Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Aku menunggumu bicara



Keesokan harinya Baron mengatur waktu untuk bertemu Kenan di sebuah cafe yang sudah ia pilih. Karena masih belum menemukan jalan keluar Ken mau tidak mau mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Baron tanpa bisa banyak melawan.


"Apa lagi yang lo mau? Bukannya kemaren udah gue jelasin untuk pembagian saham harus melewati beberapa prosedur yang berlaku." Tanya Kenan yang baru saja sampai di tempat itu.


"Duduk dulu lah, Kita udah lama gak makan siang bareng. Kalo di inget-inget terakhir makan siang bareng sebelum lo dikirim sama bokap lo ke luar Negeri." Ucap Baron santai mempersilahkan Ken duduk. Dengan wajah datar dan kesal Kenan menarik bangku itu lalu duduk sesuai perintah Baron.


"Gue penasaran gimana hubungan lo sama Daniel selama ini. Lo pasti pura-pura gak ngenalin istrinya yang nyatanya adalah mantan lo itu kan. Akting lo emang selalu terlihat luar biasa." Ucap Baron selalu memancing emosi Kenan.


"Kalo lo nyuruh gue datang kesini cuma untuk dengerin semua omong kosong dan basa-basi lo, Sorry gue punya banyak kerjaan yang lebih penting!" Sahut Kenan mulai muak dengan pria bertato yang ada di depannya saat ini. Mendengar hal itu Baron malah tertawa sombong.


"Kan udah gue bilang, Kita makan siang dulu. Silahkan lo pesen makanan lo."


"Gue gak lapar. Kalo emang gak ada lagi yang mau lo omongin, Gue balik sekarang." Kenan berdiri ingin meninggalkan Baron ditempat itu namun saat itu juga langkahnya terhenti melihat siapa yang baru datang.


"Selamat siang El dan Daniel, Silahkan duduk dan mari kita makan siang bersama." Ucap Baron, Tubuh dan lidah Kenan seketika serasa kaku tidak tau mau kemana dan ingin berkata apa. El dan Daniel duduk di satu meja yang sama dengan Baron dan Kenan saat ini. El melihat kearah Kenan yang sangat terlihat gugup saat ini, Apalagi saat Daniel melihat kearahnya.


"Ken, Ayolah duduk dulu sebentar. Gak sopan kalo lo pergi disaat pak El dan pak Daniel datang. Bukannya perusahaan kalian bekerja sama?"


"Silahkan duduk pak Ken." Sambung Daniel dengan raut wajah yang sangat sulit untuk ditebak bahkan El yang sangat mengetahui Daniel pun tidak bisa mengartikan raut wajah sahabatnya itu saat ini. Ken akhirnya terpaksa duduk, Ia pasrah jika Baron memberitahu pada Daniel tentang hubungannya dan Dara saat dulu.


"Apa mau lo?" Sambar El dengan tatapan tajam seperti mata seekor elang yang sedang mengintai mangsa.


"Gak lo, Gak ade tiri gue selalu tanya apa mau gue. Oh iya kalian harus tau kalo Ken ini sebenernya adalah ade tiri gue. Bokap nya ah maaf maksud gue almarhum bokap dia nikah sama nyokap gue." Jelas Baron Kenan mengepal jari-jarinya menahan rasa emosi yang hampir meluap saat ini dan itu disaksikan oleh Daniel dan El.


"Mau lo apa?" Tanya Daniel sekali lagi dengan wajah marah.


"Mau gue? Lo serius mau denger mau gue? Ummmm simple sih, Gue cuma mau ngenalin siapa sebenernya ade tiri gue ini. Tadinya sih gue gak pengen lo tau, Tapi karena ada beberapa hal yang bikin gue kesel ya akhirnya gue milih untuk ngenalin dia ke lo." Mendengar hal itu keluar dari mulut Baron El langsung berdiri dan menarik kerah baju Baron bersiap ingin melayangkan tinjuan nya ke wajah Baron namun Daniel menghentikannya membuat El tidak bisa berbuat banyak. Kenan pun saat ini hanya bisa diam, Rasanya lebih baik Daniel tau daripada ia harus dijadikan budak oleh Baron.


