
Esok hari seperti biasa, Vanny selalu datang lebih awal dari karyawan lain. Gadis itu membersihkan seluruh cafe dengan senang hati bahkan tidak jarang karyawan lain memanfaatkan tenaga gadis itu.
"Selamat pagi pak Kenan. Bagaimana keadaan bapak? apakah sudah membaik?" Sapa Vanny sambil tersenyum manis menyambut kedatangan bosnya tersebut. Namun tidak seperti biasa, pagi ini dengan raut wajah kesal Ken bahkan tidak menghiraukan sapaan gadis itu. Ken langsung masuk kedalam ruangannya dan mengunci diri didalam sana membuat Vanny tambah merasa bingung.
Ken kembali mengobrak abrik ruangannya berusaha mencari selembar kertas bergambar wajah Eriska namun hasinya nihil. ia tetap tidak bisa menemukan benda tersebut dan tentu hal itu membuat Kenan makin meradang.
Ken bahkan mulai membenci sosok Vanny karena telah menghilangkan satu-satunya kenangan yang ia miliki tentang Eriska. Sebelum ia memutuskan untuk pindah ke Australia, Kenan mengubur semua kenangan milik Eriksa dan hanya menyisakan satu benda yaitu photo yang kini juga sudah ikut menghilang.
Beberapa kali Vanny menyapa namun Ken selalu berpaling dan mengacuhkan gadis itu, jangankan untuk membalas sapaan serta mengobrol dengan Vanny. Bahkan untuk melihat kearah Vanny pun, Kenan enggan. Dan hal tersebut berlangsung selama satu minggu hingga hari ini, untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir Kenan bicara pada Vanny dan tentu hal itu membuat Vanny nerasa sangat senang.
"Keruangan saya sekarang." Ucap Ken singkat sambil berlalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Vanny buru-buru melepaskan celemek dan mengeringkan tangannya yang basah karena saat ini ia sedang mencuci setumpuk piring kotor.
Dengan harapan penuh gadis itu masuk kedalam ruangan Ken dengan tergesa namun harapan itu hancur saat ia berada didalam sana.
"Itu gaji terakhir kamu, mulai besok kamu tidak perlu lagi masuk bekerja." Ucap Ken enggan duduk menghadap jendela dan membelakangi Vanny.
"Apakah saya melakukan kesalahan? Jika memang saya melakukan kesakahan saya terima bapak memarahi dan menghukum saya. Bahkan bapak boleh menotong gaji saya, tapi saya mohon pak. Jangan pecat saya karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." Ucap Vanny mengiba berharap Ken masih bisa memberikan kesempatan kedua untuknya.
"Maaf, saya rasa ucapan saya cukup jelas." Sahut Ken yakin tetap pada keputusannya. Dengan perasaan kecewa sekaligus sedih Vanny menerima pemecatannya tersebut. Vanny meraih amplop cokelat yang berada diatas meja.
"Terimakasih pak karena sudah memberikan saya kesempatan untuk bekerja ditempat bapak. Saya juga minta maaf jika selama bekerja saya banyak melakukan kesalahan." Kata Vanny, lalu gadis itu beranjak pergi dan Ken masih tetap membuang muka enggan melihat kearah gadis yang ia tuduh menghilangkan photo Eriska.
***
Seminggu telah baru, rasa kesal dihati Kenan terhadap Vanny belum juga hilang. Saat ini Ken sedang menuju apotek untuk membeli obat sakit kepala. Karena terlalu banyak pikiran hingga membuat Ken lupa untuk makan jelas itu berimbas pada kesehatannya.
"Ken, apa kamu sudah sehat?" Tanya wanita setengah baya pemilik apotek tersebut. Ken mengerutkan alisnya bingung dengan pertanyaan wanita yang biasa di panggil Rose tersebut.
"Bagaimana anda bisa mengetahui jika saya baru saja sembuh dari sakit?" Tanya ken, Ken dan Rose memang sudah saling mengenal satu sama lain. Wanita itu tersenyum sambil memberikan obat milik Ken.
