
Lyn membuka pintu kamarnya, terlihat kedua orang tuanya sudah menunggu Lyn sejak tadi di ruang keluarga. Lyn menghela nafas panjang lalu lalu berjalan menghampiri keduanya.
"Ada apa?" Tanya Lyn duduk di sofa tunggal. Terlihat kedua orang tuanya memasang wajah serius menatap kearah Lyn.
"Lyn, ayah dan ibu ingin bicara padamu." Kata Tn. Joseph, ayah Lyn.
"Bicara?" Kata Lyn mulai curiga.
"Lyn, Minggu depan kamu akan menikah." Ucap Ny. Joseph terdengar begitu mengagetkan Lyn.
"MENIKAH? Apa maksud kalian?" Sahut Lyn berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu tau kan dari mana ayahmu mendapat uang untuk biaya operasi Irene, dan itu bukan jumlah uang yang sedikit. Ayahmu tidak bisa melunasi hutangnya dalam waktu yang sudah ditentukan." Kelas Ny. Joseph seketika membuat hati Lyn hancur.
"Lalu kalian menjualku untuk melunasi semua hutang-hutang itu?" Tanya Lyn masih berharap jika kedua orang tuanya tidak memiliki maksud tersebut.
"Lalu apa yang harus kami lakukan? Pilihannya hanya ada dua, kamu bersedia menikah dengan Tn. Alan atau semua yang kita miliki disita ditambah lagi, ayahmu. Ayahmu akan dipenjara, pikirkan itu baik-baik."
"Kenapa harus aku? Apa kalian sadar jika ini sama saja artinya kalian menjual anak gadis kalian untuk menebus hutang!" Teriak Lyn tidak terima dengan keputusan kedua orang tuanya.
"Tidak Lyn, ini berbeda. Anggap saja kamu sedang menyelamatkan keluarga kita terlebih ayahmu. Pikirkan baik-baik, kamu akan menikah dengan seorang pria kaya raya yang memiliki segalanya. Kamu juga akan membebaskan ayahmu dari hutang-hutangnya pada pria itu. Kamu akan menjadi seorang Ny. Wilson." Bujuk sang ibu agar Lyn bersedia menerima kesepakatan yang dibuat oleh ayahnya.
"Cih! Kenapa bukan Irene saja yang kalian korbankan? Dia lebih tua dariku, bukankah dia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu kedua orang tuanya? Lagipula uang yang kalian pinjam sepenuhnya untuk Irene." Sahut Lyn berdecih mengingat hanya ia yang selalu menjadi sasaran kedua orang tuanya.
"Lyn, kamu bahkan tau jika Irene sudah memiliki tunangan. Itu tidak mungkin sayang."
"Lalu bagaimana denganku? Kalian juga tau aku memiliki seorang pria yang aku cintai! Bahkan kalian mengenal baik pria itu."
"Lyn, ini berbeda. Irene dan David sudah memiliki ikatan yang disetujui dan diketahui oleh kedua belah pihak keluarga besar. Sedangkan kamu dan Christian hanya sebatas hubungan berpacaran. Apa kamu tidak memikirkan nama baik keluarga kita jika pernikahan Irene dan David yang sudah lama disepakati itu gagal dan Irene malah menikah dengan orang lain." Tambah Ny. Joseph ibu kandung Lyn.
"Apa menurut kalian hubungan kami hanya sebatas berjalan tanpa ada rasa? Bahkan ayah yang berhutang untuk biaya operasi Irene lantas kenapa aku yang harus membayarnya? Itu adalah tanggung jawab kalian bukan urusanku!"
"PLAK!" Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi putih milik Lyn.
"Jaga ucapan mu! Ibu tidak tau jika selama ini ibu sudah melahirkan dan membesarkan anak egois dan tanpa hati sepertimu. Bisa-bisanya kamu mengungkit biaya operasi Irene, seolah semua salah Irene!" Kata Ny. Joseph memarahi putrinya. Lyn tersenyum sinis sambil memegangi bekas tamparan sang ibu.
"Apa ibu juga lupa jika aku anak ibu? Apa bedanya aku dan Irene? Hanya karena Irene sekarat saat itu lantas kalian melupakan aku? Kadang aku berpikir aku menyesal terlah lahir di dalam keluarga ini!"
"CUKUP LYN! APA KAMU MAU TANGAN AYAH YANG MENAMPAR PIPIMU?!" Teriak Tn. Joseph keras membuat seisi rumah mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Tampar yah, tampar! Bukannya dari dulu ayah dan ibu selalu melakukan hal itu padaku? Liat! Liat bekas luka ini! Kalian bahkan tau benar siapa yang membuat bekas luka ini, tapi seolah kalian menutup mata hanya karena ini semua ulah Irene." Ucap Lyn ikut berteriak sambil memamerkan bekas luka yang ada di bahunya.
"Lagipula apa ruginya untukmu? Ini cuma sebuah pernikahan kontrak. Kamu pikir kamu siapa bisa hidup selamanya dengan Tn. Alan? kita bahkan hanya berasal dari keluarga sederhana, pernikahan itu hanya untuk syarat melunasi hutang-hutang ayahmu! Jangan bermimpi untuk menjadi wanita seorang Tn. Alan." Ucap Ny. Joseph membuka perdebatan kembali. Mendengar hal tersebut Lyn kembali tersenyum sinis. Lyn merasa ucapan sang ibu membuktikan jika Lyn benar-benar tidak berharga bagi mereka.
