
Sudah sebulan berlalu, Orang-orang disekitar Luna juga sudah tidak lagi heboh tentang pernyataan status pernikahan nya dan El. Hanya satu orang yang masih sulit untuk menerima kenyataan, Pria yang diam-diam menyukai Luna, Pria yang berusaha menyembunyikan perasaan nya setelah tau kalau Luna sudah menikah. Pria itu yang selalu melihat Luna dari kejauhan, Yang selalu mencoba bersikap baik-baik saja memendam semua rasa. Pria itu memang Andra, Andra yang dikenal sebagai musuh dari Luna. Sejak kejadian di perkemahan itu Andra benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan nya yang makin bertumbuh. Ia tau ini salah, Sangat salah. Namun ia bisa apa saat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Yang ia bisa lakukan hanya memendam, Merasakan semua itu sendirian.
Berulang kali ia menghindari Luna, Tapi berulang kali juga takdir mendekatkan mereka seolah Tuhan sedang ingin memainkan perasaan hambanya. Sikap Luna yang selalu ramah dan baik padanya, Sikap yang paling ia benci karena itulah kelemahan hatinya. Ia tersiksa, Sangat tersiksa sendirian. Berusaha bertarung dengan perasaan nya sendiri, Berharap ia akan menguasai hatinya sendiri namun yang terjadi malah sebaiknya. Hatinya lah yang menguasai tubuh dan pikirannya.
"Andra, Makin lama nilai ekonomi bisnis kamu makin anjlok. Kamu tau kan resikonya kamu harus mengulang lagi tahun depan jika nilai kamu terus-terusan E." Ucap dosen menceramahi Andra, Andra menarik nafas panjang seolah hidup segan mati tak mau.
"Ya gimana lagi pak, Saya udah usahain banget itu. Syukurnya gak dapat F."
"Andra! Kamu pikir ini lucu? Bukan cuma kamu yang akan rugi, Tapi juga saya sebagai wali kelas dan dosen mata kuliah ekonomi. Dosen lain akan menganggap saya gagal mendidik anak didik saya. Saya udah cari solusi yang yang tepat, Dan saya rasa ini akan membantu kamu." Andra akhirnya pasrah dengan apa yang harus ia terima, Karena kali ini ia memang merasa berada paling bodoh diantara teman sekelasnya.
Tok......Tok.....Tok....
"Masuk....."
"Ada apa ya bapak manggil saya?" Andra langsung menoleh melihat kearah suara yang sangat ia kenali.
"Oh iya, Silahkan duduk." Luna lalu duduk disamping Andra, Andra langsung diam dan kaku.
"Jadi begini, Dikelas kita nilai Andra yang paling jelek. Bapak minta tolong sama kamu untuk jadi guru bimbel buat Andra. Selain kamu mahasiswa berprestasi kalian juga satu kelas. Dan mulai sekarang kalian duduk satu meja." Andra benar-benar kaget sekaligus bingung saat ini. Satu sisi ia menolak usul yang diberikan oleh dosen tapi ia tidak dapat berbohong jika ia merasa sangat bahagia saat ini.
"Ta......Tapi pak.-"
"Kecuali kamu mau mengulang tahun depan." Sambung dosen cepat membungkam mulut Andra. Luna melihat kearah Andra, Sebenarnya ia tidak suka cara seperti ini tapi karena Andra sering membantunya ia pun setuju untuk membantu Andra.
"Gimana Luna? Kamu bersedia? Kalo kamu tidak bersedia, Saya akan cari orang lain untuk membantunya." Andra menggeleng melihat kearah Luna yang saat ini juga sedang melihatnya berharap Luna menolak tawaran itu.
"Saya bersedia pak." Jawab Luna yakin sambil tersenyum. Andra hanya bisa membuang nafasnya sambil memijat dahinya.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa kembali ke kelas." Luna dan Andra mengangguk lalu segera pergi ke kelas.
