Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Tuhan hanya sedang menguji kita



 


Rasanya jelas hampa


Rasanya jelas perih


Rasanya jelas sepi


Rasanya jelas sakit


Jelas semua karena satu hal dan


Sudah jelas itu semua karena Kamu


 


"Aluna"


 


Sesampainya di Rumah Sakit Luna dan Dara langsung bertanya pada Resepsionis namun disaat yang bersamaan juga dua orang perawat datang kesana untuk menanyakan hal yang sama yaitu keberadaan El saat ini.


"Maksud suster pasien yang bernama Elang yang mengalami kasus pengeroyokan tadi malam?" Tanya Dara memastikan berharap bahwa itu bukan orang yang sama.


"Betul, Pasien atas nama Elang Edgar pergi tanpa sepengetahuan kami dari pihak Rumah Sakit. Bahkan dokter pun belum mengizinkan nya untuk pulang karena kondisinya yang belum pulih." Sahut suster menjelaskan, Mendengar hal itu nyawa Luna serasa melayang saat itu juga. Bagaimana bisa ia bersikap kasar dan dingin pada El bahkan ia tidak tau jika El sedang dalam keadaan terluka. Sungguh Luna tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri karena sudah melakukan semua ini pada El.


Luna hanya bisa menangis saat ini, Ia bahkan sangat membenci dirinya sendiri.


"Ra, Kemana kita harus cari bang El? Ini semua salah aku. Aku yang salah, Aku bener-bener keterlaluan sama bang El." Ucap Luna dalam tangisnya, Dara berusaha menenangkan Luna. Sedangkan para petugas Rumah Sakit kembali sibuk mencari El.


"Bentar aku telepon Daniel, Kali aja dia tau dimana bang El sekarang." Dara meminta Luna untuk tenang lalu secepatnya ia menghubungi Daniel.


"Kenapa beib? Bentar lagi aku sampai kerumah kok." Ucap Daniel saat menerima panggilan telepon dari Dara.


"Ay, Bang El gak ada di Rumah Sakit. Kamu tau dia pergi kemana?" Tanya Dara, Mendengar hal itu Daniel langsung menepikan mobilnya dan berhenti sejenak. Sama hal nya seperti Dara dan Luna, Daniel pun kaget mendengar berita itu karena baru saja ia mengobrol dengan El sebelum ia pergi.


"Maksud kamu El menghilang dari Rumah Sakit? Baru aja aku ngobrol sama dia beib sebelum pulang. Bahkan dia yang nyuruh aku untuk cepat pulang." Sahut Daniel tidak yakin karena tidak mungkin jika El pergi begitu saja. Lagipula dalam kondisinya yang seperti ini sangat tidak mungkin jika El pergi.


"Aku sama Luna sekarang lagi dirumah sakit, Kamu balik lagi kesini ya." Setelah sambungan telepon terputus, Daniel buru-buru kembali kerumah sakit menyusul Dara dan Luna.


Sementara itu Luna terus menangis tidak bisa tenang. Kepala dan hatinya dipenuhi oleh rasa penyesalan namun seberapa banyak pun rasa penyesalan yang Luna rasakan itu semua tidak dapat merubah keadaan.


"Tenang ya Lun, Aku yakin bang El baik-baik aja. Kita semua tau gimana bang El, Yang penting kamu harus tetap tenang dan selalu berdoa untuk bang El." Ucap Dara berusaha membuat Luna tenang padahal di dalam hatinya sendiri ia juga merasakan kepanikan yang luar biasa. Walaupun belum lama ia mengenal sosok El, Tapi Dara tau betul bahwa El bukanlah tipe orang yang suka lari dari masalah.


"Semuanya karena aku. Seandainya aku gak mendiamkan dia mungkin ini gak akan terjadi, Seandainya aku gak menyalahkan dia atas apa yang sudah terjadi mungkin saat ini dia masih ada disampung ku. Memeluk ku, Merangkul ku, Dan menghapus air mataku. Kenapa? Kenapa aku bisa sejahat itu sama dia? Bukan kah kami satu? Lalu kenapa aku terlalu egois?" Ucap Luna merutuki dirinya sendiri. Kini ia sadar betapa ia tidak sanggup jika El tidak berada disampingnya. Saat ini hanya El yang ia inginkan, Ia ingin meminta maaf bahkan jika El menyuruhnya untuk minta maaf 1000 kali pun akan ia lakukan asalkan ia dapat kembali bersama suaminya.


"Gak sayang, Semua ini bukan salah siapa-siapa. Baik kamu ataupun bang El, Kalian gak salah. Tuhan hanya sedang menguji cinta kalian." Kata Dara merangkul sahabatnya.


"Dia istri pasien, Dan saya adik iparnya. Kami berdua baru tau jika dia mengalami sebuah insiden makanya kami buru-buru datang kemari." Sahut Dara, Sedangkan Luna tidak bisa lagi banyak bicara selain hanya bisa menangis.


"Semoga pasien masih berada di sekitar rumah sakit. Kami mohon untuk sabar menunggu hingga petugas kami memberikan kabar selanjutnya." Ucap resepsionis tadi, Dara mengangguk berterima kasih.


Tidak lama setelah itu Daniel pun datang. Ia langsung bertanya pada pihak Rumah Sakit yang tidak tau jika El menghilang.


