
El dan Daniel kembali keruangan Luna tapi Luna belum juga sadar.
"Sorry El gue gak bisa lama-lama kasian si Davin dan Devan ditinggal. Gue juga mau kekantor kerjaan bener-bener numpuk." Ucap Daniel berpamitan pada El.
"Titip salam buat Luna ya bang, Kalo Luna udah sadar kabarin aku." Sambung Dara, El mengangguk lalu Daniel dan Dara pun langsung pergi.
"El bunda sama ayah juga mau pamit dulu, Ayah masih ada meeting dan bunda ada arisan entar siang. Malam kita balik lagi kesini gak apa-apa kan?" Tanya bu Mela sebelum pergi.
"Iya gak apa-apa kok bunda. Kalo bunda dan ayah capek besok aja balik lagi kesini, El bisa kok jaga Luna. Lagian ayah bunda juga pasti capek kalo harus bolak balik." Sahut El tersenyum tidak masalah.
"Ya udah kalo gt kita duluan ya. Kalo ada apa-apa langsung kabarin ayah bunda ya nak. Kamu juga jangan lupa makan, Jaga kesehatan jangan sampai sakit kasian istri dan anak kamu kalo kamu sakit."
"Yes mom....." Sahut El tersenyum. Bu Mela menepuk pelan pipi El lalu mereka juga ikut pergi. Kini hanya tinggal El sendirian menjaga Luna.
El duduk disamping Luna sambil meraih tangan yang terpasang selang infus itu.
"U are my woman, Great and strong woman. I love u to the end." Ucap El lalu mengecup punggung tangan Luna.
Tidak lama El menerima pesan singkat di hapenya. Itu pesan yang dikirim oleh anak buahnya yang ia tugaskan untuk menahan Clara. Sepertinya tugas itu sudah dilaksanakan dengan lancar terlihat dari raut wajah El yang seperti sedang menahan emosi.
Dan pada saat yang bersamaan juga tangan Luna mulai bergerak tanda ia mulai sadar dari pengaruh obat bius. El langsung meletakan hapenya dan memanggil nama Luna.
Mata Luna pun perlahan mulai terbuka dan El lah orang yang paling pertama ia lihat saat ini. El tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu dengan penuh rasa cinta.
"Anak kita?" Tanya Luna pelan menatap El dengan tatapan sayu karena ia pikir ia sudah kehilangan anaknya. El tersenyum lalu meraih hapenya dan memperlihatkan semua rekaman video yang ia ambil dari awal Zea lahir dengan suara tangisan yang sangat kencang hingga saat Zea berada diruang perawatan.
"Namanya Zea, Dia cantik mirip banget sama kamu. Bunda yang kasih nama Zea untuk dia, Kamu suka?" Luna langsung menangis bahagia saat melihat semua rekaman video itu. Ia tidak bisa lagi berkata-kata karena rasa bahagianya bahkan ia melupakan rasa perih diperutnya karena bekas sayatan pisau operasi.
"Jangan nangis, Luka kamu baru dijahit." Kata El namun Luna tidak perduli, Ia tetap menangis sambil terus memandangi layar hape suaminya itu.
"Kamu harus cepat pulih biar bisa liat dia dan gendong dia." Tambah El, Luna mengangguk bahagia.
"Kamu suka namanya?" Tanya El, Luna mengangguk pelan tanda setuju.
"Zea Naela Aurora. Aku pengen dia secantik cahaya Aurora, Walau ia berada ditempat yang bahkan tidak berpenghuni pun ia akan tetap terlihat cantik seperti Aurora." Sahut Luna, El tersenyum mengangguk. Semua doa terbaik mereka sematkan di nama bayi kecil itu.
"Abang suka namanya. Bukan hanya karena dia seperti cahaya Aurora tapi dia adalah anak kita, El dan Luna." Sahut El kembali tersenyum. Semua berjalan lancar sesuai doa dan harapannya, Kini tidak ada lagi yang ia inginkan selain hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Walau jauh dilubuk hatinya yang terdalam masih ada kerikil yang tersimpan, Soal kematian ibu dari Luna. El belum sempat mengatakan semua itu pada Luna, Entah kapan tapi ia akan tetap memberitahu Luna tentang semua itu. El tau wanita seperti apa yang ia pilih menjadi istrinya itu, Maka El yakin akan perasaan Luna untuknya walaupun pada akhirnya Luna tau kebenaran itu semua.