"Kenapa lo sanggupin sih permintaan pak Anwar?" Ucap Andra yang berjalan dibelakang Luna. Luna langsung menghentikan langkahnya secara mendadak membuat Andra menabrak tubuhnya.
"Lo kalo mau berenti jangan dadakan gitu dong, Nabrak kan jadinya." Protesnya, Luna menatap pria aneh dihadapannya ini.
"Kamu tu aneh, Kadang baik kadang judes." Ucap Luna, Andra langsung salah tingkah.
"Eng......Enggak biasa aja. Ya udah iya, Maaf." Luna tersenyum melihat tingkah Andra saat ini.
"Ummmm belajarnya kita mulai besok aja ya, Hari ini aku ada janji sama.....-"
"Oke." Sahut Andra memutus ucapan Luna lalu segera pergi kekelas.
"Sama Dara, Tuh orang kenapa lagi sih?" Celetuk Luna, Ia lalu menyusul Andra ke kelas. Sesampainya dikelas Andra tetap duduk dimeja nya sendiri, Semenjak pulang dari perkemahan Andra tidak lagi duduk bersama Queenza, Ia memutuskan untuk duduk dimeja paling ujung sendirian. Tentu hal itu membuat Queen makin merasa marah pada Luna karena menurutnya Luna lah penyebab Andra menjauhinya.
Luna mengangkat kedua bahunya dan duduk dimeja nya sendiri bersama Dara.
"Ra, Kok tumben kamu tidur? Biasanya kamu lebih milih mainin hape ketimbang tidur." Tegur Luna melihat Dara tidur.
"Gak tau lagi males main hape. Bosan, Kamu darimana?"
"Dari ruangan pak Anwar."
"Pak Anwar? Kenapa? Ngapain?"
"Gak apa-apa, Cuma dimintai tolong aja." Dara mengangguk dan melanjutkan tidurnya. Tidak lama pak Anwar masuk mengisi jam pertama di kelas itu.
"Loh Andra, Luna. Tadi kan saya udah bilang, Mulai hari ini kalian duduk di satu meja yang sama." Sontak Dara dan Queenza melihat kearah mereka berdua.
"Andra pindah ke meja Luna, Dara kamu pindah tempat duduk dulu ya untuk sementara waktu."
"Saya? Pak saya kan udah lama duduk sama Luna." Protes Dara tidak terima dengan keputusan pak Anwar.
"Karena kamu sudah lama makanya kamu pindah dulu." Dara merengut menggerutu tidak jelas sambil membereskan barang-barangnya. Mau tidak mau ia harus pindah dari tempat duduknya. Andra pun melakukan hal yang sama, Mau tidak mau ia harus duduk disamping Luna ini membuatnya sangat terbebani oleh perasaanya sendiri.
"Pak." Kata Queen mengangkat tangan.
"Iya, Ada apa?"
"Kenapa mereka harus duduk satu meja?" Tanya Queen penasaran dan tentu ia sangat sangat tidak terima.
"Karena Andra butuh seseorang untuk membantu memperbaiki nilai-nilai nya yang jauh ada dibawah rata-rata."
"Tapi kenapa harus Luna?"
"Apa kamu bersedia? Tapi saya gak yakin karena kamu aja kemaren dapat nilai D. Itu artinya hanya ada satu tingkat diatas nilai Andra." Sontak siswa lain tertawa mendengar pernyataan dari pak Anwar, Dan sudah tentu membuat Queenza murka setengah mati.
***
Kuliah akhirnya berakhir, Luna dan Dara saat ini sedang jalan-jalan menghabiskan waktu di mall.
"Kita makan yuk, Laper." Ajak Dara, Luna mengangguk lalu mereka pergi kesebuah cafe didalam mall itu.
"Lo ngapain pulang kuliah keluyuran. Bukannya langsung pulang malah keluyuran gini." Ucap seorang pria sambil menjewer telinga Dara.
"A....a.....aaa.....Sakit lepasin." Bentak Dara sambil menepis kuat tangan pria itu. Membuat Luna tertawa melihatnya.
