
Dengan langkah gontai El kembali keruangan Dara, Wajahnya pucat seperti orang yang kehabisan darah. Masih terdengar jelas ucapan Clara ditelinganya.
"Udah urusannya?" Tanya Luna menghampiri El dengan wajah ceria yang selalu dihiasi oleh senyum manis membuat El merasakan sakit yang teramat dalam saat menatap wajah istrinya saat ini. El tersenyum kaku dan mengangguk lalu tidak lama Clara datang dengan senyum sumringah diwajahnya.
"Sayang, Aku gak bisa lama-lama bentar lagi ada pemotretan." Ucap Clara pada Rendy yang saat itu sedang ngobrol dengan Daniel.
"Oh ya udah kalo gitu aku anterin kamu." Ucap Rendy, Mereka berdua lalu pamit dan segera pergi. El duduk disofa melamun sendirian sedangkan Luna dan Dara sedang asik mengobrol.
"Lo kenapa?" Tanya Daniel menghampiri El yang sadar jika sahabat nya itu sedang memikirkan sesuatu. El menghela nafas panjang namun tidak juga bicara.
"Gue harus mastiin sesuatu." Katanya datar membuat Daniel bingung dan penasaran.
"Mastiin apa?" Kata Daniel penasaran, El melihat kearah Daniel.
"Gue titip Luna bentar ya, Gak akan lama." Katanya lalu El berdiri menghampiri Luna.
"Sayang, Kamu disini dulu gak apa-apa kan? Abang mau kekantor ada urusan mendadak. Gak akan lama kok, Entar abang jemput kesini lagi." Katanya sambil memeluk Luna membuat Luna merasa jika El sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Abang hati-hati ya." Ucap Luna, El tersenyum lalu mengecup lembut kening istrinya dan segera pergi.
"El......El lo mau kemana?" Ucap Daniel yang sejak tadi mengejar El.
"Sebenernya ada apa sih?" Tambah Daniel lagi, El berhenti sejenak dan berbalik melihat Daniel.
"Gue bakal cerita sama lo, Tapi gak sekarang. Sekarang gue pengen mastiin sesuatu dulu. Gue titip Luna bentar ya." El langsung pergi setelah mengatakan hal itu pada Daniel membuat Daniel benar-benar penasaran.
Setelah pergi dari rumah sakit El langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat yang tidak pernah ia injak atau datangi selama 25 tahun. Ya saat ini El memang sedang dalam perjalanan menuju kerumah lamanya, Rumah milik Bram Leondra.
Karena mengemudi dengan kecepatan tinggi tidak memakan waktu lama El tiba dirumah yang penuh penjaga memakai seragam serba hitam itu.Dengan cepat dan wajah penuh emosi El turun dari dalam mobil ingin segera menerobos pintu rumah besar berwarna cokelat kayu itu namun beberapa orang menghalanginya.
"Lepasin gue! Lepasin!" Teriak El memberontak namun tidak juga para penjaga melepaskan nya.
"Lepasin atau gue habisin lo!" Katanya lagi datar dingin dan terdengar tidak main-main. Karena para penjaga tidak juga melepaskannya El langsung menghajar para cecunguk ayahnya dan bukan hal yang sulit bagi El mengalahkan para penjaga itu.
Setelah puas menghajar semua penjaga rumah Bram, El masuk menerobos tanpa permisi. Tepuk tangan pun langsung ia dengar dari Bram Leondra yang berdiri dilantai atas sedang melihatnya.
"Kamu memang anak laki-laki papa yang kuat." Katanya sambil tertawa puas saat melihat El menghajar anak buahnya. Ia lalu berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri El.
"Apa kamu datang sendirian? Dimana menantu papa? Kamu harus memperkenalkan dia sama papa. Biar gimanapun juga papa ini kan orangtua kandung kamu." Ucapnya lagi, El masih diam sambil mengepal kuat kedua tangannya.
"15 tahun yang lalu, Apa yang udah papa lakuin saat malam ulang tahunku?" Tanya El datar dan tegas, Kedua rahangnya tercetak jelas mencerminkan kemarahannya. Bram diam mencoba mengingat kejadian 15 tahun yang lalu tapi sepertinya pria tua itu sudah melupakan kejadian tersebut.
"Entahlah, Itu sudah sangat lama. Papa gak bisa ingat kejadian itu yang jelas kita ngerayain ulang tahun kamu." Sahut pak Bram santai sambil menuang minuman alkohol kedalam gelas lalu duduk disofa.