"Abang panggil dokter dulu ya buat meriksa kamu." El lalu memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan Luna saat ini.
Tidak berapa lama dokter dan beberapa perawat pun datang keruangan kelas VVIV itu dan mereka langsung memeriksa keadaan Luna. Mengecek tekanan darah, Suhu badan hingga memberikan obat pereda nyeri untuk luka diperut Luna.
"Semua normal dan baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Istri anda hanya harus menjalani perawatan pasca operasi. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya." Ucap dokter. El mengantar dokter sampai depan pintu lalu kembali menemani istrinya.
***
"Kerjaan gue numpuk gini sih? Bos macam apa coba yang limpahin semua kerjaannya ke gue? Gak tau apa kalo gue punya dua anak yang mesti gue urus dan perhatikan?" Celetuk Daniel yang sibuk dengan semua pekerjaannya. Bukan pekerjaan yang menumpuk yang jadi masalah tetapi karena ia merasa sangat bosan dikantor tanpa El.
"Jadi lo gak terima gue suruh kerja?" Sontak Daniel kaget minta ampun saat El tiba-tiba membuka pintu ruangannya.
"Astaga dragon! Sumpah ya lo tu kek jelangkung, Datang gak dijemput pulang gak diantar. Ketok pintu dulu kek, Gak ada sopan-sopannya jadi orang!" Kata Daniel memarahi El si pemilik perusahaan.
"Kok lo disini? Luna gimana? Kan gue udah bilang fokus aja jagain Luna masalah kantor gak usah bingung, Ada gue biar gue handle semua its oke." Sahut Daniel sambil tersenyum saat sadar dengan tatapan mata El saat ini.
"Heh, Muka lo dua emang. Tadi aja gue denger lo ngegerutu tiba-tiba lo sok bijak pas ada gue." Sahut El menyelonong masuk kedalam ruangan El lalu duduk disofa.
"Gak lah, Becanda gue. Lo ngapain? Luna sama siapa dirumah sakit?"
"Dia sekarang sama orangtua gue dan bi Irah, Gue lagi ada urusan."
"Urusan?" Ucap Daniel mengulang dengan nada penuh tanya. El yang duduk santai itupun tersenyum pada Daniel membuat Daniel curiga.
"Bentar-bentar. Perasaan gue gak enak ini sumpah, Gue mau photo copy file ini dulu ya. Lo santai-santai aja dulu oke, Anggap aja ruangan sendiri." Kata Daniel bersiap pergi dari hadapan El sambil membawa beberapa lembar kertas kosong namun bukan El namanya kalau ia tidak bisa menghentikan langkah Daniel dengan cepat El menarik kerah baju Daniel dari arah belakang.
"Tolongin gue yuk." Katanya santai membuat tebakan Daniel benar.
"Apa lagi? Lo gak liat kerjaan dari lo aja numpuk gini dan lo masih tega minta tolong sama gue?"
"Temenin gue ke pasar ikan."
"WHAT????????PA.....PASAR IKAN? Lo gila? Nga.....Ngapain gue kesana? Gak....Gak...Gak BIG NO!" Kata Daniel yang tidak lagi berbasa-basi untuk menolak El.
"Gue disuruh bunda beli ikan gabus. Kata bunda itu bagus untuk mempercepat penyembuhan luka operasi. Awalnya sih gue juga males tapi dokter juga nyaranin gitu ya mau gak mau lah gue jalan."
"Kenapa gak minta dari Rumah Sakit aja sih? Mereka kan bisa nyediain."
