Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Hanya salah satu



Setelah selesai berziarah El dan Luna pulang, Sepanjang jalan El dan Luna diam tidak bicara sama sekali. Padahal saat ini Luna ingin sekali bertanya tentang pak Bram padanya tapi ia tidak ingin mengalihkan konsentrasi El apalagi El sedang mengendarai mobil saat ini.


Sedangkan El sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya bicara jujur pada Luna tentang ibu kandungnya.


Setelah lebih setengah jam berkendara mereka akhirnya sampai dirumah. El membantu Luna turun dari mobil dan membawanya masuk.


"Kamu mandi dulu habis itu istirahat ya, Abang buatin susu hangat buat kamu." Ucap El membawa Luna kekamar mereka, Ketika El berbalik tangan Luna lebih dulu menghentikannya membuat El melihat kearahnya.


"Kita bicara sebentar yuk." Kata Luna pelan dan lembut. El menatap wajah polos Luna yang tidak tau apa-apa tentang kematian ibunya itu. Ia mengangguk lalu duduk ditepi ranjang membawa Luna.


Luna tidak langsung menanyai El, Ia meraih tangan suaminya itu lalu mengecup punggung tangan El dengan lembut.


"Siapapun abang, Gimanapun masa lalu abang. Abang tetap suami yang terbaik untuk ku. Hanya saja kita belum sempat berkenalan satu sama lain saat itu." Kata Luna tersenyum pada suaminya.


"Akankan kamu tetap tersenyum saat kamu tau kebenaran nya?" Ucap El dalam hati, Dadanya terasa sesak sampai kapan ia menyembunyikan hal ini dari Luna? Ini kah cinta? Jika iya kenapa harus berbohong? Namun jika ia harus jujur maka kemungkinan ia akan kehilangan cinta itu.


"Ngeliat kamu kek sekarang, Abang penasaran kecilnya gimana." Ucap El tersenyum melihat Luna.


"Kata ayah waktu aku kecil aku anak yang periang, Cerewet gak bisa diem, Tukang protes juga. Sedangkan yang aku ingat aku ini anaknya pinter selalu juara dikelas. Tapi semenjak kematian bunda, Prestasiku mulai menurun mungkin karena shock. Diumur yang baru menginjak usia 5 tahun aku kehilangan bunda. Bunda itu manusia paling baik yang ada didunia karena hal itulah Tuhan sayang sama bunda dan ngambil bunda lewat penyakitnya." Mendengar hal itu hati El benar-benar sakit sekaligus kaget karena Luna bilang ibunya meninggal karena penyakit bukan kecelakaan.


"Penyakit?" Ucap El ragu, Luna mengangguk wajahnya berubah sedih mengingat hal itu.


"Kata ayah bunda sakit kanker darah stadium akhir, Walaupun diobati semua itu bakalan percuma kecuali Tuhan memberikan keajaibannya untuk bunda." El terdiam, Apa mungkin saat kecelakaan Luna mengalami amnesia dan kehilangan ingatannya.


"Jadi bunda kamu meninggal karena sakit?" Luna mengangguk pasti membuat El yakin jika Luna melupakan hal terpenting sekaligus menyakitkan itu.


"Dan yang bikin aku sedih banget, Bunda meninggal saat aku juga lagi dirawat dirumah sakit. Kata ayah aku mengalami kecelakaan waktu pulang sekolah karena nyebrang gak hati-hati jadilah ketabrak." Tambahnya lagi membuat El benar-benar merasa terpukul.


"Tapi sekarang aku gak ngerasa sedih lagi. Aku yakin kedua orangtua ku sekarang berada disurga dan yang paling penting sekarang aku punya abang. Sekarang giliran abang yang cerita tentang masa kecil abang."


El diam menelan ludah, Bukan karena takut identitasnya terbongkar tapi karena sesak yang ia rasakan saat menatap wajah Luna.


"Gak banyak kenangan abang, Bahkan sama sekali gak ada hal yang menyenangkan. Sama halnya seperti kamu, Abang kehilangan salah satu orangtua abang yang paling abang cintai. Hanya saja kamu masih bisa tetap bahagia bersama ayah kamu, Sedangkan abang gak. Setelah mama meninggal, Abang kabur dari rumah gak bawa apa-apa cuma uang tabungan milik abang sendiri.


