Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Mr. Right 03



Lyn masuk ke dalam kamarnya yang sudah disiapkan lebih dulu oleh ART yang bekerja di rumah Alan. Kamar yang sangat luas dan besar dengan fasilitas lengkap. Lyn berjalan menuju walk in closet tempat itu dipenuhi banyak lemari pakaian serta rak-rak sepatu juga tas-tas mahal. Baju-baju untuk Lyn pakai sudah tergantung rapi di sana serta semua kebutuhan Lyn tersedia ditempat itu. Namun sedikitpun Lyn tidak tertarik dengan benda-benda mahal tersebut. Baginya, dibanding tempat ini kamar sederhana miliknya lah yang paling nyaman.


Lyn duduk melihat taman yang berada tepat didepan kamarnya, ia tidak ingin melakukan hal apapun selain berdiam diri. Lagi pula apa yang bisa ia lakukan ditempat ini.


Tidak lama Alan masuk ke kamar itu membuat Lyn tersadar dari lamunannya.


"Cepat bersiap, pakai ini. Kita akan pergi ke suatu tempat." Ucap Alan sambil meletakan sebuah gaun berwarna merah darah pilihannya. Seperti biasa Lyn sama sekali tidak berniat untuk menghiraukan Alan. Melihat tingkah laku Lyn, Alan menghampiri gadis itu.


"Jangan terlalu mengabaikan ku atau kau tau akibatnya." Ancam Alan penuh penekanan.


"30 menit dari sekarang, cepat bersiap." Kata Alan sambil memegangi lengan Lyn dengan kuat. Pria itu berubah menjadi serius dan kasar tidak seperti tadi. Lyn hanya diam namun tatapan nanar itu menunjukan rasa benci yang teramat dalam pada sosok Alan.


Setelah Alan pergi dari tempat itu, Lyn terduduk lemas. Pria seperti apa yang akan ia nikahi? Ia bahkan terlihat begitu menakutkan, dingin dan kasar.


"Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak berhak bersikap kasar padaku!" Ucap Lyn marah, Lyn lalu meraih gaun yang diberikan oleh Alan lalu tersenyum sinis.


"Akan aku buat kamu menyesal karena memilih seorang yang bernama Ashlyn Alexa!" Kata Lyn lalu gadis itu berjalan menuju walk in closet untuk bersiap-siap.


...***...


Lyn berdandan secantik mungkin, ia juga tidak mengenakan pakaian yang dipilih oleh Alan melainkan pakaian yang lebih terbuka dengan warna yang sama. Lyn sengaja ingin menunjukan pada Alan jika ia bukan seorang wanita baik dan tidak bisa diatur. Begitu selesai Lyn berdandan, Lyn menatap dirinya di depan cermin. Untuk pertama kalinya ia memakai baju yang sangat terbuka seperti saat ini. Ada rasa malu yang menyelinap di benak Lyn karena memamerkan bagian tubuhnya namun niat untuk membuat Alan menyesali keputusannya karena sudah memilih Lyn sangatlah kuat.


Lyn juga menyemprotkan parfum dibeberapa bagian tubuhnya untuk menambah kesan sensual serta liar. Lyn menarik nafas panjang lalu membuka pintu kamarnya. Lyn berjalan pelan menuruni anak tangga, di sana Alan sudah menunggu sambil menatap tajam ke arah Lyn.


"Perempuan ini, apa yang ia inginkan. Kamu ingin menantang ku rupanya." Ucap Alan dalam hati sambil terus menatap kearah Lyn yang menuruni anak tangga sambil melenggok kan tubuhnya bak seorang model.


Lyn menghampiri Alan dengan wajah sombong dan angkuh, gadis itu sejak tadi tidak bicara sepatah katapun. Alan berdiri lalu berjalan mengitari Lyn, wangi tubuh Lyn tercium begitu sangat seksi dan mampu menciptakan imajinasi nakal para pria.


"Sepertinya aku tidak salah menjadikanmu sebagai peliharaan ku." Kata Alan tersenyum.


"Sebelum anda memutuskan untuk memelihara seekor kucing baiknya anda pastikan, apakah kucing itu seekor kucing manis atau kucing liar yang sewaktu-waktu akan menggigit anda." Sahut Lyn membuka mulut untuk pertama kalinya. Mendengar jawaban Lyn, Alan kembali tersenyum lalu berdiri tepat dihadapan Lyn.


"Dan sebelum kucing liar itu menggigit, ia harus tau terlebih dahulu dengan siapa ia berhadapan. Seekor kucing atau seekor singa jantan yang lapar." Sahut Alan menyunggingkan senyum disudut bibirnya membuat Lyn makin membenci pria itu.


...***...


Saat ini Lyn dan Alan berada disebuah restoran berbintang, sampai saat ini Lyn tidak tau apa tujuan Alan mengajaknya kemari dan siapa yang akan mereka temui. Lyn hanya mengikuti Alan yang berjalan jauh didepannya.


Langkah Alan berhenti tepat di depan pintu private room restoran tersebut. Ia menunggu Lyn yang malah sengaja berjalan dengan lambat.


