
Sepanjang jalan Kenan terus menghubungi El dan Daniel namun tidak juga diangkat.
"Argh!.... Gak diangkat lagi, Mereka pasti gak lapor polisi." Gerutu Kenan sambil terus mengikuti arah jaringan dari hp Daniel yang ia lacak. Kenan juga langsung menghubungi polisi pasukan khusus lengkap dengan tim gegana untuk menangani kasus penculikan seperti Zea. Siapa yang tidak mengenal sosok pengusaha muda dan kaya raya seperti Kenan, Ia juga menyewa pasukan khusus untuk melindunginya karena dunia bisnis sangatlah kejam
Setelah menghubungi polisi dan memberitahukan alamat yang dituju El juga Daniel ia langsung pergi kesana.
***
"Luna, Sadar please." Kata Dara menggenggam tangan Luna sambil menangis. Ia pun sangat bingung saat ini, Satu sisi ia sangat mengkhawatirkan Zea dan disisi lain ia juga sangat mengkhawatirkan Luna yang belum juga sadar.
"Zea...." Ucap Luna dalam ketidaksadaran nya, Dari sudut matanya cairan bening mengalir namun matanya tetap terpejam.
"Lun, Luna ini aku Dara. Bang El sama Daniel lagi jemput Zea, Kamu sadar dong buka mata kamu please." Kata Dara terus menangis namun Luna tidak merespon. Mulutnya hanya terus memanggil nama gadis kecilnya itu dan air matanya tidak berhenti keluar membuat Dara makin khawatir.
***
"Bos mereka sampai." Mendengar hal itu Tommy tertawa, Ia langsung mengambil jasnya putihnya lalu keluar untuk menyambut tamu yang sudah lama ia tunggu.
El dan Daniel turun dari mobil, Semua pengawal yang mereka bawa dengan senjata api ditangan sudah siap. El berjalan menuju pintu sebuah kontainer besar yang tidak terpakai lagi tidak ada sedikitpun rasa takut dihatinya.
"Daddy, Zea takut." Teriakan Zea terdengar keras, El langsung berlari membuka pintu gudang itu namun tidak ada apa-apa disana hanya ada sebuah bangku kosong.
"Daddy tolongin Zea." Teriaknya lagi, Kini giliran Daniel yang berlari kearah pintu kontainer lain dan langsung membuka pintu itu namun sama seperti El. Daniel juga tidak menemukan Zea disana hingga membuat El makin murka dan frustasi.
"Selamat datang Elang Leondra, Kamu pasti sudah tau siapa saya. Ya, Sayalah Tommy orang yang sudah menghabisi nyawa ibumu. Andai saat itu orang yang saya bayar menemukan kamu juga, Kamu tidak akan ada saat ini. Kamu cukup beruntung punya umur yang lebih panjang daripada kedua orangtuamu.Tapi sayang, Sepertinya cucu dari Bram Leondra tidak memiliki umur yang panjang." Katanya tertawa nyaring lewat sebuah pengeras suara yang memang sudah ia siapkan. Mendengar hal itu tangan El mengepal kuat hingga anginpun tidak bisa masuk kedalam kepalan tangan itu sangking kuatnya ia mengepal tangannya. Darahnya berdesir mendidih betapa ia ingin membun*h pria itu dengan brutal dan tangannya sendiri.
"BAN*SAT! DIMANA LO SEMBUNYYIN ANAK GUE?! KALO SAMPAI LO SAKITI ANAK GUE SEUJUNG KUKU ATAU SEHELAI RAMBUT AJA GUE BERSUMPAH DEMI NAMA KEDUA ORANGTUA GUE, GUE BAKALAN BU*UH LO DENGAN TANGAN GUE SENDIRI!" Teriak El yang sudah tidak tau lagi bagaimana caranya menahan semua amarahnya yang meledak.
"Hahahahaha...... Kata orang buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, Nyatanya kamu berbeda dari Bram. Bisa dibilang kamu lebih menarik dibanding ayah kamu yang kini sedang berada di neraka bersama wanita ja*ang yang bernama Hanum." Mendengar hal itu El langsung mengbil senjata api milik salah satu anak buahnya lalu menembaki kesembarang arah sangking ia sangat ingin menemukan Zea juga Tommy yang saat ini masih bersembunyi.
"Anak cantik ini kemungkinan akan selamat jika kamu berhasil menemukan keneradaannya di tempat ini dalam waktu 30 menit dari sekarang. Ingat bom yang terpasang tidak punya toleransi waktu hahahahaha." Tambahnya lagi membuat El dan Daniel makin panik.
"Cari disetiap kontainer!" Teriak El memerintah semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Zea di susunan ribuan peti kemas itu dalam waktu kurang dari 30 menit.
