Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Ketempelan



Pagi ini El terlihat sangat bahagia saat dikantor, Wajah tampan nya terlihat makin tampan dan berkarisma membuat mata para wanita sulit untuk berkedip apalagi berpaling. Walaupun mereka semua tau bahwa El sudah memiliki keluarga itu sama sekali tidak mengurangi minat mereka sedikitpun untuk mengagumi Elang. Bagi mereka El tetaplah orang nomer satu ditempat ini baik itu sebagai seorang pemimpin perusahaan ataupun seorang idola untuk para karyawan wanita. Bahkan sampai saat ini masih banyak yang mengiriminya hadiah-hadiah kecil dan meletakan nya secara diam-diam diatas meja kerjanya. Semua karyawan sangat menghormati El bukan karena statusnya sebagai big boss melainkan karena kemampuan kepemimpinan nya.


"Pagi pak El dan selamat datang kembali. Kantor terasa sepi loh pak tiga hari ditinggal pak El dan pak Daniel." Ucap Wita sambil tersenyum, Wita salah satu staf HRD diperusahaan itu.


"Masa sih? Karena gak ada yang marah-marah ya kek biasa ya?" Sahut El tertawa renyah.


El memang memiliki hubungan yang baik dengan semua karyawan nya dari yang namanya atasan sampai bawahan bahkan dengan para pekerja kebersihan dan kantin pun ia bersikap baik. Menurut El semua karyawan ditempatnya sama tidak ada yang mendapat perlakuan khusus karena ia seorang bos. Tidak ada aturan yang membedakan tempat makan untuk staf dan karyawan biasa, Mereka makan ditempat makan yang sama dan memakan makanan yang sama pula. Hanya saja waktu yang membedakan para staf bisa lebih dulu makan baru setelah itu para karyawan biasa.


"Ya gak gitu lah pak, Sepi aja gitu gak ada bapak apalagi pak Daniel." Sambung Wita, Wita sendiri sudah bekerja selama 15 tahun ditempat ini posisinya sebagai sekertaris manager HRD padahal ia hanya lulusan SMA. Mengingat betapa sulitnya zaman sekarang untuk mendapatkan pekerjaan hanya dengan menggunakan ijazah SMA karena kebanyakan perusahaan mencari ijazah dengan pendidikan tinggi padahal mereka sangat tau biaya pendidikan saat ini tidaklah murah.


Apalagi mendapat posisi seperti Wita saat ini itu tentu bukan hal yang mudah. Tapi tidak diperusahaan El, Daripada memakai ijazah tinggi untuk standar ia lebih suka melihat kemampuan seseorang itu, Walaupun Wita hanya memiliki ijazah SMA tapi ia memiliki otak yang sangat cerdas dan itu sangat dibutuhkan El untuk membantu perusahaan nya. Berkat kerja keras dari mereka lah perusahaan El bisa berdiri hingga sekarang, Bahkan majalah yang diterbitkan tiap bulan selalu laris terjual dipasaran dalam Negeri juga luar Negeri. Dan satu hal yang yang tidak akan pernah ada di perusahaan El, Yaitu SUAP atau SOGOKAN. Semua pekerja benar-benar real bekerja dengan kemampuan mereka dan mendapatkan pencapaian juga karena kemampuan mereka. Jadi jika ingin naik jabatan maka tingkatkan lagi kinerja jangan menyogok karena sudah pasti itu tidak berlaku ditempat ini.


"Nih bagiin sama yang lain." Kata El menyerahkan kotak berukuran sedang yang isinya penuh dengan oleh-oleh dari Korea. Tiap kali bepergian ke luar Negeri El memang tidak pernah melupakan hal itu, Yaitu membelikan hadiah-hadiah kecil untuk para karyawan nya. Bukan karena ia ingin para karyawan memujinya dan mengatakan nya memiliki hati yang dermawan atau agar orang lain tau jika ia sering bepergian ke luar Negeri.