"Jika kamu kesusahan saat menggunakan sepatu itu, kamu bisa membuangnya setelah kita pulang dari tempat ini." Ucap Alan sambil berkacak pinggang, dan seperti biasa ucapan Alan tidak digubris oleh gadis itu. Lyn berniat langsung masuk kedalam ruangan tanpa perduli siapa yang ada di dalam, namun Alan berhasil menahannya. Pria itu lalu memamerkan sebuah rekaman suara yang membuat Lyn seketika membatu.


"Kakak, cepat pulang Jenica kangen."


Ya, itu adalah suara Jenica. Adik kesayangan Lyn. Benar saja yang dipikirkan oleh Alan, setelah mendengar suara imut gadis kecil itu. Lyn langsung bereaksi.


"Apa mau kamu?!" Tanya Lyn benar-benar marah. Alan tersenyum lalu menyimpan handphonenya kembali.


"Ikuti permainanku maka gadis kecil itu tidak akan menerima hukuman atas perbuatan kakaknya." Sahut Alan sambil merangkul pinggang Lyn dan menarik tubuh Lyn agar lebih dekat dengannya.


"Maaf menunggu lama, Calon istriku butuh waktu mempersiapkan diri untuk bertemu kalian." Kata Alan tersenyum lalu menarik bangku untuk Lyn. Lyn melihat orang-orang yang duduk mengelilingi meja makan, wajah-wajah sombong serta angkuh yang mereka tunjukan sama sekali tidak bersahabat.


"Siapa nama mu?" Tanya seorang pria paruh baya yang terlihat seperti pemimpin di kelompok tersebut.


"Ashlyn Alexa." Sahut Lyn singkat tanpa menyapa pria yang merupakan ayah kandung Alan tersebut.


"Siapa nama keluargamu?" Tanya pria bernama Tn. Wilson tersebut.


"Keluarga? Entahlah, aku merasa tidak memiliki keluarga." Lagi-lagi jawaban yang diberikan oleh Lyn membuat seisi ruangan menatapnya sinis.


"Apa kamu tidak bisa bicara lebih sopan padanya? Dia adalah ayah kandung Alan, panggil dia Tn. Wilson." Ucap wanita yang duduk disampingnya. Lyn tersenyum sambil membuang muka, gadis itu ikut menunjukan kesombongannya.


"Apakah seorang menantu harus memanggil mertuanya dengan sebutan tuan? Bukankah Alan tadi sudah mengatakan jika aku adalah calon istrinya." Sahut Lyn tidak perduli membuat wanita tadi terlihat sangat marah.


"Heh, sudah ku duga. Wanita macam apa yang dipilih oleh anak itu. Katakan berapa harga yang ditawarkan oleh Alan?" Tambah wanita itu tersenyum melecehkan melihat kearah Alan dan Lyn.


"Jaga ucapan anda Ny. Fredrick (Nama suami wanita itu sebelum menikah dengan Tn. Wilson).


"CUKUP!" Bentak Tn. Wilson nyaring membuat suasana hening seketika. Lyn dengan santainya meraih gelas wine dan mulai meminumnya tanpa perduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya. Dari sini Lyn tau jika Alan memiliki hubungan yang tidak baik dengan keluarga besarnya. Sebenarnya sama saja dengannya, memiliki keluarga hanya sebagai cerita fiksi.


"Maaf nyonya, ini mungkin akan terdengar tidak sopan. Saat anda menyatakan wanita macam apa saya dan berapa harga yang diberikan oleh Alan. Sebaiknya terlebih dahulu anda menanyakan hal tersebut pada diri anda sendiri, wanita macam apa yang


langsung menilai seseorang hanya karena orang itu terlihat asing dan berbeda di matanya. Apa semua orang kaya raya seperti kalian? Heh, sungguh menyedihkan. Selalu hidup dengan perasaan was-was serta pikiran buruk terhadap orang lain. Apa itu menyenangkan?" Tanya Lyn santai tersenyum sinis membalas ucapan Ny. Wilson yang sudah menghina nya.


Tidak tahan mendengar ucapan yang dikatakan oleh Lyn, Ny. Wilson berdiri lalu menghampiri gadis itu dan melayangkan tamparannya.


"Jangan memaksa ku untuk berbuat kasar wanita ja*ang!" Ucap Alan menahan tangan ibu tirinya.


"Alan!" Teriak Tn. Wilson lalu menampar wajah anaknya dengan keras. Lyn yang melihat hal itu tersenyum tidak perduli.


"Terima kasih untuk makan siang hari ini, saya rasa perkenalan ini sudah cukup. Tiga hari lagi kami akan menikah, kalian tidak perlu repot-repot untuk datang." Kata Alan lalu menarik Lyn keluar dari ruangan tersebut.


...***...


"Apa maksudmu tiga hari lagi?!" Ucap Lyn membentak tidak terima atas keputusan Alan.


"Apa bedanya tiga atau 7 hari lagi? Pada akhirnya kamu akan tetap menjadi peliharaan ku." Sahut Alan tersenyum. Lyn benar-benar makin membenci pria yang ada di hadapannya ini, Lyn yang tidak tahan menghadapi Alan langsung pergi dari tempat itu.


Alan tersenyum memandangi punggung Lyn yang terbuka.


"Selain cantik dan menggoda ternyata kamu juga sangat cerdas." Ucap Alan memuji Lyn.


Bersmbung.....