Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
124



Semua orang terpukau dengan sosok gadis yang sedang menyanyi diatas panggung tersebut termasuk ketiga pria tampan yang tidak lepas pandangan sejak tadi bahkan Davin mengabadikan momen tersebut lewat kamera ponselnya.


Semua orang dibuat terpukau oleh suara lembut dan indah Zea juga permainan gitarnya yang piawai. Si puteri sulung itu memang memiliki banyak bakat dan otak yang cerdas.


"Makasih semua, jangan lupa sawerannya." Kata Zea diakhir penampilannya membuat orang-orang tertawa.


Kenan maju lebih dulu memberikan 2 lembar uang senilai 100 ribu.


"Karena penampilan kamu sangat luar biasa kamu harusnya dapat lebih, tapi gak dibolehin sama daddy ngasih lebih dari ini." Ucap Ken memasukan uang tersebut kedalam sebuah plastik berwarna silver yang dipegang oleh Zea.


"Gak apa-apa om, mskasih ya ini aja udah banyak banget. Tinggal nambah dikit ngumpul semua deh." Sahut Zea tersenyum manis sama seperti dulu.


"Ya udah Zea narikin saweran dulu ya." Tambah gadis itu membuat Ken tertawa. Zea lalu menghampiri kedua orangtuanya.


"Daddy, mommy tambahin dong." Ucap Zea manis dan manja membuat El mengangkat kedua alisnya. Luna tersenyum sambil memasukan uang 50 ribu kedalam plastik itu.


"Daddy, sisa 250 ribu lagi. Tambahin ya." Kata Zea manja menadahkan plastik itu pada ayahnya. El tersenyum lalu mengeluarkan uang sebanyak 300 ribu dari dalam sakunya membuat Zea tersenyum lebar. Namun saat ingin memasukan uang tersebut, Luna lebih dulu maraihnya membuat Zea dan El melihat kearah wanita yang biasa mereka panggil mommy.


"Kok diambil mom?" Tanya Zea mengerucutkan alisnya.


"Untuk mendapatkan sesuatu kamu harus berusaha." Sahut Luna sambil memasukan uang senilai 50 ribu kedalam plastik yang dipegang oleh Zea.


"Jadi segini aja nih? Nambah 50 ribu aja gak bisa?" Kata Zea memastikan, Luna tersenyum sambil menggelengkan kepala membuat Zea menghela nafas dan El tersenyum lebar.


"Sorry my baby, it's our queen requested." Kata El mencubit pipi anaknya.


"It's ok, no problem." Sahut Zea lalu ia berlalu meninggalkan kedua orangtua nya dan berpindah pada kedua orangtua angkatnya yaitu Daniel dan Dara.


"Ayah, bunda." Ucap Zea sambil tersenyum riang membuat Dara terpesona melihat gadis manis itu, anak perempuan yang paling ia sayangi.


"Daddy kasih kamu berapa?" Tanya Daniel berbisik pelan agar tidak terdengar oleh El.


"100 ribu doang, gak dibolehin mommy banyak-banyak." Sahut Zea ikut menghemat suaranya.


"Ini dari ayah." Kata Daniel memasukan tiga lembar uang 100 ribu kedalam plsatik.


"Wah, beneran segini nih?" Tanya Zea kegirangan.


"Iyalah, apa sih yang enggak buat kelincinya ayah." Sahut Daniel tersenyum.


"Makasih ayah, love you." Kata Zea tersenyum gembira karena ia sudah mendapatkan uang senilai 500 ribu.


"Zea ke om Rendy dulu ya." Katanya ingin pergi menghampiri Rendy.


"Ze, kok pergi? Bunda kan belum ngasih." Panggil Dara menghentikan langkah Zea.


"Bunda mau kasih juga? Tapi tadi ayah udah ngasih banyak."


"Itu kan ayah, bunda kan belum ngasih gimana sih kamu." Sahut Dara tersenyum, Zea mendekati Dara dan Dara langsung memasukan uang sebanyak 300 ribu kedalam plastik yang sudah hampir penuh dengan lembaran uang bernilai 100 ribu tersebut.


"Bun, ini banyak banget. Uangnya udah cukup kok malah lebih dikasih sama ayah."


"Gak apa-apa, Davin pasti punya rencana lain makanya nyuruh kamu ngamen." Jawab Dara tersenyum. Zea berterimakasih pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri lalu berpindah ke Rendy.


