tentu sudah dengan atas izin El.
"Hei, Aku suka kamu. Ayo pacaran." Kata Ken saat berhadapan dengan Dara. Dara tersenyum mengingat masa lalu saat Ken menyatakan cinta padanya.
"Aku gak suka kamu, Kita berteman aja." Sahut Dara menahan tangis.
"Kamu wanita pertama yang nolak aku. Kamu tau? Semakin kamu menolak semakin aku suka kamu." Jawab Ken membuat air mata Dara jatuh tidak tertahan.
"Dan, Gue boleh peluk cewek gue gak?" Tanya Ken meminta izin pada Daniel, Suami dari Dara. Daniel mengangguk mengizinkan sahabatnya itu untuk memeluk mantan pacarnya yang sekarang sudah menjadi istri Daniel.
Ken langsung memeluk Dara, Tidak ada perasaan lain sekarang. Pria itu hanya menganggap Dara sebagai seorang sahabat tidak lebih.
"Tetap jadi wanita hebat untuk suami dan anak-anak kamu." Ucap Ken sambil memeluk Dara, Dara mengangguk dalam pelukan Ken.
Karena tidak enak berlama-lama memeluk Dara yang kini berstatus istri dari sahabatnya sendiri, Ken melepaskan pelukannya.
Kini giliran si kembar yang berpamitan. Ken duduk berjongkok agar tingginya sejajar dengan kedua bocah itu.
"Davin, Devan om Kenan minta maaf ya kalo selama ini om ngeselin kalian dan suka usil sama kalian." Kata Ken tersenyum sambil mengacak-acak rambut Davin karena ia tau Devan sangat tidak menyukai pria itu makanya hanya rambut Davin yang menjadi sasaran.
"Cepat kembali." Ucap Devan singkat membuat semua orang kaget mendengar hal yang bahkan terasa tidak mungkin itu dari mulut Devan. Ken tersenyum lalu membawa kedua bocah itu kedalam pelukannya. Mata Ken tertuju pada seorang anak perempuan yang berdiri diam sambil menatapnya dengan tatapan bercampur aduk.
Ken melepaskan pelukannya dari Devan dan Davin lalu berdiri menghampiri gadis kecil yang masih berdiri sendirian jauh dari kerumunan.
"Hi my angel." Sapa Ken tersenyum manis.
"Jangan pergi." Rengek gadis kecil yang sedang berusaha menahan tangisannya. Kenan memiringkan kepalanya sambil menatap diam gadis kecil itu.
"Zea janji gak akan ganggu om lagi, Zea janji gak akan nakal lagi. Zea janji, Tapi om gak boleh pergi." Sambung Zea, Kenan tersenyum lalu memeluk Zea penuh kasih sayang.
"You are my sunshine, You are my baby, You are my lovely. Om pasti kembali." Jawab Kenan dan akhirnya tangisan Zea pecah didalam pelukan Kenan.
"Jangan nangis, Zea kan anak kuat kek daddy dan bigbosss." Kata Ken mengusap air mata Zea yang terus keluar tanpa henti.
Saat ini pria itu juga merasakan sakit hati yang teramat besar, Namun keputusannya untuk pindah sudah benar-benar bulat. Tidaklah mudah meninggalkan semua ini baginya, Namun disisi lain ia ingin melepaskan diri dari bayangan Eriska walaupun itu terasa tidak mungkin. Ia hanya ingin mencoba hal itu.
"Kapan lo berangakat?" Tanya El menghampiri Ken yang saat itu sedang bersama Zea.
"Besok pagi jam 7."
"Mau gue antar?" Kata El menawarkan diri.
"Gak usah, Gue mau mampir dulu ke tempat Eriska. Gue bahkan belum pamit sama dia." Sahut Ken tersenyum datar menyembunyikan kesedihannya.
"Oh oke, Hati-hati dijalan dan kabarin kalo udah sampai disana." Ken mengangguk menjawab ucapan El.
Dan pesta perpisahan itu berakhir menyisakan rasa sedih dihati setiap orang terdekat Ken.
***
Pagi buta Ken sudah bangun lalu pergi ke makam Eriska membawa 100 tangkai bunga mawar merah. Untuk pertama kalinya ia membawa bunga dengan jumlah yang banyak, Biasanya ia hanya membawa setangkai bunga untuk kekasihnya itu.
"Hun, Aku datang tapi mungkin ini menjadi yang terakhir. Seperti mau kamu, Aku hanya ingin mencoba melepaskan semua.
🎶***Kehilangan dirimu
Menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak 'ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak 'ku ratapi penuh penyesalan***
🎶 ***Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak 'ku balut dengan tangis
Baiknya 'ku lepaskan segala kepedihan
'Tuk merelakanmu
Benarkah semua ini terjadi?
Betapa 'ku mencintai dirimu
'Ku tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam***
🎶***Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak 'ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
'Tak ku ratapi penuh penyesalan
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak 'ku balut dengan tangis
Baiknya 'ku lepaskan segala kepedihan
'Tuk merelakanmu*.
Bersambung.......
Big thanks buat yg sllu dukung karya author ❤️.......
Yg selalu sabar nunggu up PH ❤️
Yg selalu ngebantu semangatin author ❤️
Yg selalu ngevote ❤️
Author bener-bener ngucapin terimakasih banyak untuk semua❤️
Maaf lahir bathin semuaaa ❤️❤️❤️**