
Mencintaimu serupa air laut , Pasang-surut akan selalu ada. Namun air laut tidak pernah berubah rasa.
_Perfect Husband_
Setelah semua berlalu kini semua bisa bernafas lega, Siang ini akan ada rapat bersama di kantor milik Kenan. Kenan dan El sepakat akan mengeluarkan majalah bulanan khusus untuk anak-anak yang akan menampilkan berbagai macam fashion anak-anak dan balita. Ini salah satu proyek baru yang di usulkan oleh Ken mengingat perusahaannya bergerak di bidang fashion.
"Lo ikutan?" Tanya El ragu saat Daniel sudah siap pergi untuk rapat. Daniel mengernyit mendengar pertanyaan dari El yang seolah mengira bahwa Daniel masih kesal terhadap Ken.
"Iyalah, Kenapa gak? Ini proyek besar dan pertama kali buat kita untuk bikin majalah khusus anak-anak. Atas alasan apa gue gak ikutan?" Sahut Daniel santai sambil duduk di sofa menunggu bosnya itu bersiap dan mereka pergi bersama.
"Ya gak, Lo beneran udah enjoy sama Ken?"
"Ya masalahnya apa? Kita gak ada masalah. Semua salah faham udah diselesein dengan baik. Yang sekarang jadi masalah itu elo, Kalo si Baron sadar pasti dia bakalan bikin perhitungan sama lo bukan karena dia dihajar habis-habisan tapi karena lo dengan sengaja ngirim photo babak belur nya ke semua anak buahnya. Ya jelas hancurlah harga diri seorang bos dimata anak buahnya." Sahut Daniel tertawa mengingat saat El dengan bahagianya mengambil sesi pemotretan bersama Baron saat Baron dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Beruntung lah dia jadi model gue secara dadakan, Ya udah kalo gitu kita berangkat sekarang." Mereka berduapun langsung pergi menuju kantor Kenan.
***
"Cucu bigbos kalo udah besar minta Daddy buat ngajarin bela diri ya. Walaupun kamu seorang perempuan, Kamu harus menjadi perempuan yang kuat. Andai bigbos masih muda pasti bigbos yang bakal ngajarin kamu bela diri." Ucap pak Bram saat menimang cucu semata wayangnya itu. Pak Bram yang dulu kasar dan arogan serta menolak keras jika anak El adalah seorang perempuan kini bahkan sangat menyayangi gadis kecil berwajah lucu itu. Ia bahkan tidak ragu memberikan barang-barang mahal untuk Zea bahkan di umurnya yang baru menginjak usia 4 bulan Zea sudah memiliki rumah bak istana dan 2 unit mobil mewah pemberian kakeknya, Tapi semua itu di tolak mentah-mentah oleh El.
"Kalo bigbos yang ngajarin entar bigbos bisa sakit pinggang." Sahut Luna sambil meletakan secangkir teh hangat untuk mertuanya. Semenjak sering bertamu secara diam-diam kerumah anak dan menantunya pak Bram kini sudah meninggalkan kebiasaan nya mengkonsumsi minuman beralkohol. Pria itu ingin hidup lebih lama untuk menyaksikan cucunya bertumbuh kembang hingga dewasa.
"Iya, Bener itu. Tulang bigbos udah mulai berkarat jadi gak bisa gerak bebas takut patah." Luna tertawa mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Andai El juga bisa merasakan kebahagian yang ada saat ini pasti semua akan terasa lebih sempurna. Terkadang Luna heran pada suaminya itu kenapa ia bisa dengan santai melupakan sosok pria yang ada dihadapan nya saat ini. Terkadang ingin sekali ia bertanya kenapa begitu keras kepala pada diri sendiri namun semua pertanyaan itu seolah hanya sebuah rencana yang tidak bisa ia sampaikan secara langsung.
Tidak lama hp Luna berdering, Ibu mertuanya menelepon. Saat ini ibu mertua nya itu sedang berada di luar kota karena suaminya sedang bertugas disana.