Abang pikir semua akan baik-baik aja, Abang cuma perlu bekerja mencari uang untuk makan. Tapi nyatanya itu sangat sangat sulit. Anak buah papa sudah berkali-kali datang untuk menjemput dan membawa abang kembali pulang tapi abang gak mau. Abang gak mau dibesarkan oleh......-" Ucapan El terhenti, Rasanya tidak sanggup lagi bicara jika harus mengingat hari kematian ibunya yang tewas terbunuh tepat didepan matanya karena musuh ayahnya.


Luna mengerti perasaan El, Ia mendekati El lalu memeluk El dengan lembut tidak perduli dengan kaki mungil yang menendangi perutnya sejak tadi.


"Udah gak apa-apa jangan sedih ya. Ada aku, Aku gak akan ninggalin abang apapun yang terjadi aku akan tetap berdiri disamping abang." Ucap Luna yang langsung membuat airmata El jatuh.


***


"Akhirnya kita sampai sayang, Selamat datang dirumah." Ucap Daniel saat mereka tiba dirumah Daniel.


"Pelan-pelan sayang luka kamu belum sembuh." Katanya lagi membantu Dara turun dari mobil. Sedangkan anak kembar mereka dibawa oleh kedua orangtua Dara.


"Mama yakin sementara waktu tinggal disini? Papa gak apa-apa ditinggal sendirian dirumah?" Tanya Dara pada bu Fina.


"Iya, Paling lama sampai luka kamu sembuh dan kalian dapat pengasuh buat Davin dan Devan. Papa gak masalah kok, Lagian ada kak Rendy yang temenin papa dirumah." Sahut bu Fina tersenyum.


"Iya, Kamu sehat-sehat aja dulu. Papa gak apa-apa, Lagian kasian si kembar kalo gak ada yang ngurusin Daniel juga kan mesti kekantor." Sahut pak Restu membenarkan ucapan istrinya.


"Ya udah kalian masuk duluan, Aku mau angkat barang-barang si kecil." Dara, Pak Restu dan bu Fina pun masuk lebih dulu.


Tidak lama terdengar suara mobil datang, Daniel melihat siapa yang bertamu sepagi ini kerumahnya, Ternyata Rendy. Sejak malam itu Rendy dan Daniel tidak lagi saling menyapa.


Rendy segera turun dari mobil dan menghampiri Daniel yang melihat kearahnya.


"Sini gue bantuin." Ucap Rendy tanpa tau menahu meraih beberapa barang dibagasi mobil Daniel membuat Daniel heran.


"Tumben lo kesini pagi-pagi." Ucap Daniel santai.


"Kenapa? Gak boleh? Gue kesini untuk ade dan ponakan gue." Daniel tersenyum mendengar ucapan Rendy sambil mengangkat barang ingin masuk kerumah.


"Santai ajalah brader, Anggap aja ini rumah lo juga asal jangan lo jual aja." Katanya berjalan meninggalkan Rendy.


Setelah selesai mengangkut barang bawaan Rendy kembali mendatangi Daniel yang sedang berada didapur membuatkan susu untuk kedua anaknya.


"Lo kenapa ngikutin gue mulu? Bikin gue takut aja." Celetuk Daniel yang melihat Rendy seperti ingin bicara padanya.


"Lo......Lo bener tentang Clara." Katanya ragu-ragu membuat Daniel menghentikan aktifitasnya.


"Jadi lo udah tau yang sebenernya?" Rendy mengangguk menjawab pertanyaan Daniel membuat Daniel tersenyum.


"Seneng gue dengernya, Akhirnya lo sadar."


"Lo seneng gue sakit hati?" Sahut Rendy lebih keras.


"Lo sakit hati sama Clara?"


"Ya gak sakit-sakit banget sih, Tapi lumayan lah. Kalo lo yang ada diposisi gue juga gue yakin lo bakal nangis-nangis kek tempo hari waktu lo ditolak ade gue." Sindir Rendy


"Ya yang gue perjuangin kan sepadan. Gak kek Clara."


"Iyalah, Ade gue. Gue minta maaf ya atas sikap gue kemaren." Daniel mengusap bahu Rendy tidak masalah dengan yang terjadi karena Rendy belum mengenal Clara.


***


"Abang kok perut aku ngerasa mules gini ya?" Tanya Luna saat mereka sedang jalan-jalan pagi ditaman rumah. El yang langsung khawatir langsung membawa Luna duduk dibangku taman.


