Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
a million dreams



Setelah selesai makan siang, tanpa basa-basi dengan Freya juga Tian. Dave langsung membawa Zea pergi dari tempat itu.


"Lepasin! Kamu apa-apaan sih? Disana kan masih ada Freya dan Tian." Kata Zea kesal sambil menghempaskan Dave yang saat ini memegang erat tangannya.


"BO DO A MAT!" Jawab Dave tidak kalah ketus dari Zea. Karena secara tidak sadar mereka merasakan cemburu satu sama lain.


"Asli ngeselin tau gak! Sumpah." Zea akhirnya mau tidak mau hanya bisa diam sambil mengikuti langkah Dave yang membawanya menuju taman kampus. Sesampainya ditempat yang terbilang sepi itu, Dave duduk disebuah bangku panjang yang tepat berada dibawah pohon.


"Duduk." Perintah Dave, Zea mendengus kesal lalu duduk disamping Dave namun dengan jarak yang sangat jauh. Dave tersenyum lalu tanpa disangka Dave merebahkan kepalanya dipangkuan Zea membuat kedua mata Zea membelalak kaget.


"HEH! Kamu apaan sih?" Bentak Zea secara otomatis namun Dave tidak perduli. Dengan nyaman ia memejamkan kedua matanya.


"Gue perlu tidur siang. Kalo enggak, kepala gue bakalan pusing. Kita naik motor, lo gak mau kan kalo tiba-tiba kepala gue pusing pas kita dijalan." Kata Dave bicara dengan kedua mata terpejam. Zea berpikir sesaat dan akhirnya membiarkan pria itu berbaring dalam pangkuannya.


Zea menyandarkan punggungnya sambil menikmati pemandangan sekitar taman yang sejuk dan rindang. Matanya melirik wajah Dave yang sedang tertidur dipangkuannya. Diamatinya tiap lekuk wajah pria tampan itu hidung yang mancung dan tajam, dagu yang tegas serta kulit putih bersih tidak kalah seperti kulit seorang wanita.


"Kalo jadi cewek pasti dia cantik banget." Ucap Zea dalam hati tidak sadar terukir senyum manis dibibirnya. Seberkas cahaya matahari mengenai wajah Dave, Zea melihat kearah cahaya itu lalu menghalangi pancaran tersebut dengan tangannya agar tidak mengenai wajah Dave lagi.


"Min." Ucap Dave yang langsung mengagetkan Zea, Zea buru-buru menarik tangannya sebelum mata itu terbuka.


"A....apa lagi?!" Tanya Zea sedikit gugup. Dave kembali meraih tangan Zea untuk menghalangi pancaran cahaya yang mengenai wajahnya.


"Gue gak bisa tidur kalo silau dan terlalu banyak cahaya." Katanya tetap menutup mata. Berbeda dengan Zea yang takut dengan kegelapan, pria ini malah menyukai suasana minim cahaya. Membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman.


Zea menarik nafas mencoba bersikap santai dan membuang rasa gugup dihatinya.


"Min." Panggil Dave sekali lagi.


"Apa pagi sih! Astaga ribet banget." Sahut Zea meninggikan suara.


"Seorang Leondra gak pernah ingkar dari kesepakakatan." Ucap Dave menyunggingkan senyum disudut bibirnya. Andai Dave tidak selalu membawa nama Leondra mungkin Zea tidak akan mau mengikuti semua permainan ini. Karena ini menyangkut nama baik bigboss dan daddy nya maka ia tidak akan mundur sampai hari terakhir perjanjian.


"Ya udah apa? Apa lagi sekarang huh?" Kata Zea mengulang pertanyan nya sekali lagi.


"Nyanyi dong."


"HEIIIII!" Bentak Zea langsung berdiri membuat Dave jatuh ke tanah.


"Akh....Lo apa-apaan sih? Bilang dulu kek kalo mau bediri!" Kata Dave kesal.


"Ya maaf, lagian kamu aneh." Kata Zea kembali duduk.


"Salah gue apa? Lupa siapa gue dan siapa lo? Mau dijelasin lagi?" Lagi dan lagi Zea hanya bisa menarik nafas panjang menenangkan perasaannya sendiri.


"Gak perlu!"


"Nah itu pinter, buruan." Zea serasa ingin sekali menganiaya manusia yang sekarang kembali berbaring dipangkuannya tersebut.


"Oh God, berikan hamba kesabaran tiada batas dan akhir." Ucap Zea dalam hati sambil memejamkan kedua matanya.


"Min, buruan."


"SABAR LAGI PILIH LAGU!" Bentak Zea membuat Dave tersenyum lucu mendengarnya. Zea mulai menyanyikan sebuah lagu, Sebuah lagu slow yang sangat cocok untuk pengantar tidur.