"Luna tinggal sebentar pah." Ucap Luna permisi pada pak Bram yang sedang asik bermain bersama Zea. Pak Bram mengangguk sambil tersenyum dan saat pria itu tersenyum terlihat sangat mirip dengan wajah El bahkan Kedua lesung pipi milik El adalah turunan dari ayahnya itu.
***
Setelah rapat selesai El dan Daniel ingin segera kembali namun Ken mengajak mereka untuk makan siang bersama dan akhirnya mereka bertiga pergi kesebuah cafe.
El dan Daniel saja jika mereka sedang berjalan berdua membuat para wanita heboh apalagi kini ditambah sosok Ken yang tidak kalah tampan dengan El dan Daniel tentu membuat para wanita histeris saat melihat ketiga pria itu masuk kedalam cafe.
"Apa perlu gue panggil bang Rendy aja kali ya, Terus kita bikin grup band kek Super Junior juga." Celetuk Daniel yang sangat sadar dengan lirikan para gadis disana namun ia tetap berusaha keep calm.
"Cukup lo yang gila jangan ngajak-ngajak yang lain." Sahut El santai tidak perduli dengan tatapan para wanita lain karena hanya tatapan Luna yang mampu menggetarkan hatinya. Mendengar ke konyolan El dan Daniel membuat Ken tertawa, Ia baru tau jika El dan Daniel serenyah ini jika sedang bercanda, Sangat berbeda saat mereka sedang bekerja.
"Terkadang kita harus menjadi cukup gila untuk menghadapi hidup yang keras." Sahut Daniel sok bijak
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang Ken membuka obrolan, Bagaimana pun juga ia masih merasa tidak enak pada Daniel.
"Ummmm Dan, Gue bener-bener minta maaf sama lo. Jujur gue ngerasa gak enak banget sampai detik ini pun gue masih kepikiran sama masalah kemaren, Gue ngerasa banget disini gue yang salah." Ucap Ken dengan tulus dan penuh penyesalan, Ia tau Daniel sudah melupakan hal itu dan saat ini bersikap santai tapi tetap saja ia masih merasa canggung.
"Gue udah lupain, Gue gak mau ribet sama masalalu nya istri gue karena jujur gue juga punya masalalu dan masalalu gue bener-bener kelam. Cukup dengan dia jujur dan bertahan sama gue, Gue udah udah ngerasa tenang. Gue percaya sama Dara." Sahut Daniel tenang dan santai tidak lagi mempermasalahkan hal itu.
"Dulunya dia bazingan, Masalalu nya kelam hitam dan pekat kek oli bekas gitu. Tapi sekarang gue bener-bener bangga karena sukses mendidik dia jadi pria waras dan bertanggung jawab serta dewasa." Sahut El yang langsung menghancurkan suasana tegang saat itu.
"Perlu gue kabarin Luna masalalu lo dulunya gimana?" Tanya Daniel datar dengan tatapan lapar ingin memangsa El.
"Oke-oke fine lupain tentang masalalu." Ken yang melihat semua itu tertawa lucu, Rasanya ia sedang kembali ke masa-masa SMA saat sedang asik berkumpul ria di kantin dengan para sahabatnya saat itu.
"Sorry boleh minta tisue?" Dua orang wanita cantik menghampiri mereka bertiga dengan alasan ingin meminta tisue yang ada diatas meja mereka.
"Boleh asal jangan dibawa semua soalnya kita juga perlu." Sahut Daniel ramah membuat dua wanita itu makin merasa melayang mendengar suaranya yang serak dan lembut. Sedangkan El dan Kenan bersikap cuek tetapi malah membuat kedua wanita itu sangat penasaran.
"Ummmm.....Tapi dimeja kita gak ada tisuenya. Kalo gitu boleh gak kita gabung disini aja?" Ucap salah satu wanita mulai merayu. Sadar akan hal itu Daniel tersenyum manis pada dua wanita itu.
"Gimana ya, Sorry banget tapi disini udah penuh." Sahut Daniel masih berusaha sopan karena saat ini mereka sedang berada ditempat umum dan banyak mata yang sedang memperhatikan mereka saat ini. Sedangkan El memang tidak tertarik untuk meladeni para wanita-wanita yang sedang mencoba merayunya. Kalau Ken walaupun ia lama tinggal di luar Negeri tapi pria satu ini memiliki sifat pemalu, Tidak seperti Daniel.