"Kak Rendy apaan sih? Malu-maluin tau gak ditempat umum begitu." Protes Dara pada kakaknya itu.
"Ya habisnya adenya bandel gini, Hai Lun." Katanya menyapa Luna. Pria itu Rendy kakak kandung Dara.
"Hai kak, Kakak ngapain disini?" Tanya Luna. Rendy dan Luna sudah saling mengenal dari Luna SMP, Jadi hubungan mereka cukup dekat dan akrab.
"Kerja."
"Huh! Kerja? Kerja apaan? Emang kakak bisa kerja?" Celetuk Dara dan lagi-lagi telinga itu kembali ditarik oleh Rendy.
"Ngomong sama orang tua gak ada sopan-sopannya. Emang kamu pikir kalo kakak ngirimin uang, Uangnya dapat darimana? Dikasih papa? Ya itu hasil kerja kakak lah, Kakak kerja dibagian marketing support disalah satu dealer mobil yang ada di mall ini."
"Oh, Jadi itu semua uang halal hasil keringat kakak sendiri? Syukurlah kalo gitu." Dara langsung bersembunyi dibalik tubuh Luna agar tidak mendapat serangan lagi dari kakak nya itu.
"Kalian mau kemana? Janjian sama cowok ya?" Tanya Rendy melirik tajam kearah Dara.
"Enak aja, Kita mau makan tau laper."
"Ya udah sekalian aja, Di lantai atas ada cafe yang baru dibuka. Makanan nya recomended banget." Ajak Rendy.
"Ummmmm.....Tapi traktirin ya, Kakak kan tau sendiri kita cuma mahasiswa lebih-lebih aku anak kos. Mana sanggup beli makanan mahal di mall, Paling juga bisanya beli roti doang." Ucap Dara memelas, Membuat Luna tertawa dan Rendy memutar kedua bola matanya jengah.
"Ya udah ayo, Karena hari ini ada mobil yang terjual kakak dapat bonus."
"Yeeeyyyyy......Makasih ya kak Rendy, Moga segera di promosikan jadi manager marketing ya kak." Ucap Luna ikut senang, Mereka bertiga lalu pergi ke cafe itu untuk makan siang bersama.
***
Clara mengirim sebuah video untuk El. Sebenarnya El sudah benar-benar malas berurusan dengan Clara tapi ia tetap penasaran kali ini apa lagi yang direncanakan oleh gadis itu. El langsung meraih hapenya dan membuka pesan dari Clara. Hanya sebentar ia melihat video itu, El langsung menutupnya dan menelepon Luna.
"Sayang kamu lagi dimana?" Tanya El santai.
"Lagi di mall makan sama Dara dan kak Rendy." Jawab Luna jujur.
"Rendy?"
"Oh iya aku lupa. Rendy itu kakaknya Dara."
"Oh, Ya udah hati-hati ya jalannya, Miss u." El lalu mematikan sambungan telepon nya dengan Luna dan menghubungi Clara.
"Pasti kamu gak nyangka kan sama semua yang udah kamu liat." Ucap Clara terdengar sangat bahagia saat El menghubunginya.
"Mau sampai kapan kamu begini? Cukup La, Cukup. Aku mohon, Hentikan ini semua."
"Sampai kamu bisa aku dapatin. Sampai kamu bisa ngeliat besarnya cintaku, Sampai kamu ninggalin cewek brengsek itu dan-....
"CUKUP!" Bentak El nyaring membuat Clara terpekik dan menghentikan ucapannya.
"Untuk yang terakhir kalinya aku bilang ke kamu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah berpisah atau meninggalkan Luna, Karena apa karena dia adalah nyawaku. Dan satu lagi, Kamu mungkin lupa orang yang selalu berdiri saat dihantam badai mereka tidak akan terusik oleh gerimis." El langsung memutus sambungan telepon, Ia memejamkan mata berusaha untuk menenangkan diri.
