
"Bunda, Kok mommy bobonya lama banget?" Tanya Zea yang saat ini sedang sarapan bersama keluarga Daniel.
"Sayang, Mommy perlu istirahat yang cukup biar bisa cepat sembuh." Sahut Dara tersenyum.
"Bunda sama ayah gak lagi hohongin Zea kan?" Tanyanya lagi polos. Membuat Dara juga Daniel merasa sangat bersalah pada gadis kecil tanpa dosa ini.
"Zea, Ayah sama bunda gak pernah bohong." Sahut Davin
"Iya, Emang pernah ayah bunda bohongin kamu?" Tambah Devan ikut bersuara.
"Habisnya masa ada orang yang bobo lama gitu gak bangun-bangun? Zea mau mommy cepat bangun, Zea kangen." Katanya lagi tertunduk menyembunyikan kesedihannya. Melihat hal itu Dara dan Daniel berdiri dari tempatnya duduk menghampiri Zea.
"Sayang, Sebentar lagi mommy pasti bangun. Ayah sam bunda gak bohong, Mommy Zea dikasih obat tidur sama Dokter biar bisa istirahat. Nanti kalo pengaruh obatnya sudah habis pasti mommy bangun." Kata Daniel mengusap lembut pipi Zea yang masih tertunduk diam.
Melihat Zea yang diam Daniel dan Dara saling melempar pandangan, Mereka tau gadis kecil itu sangat merindukan ibu kandungnya saat ini.
"Zea, Coba liat bunda." Kata Dara pelan namun Zea tetap tunduk tidak ingin mengangkat wajahnya untuk melihat Dara.
"Zea gak mau liat bunda ya?" Ucap Dara terdengar sedih, Dan jika begini Zea tidak akan bisa tahan mendengarnya. Tanpa melihat Dara lebih dulu gadis kecil itu langsung memeluk Dara sambil menangis.
"Zea kangen mommy, Zea cuma mau mommy bangun, Itu aja." Katanya dalam isak tangis membuat hati Daniel dan Dara terasa sakit. Dara mengusap pelan punggung Zea sambil terus menenangkan gadis kecil itu. Matanyapun mulai berkaca mengingat sahabatnya Luna yang belum juga sadarkan diri.
"Zea jangan nangis, Ada bunda disini, Ada ayah ada bang Davin ada bang Devan juga semua keluarga Zea. Semua sayang banget sama Zea, Jangan nangis ya sayang. Mommy pasti bangun, Mommy orang yang kuat mommy juga sayang banget sama Zea, Sama daddy dan sama Calla pasti mommy bakalan cepat bangun." Jawab Dara berusaha kuat menahan tangisannya agar anak itu bisa ikut tegar dan percaya jika Luna akan segera sadar.
"Ayah sayang Zea." Daniel ikut memeluk Zea dan Dara. Melihat hal itu Davin beranjak dari tempat duduknya dan ikut bergabung memeluk kedua orangtua nya serta Zea.
"Devan....." Kata Dara melihat kearah anak bungsunya itu. Devan menghela nafas panjang mendengar namanya disebut oleh Dara.
"Tapi jangan lama-lama, Udah kayak teletubies berpelukan rame-rame gitu." Celetuknya, Mendengar hal itu Dara meliriknya kearahnya.
"Iya-iya." Sahut anak laki-laki yang paling tidak menyukai acara peluk memeluk dan cium mencium itu. Devan lalu berdiri dengan malas dan ikut serta dalam pelukan hangat keluarga kecil itu membuat Zea merasa lebih tenang dan nyaman sekarang ini.
***
Sementara itu keadaan Kenan makin membaik apalagi Eriska selalu menemaninya. Bahkan Eriska diminta untuk libur bekerja dan menemaninya dirumah sakit.
"Hun, Kamu jadi asisten pribadiku aja ya dikantor." Ucap Kenan yang saat ini sedang asik menikmati manisnya buah apel yang dikupas oleh Eriska.
"Gak Ken, Aku bakalan tetap kerja diposisiku saat ini." Jawab Eriska tegas tidak ingin menerima tawaran yang diberikan kekasihnya.
"Tapi hun, Aku gak tega liat kamu capek bersih-bersih gitu. Apalagi sikap orang-orang ke kamu, Bener-bener harus dapat teguran langsung mereka." Kata Kenan merasa jengah dengan sikap orang-orang yang tidak bisa menerima dengan baik kehadiran Eriska di kantor Kenan.