"Dewa Hermawan dan Mentari, Papa pasti gak asing dengan dua nama itu." Kata El membantu mengingatkannya. Pak Bram diam sejenak lalu tertawa mendengar kedua nama itu.
"Oh iya-iya, Sekarang papa ingat sama penghianat itu. Kamu tau si penghianat itu darimana?"
"Jadi bener papa yang ngebunuh bu Mentari, Istrinya pak Dewa?" Tanya El keras sambil menarik kerah baju pak Bram membuat para penjaga yang ada disana menghampiri El namun pak Bram menghentikan para algojo itu.
"Heh, Entah apa yang sudah kamu dengar yang jelas papa bersyukur istrinya mati malam itu."
"CUKUP!!!!!!!" Teriak El, Andai saja ia tidak ingat jika pria ******** yang ada didepannya ini adalah ayah kandung nya mungkin ia akan langsung menghajar pria ini hingga ia mati.
"Jangan melewati batasan mu!" Bentak pak Bram sambil melepaskan tangan El dari kerah bajunya.
"Andai aku melupakan batasan itu, Mungkin saat ini papa sudah tewas ditanganku!" Kata El, Namun lagi-lagi pak Bram tertawa nyaring.
"Elang Edgar Leondra, Apa kamu gak sadar kalo kita semakin mirip?" Ucap pak Bram kembali memancing emosi anaknya itu.
"Bahkan jika aku dilahirkan kembali dan berkali-kali aku gak akan mau menjadi darah daging seorang pria kejam dan pembunuh!" Ucap El lalu pergi dari tempat itu dengan perasaan yang sangat kacau dan hancur. Bagaimana tidak, Tanpa ia sangka pria yang menjadi ayah kandungnya itu sudah membunuh ibu kandung istrinya, Wanita yang sangat ia cintai.
El melajukan mobilnya dengan liar entah kemana ia pergi yang jelas ia tidak sanggup jika harus bertemu dengan Luna saat ini.
***
Hari semakin malam, Luna juga sudah berada dirumahnya sedang gelisah menunggu El yang belum juga pulang. Hapenya pun tidak aktif membuat wanita itu tidak bisa tenang sedikitpun, Sejak tadi ia berdiri didepan pintu menunggu El dengan cemas walau tidak mudah untuknya berdiri lama diteras menunggu El.
"Mbak, Mbak Luna masuk yuk. Tunggu didalam aja, Dari tadi sore mbak Luna disini. Kasian bayi mbak Luna." Ucap bi Irah membujuk Luna.
"Tapi bi, Saya khawatir sama bang El. Nomer hapenya gak aktif, Saya takut terjadi sesuatu sama dia."
"Iya tapi mba Luna harus tenang, Gak boleh stres inget mbak, Mbak gak sendirian lagi. Ada nyawa yang sedang tumbuh didalam diri mbak yang harus mbak jaga." Luna akhirnya menurut, Ia lalu masuk kedalam rumah duduk disofa sambil terus menunggu El.
Karena tidak juga kunjung pulang, Luna meraih hapenya dan menghubungi Daniel.
"Hallo kenapa Lun?" Tanya El saat sambungan telepon terhubung.
"Kak, Maaf aku ganggu malam-malam. Aku bisa minta tolong gak? Bang El belum pulang kerumah daritadi tadi siang dirumah sakit. Hapenya juga gak aktif, Aku takut terjadi apa-apa sama bang El." Ucap Luna mulai menangis.
"Jadi daritadi dia belum pulang? Kamu tenang ya, Dia gak akan kenapa-napa kok. Kakak bakal nyariin dia. Kamu tenang ya, Jangan cemas." Ucap Daniel berusaha menenangkan Luna.
"Makasih kak ya, Dan maaf ngerepotin kakak."
"Ya udah kalo gitu kakak mau langsung nyari dia." Sambungan telepon pun terputus.
"Kenapa?" Tanya Dara saat Daniel menghampirinya.
"Sayang, Kamu sama mama dulu ya disini. Aku mesti nyari El, El belum pulang sampai sekarang dari tadi." Mendengar hal itu Dara kaget, Ia langsung menyuruh Daniel untuk segera pergi mencari El.
***
Daniel juga sampai masuk ke club-club malam yang biasa ia datangi bersama El waktu dulu namun tetap sama El tidak ada disana yang ada hanyalah mantan-mantan Daniel yang malah mengajaknya untuk kembali.
"El......El sampai gue rela datang kesini lagi cuma gara-gara lo." Celetuk Daniel saat keluar dari club terakhir yang ia datangi.