"Nah itu dia, Kata bunda ikannya udah fresh. Terus kenapa gak di mall aja nyarinya? Kata bunda dipasar lebih bagus selain ikannya segar-segar kita juga membantu pedagang kecil yang jualan disana. Dan kalo lo tanya kenapa gak bi Irah aja yang pergi dia kan udah tau banget segala macam jenis ikan. Jawabannya, Luna gak mau makan kalo bukan gue yang nyari itu ikan. Sampai disini lo ngerti kan? Jadi ayo buruan ke pasar ikut gue." Ucap El menjelaskan panjang lebar pada Daniel.
"Gak! Gue gak mau, Sorry pokoknya gak!" Tolak Daniel keras tidak ingin pergi ketempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya itu.
"Bentar doang, Daripada gue telepon Dara dan minta Dara yang nyuruh lo, Bakal habis lo kena omelin. Lo kan tau seberapa besar cintanya Dara ke Luna." Inilah senjata andalan El untuk mengendalikan Daniel.
"Lo bangke banget El sumpah." Sahut Daniel yang akhirnya pasrah sedangkan El tersenyum puas. Dengan langkah yang sangat teramat berat Daniel melepaskan jasnya lalu pergi mengikuti El. Semua karyawan melihat kearah mereka berdua sambil memberikan hormat mereka pada kedua big boss itu.
"Kalo gue kena virus corona gimana gara-gara gue jalan kepasar ikan?" Kata Daniel lagi sebelum masuk kedalam mobil El membuat El menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan konyol sahabatnya itu.
"Entar gue suruh dokter suntik mati aja biar virusnya gak nyebar ke orang lain. **** lo kelewatan banget sih heran gue, Buruan masuk keburu tutup pasarnya." Kini mau tidak mau Daniel benar-benar harus masuk kedalam mobil El.
"Emang lo udah tau gimana itu mukanya ikan gabus?" Tanya Daniel lagi saat mereka sudah dalam perjalanan menuju pasar.
"Coba lo search di internet, Gue belum sempat nyari soalnya." Daniel menghela nafas malas sambil mengeluarkan hapenya dari dalam saku.
"Ulllaaaarrrr!" Teriak Daniel sambil melemparkan hpnya. Sontak El mendadak nge-rem.
"Ma.....Mana ularanya?" Tanya El panik sambil memutar badannya dan bersiap melepaskan sabuk pengaman. Daniel meraih hpnya yang ia lemparkan tadi namun enggan melihat layarnya.
"Bukan dimobil. Maksud gue yang lo cari itu bukan ikan tapi ular, Tuh lo liat." Kata Daniel menyerahkan hp nya pada El. El langsung meraih dan melihat hasil pencarian Daniel tentang ikan gabus.
"K......Kok gini? I....Ini beneran ikan? Masa iya bini gue disuruh makan ikan ini?"
"Coba lo liat, Itu ikan jenis predator sama kek lo, Predator juga. Pasti tuh ikan bisa makan manusia, Yakin gue hiu nya air tawar pasti" Sahut Daniel sambil bergidik.
"Entar deh gue coba kirim gambarnya ke bunda." El lalu mengirim gambar ikan tadi ke bu Mela untuk memastikannya.
Tidak berapa lama bu Mela langsung menelepon El, Dengan cepat El menerima panggilan telepon itu.
"Iya emang itu ikannya. Itu bagus banget buat orang yang habis operasi kayak Luna. Cari yang masih hidup ya El ikannya."
"Masa Luna dikasih makan ikan ular gitu sih bun? Kasian lah bun."
"Itu bukan ular, Ngaco aja sih kamu ini. Udah buruan sana cari. Kamu mau istri kamu cepat sehat gak?"
"Iya deh iya. Ya udah El jalan dulu ya bun." Sambungan telepon pun berakhir, El kembali melanjutkan pencarian nya bersama Daniel yang masih belum bisa move on dari bentuk ikan gabus yang mirip dengan kepala ular.
***
Akhirnya El dan Daniel tiba dipasar tradisional itu. Daniel dan El sudah terbiasa dengan pemandangan pasar seperti ini saat mereka kecil yang tidak biasa saat ini kedua boss besar sedang jalan-jalan dipasar tradisional untuk mencari ikan.
