
Luna yang saat ini sudah ada dirumah mengurung diri dikamarnya. Sejak kembali dari pantai ia hanya diam, Pikirannya terus berkecamuk hatinya juga ribut membuatnya bingung harus melakukan apa. El hanya memintanya untuk melupakan semua yang sudah dikatakan padanya tapi mana mungkin Luna dengan begitu mudahnya melupakan semua ucapan El.
El berdiri lalu membuka lemarinya, Dari dalam sana ia mengeluarkan kotak kecil bernuansa shabby lalu duduk ditepi ranjang.
Itu cincin kawinnya bersama El yang ia simpan disana juga buku nikah miliknya. Dilihatnya cincin juga buku itu, Ia kembali mengingat saat dirinya sah menjadi nyonya Elang dan dihari itu juga ia kehilangan ayahnya. Rasa sakit langsung menyerang hati Luna saat itu juga membuat airnya jatuh tepat diatas cincin pernikahannya yang sedang ia pegang.
"Yah, Luna harus apa? Luna bener-bener gak tau saat ini gimana perasaan Luna ke dia. Luna takut, Takut kalau ini hanya sebatas rasa kagum dan rasa terimakasih, Takut kalau ini cuma rasa bersalah karena membuatnya terjebak dalam ikatan ini. Luna gak mau kalau harus menyakiti orang sebaik dia, Luna gak mau dia terluka jika yang Luna rasakan saat ini cuma rasa sesaat atau hanya rasa kagum. Luna harus apa yah? Jawab Luna." Ucap Luna dalam tangisannya sambil memeluk photo kedua orangtua nya.
"Tidur lah sayang, Biarkan hati kamu tenang. Kamu hanya perlu sedikit waktu untuk memastikannya. Biarkan semua berjalan seperti apa adanya, Jika memang kalian harus bersama akan ada saatnya hati kamu bicara dan memanggil namanya dan saat itu terjadi tidak ada perasaan lain yang akan kamu rasakan selain keyakinan."
"Bunda!!!!!!!" Teriak Luna, Ia terbangun dari tidurnya dengan benda-benda yang berasal dari kotak kecil tadi masih berserakan disampingnya. Luna buru-buru membereskan dan menyimpannya kembali kedalam lemari.
"Lun......Luna...." Terdengar suara Clara mengetuk pintu kamar Luna. Luna langsung membukakan pintu untuk Clara.
"Kamu kenapa? Tadi aku denger aku teriak." Tanya Clara penasaran saat Luna berteriak.
"Huh?.....Enggak, Tadi pas lagi ngerjain tugas ada kecoa yang merayap di kakiku, Aku kaget makanya teriak. Oh iya, Kak Clara mau kemana?" Tanya balik Luna pada Clara karena kamar Clara ada dilantai bawah bukan dilantai ini, Disini hanya ada dua kamar yaitu kamar El dan kamar Luna.
"Oh, Tadi aku sama Daniel jalan-jalan ke mall terus liat dasi yang cocok buat El jadi aku beli buat dia. Aku juga beliin kamu sesuatu, Karena aku gak tau selera kamu jadi aku harap kamu suka sama pilihanku." Ia lalu memberikan paper bag yang ada ditangannya pada Luna, Luna sempat ragu ingin mengambilnya tapi ia tetap menerima dan berterimakasih pada Clara.
"Ya udah aku taro ini dikamar El dulu ya. Jangan lupa pesta entar malam." Luna sempat kaget karena Clara dengan mudahnya keluar masuk kamar El tanpa ada rasa segan memasuki kamar seorang pria. Tapi ia buru-buru menepis rasa itu toh El juga tidak akan keberatan pikirnya.
"Ummm......Kalo aku ngajak temen boleh gak?" Tanya Luna meminta izin pada Clara.
"Ya bolehlah, Ajak aja. Kamu mau ngajak pacar kamu ya?" Tanya Clara penasaran sambil tersenyum ia bertanya pada Luna. Luna hanya membalas senyum Clara meninggalkan rasa penasaran pada Clara.
Luna kembali kekamarnya, Ia baru ingat pesta nanti malam yang diadakan Clara. Ia meraih hp dan menelepon Dara.
"Ra, Malam ini kamu ada acara gak?" Tanya Luna yang niatnya ingin mengajak Dara.
"Gak ada sih, Cuma kemasin barang aja buat lusa kenapa?"