🎶I close my eyes and I can see


Kupejamkan mata dan aku bisa melihat


🎶The world that's waiting up for me


Dunia yang menantikanku


🎶That I call my own


Dunia yang milikku


🎶Through the dark, through the door


Berjalan dalam kegelapan, melewati gerbang


🎶Through where no one's been before


Melewati tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya


🎶But it feels like home


Tapi rasanya seperti di rumah


🎶They can say, they can say it all sounds crazy


Mereka berhak mengatakan semuanya terdengar gila


🎶They can say, they can say I've lost my mind


Mereka berhak mengatakan aku gila


🎶I don't care, I don't care, so call me crazy


Aku tak peduli, aku tak peduli, sebut saja aku gila


🎶We can live in a world that we design


Kita berhak hidup di dunia yang kita rancang sendiri


Karena setiap malam aku berbaring di kasur


🎶The brightest colors fill my head


Warna-warna cerah memenuhi kepalaku


🎶A million dreams are keeping me awake


Jutaan mimpi yang membuatku tetap terjaga


🎶I think of what the world could be


Aku memikirkan dunia akan seperti apa


🎶A vision of the one I see


Visi yang aku llihat


🎶A million dreams is all it's gonna take


Jutaan mimpi yang akan dibawa


🎶A million dreams for the world we're gonna make


Jutaan mimpi untuk dunia yang akan kita ciptakan.


Dave kini benar-benar tertidur dipangkuan Zea membuat senyum mengembang dibibir gadis manis itu.


"Kalian disini? Dicariin juga daritadi." Kata Davin mengagetkan Zea dan untuk sekali lagi Zea mengulangi hal yang sama. Berdiri hingga menyebabkan Dave kembali terguling dan terjatuh ke tanah.


"Auuuuu...."Rintih Dave memegangi punggungnya.


"A...abang, Tian. Hai, a....aku mau kekelas dulu." Ucap Zea gugup, belum sempat melangkah Davin langsung menghentikan Zea.


"Dave, lo ngapain tiduran disana?" Tanya Davin heran begitu juga dengan Tian yang melihat bingung kearah Dave.


"Gara-gara kecoa." Sahut Dave ketus melihat kearah Zea.


"Tunggu bentar Ze, ada yang mau kita omongin nih." Davin lalu duduk di bangku panjang tersebut diikuti yang lainnya.


"Jadi gue sama Tian lagi jalanin bisnis, bukan jalanin sih. Baru mau mulai tepatnya gitu."


"Bisnis apa?" Tanya Dave.


"Jual beli online?" Sahut Zea menebak.


"Abang gak bakat jualan Ze." Jawab Davin melihat kearah Zea.


"Terus?" Ucap Zea dan Dave bersamaan lalu saling melempar pandangan masam.


"Kalian kompak banget tumben, moga gak hujan badai nih entar gara-gara kalian kompak gini." Tegur Davin setengah tertawa membuat Zea bertambah kesal.


"Hei!" Teriak Zea seperti biasanya membuat bungkam ketiga pria tersebut.


"Oke diem." Jawab Davin menutup mulutnya.


"Terus bisnis apa ini maksudnya?" Tanya Zea sekali lagi.


"Tian tolong jelasin sama calon partner sekaligus bintang kita." Kata Davin lalu menutup mulutnya kembali membuat Zea menarik nafas dalam menghadapi kelakuan 2D.


Tian lalu menjelaskan pada Zea dan Dave tentang rencana bianis yang akan mereka jalankan.


"Jadi gimana tertarik?" Tanya Davin diakhir penjelasan dari Tian.


"Aku mau kak, mau banget. Kapan kita mulai? Sekarang?" Ucap Zea sangat antusias membuat Dave mengerucutkan dahinya.


"Tugas lo aja belum selesai mau kerja ditempat lain." Celetuk Dave masam.


"BO DO A MAT!" sahut Zea cuek tidak perduli.


"Izin dulu sama daddy, abang udah ngomong sih sebelumnya sama daddy dan ayah tapi biar lebih SAH mending izin lagi." Kata Davin menyuruh Zea, Zea langsung mengangguk tanpa berpikir panjang.


"Lo ikut gabung gak?" Giliran Dave yang ditanya oleh Davin.


"Gue?" Ucap Dave malah bertanya


"Ya elu Bambang siapa lagi?" Sahut Davin sabar.


"Lemot." Celetuk Zea cuek dan tidak perduli.


"Heh mimin diem lu!"


"BO DO A MAT!"


"Gue, liat entar deh. Tergantung mood." Dan sepertinya Dave akan menyesal jika ia tidak ikut bergabung bersama Davin, Tian dan Zea.


**Bersambung.....


untuk lanjutan Kenan story entar dibuat khusus satu bab ya.


Jangan lupa RATE, KOMEN, LIKENYA**.