"El sumpah, Bukannya gue sombong atau sok tapi berasa aneh gue masuk kesini. Lo bener-bener kampret banget sih jadi orang." Gerutu Daniel, Bagaimana tidak menggerutu Daniel dengan pakaian rapi lengkap dengan sepatu kantor yang hitam mengkilap memasuki pasar yang bersesakan dan lumayan becek. Sedangkan El santai dengan pakaian kasualnya.
"Gerutu mulu sih dari tadi. Entar gue naikin gaji lo tenang aja, Lo kan lagi jalan sama sultan." Ucap El tersenyum memamerkan lesung pipinya.
"Sultan-sultan! Mana ada sultan main kepasar!" Sahut Daniel ketus sambil sesekali menahan nafasnya karena bau-bau menyengat.
"Ada, Ya gue sultan nya. Udah ah tuh ada tukang ikan ayo buruan kesana lelet banget sih lo jalannya kek orang habis sunat." El menarik tangan Daniel yang takut jika sepatunya menginjak genangan air.
"Bangke-bangke! Sumpah bangke banget." El hanya tersenyum menanggapi rutukan sahabatnya itu.
"Bu.....Permisi.." Kata El dengan sopan, Tapi si penjual ikan tidak tau menahu dan tetap asik membersihkan ikan pesanan orang lain.
"Lah terus?"
"Minggir lo! Gitu doang gak tau, Mau beli aja pake permisi dulu. Emang mau lewat pake permisi dulu? ****!"
"Untung aja gue lagi butuh lo, Kalo gak udah gue jual lo biar jadi TKI." Ucap El yang mulai kesal.
"Bule sampeyan ono dodolan iwak gabus opo ora?" Sontak mata El terbuka lebar dan mulutnya menganga mendengar Daniel bicara.
"Iwak gabus? Iku lo neng arep mu, Arep tuku piro?"
"Lo mau beli berapa?" Tanya Daniel pada El yang masih heran melihat Daniel. Entah heran, Kaget, Takjub atau apalah yang jelas El benar-benar tidak menyangka Daniel bicara dengan bahasa jawa.
"Sa....Satu." Sahut El bingung.
"Satu? Lo pikir permen satu biji." Sambar Daniel.
"Sekilo ae bule." Jawab Daniel.
"Arep milih le?"
"Ora bule." Penjual ikan itu lalu mengambil beberapa ekor ikan dan menimbangnya.
"Duit mana duit?" Kata Daniel meminta uang pada El. El langsung kelimpungan mengambil dompetnya.
"Gak bisa pake kredit card? Gue gak bawa uang kes." Ucap El saat menggeledah isi dompetnya.
"Astagfirullahalazzim, Ya Tuhanku kenapa harus punya temen macam ini? Bobroknya dari lahir keknya. Ini pasar Elang Edgar Wirayudha, Bukan emol mana bisa lo main gesek-gesek doang. Ih sumpah gemes banget gue rasa pengen gue kulitin mumpung ada pisau tajam disini."
"Ya.....Ya gue gak sempet cek dompet. Lo kan tau istri gue baru melahirkan mana gue mikirin hal-hal kecil begini. Pake duit lo dulu, Lagian duit lo juga duit gue sama aja kan."
"Ish bangke-bangke, Kalo duit gue duit lo juga berarti saham lo sahamgue juga, Aset lo aset gue juga."
"Hehehe kalo itu sih beda cerita." Mau tidak mau Daniel mengeluarkan uangnya dan membayar belanjaan milik El.
"Tuh bawa, Jangan ngerepotin gue lagi." Ucap Daniel setelah membayar lalu ia langsung pergi meninggalkan El. El hanya tersenyum kaku, Mau tidak mau ia membawa belanjaan nya sendiri menuju parkiran mobil.
Sesampainya diparkiran El melihat seorang pria tua menjual mainan yang terbuat dari bambu. Pria itu nampak sangat renta diusia senjanya namun masih bekerja. El menghampiri pria tua itu sambil melihat-lihat dagangan nya.
"Ayo nak, Dipilih harganya murah. Itu asli buatan sendiri." Ucap pria tua itu bersemangat saat El mampir, Wajar saja karena sejak tadi semua orang hanya lalu lalang disana.