"Ummm......Mau ikutan gabung ke pesta gak?"
"Pesta.......Pesta siapa? Pesta apa?" Tanya Dara antusias, Dara tidak beda jauh dari Daniel yang suka keramaian dan pesta.
"Dirumah bang El, Ummmm.....Gak tau pesta apaan, Dateng aja."
"Jam berapa?"
"Jam 8 malam ini."
"Oke sister......"
Setelah sambungan telepon terputus Luna bingung harus apa saat ini. Ia benar-benar kehilangan semangatnya saat ini andai bi Irah ada, Pasti ia tidak merasa kesepian seperti saat ini.
Luna berdiri dibalkon kamarnya hanya sekedar untuk menghirup udara segar namun pemandangan yang ia lihat saat ini malah membuatnya merasa kecewa.
El dan Clara sedang asik menyiapkan pesta ditaman itu, Mereka tertawa bersama seolah tidak ada beban pikiran yang El rasakan saat ini.
"Jelas-jelas tadi kamu keliatan kacau tapi sekarang kamu udah bahagia banget sama Clara." Tidak sadar mulut Luna menggerutu sendiri, Ia langsung menutup rapat mulutnya saat sadar akan kata-katanya yang baru saja ia ucapakan.
Luna langsung menutup rapat pintu balkon dan kembali ke kamarnya. Ia menghela nafas kasar, Saat ini ia benar-benar merasa bosan terus-terusan berada didalam kamar.
Luna yang akhirnya menyerah akan kebosanannya nekat keluar kamar karena El dan Clara sedang sibuk ditaman ia bisa leluasa didalam rumah. Luna melangkah pelan sambil sekekali celingak celinguk berjaga agar tidak bertemu El.
"Luna......Kamu ngapain?" Luna langsung kaget saat mendengar suara Dani yang ia kira El.
"Huh.....Aku mau minum, Ya mau ambil minum kedapur." Jawabnya beralasan dengan gugup dan wajah yang memaksakan senyum kaku membuat Daniel mengernyit melihat sikapnya. Luna langsung buru-buru kedapur membuka kulkas dan meraih botol minuman yang berjejer rapi didalamnya.
"Bruuuusssshhh......" Luna menyemburkan minuman yang baru saja ia minum, Daniel yang melihat langsung menghampiri Luna dan memberinya sebotol air mineral.
"Ini apaan sih? Rasanya aneh gini." Kata Luna melihat kemasan air yang ia semburkan tadi.
"Itu cuka apel, Pasti punya Clara. Kamu kenapa sih? Ada masalah sama El? Atau Clara? Kok gak fokus dan aneh gitu." Tanya Daniel yang saat ini berdiri disamping Luna. Dengan cepat Luna menggelengkan kepalanya.
"Gak.....Se.... Semua baik-baik aja." Jawabnya gugup menipu Daniel.
"Terus ngapain kamu sendirian disini? Kita gabung sama yang lain ke taman yuk." Ajak Daniel namun dengan cepat Luna menolaknya dengan berbagai macam alasan yang ia buat.
"Enggak-enggak. Aku kekamar aja, Dah." Luna melambaikan tangannya kearah Daniel lalu pergi begitu saja, Karena merasa ada yang aneh dengan sikap Luna dan El saat ini ia memberanikan diri meraih tangan Luna dan menariknya membawa Luna ke taman. Luna yang kaget berusaha menjelaskan kalau ia tidak ingin pergi kesana namun Daniel tidak mau mendengar ucapan Luna hingga mereka sampai ditaman.
El dan Clara langsung melihat kearah Daniel dan Luna dengan penuh tanda tanya.
"Daniel, Luna.....Kalian?" Clara yang melihat Daniel memegangi tangan Luna langsung memasang wajah curiga. Sedangkan El memasang wajah datar tanpa ekspresi
ia hanya diam tidak ikut berkomentar membuat Daniel makin merasa aneh.
Daniel langsung buru-buru melepaskan tangan Luna dan melihat kearah El yang memalingkan wajahnya seolah tidak ingin melihat ini semua.
"Gu.... Gue gak sengaja tadi ketemu Luna. Dia sendirian didalam makanya gue ajak kesini." Jelas Daniel gugup karena merasa tidak enak pada El. Luna yang bersikap sama dengan El juga memalingkan wajahnya tidak ingin bertemu pandang dengan El.