"Masa iya dia disasana?" Daniel langsung melajukan mobilnya menuju sasana tinju milik El. Dan benar saja dugaannya, Mobil El terparkir disana. Dengan cepat Daniel turun dari mobil dan masuk ketempat itu.
Pemandangan tidak biasa langsung menyambut mata Daniel saat masuk kesana. Ruangan dipenuhi asap rokok, Puntung dan botol minuman alkohol pun berhamburan. El duduk diam dalam kegelapan menikmati rokok yang entah sudah keberapa batang yang ia habiskan.
"El lo gila ya? Lo tau gak istri lo lagi cemas nungguin lo dirumah, Dan lo malah begini disini!" Bentak Daniel menghampiri El yang sudah setengah mabuk. Namun El tidak merespon ucapan Daniel, Ia malah kembali menegak minuman yang ada ditangannya.
"El cukup!" Ucap Daniel lagi sambil meraih botol minum dan rokok yang ada ditangan El lalu membuang kesembarang tempat.
"Kenapa dunia ini kejam? Kenapa harus ada banyak manusia ********? Kenapa tuhan gak cabut nyawa orang-orang ******** itu? Kenapa harus terjadi antara gue dan Luna?" Ucap El setengah berteriak. Daniel tau jika sahabatnya ini sedang sangat kacau, Ia duduk disamping El mendengarkan semua ocehan El.
"Kenapa takdir berlaku gak adil sama gue dan Luna? Kenapa harus gue yang menebus kesalahan yang bahkan gue sendiri gak tau. Kenapa? Kenapa?" Teriak El lagi, Pria itu kini menangis menyerah dengan semua rasa sakit yang ada dihatinya.
"Apa yang terjadi sama lo sampai-sampai lo jadi begini?" Tanya Daniel pelan.
"Bokap kandung gue, Lo tau kan? Si bos mafia besar yang berhati batu Bram Leondra. Dia.....Dia udah ngebunuh ibu kandung Luna dan yang lebih gilanya lagi tepat dihari ulang tahun gue. Sekarang bilang ke gue, Gimana caranya biar gue bisa tenang saat ngeliat wajah Luna? Anak yang terpaksa kehilangan ibunya disaat umurnya masih sangat muda." Daniel benar-benar kaget mendengar itu semua, Mulutnya bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saat ini.
"Gue gak bisa bayangin kalo dia tau yang ngebunuh ibunya itu bokap gue. Gue bakal kehilangan dia Dan, Dia gak akan maafin gue." Tambah El dalam tangisnya. Daniel menepuk pundak El memenangkan hati sahabatnya.
"Itu semua bukan salah lo, Bahkan lo gak tau kejadian itu."
"Tapi pada akhirnya gue tau disaat gue dan Luna sudah saling memiliki. Dan lo tau gimana sakitnya? Rasanya gue mati, Badan gue hidup tapi jiwa gue mati."
"El, Lo tau banget gimana perasaan Luna ke lo. Lo tau banget gimana kepercayaan Luna ke lo. Jangan hanya karena masalah yang lo bahkan gak tau lo dan Luna jadi jauh. Inget Luna lagi hamil anak lo, Buah cinta kalian berdua dan kesalahan masa lalu itu gak ada hubungannya sama lo."
"Gue gak bisa kehilangan Luna. Gue gak bisa hidup tanpa Luna, Gue......Gue belum siap Luna tau semuanya."
"Tenangin hati lo dulu, Kalo udah tenang kita pulang. Kasian Luna nunggu lo daritadi siang." Bujuk Daniel meyakinkan El.
"Tapi lo tau darimana semua kejadian itu?" Tanya Daniel lagi.
"Clara." Sahut El singkat.
"Clara? Maksud lo Clara ada dibalik ini semua?" El mengangguk pelan.
"Tadinya gue gak percaya, Tapi setelah gue pastiin sendiri ternyata itu semua bener. Dia ngasih gue pilihan, Terima dia atau dia bakal ngebongkar itu semua sama Luna. Gue bener-bener gak tau harus gimana, Sampai matipun gue gak rela kehilangan Luna tapi gue juga gak bisa nerima dia." Ucap El menjelaskan keadaannya saat ini pada Daniel.
"Jadi selama ini diam-diam Clara nyelidikin semua tentang lo dan keluarga lo? Gila ya, Gak nyangka gue kok bisa dia berbuat jauh sampai sana."
"Itu yang bikin gue bingung saat ini. Gue bener-bener gak tau harus apa dan gimana."
"Kita bakal pikiran cara buat nyelesein masalah lo. Tapi sekarang yang lebih penting lo pulang dulu, Kasian Luna El dia lagi hamil. Lo gak mau kan sampai dia stres dan sakit karena mikirin lo." El mengangguk, Akhirnya ia mau pulang setelah Daniel membujuknya.