"Muat kok, Kita bisa duduk deketan." Jawab wanita tadi yakin akan mendapatkan perhatian dari ketiga pria tampan itu. Malahan salah satu diantara mereka sudah duduk disamping Kenan dan Daniel.
"Jadi gini ya wanita-wanita cantik, Gue dan temen gue yang satu ini udah nikah (Sambil memamerkan cincin di jari manis). Bahkan kita udah punya anak, Dan kami gak tertarik sama orang lain selain istri-istri kami." Karena bosan melihat tingkah mereka berdua yang terkesan sangat menggoda akhirnya Daniel memberitahukan status mereka berdua, Membuat kedua wanita itu memasang wajah kesal dan masam. El mengangguk sambil ikut memamerkan cincin pernikahannya.
"Kalo kalian emang mau nyari cowok, Nih ada satu dia masih jomblo terus dia ini CEO dari perusahaan besar dan dia juga punya banyak mall di dalam dan luar negeri. Kalian kebayang kan gimana enaknya punya cowok pemilik mall surga banget kan buat kalian." Sambung Daniel menyodorkan Kenan pada dua wanita tadi, Sontak Kenan kaget bukan mendapati hadiah kecil dari Daniel. Sedangkan El langsung menutup mulutnya karena dibalik itu ia sedang tertawa lucu.
"Ko.....Kok gue?" Tanya Kenan mulai gelagapan karena mata kedua wanita itu kini sedang mengintainya.
"Sorry banget, Gak apa-apa lo bilang gue kurang ajar sama lo anggap aja ini sebagai hukuman buat lo karena berusaha deketin istri gue dan berani cium-cium anak gue."
"Barusan lo bilang lo udah lupain, Kenapa balas dendam?" Protes Ken yang kini sudah diapit kedua wanita tadi.
"Sekarang fix gue udah lupain." Sahut Daniel tersenyum lebar kearah Kenan. Sedangkan El benar-benar menikmati hiburan yang ada didepannya saat ini.
"Kata siapa gue jomblo? Gue punya pacar namanya Jonathan!" Sontak semua yang ada dimeja itu kaget mendengar nama yang baru saja disebut oleh Kenan.
"Jo.....Nathan?" Ucap El mengulang sambil menaikan sebelah alisnya begitu juga dengan Daniel yang langsung fokus melihat kearah Ken.
"Hmmmm Namanya Jonathan. Dia bener-bener jantan, Bahkan diseluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang bisa bikin gue merinding saat dia nempelin gue." Sontak dua gadis tadi langsung berdiri dengan wajah jijik.
"Ganteng-ganteng salah arah!" Ucap keduanya yang langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
"Lo.......Lo gak serius kan? Lo normal kan? Gak belok kan?" Tanya Daniel sambil menjauhkan kursi yang ia duduki dari Kenan begitu juga dengan El yang langsung menjaga jarak dari Kenan.
"Serius lah gue, Kita udah lama tinggal bareng ketemunya sih waktu gue di Australia dan karena gak bisa pisah dia ikut gue tinggal disini." Mendengar hal itu El dan Daniel langsung memasang wajah jijik melihat Kenan sedangkan Kenan dengan santai ia terus bicara.
"Lo tau gak apa yang bikin gue suka sama dia?" Ucap Kenan lalu ia menarik Daniel yang waktu itu sudah sangat geli pada Kenan.
"Gue suka sama jilatannya." Tambah Ken berbisik ditelinga Daniel, Mendengar hal itu Daniel langsung mendorong kuat tubuh Ken.
"El kita makan siang dikantor aja, Buruan balik." Ajak Daniel, El yang juga geli mendengar hal langsung berdiri ingin segera pergi.
"Jonathan itu ****** gue." Ucap Kenan cepat sambil ia tertawa. Daniel dan El pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
"Lo pikir cuma lo yang bisa ngerjain gue? Gue normal kalo lo gak percaya lo bisa tanya Dara seberapa normalnya gue sebagai cowok." Sambung Kenan sontak Daniel langsung murka ingin memutar bibir pria itu.