"Tapi kok lo pegang tangan nya? Terus kenapa mesti gugup jelasin nya?" Selidik Clara membuat suasana makin dingin.
"Tadi dia gak mau gabung, Jadi gue tarik aja daripada dia sendirian didalam rumah." Kini Daniel mencoba sebaik mungkin agar tidak terlihat gugup.
"Oh......Kirain lo pengen jadi ade iparnya El. Lagian kalo emang lo jadi iparnya El, El pasti setuju. Iya kan El?"
"Gue kekamar dulu ya, Mau mandi gerah banget soalnya." Ucap El mengalihkan topik pembicaraan, Ia langsung pergi tanpa melihat kearah Luna dan lagi-lagi membuat Luna merasa kecewa namun kali ini lebih sakit karena El terkesan sedang menghindarinya.
"Aku mau keluar bentar ada yang mau aku cari." Sambung Luna, Ia lalu ikut pergi meninggalkan tempat itu membuat Daniel dan Clara membuat kedua orang itu berpikir masing-masing tentang El dan Luna ini.
Luna melihat jarum jam yang masih menunjukan jam 3 sore. Ia menghentikan taksi lalu pergi ke suatu tempat.
***
Begitu dikamar El langsung melepaskan bajunya dan pergi ke kamar mandi, Ia menyalakan shower dan berdiri dibawah guyuran air itu.
"Maaf karena harus begini. Aku hanya ingin bisa segera menghapus semua perasaanku, Aku hanya ingin kita bisa kembali seperti dulu. Seandainya ada cara lain untuk menghapus rasa ini maka akan aku lakukan saat ini juga, Rasanya lebih sakit daripada yang aku bayangkan tapi tetap harus aku lakukan. Maaf....." Ucapnya dibawah guyuran air yang mendarat cukup deras di tubuh sixpack miliknya.
***
Seolah sedang mengadu ia menceritakan semua yang ada di dalam hatinya dan mengganggu pikirannya karena ia tidak bisa berbagi kisah dengan siapapun selain kedua orang tuanya, Walau hanya mengadu didepan pusara kedua orang tuanya hatinya merasa sedikit tenang, Beban yang ia rasakan pun sedikit berkurang.
"Luna pamit dulu ya yah, Bun. Nanti pasti Luna kesini lagi tengokin ayah dan bunda." Setelah berpamitan Luna langsung pulang, Ini juga sudah sore. Sesampainya di rumah El ia kembali berpapasan dengan Daniel. Luna hanya tersenyum lesu menyapa Daniel yang juga ingin pulang.
Daniel benar-benar merasa ada yang aneh dengan Luna dan El. El yang biasanya selalu perhatian pada Luna entah kenapa hari ini begitu dingin dan terkesan cuek begitu juga Luna yang biasanya selalu bersemangat dan ceria hari ini terlihat murung. Ingin sekali rasanya Daniel mengajak Luna untuk bicara saat ini tapi ia tidak ingin membuat El kembali salah faham padanya dan Daniel memilih untuk tetap diam sambil memasuki mobil dan pergi dari rumah El.
"Luna dari mana aja? Kok baru pulang?" Tanya Clara penasaran pada Luna.
"Dari makam orangtua ku." Jawab Luna singkat, Ia menganggukan kepala dengan lesu dan tidak bersemangat tanda pamit pada Clara.
"La..."Panggil El yang baru menuruni anak tangga. Ia membawa kotak kecil berwarna hitam ditangannya. Luna langsung mengangkat kepalanya melihat kearah El.
"Jangan begini." Ucap Luna dalam hati berharap El menghampirinya dan mengajak nya untuk bicara seperti biasanya namun Luna harus kembali merasa kecewa saat El melewatinya dan tidak sedikitpun melihat kearahnya. Luna benar-benar merasa dihukum oleh El saat ini, Tanpa mengatakan apapun ia langsung pergi kekamarnya kembali mengunci diri didalam kamar.
***
El, Daniel dan Clara sudah berkumpul ditaman sedangkan Luna masih berada dikamarnya. Clara dan Daniel juga sudah berkali-kali memanggil Luna namun Luna belum juga turun membuat El makin frustasi.