"Baik, aku akan menerima pernikahan ini. Akan ku buat kalian menyesal karena memilih ku sebagai tumbal!" Setelah menyetujui pernikahan tersebut Lyn langsung pergi ke kamarnya. Entah, apa yang membuat Lyn bersedia menjadi penebus hutang sang ayah yang jelas ucapan sang ibu membuat Lyn bertekad akan menguasai pria yang bernama Tn. Alan.
Lyn membanting pintunya keras tidak perduli. Didalam kamar Lyn hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa kedua orang tuanya memperlakukan darah daging mereka seperti ini? Sejak kecil banyak hal yang sudah direbut paksa dari Lyn oleh kedua orang tuanya serta kakaknya Irene.
Ashlyn Alexa Joseph, walaupun gadis itu menuruti semua ucapan kedua orang tuanya, nyatanya hal itu tidak membuat mereka puas. Akan ada hal yang terus menerus harus dilakukan Lyn.
"Setidaknya aku akan segera keluar dari rumah ini dan berhenti melakukan semua yang mereka inginkan. Aku benar-benar muak dengan semua ini, lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mereka." Ucap Lyn menenangkan dirinya sendiri.
"Kak...." Terdengar suara Jenica mengetuk pintu kamar Lyn. Lyn buru-buru menghapus air matanya lalu membukakan pintu untuk adik satu-satunya tersebut. Saat pintu kamar dibuka, gadis kecil yang baru berumur 5 tahun itu memeluk tubuh Lyn erat.
"Kakak jangan pergi, Jenica gak mau kakak pergi." Katanya sambil memeluk kaki Lyn.
"Kakak gak akan kemana-mana kok, Kata siapa Kakak akan pergi?" Tanya Lyn tersenyum pada adiknya seolah tidak terjadi apapun.
"Tapi kata ibu, kakak akan segera menikah dan pergi dari rumah ini. Kalau begitu Jenica tidak ingin kakak menikah dan pergi dari rumah ini." Sahut Jenica mengiba agar sang kakak tidak pergi. Jenica memang sangat manja pada Lyn, jika ditanya mungkin Jenica lah satu-satunya alasan untuk Lyn bertahan tinggal dirumah ini.
"Kakak tidak akan meninggalkanmu sayang, Jenica satu-satunya bintang yang kakak punya. Kalau kakak meninggalkan Jenica, maka malam-malam kakak pasti akan begitu gelap." Kata Lyn mengusap rambut panjang Jenica. Jenica menatap wajah Lyn dengan kedua bola matanya yang berwarna hazel.
"Kakak berjanji?" Lyn tersenyum lalu mengangguk membuat gadis kecil itu tersenyum bahagia lalu kembali memeluk Lyn.
Lyn tau ini semua hanya akan membuat gadis kecil itu terluka saat waktunya tiba nanti. Namun ia tidak bisa berkata jujur pada Jenica tentang semua masalah yang harus ia hadapi. Lagipula Jenica masih terlalu kecil untuk tau semuanya.
***
Setelah yakin jika Lyn menyetujui pernikahan tersebut, kedua orang Lyn pergi menemui Alan Wilson. Pria yang akan menikah dengan anak mereka.
"Tuan, diluar ada Tuan dan nyonya Joseph ingin bertemu anda." Kata pengawal yang ada dirumah Alan.
"Suruh mereka untuk menunggu." Sahut Alan cuek lalu kembali berenang.
Alan Wilson, pria berumur 33 tahun yang sudah merajai dunia bisnis. Namun pria dengan wajah tampan nyaris sempurna itu bukanlah pria hangat, ramah, dan memiliki hati yang lembut. Pria itu dikenal arogan, angkuh, nyaris tidak memiliki perasaan serta kejam. Pria dingin yang tidak pernah tau menghargai seorang wanita, baginya wanita hanyalah sebagai penghibur disaat ia membutuhkan bahkan ia bisa dengan mudah membeli wanita mana saja yang ia mau termasuk anak dari keluarga Joseph.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Alan menemui Tuan dan nyonya Joseph yang sudah lama menunggunya.
"Kalian sudah bawa uangnya?" Tanya Alan tidak mau basa-basi.
"Ti....tidak Tuan. Tapi kami kemari untuk memberi tahu jika putri kami yang bernama Ashlyn Alexa bersedia untuk menikah dengan Tuan." Kata Tuan Joseph. Mendengar hal tersebut Alan tersenyum puas.
"Kalau begitu besok pengawalku akan membawa anak kalian kemari. Mulai besok ia akan tinggal dirumah ini." Tuan dan nyonya Joseph saling memandang satu sama lain.
"Ta....tapi bukannya anda bilang pernikahannya Minggu depan." Ucap Tuan Joseph.
"Sejak kalian memutuskan untuk memberikan dia padaku, maka sejak itu juga dia menjadi peliharaanku. Dan aku tidak suka peliharaanku jauh dari Tuannya." Sahut Alan tersenyum sinis. Ada rasa sakit dihati kedua orang tua Ashlyn saat Alan menganggap anak mereka hanya sebagai peliharaan namun mereka tidak bisa melakukan banyak hal karena ini juga adalah keputusan yang mereka ambil.
Bersambung......