"Kok lo yang emosi sih El? Dari dulu lo gak pernah berubah ya. Mau sampai kapan lo menjadi pahlawan buat si Daniel? Sekali-kali biarin ajalah dia menghadapi semua sendiri tanpa bantuan dari lo. Lo bukannya nunjukin kalo lo peduli sama dia melainkan lo nunjukin kalo dia gak bisa apa-apa tanpa lo dari dulu sampai sekarang."


Dan akhirnya sebuah pukulan keras pun mendarat tepat diwajah Baron hingga membuat bibir pria licik itu mengeluarkan darah segar.


"Sekali lagi lo ngomong gue bersumpah bakalan robek mulut lo!" Ancam El, Melihat itu Daniel yang sejak tadi hanya diam langsung menarik kuat El hingga El terduduk kembali ke kursinya.


"Baron bener, Selama ini lo selalu bantuin gue. Lo selalu menyusahkan diri lo karena gue. Untuk kali ini gue mohon, Tolong diam dan tahan diri lo, Jangan selalu berdiri di depan gue dan meletakan gue dibelakang lo." Ucapan Daniel kali ini sukses membuat El tercengang, Ia tidak menyangka jika Daniel bisa berfikiran sama seperti Baron. Sedangkan Baron saat ini tertawa bahagia, Ia bahkan tidak perduli dengan luka di sudut bibirnya.


Melihat itu semua Ken merasa bahwa ini semua adalah kesalahannya. Ia memegangi bahu El dan saat El melihat kearahnya Kenan mengangguk pasrah tanda ia siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi padanya jika Daniel tau bahwa ia dan Dara dulunya memiliki hubungan yang spesial sebagai sepasang kekasih.


"Dan, Lo kok bisa mikir gitu sih? Kita udah kek sodara. Masalah lo masalah gue dan masalah gue juga masalah lo, Gak ada batas diantara kita." Kata El berusaha meyakinkan Daniel jika pemikirannya saat ini salah.


"Tapi lo bukan gue, Dan gue juga bukan lo. Akan selalu begitu dari dulu sampai kapanpun bukan karena batas tapi kita memang berbeda. Dan lo, Apa yang mau lo omongin cepet lo omongin sekarang." Kata Daniel datar membuat El tidak percaya sekaligus untuk pertama kalinya ia merasa kecewa pada sosok Daniel yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri..


"Bagus kalo akhirnya lo sadar sama semua hal itu. Lo harus tau siapa sebenernya pria yang lo panggil dengan nama PAK KEN yang lagi bediri kaku di samping lo itu."


"B*****t!!!!!! Tutup mulut lo atau gue bakalan matiin lo saat ini juga!" Kembali teriak El, Untungnya cafe ini sudah di pesan secara pribadi oleh Baron hingga tidak ada orang lain kecuali mereka berempat.


"El cukup gue bilang, Please kalo lo masih anggap gue sebagai sahabat lo." Mau tidak mau El munutup rapat mulutnya, Ia benar-benar merasa sangat marah saat ini hingga wajahnya terlihat merah.


"Lanjutin apa yang mau lo jelasin!" Suruh Daniel pada Baron yang merasa sudah menang saat ini. Ia baru saja merubah rencana awalnya daripada mengancam El hanya dengan benda-benda yang membuatnya tidak terpengaruh sedikitpun akan lebih baik jika ia mengendalikan El lewat Daniel karena ia tau saat ini hati Daniel sedang dirundung rasa ragu pada orang-orang terdekatnya.


"Kenan Abner adalah mantan pacar dari istri lo. Dan gak cukup disitu, Lo bisa liat beberapa photo ini akan menjelaskan betapa dekat hubungan mereka dari dulu sampai sekarang." Baron lalu menyerahkan beberapa lembar photo yang ia ambil secara diam-diam waktu itu.


"Dan gue bisa jelasin itu semua gak seperti yang lo kira. Gue emang ketemu Dara waktu itu tapi itu karena gak sengaja, Gue juga gak ngobrol sama dia. Gue ngobrol sama bang Rendy sambil gendong anak lo dan saat itu Dara datang." Kenan berusaha menjelaskan berharap jika Daniel mau mendengarkan semua penjelasannya.


"Lo liat sendiri di photo itu cuma ada mereka berdua." Sambar Baron, Daniel kembali melihat photo itu dan benar saja disana hanya ada Kenan dan Dara.