"Kamu pasti kecapean. Apa mungkin udah mau lahiran?"


"Tapi kata dokter hari perkiraan lahiran sekitar dua minggu lagi." Sahut Luna sambil menahan rasa sakit yang mulai makin terasa.


"Bi Luna bi, Perutnya sakit." Ucap El, Bi Irah langsung menghampiri Luna yang duduk menahan rasa sakit.


"Mas El, Mba Luna mau melahirkan ini cepat bawa kerumah sakit." El yang mendengar hal itu sontak langsung menggendong Luna membawanya ke mobil.


"Sabar ya sayang, Tahan ya." Ucap El namun Luna tidak bisa lagi menjawab El karena rasa sakit yang muncul makin sering dan terasa sangat menyakitkan.


El melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, Dan tidak membutuhkan waktu yang lama El akhirnya sampai dirumah sakit. El menggendong Luna masuk kedalam lalu petugas rumah sakit membawa kursi roda untuk Luna dan membawa Luna menuju ruang bersalin.


"Tolong tunggu diluar biar dokter yang menangani." Ucap perawat namun El tidak peduli, Ia tetap menerobos masuk kedalam ruang persalinan menyusul Luna. Ia tidak akan membiarkan Luna didalam sana sendirian merasakan sakit yang sangat menyakitkan.


"Dok, Dokter tolong selamatkan istri dan anak saya." Ucap El yang baru masuk menghampiri dokter. El langsung menghampiri Luna yang sudah terbaring di ranjang bersalin menunggu tindakan dokter. Ia menggenggam kuat tangan El bulir bening dari matanya pun jatuh membuat El juga ikut menangis seolah merasakan rasa sakit yang Luna alami.


Dokter memeriksa keadaan Luna sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.


"Pak El maaf tapi apa kita bisa bicara sebentar?" Ucap dokter melepaskan maskernya, Terlihat raut wajah serius membuat hati El tidak tenang.


"Ada apa dok?" Tanya El menghampiri dokter.


"Istri anda mengalami keracunan, Itu yang menyebabkan kelahiran dini dari perkiraan kelahiran. Kita harus melakukan operasi bius total dan berita buruknya kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya." Ucapan dokter bagaikan sambaran petir untuk El, Hatinya hancur saat itu juga bagaimana mungkin Luna mengalami hal itu padahal selama ini ia sudah menjaga dengan baik asupan makanan untuk Luna.


"Pak, Kami harap bapak bisa secepatnya membuat keputusan sebelum racun itu menyebar dan malah membahayakan nyawa keduanya." Tambah dokter, Bagaimana mungkin ia bisa memilih antara anak dan istrinya. Mereka berdua sama-sama nyawa untuk El dan takdir apa lagi saat ini yang harus El hadapi? El benar-benar kacau, Ia melihat kearah Luna yang terbaring kesakitan. Air mata nya pun tidak bisa lagi ia sembunyikan, El memejamkan matanya diam sejenak.


"Maafin daddy nak, Ini semua daddy lakuin bukan karena daddy gak mencintai kamu. Maafin daddy." Ucapnya dalam hati sambil terus menangis dalam kediamannya.


"Tolong selamatkan istri saya dok." Ucapnya berat, Kini ia merasa ia adalah ayah terburuk didunia bahkan lebih kejam dari ayah kandungnya. Walaupun ayah kandungnya seorang pembunuh tapi ia tidak pernah menyakiti El sedangkan El memilih menyelamatkan Luna daripada anaknya tentu ini membuat hatinya sangat hancur.


"Siapkan ruang operasi sekarang." Perintah dokter, Para perawat pun langsung bergegas menyiapkan operasi untuk Luna.


Dengan langkah lesu El menghampiri Luna sambil menghapus airmata nya agar Luna tidak memikirkannya namun El salah, Luna mendengar semua percakapan El dan dokter tadi membuat tangis Luna makin pecah ia menggeleng kearah El tanda tidak setuju dengan keputusan El.


"Maafin abang karena harus memilih ini,Maafin abang." Kata El berdiri disamping Luna sambil menggenggam kuat tangan Luna.


"Gak bang, Anak kita harus selamat. Aku rela ngelakuin apapun untuk anakku, Aku mohon selamatkan juga anakku. Aku mohon jangan ambil dia dariku." Kata Luna dalam tangisan dan sakitnya. Tidak lama para perawat dan beberapa dokter kembali lalu membawa Luna keruang operasi.