***
"Loh itu bukannya Luna dan Dara." Daniel saat itu sedang melakukan survey untuk fashion model terbaru di sejumlah butik yang bekerjasama dengan perusahaan El.
Melihat ada sosok pria berwajah oriental dan diakuinya cukup tampan Daniel langsung berjalan kearah mereka bertiga. Apalagi pria itu terlihat sangat dekat dengan Dara, Duduk disebelah Dara bahkan kadang menyuapi Dara. Semua membuat Daniel merasa gila, Ia terus berjalan mengepalkan kuat tangannya.
"Berani-berani nya lo deketin Dara!" Tanpa bertanya lebih dulu Daniel langsung menarik kerah baju Rendy membuat Luna dan Dara kaget melihatnya.
"Kak, Kak Daniel."
"Lo apasih sih! Lepasin!" Teriak Dara berusaha melepaskan tangan Daniel dari kerah baju Rendy. Selain ini menurutnya ini gila, Bahaya jika Rendy sampai mengamuk ditempat ini karena ia akan sangat menggila jika ada yang mencari masalah dengan nya.
"Lepasin tangan lo!" Ucap Rendy datar dan dingin namun penuh tekanan, Membuat Dara tau jika kakaknya itu sudah mulai marah. Dengan paksa dan sekuat tenaga Dara dan Luna melepaskan tangan El dari baju Rendy.
"Gue ingetin sama lo, Gue gak peduli lo siapa.Yang harus lo tau dan ingat baik-baik jangan pernah berani deketin Dara!" Ancam Daniel, Wajahnya benar-benar serius dan terlihat sangat marah.
"Kali ini lo selamat! Tapi lain kali saat kita ketemu lagi, Gue pastiin bakal matahin tangan lo karena udah berani nyari masalah sama gue!" Rendy lalu pergi, Namun sebelum pergi ia mencium kening adiknya itu. Rendy dan Dara memang memiliki hubungan yang sangat baik sebagai kakak beradik. Ditambah dengan suasana dalam keluarga yang membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Rendy selalu memanjakan adiknya, Karena ia merasa kasian pada Dara yang kurang mendapatkan kasih sayang kedua orang tua saat umurnya masih sangat muda. Itu yang membuatnya mengambil peran sebagai seorang kakak, Ayah dan juga ibu untuk Dara, Agar adiknya itu tidak merasakan yang namanya kurang kasih sayang.
Hal itu membuat Daniel benar-benar marah besar. Ia ingin mengejar Rendy namun ia urungkan karena yang lebih penting saat ini ialah Dara.
"Lo gila ya? Maksud lo apa begitu? Lo merasa hebat? Lo merasa jago? Atau lo emang udah bener-bener gila!" Bentak Dara yang juga sama marahnya dengan Daniel. Luna yang menjadi penengah benar-benar sangat bingung saat ini harus berbuat apa.
"Iya gue gila! Gue gila karena lo, Gue bahkan gak bisa mikirin hal lain selain mikirin tentang lo. Semua hal tentang lo bikin gue gila!" Daniel kini terang-terangan mengakui perasaannya didepan Luna dan Dara bahkan didepan semua orang yang berkunjung di cafe itu, Dan dimana ada keributan pastilah ada saja orang yang ingin mengabadikan kejadian itu lewat ponsel dan media sosial mereka agar mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat.
"Ya terus hubungan nya sama lo?" Teriak Dara nyaring didepan muka Daniel.
"Lo tanya apa hubungan nya sama gue? Lo lupa mal.....-" Daniel hampir lupa tentang janjinya agar tidak mengungkit tentang malam itu apalagi didepan Luna.
"Duh udah dong, Semua orang liatin kita. Kita pulang yuk Ra, Kak Daniel juga sebaiknya pulang deh." Ucap Luna mulai panik ada diantara dua orang yang sedang bertengkar hebat ini.
"Asal lo tau, Cowok yang lo ancem barusan itu kakak gue." Mendengar hal itu Daniel tidak percaya dan langsung melihat kearah Luna. Luna pun mengangguk membenarkan ucapan Dara.