"Dan please ini bener-bener gak seperti yang lo kira. Kalo gak percaya lo bisa tanya Dara." Bela Kenan tidak ingin Daniel terpengaruh oleh Baron yang sengaja ingin mengambil untung dari semua ini.


"Dan, Lo boleh gak percaya sama Kenan. Tapi lo harus percaya sama Dara." Tambah El ikut


angkat bicara.


"Lantas kenapa istri lo nyebunyiin fakta kalo dia sebenernya udah saling kenal sama Ken." Hasut Baron menambah panas suasana.


"Lo bisa diem gak? Mau gue robekin tu mulut!!!" Ancam El yang sangat kesal karena Baron terus mempengaruhi Daniel. Sedangkan Daniel masih betah berdiam diri sambil terus mengamati photo itu.


"Dan, Lo gak mungkin percaya kan sama semua omong kosong ini. Gue tau lo, Lo juga udah tau Baron dari dulu." Sambung El masih berusaha tetap meyakinkan Daniel, Sedangkan Kenan tidak tau lagi harus bagaimana menjelaskan pada Daniel.


"Kalo gue jadi lo, Gue gak akan mau lagi berhubungan sama mereka. Lo punya segalanya dan lo bisa berdiri sendiri tanpa mereka." Baron kali ini sangat yakin jika ia bisa menghancurkan El lewat Daniel.


"Tapi sayangnya gue bukan lo, Dan lo bukan gue. Karena gue selalu butuh orang-orang seperti mereka." Ucapan Daniel sontak membuat yang lain kaget termasuk Baron.


"Gue udah tau semuanya kalo istri gue dan pak Ken dulunya pernah punya hubungan. Tapi seberapa besarpun rasa marah gue dan curiga gue itu semua gak bisa ngalahin rasa percaya sama istri gue. Jadi kalo lo mikir dengan menghasut gue lo bisa dapatin yang lo mau, Lo salah besar." Sambung Daniel, El yang mendengar langsung tersenyum lebar ia tau bahwa Daniel tidak akan mudah terpengaruh apalagi oleh ucapan Baron.


Merasa kalah Baron mengeluarkan senjata api yang memang sudah ia siapkan, Ia mengarahkan nya tepat di kepala Daniel yang saat itu berada paling dekat dengannya.


"Kalo kalian berani melawan gue bakal tembak kepalanya sekarang juga!" Kenan dan El langsung mengangkat kedua tangannya, Akan sangat berbahaya jika El dan Ken mengambil tindakan.


Kenan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Baron, Ia langsung menghubungi pengacara almarhum ayah nya dan meminta untuk membagi saham peninggalan mendiang ayahnya itu.


"Gue udah lakuin yang lo minta, Sekarang lo lepasin Daniel!" Bentak Kenan, Namun sifat licik Baron sudah terbaca. Walaupun Kenan sudah melakukan hal yang ia minta ia tidak akan mau membebaskan Daniel, Ia malah menyeret Daniel menuju pintu keluar.


Daniel yang saat ini sedang menjadi sandera tidak lantas diam menunggu pertolongan dari Ken dan El. Tangannya pelan-pelan meraih garpu yang ada diatas meja dan dalam sekejap garpu itu tusukan ke bahu Baron hingga pria itu terluka dan melepaskan Daniel. Setelah Daniel bebas dari ancamannya giliran El yang maju. Tangannya sudah sangat gatal sejak tadi ingin segera menghajar Baron. El terus memukuli Baron tanpa ampun membuat pria itu babak belur hanya dalam hitungan menit.


"El...." Panggil Ken saat El ingin melayangkan sebuah tinjuan keras. El lupa jika Ken adalah adik tiri dari Baron, Niatnya pun ia urungkan karena merasa tidak enak pada Ken. Ken menghampiri El dan Baron yang sudah hampir tidak sadarkan diri.


"Sisain buat gue." Ucap Ken mengambil alih pukulan El untuk Baron. Dengan kuat dan keras Ken menghantam wajah Baron hingga darah segar langsung mengalir deras dari hidungnya dan Baron saat itu juga langsung tidak sadarkan diri.


"Gue pikir lo nyuruh gue berenti karena gak tega sama dia inget dia kakak tiri lo." Gumam El tersenyum pada Ken.