Sejak dulu El memang sudah melakukan hal itu, Setiap kali pulang dari luar Negeri ia selalu membagikan oleh-oleh kecil untuk para pekerja diperusahaan nya dari pimpinan direksi sampai OB dapat bagiannya juga. Itu juga bukan sebuah sogokan agar para karyawan menyukainya, Tanpa ia melakukan hal itu para karyawan memang sudah menyukai nya sebagai pemimpin. El memiliki sikap yang tegas dan disiplin yang tinggi namun dengan caranya sendiri.


Walaupun seorang pemimpin nomer satu ditempat itu, Lantas tidak membuatnya untuk berlaku semena-mena menggunakan posisi jabatan untuk menekan para pekerja hingga pekerja merasa setres, Dan itu sukses membuat para pekerja sangat menghormatinya dan segan padanya. Dihormati karena merasa nyaman lebih baik daripada dihormati karena rasa takut dan kenapa El berbuat seperti itu, Karena manusia tidak pernah tau kapan Tuhan akan mengatakan "Cukup dan kembalilah kepangkuan ku" Maka jangan pernah berhenti untuk berbuat baik pada orang lain.


"Yes, Nambah lagi koleksi barang-barang dari luar Negeri. Walaupun saya gak pernah ke luar Negeri tapi saya punya banyak koleksi barang-barang nya loh pak dan itu berkat bapak." Sahut Wita tertawa kecil.


"Tambah semangat ya kerja nya." Sahut El, Wita mengangguk sambil tersenyum.


"Pagi pak El, Pagi Wita." Sapa Daniel lesu saat ia baru datang. El yang bingung melihat Daniel seperti itu melihat kearah jam tangannya.


"Pak pak Daniel." Balas Wita lalu ia berpamitan pada El untuk kembali keruangan nya. El yang melihat Daniel bertingkah seperti ayam sakit yang baru saja menelan karet gelang itu langsung berjalan menyusul Daniel.


"Lo kenapa masih pagi juga udah kea ayam sakit gitu, Masih capek karena penerbangan kemaren? Atau karena gak sarapan?" Tanya El mulai mengintrogasi Daniel saat mereka sudah berada didalam ruangan Daniel.


"Pak El, Tolong ya biasakan untuk mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk keruangan saya." Jawab Daniel malas tidak bersemangat sama sekali tidak seperti biasa yang kalau ia datang maka suasana kantor akan menjadi pasar sangking rusuhnya manusia yang bernama Daniel.


"Sialan lo! Gue bos loh disini kok berasa gak dihormati gini ya? Mau gue kutuk lo jadi batu? Terus batunya gue lempar ke sungai, Terus hilang terus gue seneng." Kata El mulai memancing kegilaan Daniel namun Daniel tetap seperti orang kalah judi.


"Bapak ngelawak? Gak lucu pak, Saya lagi malas pak. Nafas aja saya males tapi kalo gak bafas takut mati, Apa lagi ngomong sama bapak tambah malas dan kalo gak ada urusan lagi silahkan bapak keluar dari ruangan saya." Sahut Daniel lagi tidak ingin terganggu oleh El.


"Bangke! Lo ngusir gue? Andai gak ingat anak istri lo aja udah gue pecat lo, Sama bos gak ada rasa hormatnya gitu. Serah lu deh, Yang jelas perbaiki mood lo sebelum jam 11 siang karena kita ada pertemuan sama pimpinan baru dari KA group." Setelah gagal merusuh Daniel, El kembali keruangan nya.


"Kenapa sih tu Sukirman, Tumben banget dia gitu. Biasanya kea terompet tahun baru sangking ributnya. Masa iya berantem sama Dara? Gak mungkin lah mereka kan baru ketemu setelah tiga hari masa iya berantem? Atau ketempelan hantu yang ada dikamar hotel kemaren, Bisa jadi sih mulutnya kan rese kelakuannya juga bangke gue yang manusia aja kesel ngeliatnya apalagi penunggu kamar itu." Celoteh El bicara sendirian sambil menunggu pintu lift terbuka.