"Aku lebih nyaman seperti ini, Dan satu lagi tolong jangan sampai ada oramg kantor yang tau tentang hubungan kita." Jawab Eriska serius tidak ingin orang-orang mengetahui jika ia dan Kenan sedang menjalin suatu hubungan. Mendengar hal itu Kenan langsung memegangi tangan Eriska memghentikan aktifitasnya.
"Kenapa? Apa salahnya mereka tau? Malahan bagus dong, Jadi gak ada satupun orang yang berani kasar dan bertindak semaunya sama kamu kalo mereka tau kamu itul pacarku."
"Bukan itu yang aku takuti, Aku sudah sering bertemu orang-orang seperti mereka bahkan jauh lebih mengerikan. Hanya saja nama baikmu yang sedang aku jaga." Kata Eriska memalingkan wajahnya, Ia cukup sadar dengan dirinya sendiri. Pernah berada didunia yang hitam dan kelam membuat orang-orang mengecapnya seumur hidup sebagai wanita ja*ang.
Kenan menatap diam wanita itu, Betapa kagum saat melihatnya. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir seperti itu bahwa nama baik Kenan lebih penting daripada perasaannya. Sungguh ia wanita yang sangat luar biasa dan ini untuk kedua kalinya Kenan merasa hatinya terisi penuh oleh cinta.
"Kok diem?" Tanya Eriska menyuapi Kenan buah.
"Huh? Enggak, Gak apa-apa. Tapi kapanpun kamu berubah pikiran, Jangan pernah ragu untuk bilang sama aku." Eriska tersenyum dan mengangguk mengakhiri pembicaraan itu karena jika ia kembali menolak maka Kenan pun akan kembali memaksanya.
***
🎶Memenangkan hatiku bukanlah satu hal yang mudah.
Kau berhasil membuatku tak bisa hidup tanpamu.
Namun sedetik pun tak pernah kau berpaling dari hatiku.
Beruntungnya aku dimiliki kamu
🎶Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
🎶***Kaulah bentuk terindah
dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantik mu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
🎶Meruntuhkan egoku
bukanlah satu hal yang mudah
dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku
🎶Semua yang jadi bukti tersimpan dalam palung hati***.
Hal yang paling disukai oleh Luna adalah saat El memainkan gitarnya sambil bernyanyi dengan suara indahnya. Hal yang sangat jarang bisa ia lakukan untuk Luna karena kesibukannya.
Dua hari sudah berlalu, Dan selama dua hari juga El tidak pernah pulang kerumah atau pergi ke kantornya. Ia setia menemani wanitanya yang belum juga sadar itu.
"Sayang, Cepat bangun. Abang kangen, Anak-anak juga kangen banget sama mommynya." Ucap El mengusap lembut pipi Luna, Ingin rasanya ia menangis namun ia tau Luna tidak akan suka hal itu. Ia tertunduk menyembunyikan rasa sedihnya sambil terus memanggil Luna.
"Sayang....." Ucap El lirih terdengar sangat berat, Hingga siapapun yang mendengar suaranya akan tau jika pria itu sedang sangat terluka.
"Sayang......" Panggil El lagi sama seperti biasanya saat ia memanggil Luna berulang kali.
"Sayang......"
"Sayang...." Sahut Luna terdengar sangat pelan hampir berbisik.
El langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah Luna. Wanita itu tersenyum lemah dengan mata sendu dan sayu. Ia terlihat tetap cantik walau wajahnya pucat tanpa riasan. El langsung mendekati Luna dan mengecup lembut keningnya.
"Terimakasih...." Katanya yang akhirnya tidak bisa lagi menahan air matanya, Ia memeluk Luna pelan dan hati-hati sambil berkali-kali mengecup keningnya.
"Terimakasih untuk semua." Katanya tersenyum dengan air mata yang terus keluar sangkin ia bahagianya karena Luna akhirnya sadar.
"Anak kita?" Tanya Luna sambil menghapus lembut airmata El. El meraih tangan Luna lalu menciumi punggung tangan wanita itu.
"Namanya Callandra Nael Leondra, Kamu suka?" Tanya El tersenyum, Luna membalas senyum manis itu dengan anggukan.
Duka itu kini berangsur memulih, Badai yang ia hadapi kini mereda karena usaha dan doa tidak akan mengkhianati hasil. Saat langit mulai gelap karena malam maka besok pasti akan terang, Jika langit sedang mendung tertutup awan hitam maka pasti akan kembali cerah. **El dan Luna sudah melewati hari-hari itu dengan semua rasa suka dan cita.
Bersambung dlu lah authornya lg kehabisan ide perlu bertapa dulu buat lanjutin.....
Semoga gak.kecewa ya kesyangnku 😘😘😘😘 ttp dukung karya author buat nmbh semangat**