Daniel menghela nafas panjang, Ia memejamkan mata menyesali semua perbuatannya. Harusnya ia tidak terbawa emosi saat tadi, Harusnya ia berpikir dulu sebelum bertindak.
"Jangan pernah muncul dihadapan gue lagi, Karen gue udah cukup muak selama ini sama tingkah konyol lo!"
Dara terlihat sangat marah pada Daniel, Ia menarik tangan Luna dan langsung pergi dari sana meninggalkan Daniel dengan rasa penyesalan nya.
"Kok bisa sih gue jadi gini? Dara bener, Gue bener-bener udah gila." Ucap Daniel frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Dengan langkah lesu ia segera ke mobil dan kembali ke kantor.
***
Karena merasa tidak enak Luna menemani Dara di kos-kosan minimalis milik Dara.
"Ra, Udah dong jangan marah lagi." Bujuk Luna yang melihat Dara masih sangat marah.
"Ya gimana gak marah coba? Dia berani kasar gitu sama kak Rendy."
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Tapi dia gitu kan karena dia gak tau kak Rendy itu siap. Dan lagi, Menurut aku dia emang bener-bener suka sama kamu."
"Ya tapi gak gitu caranya, Dia orang berpendidikan, Orang yang intelektual harusnya dia tanya dong baik-baik. Lagian hubungan nya sama dia apa? Dia siapa? Dia bukan siapa-siapa. Dia gak punya hak sama sekali." Luna mengangguk, Ucapan Dara memang benar. Luna memeluk Dara sambil terus menenangkan gadis itu.
***
"Ini laporan hasil survey untuk bulan ini." Ucap Daniel datar, Dingin, Dan tidak bersemangat. El tidak langsung melihat hasil laporan itu, Ia lebih fokus pada Daniel saat ini yang ingin kembali keruangan nya.
"Lo kenapa Dan?" Tanya El, Tapi Daniel tidak menghiraukan nya sedikitpun. Ia tetap berjalan gontai menuju ruangan nya.
"liat dia begitu gue jadi takut." Ucap El pelan sambil terus memperhatikan punggung Daniel yang makin jauh.
"Entarlah gue tanya lagi, Luna ngapain ya? Udah pulang atau belum. Kangen gue sama dia." El langsung meraih ponselnya dan menelepon istrinya.
"Sayang, Kamu udah pulang? Abang kangen." Ucap El manja ingin segera bertemu istrinya.
"Sttttt......Entar kalo abang pulang kerja jemputin aku di kosan Dara ya."
"Oh, Ya udah satu jam lagi abang kesana." Setelah sambungan telepon terputus, El buru-buru keruangan Daniel. Namun setelah sampai disana El tidak menemukan pria itu.
"Bener ada yang lagi gak beres sama tuh anak." Ucap El, Ia langsung masuk ke lift dan pergi menuju puncak dari kantor ini.
Dan benar saja dugaan El, Daniel sedang menikmati sebatang rokoknya ditemani sekaleng beer. El menghampiri pria yang terlihat menyedihkan itu, Daniel yang tau jika El datang menawarinya beer dingin dan rokok.
"Luna gak suka gue ngerokok. Dan bentar lagi gue mau jemput Luna di kosan Dara jadi gue gak bisa minum." Ucap El menolak semua pemberian Daniel.
"Gimana sih caranya jadi lo?" Pertanyaan Daniel membuat El heran.
"Lo punya segalanya, Lo ahli dalam semua hal. Bahkan lo punya sifat yang baik.......Semua orang suka sama lo karena lo mudah berbaur, Semua orang menghormati lo karena emang lo pantes untuk dapatin itu semua. Kenapa gue gak bisa kek lo? Sedikit aja, Gue pengen kek lo." Ucap Daniel benar-benar serius. El hanya diam mendengarkan semua keluh kesah Daniel.