"Selamat pagi pak."


"ASTAGA!!!! Tamy kamu ngagetin saya aja sih, Itu rambut kenapa diurai gitu coba? Biasanya juga di cepol." Semprot El pada Tamara, Salah satu karyawan nya. Dimarahi El tanpa ada sebab membuat Tamara mengerutkan kedua alisnya.


"Ya saya gak tau kalo bapak lagi melamun, Maaf." Ucap Tamara menundukan kepala nya.


"Gak melamun saya, Cuma lagi mikir aja. Maaf marah-marah sama kamu, Tapi saya beneran kaget liat kamu dengan rambut terurai gitu, Diiket dong biar rapi." Kata El merasa bersalah karena sudah memarahi Tamara hanya karena ia kaget padahal Tamara sama sekali tidak mengagetkan nya.


Tidak lama pintu lift terbuka, El segera masuk kedalam sana sedangkan Tamara masih berdiri diluar takut jika ia akan kena marah lagi jika ikut masuk.


"Kamu gak masuk?" Tanya El menunggu Tamara. Tamara pun segera masuk kedalam dan berdiri dibelakang El.


"Tam, Saya mau tanya menurut kamu di zaman sekarang ini ada gak manusia yang masih bisa ketempelan setan atau hantu gitu." Tanya El sedikit ragu takut jika pertanyaan ditertawakan oleh Tamara.


"Ada pak, Nyata malahan saya pernah ngalami sendiri hal itu." Jawaban Tamara membuat El melongo.


"Serius? Kamu yang ketempelan?" Tanya El penasaran.


"Bukan saya pak, Tapi mantan saya ketempelan janda." Sahut Tamara, Untung ia seorang wanita jika pria mungkin El sudah menghempaskan nya. Sepertinya di perusahaan ini tidak hanya Daniel yang memiliki otak gesrek tapi ada beberapa orang juga yang hampir mirip dengan Daniel.


"Saya kira kamu beneran pernah ngalamin." Sahut El sedikit kesal.


"Serius pak, Janda itu hantu perempuan yang meninggal 10 tahun silam. Dia seorang janda kembang di desanya saat itu, Karena banyak yang memperebutkan dia akhirnya para ibu dan istri-istri yang suaminya ikut ngejar-ngejar janda itu marah dan sepakat untuk ngusir dia dari desa. Gak cukup itu aja, Wajah cantiknya dirusak disiram air panas sampai melepuh. Saat dihutan mau nyelamatin diri beberapa orang mengejar dia, Dia lari dengan sisa tenaganya dia terus lari sambil nahan rasa sakit di badan dan mukanya sampai akhirnya dia jatuh ke jurang dalam dan meninggal dunia. Mulai saat itu juga rohnya gentayangan menghantui para warga untuk menuntut balas dendam. Ya bisa dibilang dia mati penasaran gitu."


Mendadak El merasa merinding mendengar cerita Tamara. Padahal El yakin kalau zaman modern dan canggih seperti sekarang ini tidak ada lagi yang namanya hantu. Tapi mendengar cerita Tamara barusan, sepertinya El harus mengubah keyakinannya tentang hal-hal yang berbau mistis.


Tidak lama pintu lift terbuka karena masih penasaran dengan cerita hantu janda itu El bukannya menuju ruangannya ia malah mengikuti Tamara yang saat itu ingin memphoto copy beberapa file.


"Bapak gak ada kerjaan? Kok ngikutin saya? Mau bantuin kerjaan saya?" Tanya Tamara, Tuh kan El beneran baru tau kalo di kantornya ada banyak anak didik Daniel.


"Saya masih penasaran sama cerita kamu.


"Ya gak lah pak, Bapak kira mantan saya dan keluarganya itu orang kriminal." Sahut Tamara sedikit kesal.