"Biar gue anterin lo, Lagian lo lagi mabuk." El langsung masuk kedalam mobil Daniel lalu Daniel segera mengantarkannya pulang.
***
"Abang....." Teriak Luna berlari kearah El secara tidak sadar kalau dia sedang hamil tua. El langsung menghampirinya tidak ingin istrinya itu berlari lebih jauh. Luna langsung memeluk El kuat sambil menangis.
"Abang darimana? Kenapa hape abang gak aktif? Abang kenapa? Ada apa?" Tanya Luna dalam pelukan El yang juga sedang memeluknya.
"Maafin abang,Maaf sudah bikin kamu khawatir. Maafin abang untuk semua yang udah abang lakuin, Maafin abang." Kata El sambil menangis. Daniel yang melihat kejadian itu langsung pergi dari sana tidak ingin mengganggu.
"Kamu dimana La?" Tanya Daniel saat menelepon Clara, Dari dalam telepon terdengar suara deguman musik yang sangat keras membuat Daniel tau dimana wanita licik ini berada. Setelah ia mematikan sambungan telepon Daniel langsung melajukan mobilnya kesana untuk menemui Clara.
Setelah sampai Daniel langsung masuk kedalam club langganan Clara. Tidak sulit untuk menemukan wanita cantik itu, Ia sedang asik berpesta disana juga ada Rendy. Dengan langkah cepat Daniel menghampiri Clara yang duduk disofa panjang bersama Rendy dan beberapa teman seprofesinya sebagai model.
"Dan, Lo kok disini?" Tanya Rendy heran namun Daniel tidak lagi menghiraukan ucapan kakak iparnya itu. Dengan kasar ia menarik tangan Clara keluar dari dalam sana membuat Rendy dan yang lain kaget melihatnya.
"Apaan sih kamu Dan?" Tanya Clara saat mereka berdua sudah diluar. Rendy yang mengikuti Daniel dan Clara langsung berdiri melindungi Clara dari balik tubuh besarnya namun tidak membuat Daniel takut.
"Apa masalah lo? Kenapa lo kasar banget sama Clara?" Tanya Rendy mulai emosi.
"Sorry bang, Tapi ini bukan urusan lo." Sahut Daniel tidak peduli.
"Urusan Clara sekarang jadi urusan gue juga."
"Please untuk kali ini dengerin gue, Ini bener-bener gak ada hubungannya sama lo. Lo gak tau bang Clara ini gimana dan orang seperti apa."
"Apa maksud kamu Dan? Tiba-tiba kamu datang marah-marah gini." Ucap Clara yang berlindung dibalik tubuh Rendy.
"La please, Mau sampai kapan kamu begini? Atau ini memang diri kamu yang sebenernya? Stop La, Stop. Kamu udah bener-bener nyakitin El kali ini. Kamu gak kasian sama dia? Atau seenggaknya kasiani bayi yang dikandung Luna, Dia darah daging El. Jangan ngerusak kebahagian mereka La, Cukup jangan diterusin lagi karena sekuat apapun usaha kamu buat misahin Luna dan El itu semua akan sia-sia dan pada akhirnya kamu sendiri yang bakal ngerasain sakitnya." Kata Daniel ia kini tidak perduli lagi dengan perasaan Rendy karena Rendy juga perlu tau jika selama ini Clara hanya memanfaatkannya.
"Lo ngomong apa sih?" Tanya Rendy merasa tidak terima dengan ucap Daniel untuk Clara terlebih saat Clara berakting sedang tertindas.
"Aku udah sering bilang ke kalian semua kalo aku udah ngelupain perasaan itu untuk El. Dan kalian semua juga tau kalo aku lagi ngejalanin hubungan serius sama Rendy." Tepis Clara meyakinkan Daniel dan Rendy.
"La, Kita kenal udah lama gak sehari dua hari. Lo tau siapa yang bisa buat El bahagia, Tolong pikirin lagi baik-baik. Dan lo bang, Sorry gue ngomong gini tapi lo harus cari tau perasaan Clara sama lo beneran atau cuma manfaatin lo." Setelah mengucapkan hal itu Daniel segera pergi dari sana karena ia mulai muak dengan Clara yang ternyata masih seperti dulu.
**Bersambung.......
Cuma dikit
lg gak fokus krn sibuk mau ada acara drmh.....Yg mau komen tolong jgn menohok y kata2x jujur bkin author hilang semangat mau nerusin klo kalian komenx sadis....🥺**