"Gue, Hari ini gue akan berhenti. Gue emang gak pantes buat dia." Tambah Daniel pasrah, El langsung tau titik permasalahan itu. Ia menepuk pundak Daniel mencoba memberikan semangat padanya.
"Ini hidup lo, Lo yang pegang kendali atas hidup lo sendiri. Lo tau berapa kali gue jatuh dalam hidup ini? Tapi gue selalu berusaha untuk bangkit lagi. Lo tau betul kisah hidup gue dimana gak ada satu orangpun yang tau termasuk istri gue. Lo baru mulai hanya perlu berjuang sebelum lo masuk vase bertahan." Ucap El, Daniel diam mencerna setiap ucapan El.
"Ya udah, Gue gak bisa banyak omong karena gue gak tau apa yang lo rasain sekarang. Tapi yang harus lo ingat, Kita diciptakan menjadi seorang laki-laki agar kita bisa berjuang dalam hidup. Gue mesti jemput Luna, Lo pulang pakai supir jangan bawa mobil sendiri." Sambung El, Daniel mengangguk membiarkan El pergi.
***
Dalam perjalanan pulang kerumah El dan Luna membahas masalah Daniel dan Dara. El baru tau masalah yang sebenarnya saat Luna menceritakan semua sedetail mungkin.
"Pantes aja tadi Daniel putus asa banget. Jadi gitu masalahnya, Daniel juga sih yang salah gak mau tanya dulu main serang aja." Ucap El mengomentari sahabatnya.
"Iya juga sih, Tapi dia juga gak sepenuhnya salah. Dia begitu karena dia emang punya perasaan yang tulus buat Dara." Bela Luna untuk Daniel.
"Biarin ajalah mereka berpikir dengan kepala dingin. Abang kangen sama istri abang yang luar biasa ini." El mencubit pelan pipi Luna membuat Luna tersenyum manja.
***
"Sayang......" Ucap El manja memeluk Luna yang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Hmmmm......" Jawab Luna tetap fokus pada laptop.
"Boboan yuk..."
"Tugas aku belum selesai honey." Sahut Luna, Ia melihat kearah El sebentar lalu mencium bibir El dan kembali melanjutkan tugasnya.
"Entar aku yang ngerjain, Ayo boboan." Luna tertawa lucu melihat tingkah El.
"Bentar lagi selesai kok." El menghela nafas panjang, Dengan sabar ia menunggu Luna sambil sesekali mengganggunya.
***
"Akhirnya selesai." Ucap Luna sambil meregangkan otot-ototnya yang kencang. Dilihatnya El sudah tertidur pulas ditempat tidur. Luna tersenyum lalu menyusul suaminya.
"Kasian, Abang pasti capek banget ya. Tidur yang nyenyak ya sayang." Luna mengecup bibir, Kening, Dan kedua mata El lalu ikut berbaring disamping El.
"Kata siapa kamu boleh tidur?" El yang bangun langsung menindih tubuh Luna membuat Luna kaget.
"Loh, Kan abang udah tidur kenapa bangun lagi?"
"Apanya yang tidur? Dari tadi juga udah bangun. Makanya kamu harus tanggung jawab." Ucap El mengandung maksud lain. Luna langsung mencubit lengan El membuat pria itu kesakitan.
"Aaaa aaaaa sakit... " Luna langsung melepaskan cubitannya dan mencium bekas cubitan itu. Luna mengalungkan kedua tangan nya di leher El membawanya kedalam ciuman panas. El yang sejak tadi memang sudah menunggu saat-saat ini tanpa membuang waktu langsung menikmati tubuh Luna.
Ia menciumi seluruh wajah Luna lalu mulai turun ke leher putih Luna membuat istrinya itu mendesah dalam kenikmatan. Tangan nya pun mulai bermain meremas dada Luna dengan lembut dan penuh kasih sayang membuat Luna makin menarik tubuh El keatas tubuhnya. El membuka kancing piyama Luna satu persatu dan terlihatlah tubuh putih mulus itu.