"Ya gak gitu, Kan tadi kamu bilang dia gentayangan untuk balas dendam sama orang-orang yang udah jahatin dia. Makanya saya tanya mantan kamu kok bisa ketempelan? Emang ada hubungan apa? Lagian udah mantan juga masih dibelain, Kamu gak bisa move on ya dari dia?" Sebenarnya virus gesrek itu menyebar lebih cepat daripada virus corona. Bagaimana bawahan tidak ikut bobrok kalau atasan nya saja kelewat bobrok.


"Ya karena dia mantan terindah buat saya. Jadi gini ceritanya, Waktu itu dia main kerumah paman nya yang kebetulan satu desa sama hantu janda itu. Nah mantan saya itu punya sifat humoris yang tinggi, Ya bisa dibilang hyper aktif gitulah dari kelakuan sampai cara bicara nya. Nah saat itu dia gak sengaja buang air kecil dihalaman rumah hantu janda itu, Pas malamnya biasa aja tapi perubahan terjadi saat dia pulang ke Jakarta. Dia sering melamun sendirian, Kea orang kehilangan semangat untuk hidup gitu. Pokoknya beda banget sama dia yang biasanya, Saja juga ikutan heran ngeliatnya. Sampai akhirnya dia ngurung diri sendirian di dalam kamar kosnya selama seharian dan saat dibuka paksa sama bapak kos, Dia mau nyoba bunuh diri katanya diajakin sama perempuan cantik gitu. Habis itu orangtua mantan saya bawa mantan saya itu berobat ke orang pintar nah disitu baru ketahuan kalo mantan saya ditempelin sama hantu janda." Jelas Tamara makin membuat bulu kuduk El berdiri.


Mendengar hal itu El benar-benar merasa khawatir pada Daniel ditambah sikap Daniel tadi pagi sama persis seperti yang dibilang Tamara.


"Terus ngobatinnya sama siapa? Dukun?" Tanya El penasaran.


"Iya pak, Dan sekarang mantan saya udah gak tempelan janda itu lagi tapi....." Tambah Tamara menghentikan ucapannya, Raut wajahnya mendadak murung menandakan bukan kabar baik yang akan didengar El.


"Tapi?" Tanya El lagi membuka matanya lebar dan antusias.


"Dia ketempelan anak kuliahan pak, Dan besok hari pernikahan mereka. Saya sedih pak ditinggal nikah gitu. Dia pacaran sama saya tapi nikahnya sama orang lain, Kan jahat pak. Dia bilang saya terlalu sibuk sama karir." Sontak membuat El membuang nafas jengah serasa ingin menenggelamkan gadis yang ada dihadapannya ini.


"Ya udah kalo gitu saya ke ruangan saya dulu ya." Kata El ingin segera pergi namun Tamara kembali bicara membuat langkah El terhenti.


"Pak."


"ASTAGA TAMY! Kamu kenapa sih hari ini rusuh banget sama rambut kamu, Tadi kan saya udah bilang di ikat." Kata El kembali kaget saat Tamara sudah berdiri tepat dihadapan nya dengan rambut yang kanan kirinya menjuntai bebas ke depan ala the Sacred Riana.


"Nih diiket jangan diurai gitu!" Kata El memberikan jepitan kertas pada Tamara.


"Pak rambut saya perawatan nya mahal, Masa iya diiket sama jepitan kertas gini kasian dong rambut saya." Kata Tamara yang tidak jauh dari sifat Daniel.


"Kenapa lagi kamu masih mau ceritain mantan kamu yang besok nikah?" Tanya El mulai naik darah menghadapi Tamara.


"Gak pak, Saya cuma mau ngasih tau. Kalo emang ada anggota keluarga atau kerabat bapak yang ketempelan buruan diobatin pak, Karena dia bisa jadi gila dan paling parah lagi dia bisa mati pak." Mendengar hal itu jantung El berdegup kencang, Kakinya langsung terasa berat ingin melanjutkan langkahnya. Semua pikirannya kini tertuju pada sosok Daniel yang menurutnya Daniel sedang ketempelan hantu perempuan dari Korea.