"Om sawer, tante beri Zea sawer." Kata Zea terkikik, Nayla ikut tertawa melihat tingkah gadis itu yang menurutnya Zea itu sangat imut dan lucu.


"Mau disawer berapa?" Tanya Nayla membuka dompet pestanya.


"Dikit aja, ini udah lebih cukup kok. Lebih malahan." Ucap Zea melihat kearah plastik yang berisi uang didalamnya. Nayla tersenyum lalu mengeluarkan uang sebesar 300 ribu dan memberikannya pada Zea, membuat Zea kembali membulatkan matanya.


"Banyak banget tante!"


"Wah tante berlebihan. Suara Zea sama suara bebek enakan suara bebek malahan." Kata Zea tertawa begitupun dengan Nayla.


"Ya udah kalo gitu Zea pamit, makasih tante teebaik dan tercantik." Sambung Zea melangkah pergi namun sekali lagi langkahnya dihentikan oleh Rendy yang belum memberinya uang.


"Ish, gak usah om. Ini udah banyak banget lho uangnya." Kata Zea menyambar. Rendy berdiri dan memasukan lima lembar uang ratusan ribu tanpa banyak bicara.


"Wah om, om baru menang lotre? I.....ini sawer terbanyak yang Zea dapat."


"Hussst.......Sembarangan, gak apa-apa ambil aja. Pasti bakalan ada manfaatnya." Jawab Rendy tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Zea.


"Siap saboeum(sebutan untuk pelatih taekwondo)." Sahut Zea tersenyum. Ia lalu pamit pergi kembali ke perkumpulannya dengan wajah sumringah.


"Pasti dapat banyak. Dia kan manja kalo minta apa-apa maksa." Celetuk Calla membuat Dave, Davin dan Tian tertawa.


"Gimana? Dapat 500 ribu?" Tanya Davin saat Zea duduk.


"Dapat dong, Zea gituloh." Ucap Zea tersenyum bangga.


"Hasil malak tuh pasti." Celetuk Calla mulai berulah.


"Kak Zea suka malak?" Tambah Cinta santai makin membuat Zea meradang.


"Dia pemalak hati." Sahut Davin tersenyum membela Zea. Namun itu lebih terdengar seperti sebuah olokan bagi Zea.


"Kalian maunya apa huh? Ngomong sini mumpung mode kalem on." Bentak Zea membuat semua orang menutup mulutnya. Hanya Dave yang malah menyunggingkan senyum disudut bibirnya namun ia tutupi dengan tangannya.


"Oke gue ngerti banget kalemnya Zea gimana. Jadi daripada mode kalemnya beneran on mending hitung hasil ngamen baru lanjut main." Ucap Davin tersenyum melirik wajah Zea yang sudah mulai kesal. Davin lalu meraih meraih plastik tempat uang dan menghitung semua uang yang ada di dalamnya.


"1.700.000 wow amazing untuk bayaran satu buah lagu." Kata Davin memegang uang tersebut ditangannya.


"Terus uangnya buat apa bang? Kita bagi aja gimana?" Sahut Calla dengan wajah sumringah.


"Lu kelewat gak ada akhlak emang jadi bocah." Sambar Zea kesal dengan ucapan adiknya.


"Terus buat apa Vin?" Tanya Tian penasaran.


"Niatnya ini mau gue kasih ke salah satu panti asuhan anak yang baru buka, mereka masih banyak perlu kebutuhan khusus untuk bayi sedangkan donatur sepi." Jawab Davin, selain memiliki wajah yang tampan pria itu juga memiliki hati yang baik dan perduli.


"Gue tambahin boleh?" Tanya Tian serius.


"Boleh, tapi besok aja gimana? Niatnya gue mau beli sebagian perlengkapan bayi kek popok dan susu."


"Aku ikut bang." Ucap Zea bersemangat sambil mengangkat tangan.


"Oh, oke kalo gitu besok gue ikut gabung boleh?" Tanya Tian tertarik dan mendengar hal itu yang tadinya Dave tidak ada niat sama sekali ingin ikut bergabung malah mulai terusik.


"Jam 10 kita ketemu di mall *****, oke."


"Oke."


"Kak Dave ikut gak? Kalo kak Dave ikut Cinta juga mau ikut."


"Gak!" Sahut Dave singkat sambil berpaling.


***Bersambung***


Sampai sini dulu ya, author stuck banget udah ini. Maaf ngecewain di eps ini 🙏