"Kalian gimana sih?! Masa ada pasien yang gak ada di ruangannya kalian gak tau?!" Bentak Daniel pada petugas Rumah Sakit. Ia benar-benar kesal atas kelalaian pihak Rumah Sakit yang sama sekali tidak mengetahui jika El pergi dari ruangan nya.


"Ay, Sabar. Mereka lagi nyari bang El sekarang. Kamu jangan marah-marah gini, Kasian Luna dia makin tertekan." Kata Dara menenangkan suaminya.


"Maafkan kami pak, Kami benar-benar tidak tau kapan tepatnya pasien meninggalkan ruangannya. Tapi bapak gak perlu khawatir, Semua petugas keamanan yang ada di Rumah Sakit ini sedang mencari keberadaan pak El." Ucap suster yang ikut menangani El tadi malam.


"Jangan khawatir anda bilang?! Anda tau sendiri bagaimana keadaan temen saya saat ini dan dengan gampangnya anda bilang jangan khawatir? Saya tekankan sekali lagi, Jika sampai temen saya tidak ditemukan saya pastikan akan segera menuntut Rumah Sakit ini atas kelalaian hingga menyebabkan pasien menghilang dari kamarnya!" Ancam Daniel tidak main-main membuat para petugas Rumah Sakit yang ada disana terdiam.


Tidak lama salah satu petugas keamanan yang mencari El datang.


"Pasien tidak pergi sendiri, Ada kemungkinan bahwa pasien yang berada di kamar VVIV nomor 792 diculik." Mendengar hal itu semua orang yang ada disana kaget termasuk ke tiga orang yang paling dekat dengan El.


"Kami menemukan noda darah pada gagang pintu kamar tersebut, Dan kemungkinan itu darah pasien yang dibawa paksa oleh pelaku. Dan saat memeriksa CCTV kami tidak menemukan apapun. Kami rasa para pelaku bukan orang sembarangan hingga mereka bisa lolos begitu saja dari sini." Mendengar hal itu Luna langsung jatuh pingsan. Daniel dan Dara pun sama shock nya mendengar hal itu. Daniel tidak bisa membayangkan bagaimana kasarnya cara mereka membawa paksa El hingga darah El menempel pada gagang pintu.


Dengan cepat Luna dibawa keruang perawatan oleh suster ditemani Dara dan Daniel.


"Kondisinya sangat lemah saat ini, Tekanan darahnya juga sangat rendah. Ada baiknya jika ia tetap dirawat disini hingga kondisinya kembali normal dan stabil." Ucap dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Luna.


"Terimakasih dok." Ucap Dara, Dokter itupun pergi meninggalkan Dara dan Daniel yang menemani Luna saat ini.....


"Abang......Maafin aku. Abang......Abang." Ucap Luna dalam ke tidak sadaran nya. Melihat dan mendengar hal itu Dara sampai ikut menangis tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada El saat ini dan bagaimana hancurnya perasaan Luna saat ini. Untuk sesaat Luna memang terlalu egois bahkan sangat egois namun jika kita melihat dari sudut pandang Luna maka kita akan mengerti kenapa wanita berhati lembut seperti Luna bisa bersikap demikian.


Daniel mendekati ranjang Luna, Dihapusnya air mata Luna yang terus mengalir.


"Jangan menangis, El gak akan suka melihat wanitanya menangis. Aku janji bakal kembaliin El sama kamu, Secepatnya El akan kembali memeluk kamu, Merangkul dan menghapus air mata mu. Sejak kecil kamu memang gak punya seorang ibu, Tapi kamu lupa sejak kamu menikah dengan El kamu memiliki seorang kakak." Ucap Daniel berjanji pada Luna.


"Beib, Jaga Luna baik-baik. Ada sesuatu yang harus aku lakuin untuk menemukan El." Ucap Daniel memeluk istrinya lalu mengecup kening Dara penuh kasih sayang. Dara memeluk tubuh Daniel erat, Rasanya ia tidak rela jika suaminya harus pergi mengingat ini bukan hal yang mudah dan biasa. Ia tau akan ada banyak bahaya yang akan menemani langkah suaminya namun jika egois bagaimana dengan El yang bahkan belum diketahui keberadaan dan keadaanya saat ini. Ditambah lagi Luna dengan kondisinya sangat lemah saat ini.


"Cepat kembali dengan selamat seperti sekarang, Karena aku, Davin dan Devan sangat membutuhkan kamu." Sahut Dara dengan berat hati, Daniel tersenyum lalu kembali mencium wajah Dara dari kening, Kedua mata, Kedua pipi dan terakhir bibir Dara.


"Aku janji gak akan lama." Setelah itu Daniel pergi dari sana untuk mencari tau keberadaan El saat ini.


***


Daniel saat ini sedang berada disebuah bangunan besar mirip seperti rumah namun ukurannya lebih besar dari ukuran rumah. Ya Daniel saat ini sedang berada kediaman para anggota gang yang pimpin oleh El. Disaat El tidak ada seperti saat ini maka kepemimpinan jatuh ketangan Daniel, Itu sebabnya walau sampai mati Daniel tidak akan mundur karena El selalu memberikannya kepercayaan penuh padanya padahal sangat jelas bahwa mereka berdua bukan siapa-siapa dan tanpa hubungan apa-apa.


"Cari keberadaan El, Cari kemanapun sampai dapat. Dan bawa para pelaku penculikan El kehadapan gue." Kata Daniel datar dan serius sangat berbeda dari biasanya. Kumpulan manusia itupun langsung bergerak sesuai perintah Daniel saat ini.


Bersambung......