
"El kemaren lo bisikin anak gue apaan?" Tanya Daniel yang masih penasaran dengan hal yang membuat Devan terlihat sangat bersemangat.
"Urusan cowok berotot." Jawab El santai sambil fokus pada layar laptopnya.
"Bangke! Awas aja ya kalo lo ngajarin yang aneh-aneh sama Devan! Dia masih labil." Protes Daniel tidak terima. El mengentikan pekerjaan nya sejenak dan melihat kearah Daniel.
"Terus lo kenapa tularin sifat jelek lo ke Zea? Lo bikin anak gue jadi centil gitu apa lagi kalo ketemu sama Kenan." Sahut El yang juga tidak terima.
"Lah kapan gue nularin bambang? Emang gue ikut tanam saham kemaren pas bikin Zea? Enggak kan? Terus atas dasar apa lo bilang Zea centil karena gue huh?"
"Perlu gue data ulang daftar mantan lo? Dari A sampai Z ada. Bukti lain dan nyata dari sifat kecentilan lo itu ya waktu Jessy disini, Kalo lo gak kecentilan gak mungkin Jessy suka sama lo."
Sudah dapat ditebak jika saat ini kedua pria tampan, Bijaksana, Dan luar biasa ini sedang dirundung rasa bosan itu yang membuat bakteri-bakteri gesrek berkembang biak dengan cepat.
"Lo apaan sih bangke bawa-bawa Jessy segala huh? Kalo gue nyumpahin lo lebih dari bangke kira-kira bedosa gak gue? Yang kecentilan itu siapa huh? Yang suka dia, Yang punya perasaan juga dia kenapa malah gue yang lo cap kecentilan? Kan lacknat(Biar gak di di sensor). Lah terus Clara gimana? Lebih-lebih gila dibanding Jessy, Berarti sifat centil Zea ya nurun dari lo bambang!"
"Lo kok bawa-bawa Clara?" Tanya El berdiri menunjuk kearah Daniel.
"Terus lo ngapain bawa-bawa Jessy?" Balas Daniel tidak mau kalah sedikitpun. Prinsipnya daripada ia mengalah lebih baik ia mati.
"Lah kan emang bener, Gue kenal lo udah berapa lama huh? Gue tau senyum-senyum lo yang biasa lo pake buat cari perhatian. Berasa paling ganteng sedunia." Kata El yang kini sudah berkacak pinggang.
"Senyum gue emang dari dulu begini, Lo aja yang sirik, Makanya puas-puasin dulu masa muda lo jangan buru-buru nikah. Gak ngerti kan lo arti dari sebuah seni gonta-ganti pacar. Dan satu lagi gue ngerasa ganteng karena gue emang beneran ganteng dari dulu udah ganteng maksimal, Gue ngaca kacanya yang malu gak sanggup gue liatin lama-lama." Sahut Daniel membanggakan diri membuat El makin merasa muak dengan pria satu ini.
"Oh jadi gini kerjaan kalian kalo dikantor terus pulang sosoan kecapean gitu? Terus tadi kalo gak salah kita denger nama cewek gitu ya Lun." Betapa terkejutnya El dan Daniel mendengar suara yang tidak asing lagi di telinga mereka berdua.
"Jessy dan Clara." Sahut Luna terdengar sangat menyeramkan ditelinga El dan Daniel
"El gak salah denger kan kita?" Ucap Daniel langsung pelan tidak berani berbalik badan melihat kedatangan Dara dan Luna.
"Urus urusan masing-masing." Sahut El. langsung duduk melanjutkan pekerjaan.
"Terimakasih tanda tangannya pak, Saya permisi." Kata Daniel menarik paksa kertas yang sedang dicoret-coret El tidak jelas lalu ingin mencoba kabur keruangan nya.
"Diam ditempat!" Ucap Dara tegas membuat kaki Daniel kaku. Berkali-kali ia menelan ludah bahkan keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya.
"Sayang, Bukannya kamu ada arisan ya?" Sambung El berdiri ingin memeluk Luna namun ia tidak berani melangkah lebih dekat lagi padahal Luna hanya mengangkat kedua alisnya.
"Kita ngobrol yuk." Sahut Luna santai berjalan menuju sofa diikuti Dara. Daniel dan El menarik nafas dalam, Padahal hanya masalah yang tidak penting tapi rasanya seperti sedang kepergok mencuri berlian.
Dara dan Luna duduk begitu juga El dan Dara. Suasana berubah tegang dan horor seperti sedang melakukan adegan pembunuhan.