"Karyawan wanita itu rela berjalan kaki dri cafe sampai kemari padahal malam itu sedang ada badai salju. Dia bilang kamu sakit, dan sepertinya dia memiliki pengalaman dibidang kesehatan. Itu terlihat saat ia memilih beberapa obat demam untukmu." Jelas Rose, mendengar hal itu Ken langsung memikirkan Vanny karena hanya Vanny yang saat itu bersama dengannya.
"Karyawan wanita? Siapa?" Tanya Ken penasaran berharap jika itu bukan Vanny.
"Sayangnya aku tidak sempat menanyakan nama gadis manis itu. Tapi sepertinya dia orang baru dicafe." Seperti sedang ditembak pas mengenai dada, Ken langsung mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia memecat Vanny. Terlintas rasa bersalah dihati Ken namun pria itu lebih memilih untuk diam dan berusaha tidak perduli.
Dengan perasaan rumit ia kembali ke cafe dan langsung masuk kedalam ruangannya, tempat ternyaman bagi Ken.
Dan saat itu juga Ken langsung berlari keluar ruangan sambil membawa selembar kertas ditangannya yang tidak lain adalah photo Eriska.
"Siapa yang bersihin ruangan saya?" Tanya Ken pada beberapa orang karyawannya.
"Saya pak." Sahut seorang karyawan menghampiri Ken.
"Dimana kamu menemukan photo ini?" Tanya Ken penasaran.
"Photo itu ada dibawah meja kerja pak Kenan." Karyawan tersebut menjelaskan. Ken langsung mengusap kasar wajahnya lalu kembali menuju ruangannya.
"Hun, aku bahkan menyalahkan seseorang yang sama sekali tidak bersalah. Heh, sebodoh inikah aku? Atau aku terlalu buta? Bahkan aku merasa tidak pantas untuk meminta maafnya atas semua kesalahan itu." Ucap Ken pasrah atas kesalahannya. Pria itu diam sejenak lalu meraih kunci mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Vanny.
***
Sesampainya di kediaman Vanny, Ken turun dari mobil dan berlari menuju rumah kecil dan sederhana tersebut. Kenan ragu untuk mengetuk pintu rumah kayu tersebut namun tetap ia lakukan.
Ken berulang kali mengetuk pintu rumah Vanny namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Maaf, apa anda mencari nonaVanny?" Tanya seseorang yang kebetulan lewat dihalaman rumah Vanny. Ken langsung menghampirinya dan bertanya tentang Vanny.
"Nona Vanny sudah pergi tiga hari yang lalu." Ucap orang tersebut membuat Ken makin merasa bersalah.
"Apa anda tau kemana Vanny pergi?" Tanya Ken penasaran. Ia harus membawa Vanny bekerja kembali dicafe miliknya atau jika.Vanny tidak berminat setidaknya ia harus meminta maaf langsung pada Vanny atas kesalahan yang ia lakukan.
"Dia tidak mengatakan, hanya sekedar berpamitan. Tapi, ia biasa pergi kesebuah panti asuhan diujung jalan sana." Mendengar hal itu Kenan langsung meminta alamat panti yang biasa Vanny datangi.
"Baiklah, terimakasih." Setelah mendapatkan alamat tersebut, Kenan langsung bergegas menuju tempat itu.
***
Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, Kenan akhirnya tiba disebuah bangunan tua yang terlihat sudah usang dan tidak terurus bahkan nyaris ambruk. Meski sedikit ragu jika ini adalah tempat yang dimaksud orang tersebut namun Ken tetap turun dari mobilnya dan berjalan menuju halaman luas bangunan tang terlihat seperti sebuah gereja tua itu.
Saat memasuki halaman Ken disambut dengan beberapa mainan anak kecil yang bisa dibilang sudah tidak layak pakai. Ken terus berjalan menuju pintu namun belum sempat ia mengetuk seseorang menghampirinya lebih dulu. Ia seorang suster yang mengurus tempat itu.
"Maaf, apa disini ada Vanny?" Tanya Ken sopan.
"Saat ini Vanny sedang membacakan dongeng untuk anak-anak panti. Mari silahkan masuk." Ucap wanita tersebut tidak kalah sopan dan ramah. Kenan lalu masuk kedalam bangunan itu, tempat itu terlihat sangat memprihatikan.