Tidak lama pintu kamar Luna diketuk kembali tapi kali ini oleh Dara yang baru saja datang. Luna langsung menyuruhnya untuk masuk ke kamar, Dara mengenakan rok berwarna hitam pekat pendek sejengkal diatas lututnya dan baju atasan berwarna putih. Benar-benar terlihat sangat cantik dan dewasa berbeda dengan Luna yang saat ini hanya memakai celana jeans panjang dan baju kaos biasa.
"Kamu mau pesta atau ke perpustakaan?" Tanya Dara yang melihat penampilan Luna saat ini.
"Orang cuma pesta kecil doang, Kamu gak ngerasa berlebihan sama dandanan kamu?" Tanya balik Luna membuat Dara mengernyitkan kedua alisnya.
"Ya tetap aja gak gini juga kali. Ganti baju yuk, Biar aku poles dikit." Ajak Dara sebelum ikut bergabung kepesta. Luna langsung menggeleng menolak ajakan Dara. Tapi bukan Dara namanya jika tidak bisa memaksa Luna. Ia membongkar semua isi lemari Luna mencari baju yang pas untuk sahabatnya sedangkan Luna hanya bisa menganga melihat kelakuan dara saat ini.
"Tarrraaaaa..... Buruan ganti sama ini." Dara menyerahkan gaun santai diatas lutut berwarna hitam senada dengan rok yang dikenakannya saat ini.
"Gak-gak......Gak mau. Aku mau pake ini aja, Lagian ini juga bukan acara resmi. Udahlah, Ayo buruan kita turun." Dara menutar kedua bola matanya jengah dengan sikap Luna. Ia langsung menarik Luna ke balkon teras kamarnya.
"Tuh liat cewek yang nempelin bang El, Dari baju, Sepatu sampai makeup dia keliatan anggun dan fashionable. Ya gak cantik-cantik banget sih, Tapi aku akui selera fashion nya lebih bagus daripada kamu." Luna melihat kearah Clara dan El yang saat ini sedang duduk bersama sambil mengobrol, Membuat hati Luna makin terasa panas.
"Ya udah buruan." Kata Luna setuju dengan ide Dara. Dara tersenyum puas, Ia langsung menyalurkan bakatnya lewat wajah Luna.
Setelah hampir setengah jam Luna akhirnya siap dengan dress cantik dam simple ditambah lagi rambutnya tegak lurus diberikan sentuhan curly yang tipis dipadukan makeup natural membuatnya tampak sangat berbeda malam ini.
"Perfect......" Puji dara saat melihat Luna. Ia lalu menggandeng tangan sahabatnya itu turun untuk bergabung dipesta.
"Sorry lama." Teriak Dara membuat semua orang yang ada disana melihat kearah mereka berdua terutama El. Ia bahkan berdiri dari tempat duduknya saat ini melihat Luna dengan tatapan takjub begitu juga Daniel yang melihat Dara yang terlihat sangat berbeda malam ini, Ia terlihat sangat dewasa dibanding biasanya.
"Wow you really look different." Puji Clara, Luna hanya tersenyum sambil menyingkai rambutnya kebelakang telinga. El masih saja terhipnotis dengan penampilan Luna saat ini matanya benar-benar tidak bisa lepas dari Luna saat ini.
"Aku pikir kamu mau ngundang pacar kamu." Tambah Clara membuat El sadar dari hipnotis Luna.
"Pacar?" Ucap El mayakinkan...
"Iya, Dia tanya boleh undang temen gak? Aku bilang ajak aja. Aku pikir dia mau ngenalin pacarnya ke kamu, Ternyata bukan."
"kek nya kakak salah faham, Temen yang dimaksud Luna itu aku sedangkan Luna sama sekali belum punya pacar." Dara yang sudah terlihat tidak menyukai Clara karena selalu menempel pada El langsung ambil bicara.
"Ya udah kak, Kita kesana dulu ya." Luna langsung menarik Dara menjauh dari Clara dan El sebelum Dara makin kasar, Maklumlah Dara bukan orang yang suka basa-basi jika tidak menyukai seseorang maka ia akan langsung menunjukannya.
"Kamu apa-apaan sih?" Protes Luna, Kini mereka duduk di bangku taman.
"Aku kesel, Ngapain sih dia nempelin bang El terus? Aku udah sengaja dandan begini biar bisa deket sama bang El. Tapi dia nempel terus gak mau jauh-jauh." Celetuk Dara sambil meminum minuman yang baru ia ambil.