"Jessy siapa yang kamu maksud?" Sambar Dara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Dan kenapa membahas Clara?" Giliran Luna angkat bicara.
"Je.....Jessy anak magang." Sahut Daniel ragu. Dara menyipitkan matanya melirik kesal kearah suaminya.
"Kenapa sih semua orang bilang kalo aku kecentilan?" Protes Daniel meninggikan suara tidak sadar jika Dara masih menatapnya tajam.
"Ma....Maaf (Kembali duduk). Aku gak gitu, Kamu salah faham." Jelas Daniel mengusap kasar wajahnya. Jika melihat keadaanya saat ini siapa yang percaya jika dulunya ia seorang penakhluk hati wanita.
"Terus?" Tanya Dara, El duduk santai sambil sesekali menyembunyikan senyumnya melihat Daniel.
"Kita juga ada sesi tanya jawab." Celetuk Luna membuat wajah El seketika tegang.
"Jadi gini ceritanya, Jessy itu dulunya magang disini dan kebetulan ikut departemenku. Terus.......Umm......Je.....Jessy-"
"Jessy kenapa?" Tanya Dara tidak sabaran memotong ucapan Daniel membuat Daniel terpekik.
"Jessy, Dia nyatain perasaannya ke aku. Tapi serius aku langsung tolak dia tanpa basa-basi. Aku bahkan kasih liat photo keluarga kita dan cincin pernikahan kita. Sumpah gak ada yang aku tutup-tutupin.
"Terus kalo udah lama ngapain dibahas lagi? Kamu kangen? Atau dia masih kerja disini?" Tanya Dara melihat kearah El, Dengan cepat El menggelengkan kepalanya begitu juga dengan Daniel.
"Karena si bangk.....Eh maksudnya si El bilang kalo sifat centilnya Zea itu diturunin dari aku. Ya aku gak terima dong, Aku sayang Zea, Dia udah kek anak ku sendiri masa iya aku ngajarin yang gak-gak sama dia?" Jelas Daniel, Dara mengangguk namun masih diam dan masih memasang wajah datar.
"Apa hubungannya sama Jessy?" Tambah Dara lagi masih belum percaya.
"Ya karena Jessy suka sama aku, Dia bilang aku kecentilan tebar pesona sok ganteng untuk cari perhatian contohnya Jessy."
"Terus kenapa ada Clara?" Kini giliran Luna yang angkat bicara mengintrogasi suaminya.
"I.....Itu si Daniel yang bilang, Kalo abang dulunya kecentilan sama Clara makanya Zea bisa secentil itu kalo ketemu Kenan." Jawab El singkat dan lebih santai karena Luna sudah tau dan mengenal Clara.
"Cuma itu?" Tanya Luna lagi memastikan. El mengangguk cepat meyakinkan Luna dan Luna langsung memaafkannya.
"Beib, Serius aku gak bohong. Kamu tau sendiri gimana cinta matinya aku sama kamu, Gak ada yang lain selain kamu. Kamu hidupku, Kamu segalanya buatku." Kata Daniel mencoba meminta belas kasih agar Dara secepatnya memaafkan dirinya.
Melihat kesungguhan Daniel yang tulus, Dara akhirnya memaafkan Daniel.
"Ya udah tapi inget, Ini terakhir kalinya kita bersua denger nama cewek lain yang kalian sebut." Kata Dara memperingatkan Luna pun ikut mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya.
"Ya udah kalo gitu kita pamit ya mau arisan. Tadi gak sengaja lewat sini makanya kita mampir." Daniel dan El kini bisa bernafas lega, Dara dan Luna juga akan segera pergi.
"Eh sebentar, Bukannya Jessy itu nama pacarnya kak Rendy ya?" Tanya Dara pada Luna saat mereka berdua sudah ada didepan pintu. Luna mengingat sejenak lalu mengangguk membenarkan ucapan Dara.
"GAME OVER gue El." Ucap Daniel pasrah saat Dara kembali berjalan kearahnya.
"Ayah, Bunda tunggu penjelasannya dirumah ya." Ucap Dara dengan lembut namun seperti ingin menerkam Daniel saat itu juga. Sedangkan Daniel tersenyum penuh paksa kearah Dara.
Hei jangan baper atau bilang part ini keluar dari alur cerita ya. Ini cuma part tambahan untuk hiburan aja biar gak bosen aja kok. Anggap aja author lagi ngerjain duo hot daddy......Next tetap pada alur cerita 🤗 ditunggu kelanjutannya. Jgn bosen kasih like n komen ya 😘