"Ka......Kalian bedua gak matiin dia kan?" Tanya Daniel yang menghampiri Ken dan El yang tertawa puas melihat Baron seperti saat ini.


"Nyaris tewas." Sahut Ken santai tidak merasa bersalah.


"Bu......Buruan kita pergi dari sini sebelum ada yang liat kita dan ngira kalo kita udah bunuh dia. El ayo buruan pergi, Anak-anak gue masih kecil El." El dan Ken tertawa mendengar hal itu.


"Tunggu bentar." Sahut El, Ia menggeledah kantong Baron untuk mencari hape milik pria yang sedang tidak sadarkan diri itu. Setelah menemukan Hp milik Baron ia lantas berphoto ria disamping tubuh Baron lalu mengirimkannya ke seluruh nomor telepon milik anak buah Daniel...


"Biar anak buahnya tau kalo bosnya lagi sekarat disini. Entar dia mati gak ada yang tau mayatnya dimana." Ucap El, Sontak Ken tertawa mendengar hal itu. Setelah puas mereka langsung pergi dari sana.


***


Malam ini perasaan Dara sangat tidak tenang, Ia terus memikirkan semua masalah yang ia hadapi. Terlebih dengan sikap Daniel sekarang ini rasanya ia tidak sanggup lagi jika harus terus menyembunyikan semua.


"Kamu belum tidur?" Ucap Daniel yang tau istrinya tidak bisa tidur dan gelisah, Ia memeluk tubuh Dara sambil membelai rambutnya.


"Aku......Aku lagi gak bisa tidur." Sahut Dara, Ingin sekali ia bercerita tentang Kenan tapi lidahnya serasa kelu tidak bisa mengatakan hal apapun.


"Ada kamu pikirkan?"


"Entahlah." Sahut Dara singkat tidak tau kapan ia akan memulai untuk bicara pada Daniel tentang masalah yang ia hadapi sekarang ini.


"Akhir-akhir ini kamu sering melamun, Kamu juga gak konsen. Kamu mikirin apa sih sebenernya? Kamu gak mau cerita sama aku? Ada yang kamu sembunyiin?" Ucapan Daniel seketika membuat Dara diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini bagaikan serangan mendadak bagi Dara membuat dadanya terasa sesak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya.


"Ay......Sebatas apa kesabaran kamu menghadapi aku?" Tanya Dara membalikan tubuhnya menghadap kearah Daniel. Kini wajah mereka saling berhadapan membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Batas kesabaran? Bohong kalo aku bilang aku gak punya batas kesabaran karena nyatanya aku cuma manusia biasa. Yang aku punya tanpa batas adalah cinta, Cinta yang gak pernah ada batasnya untuk kamu dan anak-anak kita. Dan cinta itu juga yang buat aku sabar dalam segala hal." Sahut Daniel, Lagi dan lagi hati Dara serasa tertusuk pisau tajam yang langsung menembus dadanya. Bagaimana bisa ia bersikap tidak adil pada pria yang mencintainya ini.


"Hei.....Kok kamu nangis?" Tanya Daniel mengangkat wajah Dara yang ia sembunyikan di dada Daniel.


"Ada yang mau kamu omongin sama aku?" Tanya Daniel sekali lagi, Dara memejamkan kedua matanya dan menganggukan kepalanya pelan.


"Tentang apa?" tanya Daniel lagi menghapus airmata istrinya. Dara menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai bicara.


"Ini semua tentang aku dan Ken." Jawab Dara pelan dan sedikit ragu. Daniel diam menunggu Dara melanjutkan kembali ceritanya.


"Sebenarnya aku dan Ken sudah saling kenal satu sama lain. Ka......Kami dulunya pernah menjalin hubungan saat masih SMA. Tapi sumpah aku gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia sekarang ini, Kita gak sengaja ketemu karena kebetulan dia investor baru di perusahaan bang El. Sumpah aku gak bermaksud untuk nyembunyiin ini dari kamu, Aku cuma bingung aku gak tau harus bilang apa ke kamu. Aku takut kamu marah, Aku takut kemarahan kamu berimbas sama hubungan kerjasama perusahaan. Aku takut, Aku takut kamu gak percaya sama aku." Tangisan Dara pun langsung pecah, Ia tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Ia terus menangis di hadapan Daniel yang kini hanya diam sambil terus menatapnya. Dara yakin Daniel pasti akan marah padanya karena ia memang bersalah menyembunyikan semua ini dari Daniel. Andai saja waktu bisa diputar kembali maka orang pertama yang akan Dara beritahu adalah suaminya, Walaupun Daniel akan marah tapi setidak nya ia tidak menyembunyikan semua itu sejauh ini.