"Vanny sudah lama menjadi ibu asuh ditempat ini. Bahkan dengan suka rela ia bekerja ditempat ini. Vanny juga seorang donatur ditempat yang hampir ditutup ini, Tuhan mengirimkan orang sebaik Vanny hingga tempat ini tidak jadi ditutup dan anak-anak itu masih memiliki tempat bernaung." Mendengar hal itu kini Kenan mengerti mengapa Vanny memaksa untuk bekerja dicafe miliknya saat itu. Kenan merasa begitu jahat karena sudah memperlakukan Vanny dengan buruk padahal ia berkata jujur saat itu.
"Silahkan duduk, saya akan memanggil Vanny." Kenan tersenyum lalu duduk dibangku teras belakang menunggu Vanny.
Tidak berapa lama Vanny datang, gadis itu bersikap seperti biasa bahkan seperti sedang tidak ada masalah antara dirinya dan Kenan.
"Pak Ken." Sapa Vanny santai sambil tersenyum melihat kearah Ken yang sedang duduk menunggunya. Kenan berdiri menatap ragu kearah Vanny. Semua rasa bersalah berkumpul memenuhi ruang hati Kenan saat ini hingga pria itu bingung harus berkata apa.
"H.....hai." Sapa Kenan terdengar ragu-ragu. Vanny tersenyum kearah pria itu lalu duduk dibangku panjang.
"Van, maafkan saya atas kejadian saat itu. Saya benar-benar merasa sangat bersalah karena menuduh kamu menghilangkan benda itu. Jujur, benda itu satu-satunya yang saya miliki tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya." Jelas Ken berharap Vanny mengerti alasan kenapa ia sangat marah saat itu.
"Photo itu photo pacar bapak ya?" Tanya Vanny penasaran, Kenan tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Dia seorang sahabat, seorang teman, seorang kekasih dan calon istri." Mendengar hal itu Vanny mengangguk, ia bisa mengerti sekarang kenapa Kenan semarah itu.
"Maafkan saya pak, saya bener-bener gak sengaja ngilangin photo itu." Ucap Vanny menunduk merasa bersalah
"Bukan salah kamu Van, lagipula photonya udah ketemu." Mendengar hal itu Vanny ikut senang.
"Cinta kalian sangat besar, apa pacar bapak tinggal di Indonesia?" Tanya Vanny tersenyum, Kenan membalas senyum Vanny dengan senyum hambar dari bibirnya.
"Dia disurga." Ucap Ken terasa sesak dan berat.
"Maksud bapak, dia udah...."
"Mmmm..... Dia sudah meninggal, dan saat ini dia sedang disurga." Sahut Kenan mencoba tegar. Padahal pria itu sangat lemah jika membicarakan tentang Eriska. Mendengar hal itu Vanny menutup matanya sejenak sambil menangkup kedua tangan didepan dada, membuat Ken bingung melihatnya.
"Kamu ngapain?" Tanya Kenan saat gadis itu membuka kedua matanya.
"Berdoa untuk pacar bapak." Sahut Vanny tersenyum, Kenan ikut tersenyum walau terlihat jelas jika senyum itu sedang ia paksakan.
"Terimakasih untuk doanya. Oh iya sebelum ketempat ini saya rumah kamu, tapi kata orang kamu pindah. Apa itu benar?" Tanya Ken, Vanny tersenyum sambil menundukan kepalanya.
"Mmmmm......" Sahut Vanny singkat.
"Kenapa?" Tanya Kenan mulai penasaran.
"Gak ada apa-apa, saya cuma pengen lebih dekat sama anak-anak asuh saya disini. merawat dan memanjakan mereka." Sahut Vanny tersenyum manis dan tulus.
"Ummm....Kamu mau gak balik lagi kerja dicafe?" Tanya Kenan ragu-ragu.
"Mau pak." Sahut Vanny cepat karena gadis itu tetap harus bekerja untuk menghidupi anak-anak asuhnya dipanti ini.
"Ma....maaf." Katanya lagi tertunduk malu dan sontak hal itu membuat Kenan tertawa.