Tanpa pikir panjang El langsung masuk kedalam lift dan kembali keruangan Daniel. El berlari cepat hingga menuju ruangan Daniel takut ia akan berbuat hal nekat entah itu bunuh diri atau apalah itu.


"Dan!....." Dilihatnya Daniel sedang memegang pisau cutter, Dengan cepat El berlari menghampiri Daniel dan merebut pisau bermata tipis itu membuat Daniel bingung.


"Lo.....Lo sadar Dan, Lo jangan mau di pengaruhi sama setan yang nempelin lo. Inget anak istri lo Dan!" Kata El makin membuat Daniel bingung.


"Istigfar Dan, Lo pasti bisa ngelawan setan itu. Setan itu musuh nyata kita Dan, Lo jangan sampai terpengaruh sama dia dan mau ngikutin dia ke neraka."


"Lo ngomong apaan sih El?" Tanya Daniel bingung melihat El bersikap aneh pada dirinya.


"Ya lo yang kenapa? Lo masih bisa inget gue kan? Lo....Lo gak lupa kan? Lo harus ngelawan hantu perempuan yang nempelin lo waktu di Korea." Ucapan El benar-benar membuat Daniel bingung. Daniel berdiri lalu meletakan telapak tangan nya di dahi El.


"Lo sakit? Mau gue anter ke tukang urut?" Tanya Daniel, El langsung menepis tangan Daniel di dahinya.


"Bangke! Lo ngapain pegang cutter? Ada yang bisikin lo untuk bunuh diri ya?" Tanya El lagi yang masih mengira jika Daniel benar ketempelan.


"Ya gue mau motong ini karena gunting gue ilang, Lupa naro. Lo gila apa? Siapa juga yang bisikin gue? Dan ngapain juga gue bunuh diri hidup gue indah El, Gak mungkin gue sia-sia in." Mendengar hal itu El merasa lega dan bisa duduk tenang.


"Ya terus kenapa lo kea orang ketempelan gitu tadi pagi? Gue pikir lo kerasukan hantu cewek yang ada di hotel kemaren karena tiba-tiba kea orang gak punya semangat hidup gitu." Sahut El, Sontak Daniel tertawa kencang sambil memegangi perutnya.


"El.....El, Lo itu......" Ucap Daniel dan kembali tertawa lagi.


"Kok bisa sih lo mikir gitu huh? Sejak kapan lo percaya sama hal begituan?" Sambung Daniel.


"Ya lu ****! Kenapa juga sosoan kea orang mau mati gitu, Terus jadi inget aja sama kamar lo yang ada penunggunya dan ditambah cerita dari si Tamy tentang mantan nya yang ketempelan itu sikapnya ya sama persis kea lo tadi pagi, Jadilah imajinasi gue." Jelas El membuat Daniel kembali tertawa keras.


"Gue gue karena gue lagi bete, Kan lo tau sendiri gimana kebutuhan laki-laki saat jauh dari istri. Nah pas giliran seneng-senengnya akhirnya bisa ketemu eh si palang merah datang, Ya bayangin dong gimana rasanya." Jelas Daniel alasan nya bersikap malas seperti tadi pagi.


"Jadi karena jatah yang tertunda? Bazengan banget sih emang lo ya! Gue udah mikir kemana-mana dan ternyata cuma karena hal itu doang lo kea ayam ketelan karet gitu. Sialan lo tau gak!"


"Ya elu oon, Ngapain mikirnya kesitu? Lagian biasanya lo juga gak pernah repot sama sikap gue kenapa jadi care gini?"


"Serah lu deh, Gak bisa berkata-kata lagi gue." El langsung angkat kaki dari ruangan Daniel membuat Daniel kembali tertawa keras jika ingat semua yang dikatakan El.


Bersambung