"Dokter, Tolong selamatkan anak saya dok. Jangan dengarin suami saya, Saya mohon dok selamatkan anak saya." Bicara pada dokter yang membawanya keruang operasi namun semua dokter tidak ada yang meresponnya.


"Dok, Tolong biarkan saya ikut mendampingi istri saya." Pinta El, Dokter pun mengangguk mengijinkan El.


Luna memasuki ruang operasi walau sepanjang jalan ia menangis sambil meminta tolong agar dokter menyelamatkan anaknya namun tidak ada yang perduli termasuk El yang hanya diam sepanjang jalan cuma air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


Semua dokter sudah siap begitu juga dengan Luna yang terus menangis dan berteriak agar dokter menyelamatkan anaknya.


Suntikan bius pun dilakukan, Perlahan suara Luna makin melemah dan pelan tidak lagi seperti tadi. Tangannya terus menggenggam tangan El, Ia juga tau ini semua berat untuk El.


"Ay....o Kita berju.....ang ber....sama. Kam....uh an...ak heb...at, Kam....uh an...ak ku...at." Ucap Luna sebelum matanya tertutup dan tidak sadarkan diri. El yang melihat benar-benar merasa sangat hancur, Setengah dari jiwanya serasa pergi saat ini.


Setelah Luna benar-benar sudah berada didalam pengaruh obat bius dokter langsung melakukan operasi.


"Ya Tuhan, Bolehkan aku berharap? Bolehkah aku meminta? Aku tau rencana Mu sangat indah, Engkau maha tau atas segalanya. Namun aku hanya manusia biasa, Aku mohon berikan keajaiban Mu untuk istri dan anakku yang belum melihat dunia. Berikan kesempatan untuk nya mendengar suara ibu dan ayahnya, Berikan kesempatan untuknya menggenggam tangan kami berdua, Aku mohon." Pinta El dalam hati, Ia yakin Tuhan akan membantunya.


El mendekati wajah Luna yang terpejam, Dipandangi nya wajah putih bersih itu lalu diusapnya airmata Luna yang tersisa dipipi.


"Kamu wanita yang kuat, Kamu wanita yang hebat karena kamu adalah wanitaku." Bisik El ditelinga Luna. Ia lalu menyanyikan lagu didekat telinga Luna, Lagu saat ia merasakan jatuh cinta pada Luna. Lagu yang diam-diam didengarkan Luna dari balkon kamarnya.


🎶Not sure if you know this but when we first met I got so nervous, I couldn't speak.


-Tidak yakin apakah kau tau ini tapi saat pertama kita bertemu aku sangat gugup, Aku tidak bisa bicara.


🎶In that very moment, I found the one and my life had found its missing piece.


-Pada saat itu juga kutemukan seseorang dan hidupku telah menemukan bagian yang hilang.


🎶So as long as I live I'll Love you, Will have and hold you. You look so beautiful in white.


-Selama aku hidup aku kan mencintaimu, Akan memiliki dan memelukmu. Kau sangat cantik bergaun putih.


🎶And from now til mu very last breath, This day I'II cherish you look so beautiful in white tonight.


-Dan mulai sekarang hingga akhir nafasku, Hari ini akan selalu ku kenang. Kau sangat cantik bergaun putih malam ini.


🎶What we have is timeless, My love is endles and with this ring I say to the world.


-Apa yang kita miliki adalah abadi, Cintaku tiada akhirnya dan dengan cincin ini ku katakan pada dunia.


🎶You're my every reason, You're all that I believe in.


-Kau adalah semua alasanku, Kau adalah segala yang aku percayai.


🎶With all my heart I mean every word.


-Dengan sepenuh hatiku, Ku ucap setiap kata sungguh-sungguh.


🎶And if a daughter is what our future holds, I hope she has your eyes, Find love like you and I did.


-Dan jika seorang anak perempuan adalah masa depan kita nantinya aku ingin ia mewarisi matamu, Menemukan cinta seperti kita.


Suara El bergetar makin sesak saat mengingat semua hal indah yang selama ini sudah dilewatinya bersama Luna dan calon anaknya. Air mata Luna juga ikut mengalir walau ia sedang dalam pengaruh bius.


Bersambung......