Sedang dalam suasana yang bercampur aduk dan tegang Kenan pun datang ketempat itu. Ia langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri El juga Daniel.
"Sorry gue baru denger tentang Zea makanya gue langaung kesini." Kata Kenan El dan Daniel mengangguk.
"Zea belum ditemuin, Tommy nyuruh kita buat nyari ditiap peti kemas." Sahut Daniel sedangkan El saat ini sedang sibuk membuka pintu kontainer satu persatu. Kenan diam sejenak sambil berpikir lalu memgutak-atik hpnya.
"El, Daniel gue dapat sinyal atas nama Leondra." Ucap Kenan, Mendengar itu El dan Daniel langsung memghampiri Kenan.
"Atas nama bokap lo." Tambah Kenan saat El dan Daniel menghampirinya. Setelah berhasil melacak sinyal keberadaan Zea mereka bertiga langsung pergi ketempat tersebut.
Sinyal itu membawa mereka kesebuah tempat lapang dan luas mirip lapangan kosong yang sudah lama tidak dipakai dan Zea duduk dengan tangan dan kaki yang terikat tepat ditengah lapangan. Gadis kecil itu dibiarkan berjemur ditengah lapangan gersang dan berdebu hingga Zea tidak sadarkan diri dan bom waktu yang terpasangan ditubuhnya terus berjalan tiap detik mengurangi tiap menit dari waktu yang ditentukan oleh Tommy.
"Zea...." Panggil El, El berlari cepat kearah Zea yang terduduk dibangku dan tidak sadarkan diri. Bajunya basah kuyup karena terik matahari sungguh El rasanya tidak sanggup melihat keadaan sebagian dari jiwanya itu diperlakukan tidak manusiawi.
"El, Ini bom waktu lo gak bisa nyentuh atau ngelepas ini sendiri." Kata Kenan memperingatkan El.
"Zea, Ini daddy sayang. Nak, Bangun sayang daddy mohon bangun sayang. Daddy datang jemput Zea, Ada ayah ada om Ken juga." Kata El yang akhirnya menumpahkan airmatanya ingin sekali ia memeluk tubuh kecil itu sekedar untuk memberikan keteduhan hal yang biasa ia lakukan jika Zea mengeluh dengan sinar matahari yang menerpanya namun semua itu tidak dapat ia lakukan karena bom yang terpasang di tubuh Zea.
"Ken lo serius?" Tanya Daniel, Ken mengangguk menjawab pertanyaan Daniel. Ken langsung menghubungi penjinak bom yang ia bawa tadi dan tidak lama menunggu para penjinak bom datang untuk membantu melepaskan bom itu dari tubuh Zea.
Tidak memakan waktu yang lama, Bom itu langsung non aktifkan dan di hancurkan oleh alat khusus. El langsung memeluk tubuh Zea, Diciuminya kedua pipi Zea.
"Dan tolong bawa Zea kerumah sakit, Gue titip Zea dan Luna ke lo." Kata El memeberikan Zea yang tidak sadarkan diri itu ke dalam pelukan Daniel.
"Lo sendiri?" Tanya Daniel
"Masih ada yang harus gue urus." Jawab El, Diperhatikan nya lagi wajah putri kecilnya itu karena ia tidak tau apakah ia akan kembali atau tidak tapi yang jelas ia akan membu*uh Tommy dengan tangannya sendiri.
"Sayang, Seandainya daddy gak pernah kembali daddy titip mommy dan ade ya. Zea anak kuat karena Zea seorang singa sama seperti bigbos dan daddy. Dan singa betina akan lebih kuat daripada seekor singa jantan." Katanya lagi lalu kembali mencium wajah Zea.
"El! Lo harus kembali demi anak-anak lo, Demi Luna. Inget El, Luna lagi berjuang dirumah sakit!" Kata Daniel marah mendengar ucapan sahabatnya itu begitu juga dengan Kenan yang emggan meninggalkan El disana sendirian.
"Terimakasih kalian selalu ada buat gue, Kalian bukan cuma sahabat tapi keluarga buat gue. Gue pamit." Kata El langaung pergi meninggalkan Daniel, Kenan juga Zea.
"Ken tolong, Please banget untuk kali ini tolongin gue susul El. Pastikan dia kembali dan bawa dia kembali bagaimanapun caranya." Kata Daniel memohon dengan sangat tulus, Ken tersenyum sambil menepuk bahu Daniel.
"Gue janji, Tanpa lo minta pun gue janji bakalan bawa El pulang dengan selamat." Kata Ken, Ia lalu pergi menyusul El yang entah ada dimana saat ini.
Bersambung