"Ini berapa pak?" Tanya El memegang sebuah miniatur ayunan lengkap dengan boneka bambunya.
"Itu 50 ribu." El benar-benar tidak menyangka untuk hasil karya sebagus ini ia hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 50 ribu.
"Saya pengen sih pak, Karya bapak bagus-bagus semua. Tapi saya gak punya uang kes, Kalo saya tukar sama jam tangan ini bapak mau gak?" Kata El menawari jam bermerk miliknya dan soal harga sudah pasti tidak diragukan lagi karena semua milik El adalah barang asli.
Pria tua itu melihat kearah El dengan tatapan sayu dengan mata rabunnya.
"Nak, Bapak tau harga jam kamu pasti sangat mahal. Tapi kalo boleh jujur bapak ingin uang saja karena istri bapak sedang sakit dan memerlukan uang." Kata pria tua itu tertunduk malu. Hati El benar-benar terusik andai ia membawa uang kes mungkin akan ia berikan semua yang ada didalam dompetnya pada kakek tua ini.
"Kalo gitu tunggu sebentar ya pak." El lalu beranjak dari sana menuju mobil, Terlihat Daniel didalam mobil sedang membersihkan sepatunya dengan tisu. El mengetuk kaca mobil lalu Daniel membuka kunci pintu mobil tersebut.
"Duit lo masih ada?" Tanya El membuat Daniel bingung.
"Kenapa?" Sahut Daniel penasaran takut jika El ditipu.
"Ada gak?"
"Ada. Buat apaan sih?" Tanya Daniel lagi benar-benar penasaran.
"Berapa semuanya?"
"1,500.000. Buat apaan sih emang? Lo jangan sembarang percaya omongan orang ya, Bisa kena tipu lo entar."
"Kasih semua ke gue, Nih buat lo." El melemparkan jam tangan mahal miliknya pada Daniel membuat Daniel makin penasaran.
"Buruan." Daniel lalu mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberikan nya pada El.
"Jam tangan gue buat lo, Anggap aja gue jual sama lo." Ucap El lalu pergi. Tidak dapat dibohongi Daniel tentu sangat senang karena butuh waktu 1 tahun mengumpulkan gajinya agar bisa membeli jam seperti milik El tapi ia juga benar-benar penasaran kenapa El melakukan hal ini. Daniel keluar dari mobil lalu mengikuti El yang berjalan menuju kakek tua tadi.
"Pak saya beli ini ya, Tapi saya beli cuma tiga untuk anak-anak saya." Kata El, Kakek tua tadi langsung bersemangat ia membungkus tiga buah mainan yang El pilih lalu memberikannya pada El.
El tersenyum meraih bungkusan mainan itu lalu memberikan uang sebesar 1.500.000 pada kakek itu membuat kakek itu bingung.
"Nak, Ini kebanyakan. Semuanya 100 ribu." Kata si kakek tidak ingin menerima uang itu.
"Ya udah kalo gitu saya beli semuanya pak, Tapi saya gak bisa bawa semua mainan ini sekarang. Jadi nanti biar temen saya yang ambil, Saya minta alamat rumah bapak." Kata El lagi, Kakek tua itu terdiam melihat kearah El.
"Semoga hidupmu selalu bahagia, Dijauhkan dari segala macam bahaya dan rezekimu selalu melimpah." Ucap pria tua itu.
"Amiinnn....." Sahut El sambil memberikan uang itu pada kakek tersebut.
"Ini kartu nama saya. Kalo bapak dan istri bapak ingin berobat, Bapak bisa datang ke Rumah Sakit Sejatera dan tunjukan aja kartu ini pada pegawai Rumah Sakit." Tambah El, Kakek tua itu tidak ada hentinya mengucap syukur dan terimakasih pada El bahkan ingin mencium tangan El namun El buru-buru menariknya.
"Terimakasih nak, Terimakasih. Biar Tuhan yang membalas semua kebaikan yang kamu lakukan."