"Hehehe sorry becanda gue." Untung Kenan sadar dengan perubahan wajah Daniel jika tidak mungkin Daniel akan benar memutar mulut Kenan saat itu juga.
***
"Anak ayam nya Zea mati ya? Nanti bigbos beliin lagi ya. Biarkan mereka mati, Itu akan lebih baik untuk mereka daripada mereka hidup tapi sakit." Ucap pak Bram yang saat ini sedang menggendong cucunya dihalaman belakang.
Luna yang baru kembali dan langsung mendengar hal itu membuat telinganya terasa berdenging kuat hingga ia merasa kepalanya ikut merasa pusing.
"Biarkan mereka mati, Itu akan lebih baik untuk mereka." Ucapan pak Bram seolah menggema ditelinga Luna, Entah kapan dan dimana ia seperti pernah mendengar hal yang sama persis.
"Luna kamu kenapa?" tanya pak Bram saat melihat Luna memegangi kepalanya dan hampir terjatuh kehilangan keseimbangan.
"Gak apa-apa pah, Maaf lama." Sahut Luna, Ia sendiri tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
"Papa mau pulang dulu, Masih ada kerjaan yang harus diselesaikan." Pak Bram menyerahkan Zea pada Luna, Setelah puas mencium cucunya ia segera pergi dari rumah El.
"Kenapa omongan papa barusan gak asing ditelingaku? Aku kek pernah denger tapi gak tau kapan dan dimana." Ucap Luna bicara pada diri sendiri, Ia berusaha mengingat semua itu namun tidak ada yang muncul di ingatannya.
"Bi, Saya minta tolong dong tidurkan Zea soalnya saya mau keluar sebentar." Bi Irah pun dengan senang hati menggendong Zea lalu membawanya ke kamar.
Setelah bersiap-siap Luna langsung pergi, Niatnya ia ingin pergi kerumah Dara sebentar.
"Bi saya pamit dan titip Zea sebentar ya. Saya kerumah Dara, Gak lama kok." Kata Luna lalu ia pergi diantar oleh supir menuju rumah Daniel. Sepanjang jalan ia terus memikirkan ucapan pak Bram tadi, Ia sangat yakin jika ia pernah mendengar hal itu tapi ia lupa tempat dan waktunya.
"Macet mba di depan, Keknya ada kecelakaan." Kata supir itu sambil celingak celinguk mencari jalan lebar agar bisa dilewati mobilnya.
"Gitu ya? Ya udah sabar aja dulu." Sahut Luna, Ia membuka kaca jendela mobil dan melihat macet yang cukup panjang.
"Mobilnya hilang kendali karena melaju terlalu cepat, Anak dan suaminya selamat tapi kasian ya istrinya meninggal ditempat." Ucap salah satu pengendara motor yang bercerita, Mendengar hal itu Luna langsung menutup kaca jendela mobilnya kembali.
Sedikit demi sedikit mobil bisa lewat termasuk mobil Luna yang mulai bisa bergerak. Penasaran melihat mobil hitam yang baru saja kecelakaan dan mengakibatkan kemacetan panjang Luna membuka kembali kaca jendelanya.
"Mah, Mamah bangun mah. Mah, Jangan tinggalin aku mah. Mamah bangun." Mata Luna tidak sengaja melihat korban kecelakaan itu, Dan benar saja yang dikatakan oleh pengendara bermotor tadi bahwa sang ibu meninggal dunia. Melihat hal itu kepala Luna kembali merasa sangat pusing.
"Bunda, Bangun bunda jangan tinggalin Luna. Bunda, Bunda janji mau ngajak Luna ke taman bunga kalo Luna berhasil dapatin nilai bagus. Luna udah penuhin mau bunda, bunda bangun." Ucap Luna yang saat itu masih kecil, Ia mengeluarkan kertas ulangan harian lalu menunjukan pada ibunya yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil.
"Biarkan mereka mati, Itu akan lebih baik untuk mereka." Suara itu kembali muncul di ingatan Luna hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dikepala nya dan ia langsung pingsan saat itu juga.
BERSAMBUNG.......