"Mulai besok pagi kamu harus datang seperti biasa." Ucap Ken tersenyum, dengan cepat Vanny mengangguk menjawab Ken.
"Bunda..." Teriak seorang anak perempuan berwajah cantik dan memiliki bola mata berwarna biru laut. Gadis kecil itu berumur 5 tahun, ia berlari menghampiri Vanny dan langsung memeluk Vanny sambil menangis.
"Nat, kenapa kamu menangis?" Tanya Vanny lembut sambil menenangkan bocah yatim piatu tersebut.
"Grace, dia tidak mau berbagi mainan denganku." Sahut Nathalie sesegukan dalam pelukan Vanny. Vanny menghapus air mata gadis kecil tersebut dan memintanya untuk tenang.
"Sudah jangan menangis, bunda akan bicara dengan Grace tapi kamu jangan menangis lagi." Bujuk Vanny, gadis kecil itu mengangguk lalu menghentikan tangisannya.
"Saya pamit sebentar pak, mau ngurus anak-anak ini." Kata Vanny sebelum pergi.
"Boleh saya ikut bergabung?" Tanya Ken, Vanny tersenyum lalu mengangguk.
***
Diluar kamar Vanny melihat gadis kecil bernama Grace sedang memeluk mainannya. Vanny dan Kenan menghampiri gadis berambut pirang tersebut.
"Bayi kecilku, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Vanny duduk disamping Grace. Grace melihat kearah Kenan yang baru pertama kali dilihatnya ditempat ini.
"Grace, bunda sedang bicara denganmu." Tambah Vanny lagi karena gadis kecil itu enggan membuka mulutnya membuat Kenan dan Vanny saling melempar tatapan.
"Baiklah, bunda akan pulang kerumah karena besok bunda harus kembali bekerja." Kata Vanny mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan pergi." Ucap Grace menarik tangan Vanny, gadis kecil itu terlihat sedih. Vanny kembali duduk dan mulai bicara pada Grace, Kenan pun masih ikut berdiri disana.
"Nat baru menangis, dia bilang kamu tidak ingin berbagi mainan dengannya. Apa itu benar?" Tanya Vanny pelan dan bernada lemah lembut.
"Lihat sendiri apa yang sudah dia lakukan pada mainanku. Bahkan ini satu-satunya mainan yang masih bisa dimainkan ditempat ini, dan dia meruskanya." Sahut Grace mengadu sambil memamerkan mainan yang sudah rusak. Vanny melihat sedih kearah benda yang menjadi oenghibur bagi anak-anak panti tersebut. Sudah sangat lama ia tidak membelikan mainan-mainan baru untuk anak-anak asuhnya.
"Sayang, entar kalo bunda uang kita beli mainan baru ya." Bujuk Vanny tersenyum sambil menangkup pipi gadis kecil tersebut. Kenan benar-benar merasa dirinya sangat bersalah karena memecat Vanny saat itu.
"Ummm, Van kalo gitu saya permisi dulu masih ada urusan soalnya. Besok saya jangan lupa." Ucap Ken berpamitan, Vanny mengangguk tersenyum lalu berdiri ingin mengantar Ken sampai depan pintu namun Ken menolaknya dan langsung pergi dari tempat itu.
***
Bukannya kembali kecafe, Ken malah pergi kesebuah toko mainan dan memborong banyak mainan. Pria itu menghabiskan banyak uang untuk membeli mainan dan baju serta makanan ringan untuk anak-anak panti asuhan yang diurus oleh Vanny.
Setelah semua barang terkumpul, Ken mengirim semua barang tersebut ke panti asuhan yang ia datangi tadi siang. Hati Ken terenyuh melihat kondisi serta tempat yang mereka tinggali. Ken juga menyembunyikan namanya agar Vanny tidak tau jika Ken lah yang mengirim barang-barang tersebut.
**Bersambung.....
Maaf, baru up karena sibuk kerjaan RL.
Bagi yang belum liat atau belum tanya lanjutan cerita ZEA dan DAVE kuy cek profil author. Mohon dukungannya semua supaya Dave n Zea bisa laris kek El dan Luna 😘🥰🥰🥰**