"Kamu milik ku sayang, Hanya milik ku sampai kapan pun itu." Ucap El, Ia yang sudah tidak sabar lagi langsung melepaskan seluruh baju Luna tidak menyisakan apapun disana. Ia terus mencumbui Luna, Keduanya benar-bebar menikmati permainan masing-masing.
"El....." Teriak suara yang tidak asing ditelinga Luna dan El. Baru saja El ingin melakukan kewajiban nya sebagai seorang suami. Pria itu datang mengganggu malam El dan Luna.
"Itu bukannya suara kak Daniel?" Tanya Luna menghentikan aksi suaminya. Namun El tidak memperdulikan Daniel, Ia tetap melakukan nya karena memang ia sudah tidak bisa lagi bertahan terlebih miliknya sudah memberontak sejak tadi meminta hak nya.
"Udahlah biarin aja, Bodo amat sama tuh orang." El tidak perduli dengan suara Daniel yang terus memanggil namanya. Ia terus bermain didalam sana menikmati tiap gerakan. Daniel memang memiliki kunci rumah El, Dan El sendiri yang memberikan kunci rumah itu padanya saat El belum menikah.
"El, Gue tau lo belum tidur. Please dong, Keluar sekarang." Rengek Daniel, Didepan kamar El.
"Abang berenti dulu, Kek nya dia lagi serius deh." Luna langsung mendorong tubuh El kuat hingga aktifitas mereka berhenti saat itu juga. El menatap Luna seolah merengek tidak ingin menghentikan semuanya tapi Luna tetap tidak terpengaruh. Ia mengambil selimut dan langsung menutupi tubuh bugilnya.
"Ayolah sayang, Ini kita baru mulai. Kamu gak kasian sama abang?" Rengek El pada Istrinya berharap Luna luluh.
"Keluar sana, Daripada dia gedor pintu kamar." Dengan berat hati El meraih handuk dan langsung melilitkan nya dipinggang.
"Abang, Pake semua pakaian abang." Perintah Luna tapi karena El sudah keburu kesal pada Daniel ia malah sengaja ingin memperlihatkan pada Daniel jika ia dan Luna saat ini sedang sibuk.
"Bangke banget sih tu Daniel! Gue smackdown lo besok, Tunggu aja." Gerutu El serius dengan wajah ala pembunuh. El akhirnya membuka pintu kamarnya melihat Daniel saat ini serasa ingin memasukan nya ke kandang buaya.
"Akhirnya lo keluar juga." Ucap Daniel lega setelah hampir setengah jam ia memanggil El.
"Besok ikut gue ke sasana! Mau gue remukin tu badan."
"Sorry kalo gue ganggu lo. Tapi serius deh, Ini berhubungan sama hidup dan mati gue."
"Lo gak liat ini jam berapa? Lo gak tau gue sama Luna lagi apa?" Jawab El ketus memasang wajah serius. Mendengar hal itu Daniel langsung menutup mulutnya rapat dengan tangan.
"Ma.....Maaf.....Gu....Gue bener-bener gak tau kalo lo sama Luna lagi......" El berdecih kesal, Andai Luna tidak ada mungkin ia sudah memutilasi pria yang ada dihadapan nya ini.
"Luna mana? Gue juga perlu ngomong sama dia." El kini benar-benar merasa harus membuang Daniel dari kehidupan nya......
"Lo makin lama makin bangke ya gue rasa. Tunggu dibawah gue sama Luna mau pake baju dulu!" Tanpa menunggu jawaban Daniel, langsung menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Daniel terpekik memejamkan kedua matanya.
***Bersambung dulu ya beibs.....
btw El sm Luna yang mau ena2 kok author yang malu yak?? 🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Untung Luna langsung nyetopin babang El.🤣🤣🤣🤣***
Btw likex makin turun ya 😟😭😭😭😭😭 naikin lagi donk kek biasa......
vote dan komenx juga ditunggu banget lo.....sm kek kalian nunggu up nya babang El dan Luna....😕😕😕