"Kamu......Segitu sukanya ya sama bang El?" Dara menganggukan kepalnya menjawa pertanyaan Luna.
"Pertama kali ngeliat bang El, Aku langsung suka sama dia. Di tambah sama perhatiannya ke kamu bikin aku iri tapi aku gak mau jadi adenya, Aku mau jadi seseorang yang ada disampingnya, Megang tangannya, Meluk dia. Aku pengen jadi seseorang yang berarti dalam hidupnya." Ucapan Dara membuat Luna terdiam, Bayangannya tadi siang saat El menyatakan perasaanya pada Luna langsung bermunculan dan mulai mengambil alih pikirannya.
"Gimana kamu yakin sama perasaan yang kamu rasakan?" Tanya Luna lagi, Dara tersenyum sambil memandangi wajah El.
"Aku selalu suka dengan apa yang dia lakukan, Bahkan saat dia senyum aja aku ngerasa bahagia banget dan hatiku sakit saat dia gak merhatiin aku kek sekarang. Hmmmmmm.....Cuma dia yang lalu lalang dipikiranku." Jelas Dara sambil terus melihat kearah El begitu juga dengan Luna yang ikut melihat kearah El.
"Hei......Kenapa kalian disini? Kita gabung kesana yuk acara akan dimulai." Kata Daniel yang baru saja datang, Awalnya Luna menolak untuk bergabung karena pasti tidak akan nyaman rasanya jika harus berdekatan dengan El saat ini tapi karena terus dipaksa Daniel dan Dara akhirnya Luna pasrah.
Mereka berlima duduk membuat lingkaran dimeja bulat, El dan Luna duduk bersebelahan namun tidak saling menyapa.
"Jadi aturan permainan nya gini. Kita putar botol ini terus dimanapun botolnya berhenti mereka wajib menjawab pertanyaan yang diberikan oleh orang lain dan siapa yang gak bisa jawab harus minum satu gelas full....." Kata Daniel menjelaskan, Dara dan Clara langsung bersemangat sangat terlihat jelas kesamaan antara dua wanita ini, Mereka berdua sama-sama queen of the party. El dan Luna hanya diam sambil senyum kaku.
"Udah siapa? Mari kita mulai dalam hitungan ketiga 1, 2, 3." Botol wine itupun diputar kuat oleh Daniel semua orang menunggu kearah siapa botol itu berhenti.
"Daniel." Teriak Clara, Botol itu berhenti pas menunjuk kearah Daniel.
"Oke aku yang bakal tanya. Saat ini apa kamu memiliki seseorang yang kamu suka?" Tanya Clara, El langsung tertawa mengolok sahabatnya yang terlihat sedikit malu-malu.
"Jawab.....Jawab.....Jawab.....Jawab....." Mereka bersorak sambil menepuk tangan menunggu jawaban Daniel.
"Oke oke tenang bakal gue jawab. Saat ini belum ada, Tapi mungkin akan baru dimulai." Jawab Daniel sontak membuat Clara, El, Dara dan Luna tertawa mendengar jawaban Daniel.
"Clear.....Kita putar lagi." Botol kembali diputar dan kali ini giliran Dara. Daniel langsung angkat tangan memberikan pertanyaan pada Dara.
"Apa kamu memiliki orang yang kamu sukai saat ini?" Tanya Daniel
"Loh kok pertanyaan sama sih?" Protes Clara yang dibenarkan oleh anggota lain.
"Ya suka-suka dong. Daripada gue tanya yang aneh-aneh misalkan berapa ukuran....-" "STOP!" Teriak Dara menghentikan ucapan Daniel.
"Aku bakal jawab. Iya, Aku emang lagi suka sama seseorang." Jawab Dara, Mereka kembali ribut ada yang bertanya siapa dan sebagian mengolok-olok Dara.
"Clear...." Botol kembali diputar dan kini botol itu berhenti tepat menunjuk kearah Luna membuat Luna sedikit kaget. Dengan cepat El mengangkat tangannya dengan wajah datar tanpa melihat Luna membuat suasana ribut menjadi tenang.
"O.....Oke, Sekarang El bisa langsung tanya ke Luna." Ucap Daniel yang merasakan dinginnya El saat ini. Luna gugup menunggu pertanyaan dari El sedangkan El masih diam membuat anggota lain bingung.
Bersambung 😋🤣