"Ya udah kalo gitu saya permisi ya pak, Barangnya saya bawa. Nanti teman saya datang ke alamat bapak untuk mengambil sisanya." El lalu pergi dari sana membawa plastik hitam berisi tiga buah mainan dan juga plastik ikan nya.
Daniel yang melihat itu tersenyum sendiri, Lalu kembali kedalam mobil.
"Oke kita pulang sekarang." Ucap El masuk kedalam mobil. Mereka pun pergi dari tempat itu menuju kantor untuk mengantar Daniel lalu ia kembali kerumah sakit.
"Sumpah gak nyangka gue lo bisa bahasa jawa. Hebat-hebat, Gue akui." Puji El pada Daniel, Daniel tersenyum mendengar pujian itu.
"Iyalah, Jangan cuma pinter bahasa asing doang tapi bahasa daerah malah gak tau sama sekali." Sahut Daniel, El mengangguk membenarkan ucapan Daniel.
"Oh iya, Lo tadi ngomong apasih kok ada dodol-dodol nya?"
"Dodolan bukan dodol. Artinya jualan atau menjual." El mengangguk pelan. Semua berjalan lancar berkat Daniel, Tidak sia-sia ia mengajak Daniel pergi ke pasar. Sedang asik menikmati perjalanan mobil El tiba-tiba berhenti dan terdengar suara teriakan kedua pria itu dari dalam sana, Ikan yang dibeli El tiba-tiba keluar dari dalam plastik dan melompat kearah Daniel membuat Daniel berteriak senyaring mungkin.
"El!.......Tolongin gue jauhin ini ikan dari badan gue!" El yang juga sangat geli melihat bentuk ikan yang mirip ular itu buru-buru keluar dari dalam mobil lalu menguncinya dari luar.
"Bangke lo El! Sumpah bangke banget. Tolongin gue woy!" Teriak Daniel namun El tidak perduli, Ia malah sibuk membersihkan diri dari cipratan air yang berlendir berasal dari ikan itu. El bergidik saat membersihkan dirinya...
"Sorry Dan, Kalo lo dikeroyok preman gue maju tapi kalo lo dikeroyok ikan-ikan itu maafin gue maaf banget pokoknya gue gak bisa nolongin. Bukannya takut, Geli gue sumpah." Sahut El dari luar mobil.
"******** lo El! Buka pintunya woy gue mau keluar."
"Gak bisa, Entar ikannya ikut keluar juga. Tunggu bentar tuh ada polisi yang lewat kali aja dia bisa bantu." Bukannya membuka pintu mobil El malah menunggu polisi yang akan lewat.
"Selamat siang pak, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya polisi yang baru dihentikan El.
"Pak, Tolongin temen saya pak. Dia lagi dikeroyok." Mendengar hal itu polisi itupun langsung turun dari mobil patrolinya.
"Dimana teman bapak saat ini?" Tanya polisi itu dengan wajah serius sambil memegangi pistolnya yang masih terpasang dipinggang.
"Gak usah pake pistol pak. Temen saya ada didalam mobil." Polisi itu langsung melihat kedalam mobil El terlihat Daniel yang sudah tidak tau seperti apa ia didalam sana, Kedua kakinya bahkan ia angkat keatas jok mobil.
"Dia dikeroyok apa?" Tanya polisi itu heran dan bingung.
"Ikan gabus pak, Tolongin saya pak tangkapin ikannya. Saya gak takut tapi saya geli. Ikan itu buat istri saya yang baru selesai operasi. Polisi itu membuang nafas panjang, Ada gurat kesal diwajahnya saat ini namun ia tetap membantu El menangkapi ikan-ikan itu dan memasukannya kembali kedalam plastik lalu mengikatnya kuat-kuat agar tidak terlepas lagi
"Terimakasih pak, Untung ada bapak kalo gak saya gak tau lagi gimana nasib teman saya." Kata El menunjuk Daniel yang saat ini memasang wajah seperti seekor harimau lapar.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." Setelah Polisi itu pergi Daniel langsung menyumpahi El bertubi-tubi tidak terhitung banyaknya sangking ia marahnya pada bosnya itu.
Bersambung