"Terimakasih karena sudah berkata jujur sama aku, Walaupun sedikit terlambat. Terimakasih karena di dalam hati kamu, Kamu memiliki rasa takut kehilangan aku. Dan terimakasih karena selalu memikirkan hal terbaik untuk ku." Tangis Dara pun langsung berhenti ketika pria itu mengecup keningnya dengan lembut. Dara sedikit kaget karena Daniel tidak marah padanya.


"Kamu gak marah?" Tanya Dara sesegukan. Daniel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku udah tau itu tentang itu semua sejak malam pesta waktu itu. Karena kamu terlalu lama di toilet aku nyusul kamu dan aku denger semua, Denger percakapan kamu sama pak Ken. Awalnya aku ngerasa marah banget pengen banget ngehajar pak Ken saat itu juga. Tapi aku sadar bahwa dia juga hanya seorang pemain yang diatur oleh takdirnya, Dan dari semua hal itu sikap tegas kamu ke dia yang bikin emosiku mereda, Terimakasih tetap bertahan untukku." Ucap Daniel menjelaskan semua pada Dara jika selama ini ia sudah tau tentang hubungan Dara dan Kenan dimasa lalu.


"Terus kenapa kamu diam dan gak bilang ke aku kalo kamu udah tau semua." Tanya Dara masih belum bisa menghentikan tangisannya.


"Aku nunggu saat ini. Saat kamu siap untuk ngomong langsung sama aku, Karena aku percaya kamu gak akan menyembunyikan hal apapun dari aku." Tangisan Dara kini makin kencang, Ia sudah tidak tau lagi harus mengucapkan apa yang jelas ia adalah satu-satunya wanita yang paling beruntung di dunia karena memiliki seseorang seperti Daniel.


"Udah dong nangisnya, Entar orang rumah pada bangun loh. Aku gak marah kok sama kamu, Serius." Ucap Daniel tersenyum sambil memeluk Dara. Dara langsung memeluk Daniel dengan erat ia bahkan tidak bisa menatap wajah Daniel saat ini. Ia merasa pria itu terlalu sempurna untuknya ia bahkan tidak tau harus bagaimana lagi saat ini yang hanya ingin ia lakukan adalah terus bersama dan memeluk erat pria ini hingga akhir.


"Maaf......Maafin aku karena baru ngomong semua ini ke kamu. Maaf karena gak bisa secepatnya berterus terang sama kamu, Maaf karena aku udah jadi istri yang gak baik untuk kamu." Kata Dara sambil menangis dalam pelukan Daniel.


"Ssssttt........Siapa yang bilang kamu bukan istri yang baik untuk aku? Justru karena kamu aku bisa hidup lebih baik dari sebelumnya. Jangan pernah ngomong ataupun mikir kalo kamu bukan yang terbaik untuk aku. Dari kamu aku belajar mencintai dengan tulus, Dari kamu aku tau rasanya mencintai dan dicintai dan karena kamu juga hidupku lebih sempurna." Airmata Dara seolah tidak bisa berhenti mengalir malam ini karena Daniel. Sungguh ia tidak pernah menyangka betapa ia beruntung memiliki Daniel.


"Aku mencintai kamu tanpa alasan, Tanpa kenapa, Tanpa tetapi dan tanpa pertanyaan lainnya. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku dan membuatku belajar mengerti tentang kehadiran kamu. Aku ingin mencintai kamu lebih banyak dari debar, Lebih besar dari sabar, Dan lebih lama dari selamanya." Ucap Daniel mencium bibir Dara yang basah karena air mata.


Dan semua kekhawatiran itu akhirnya berakhir malam ini tanpa ada salah faham antara mereka berdua.


Dia tidak hebat seperti yang lain, Dia bahkan terkesan biasa saja. Tapi dia bisa membuat aku bahagia dengan hal\-hal sederhana yang ia punya.


\_Dara\_