Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Pesta 1



Malam pesta dimulai, tidak ada tamu lain yang hadir selain keluarga besar mereka karena pesta ini ditujukan memang untuk berkumpulnya para keluarga serta sahabat.


"Zea kemana?" Tanya El pada Luna yang saat itu sedang mengobrol bersama Dara.


"Zea lagi ganti baju sebentar, bajunya kotor kena kecap." Sahut Luna, El mengangkat kedua alisnya lalu pergi.


Calla, Devan, dan Davin sedang asik mengobrol. Sebenarnya Dave tidak begitu suka acara seperti ini, tapi karena ini acara keluarga jadi mau tidak mau ia tetap harus ikut.


Tidak lama Zea datang mengenakan dress pendek berwarna putih. Sungguh, gadis itu terlihat sangat cantik hingga mengalihkan perhatian Davin dan Devan.


"Nah itu Zea, cantik banget sih anak gadis kita." Ucap Dara melihat kagum kearah Zea. Luna tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya.


"Liat tuh abang-abangnya. Sampe melongo gitu ngeliat Zea astaga." Tambah Dara menunjuk kearah dua anak laki-lakinya yang benar-benar masih terhipnotis oleh sosok Zea. Luna melihat kearah Davin dan Devan lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dan bukan Dara namanya jika tidak mengusili kedua buah hatinya, Dara membawa sepiring buah lalu berjalan kearah dua pria itu.


"Zea cantik banget ya." Bisik Dara pada kedua anaknya. Kedua anak kembar itu mengangguk secara bersamaan secara tidak sadar membuat Dara tertawa lucu dan kedua anak itu tersadar.


"Bunda." Ucap mereka lagi kembali bersamaan.


"Apa?" Sahut Dara tertawa lucu melihat kedua naknya.


"Selamat malam semua, kita gak telatkan datangnya." Sapa Rendy datang bersama keluarganya. Rendy sendiri sudah menikah dengan Nayla, Wanita yang menjadi sahabatnya sejak SMA dan kini mereka memiliki seorang anak perempuan cantik berumur 2 tahun.


"Hei, gak kok Ken juga belum datang mungkin masih dijalan." Sahut Rendy menyambut kedatangan Rendy.


"Oh iya, kenalin. Ini ade ipar gue, namanya Tian. Dia juga bakal kuliah disini nantinya." Ucap Rendy memperkenalkan seorang pria bernama Crishtian yang tidak lain adalah adik iparnya.


Pria tampan itu tersenyum sambil mengenalkan diri pada El juga Daniel.


"Manggilnya kakak atau om nih? Soalnya Tian masih muda banget." Ucap Tian tertawa renyah membuat El dan Daniel ikut tertawa.


"Senyamannya kamu aja mau panggil aja, panggil abang juga masih oke. Umur kita gak jauh beda kok." Sahut Daniel membuat Rendy memasang wajah masam.


"Oke om aja kalo gitu. Kenalin om sama saya Christian, panggil aja Tian." Ucap Tian mengulurkan tangan pada El dan Daniel.


"Umur kamu berapa? Keknya gak jauh beda sama anak-anak kita." Sahut El tersenyum


"Oh, umur saya 20 tahun om." Jawab Tian, pemuda ini sangat ramah dan gampang membawa diri.


"Daddy dipanggil mommy." Kata Zea yang tiba-tiba datang menghampiri El.


"Nah ini anak om, namanya Zea." Ucap El yang langsung mengenalkan Zea pada Tian membuat Zea mengerutkan dahinya karena bingung. Tian terdiam memandang kagum pada sosok Zea.


"Zea." Teriak Rendy membuka lebar kedua tangannya.


"Om Rendy." Sahut Zea berlari kearah pria bertubuh besar itu lalu memeluknya.


"Lama gak ketemu kamu makin cantik aja sih." Ucap Rendy mencubit gemas hidung keponakannya itu.


"Iya dong, anak siapa dulu coba. Tante Nay sama Ghea mana? Kangen Ghea." Sahut Zea manja seperti biasanya.


"Tadi baru datang langsung masuk ke rumah, mau ganti popok Ghea dulu katanya.


"Oh gitu, ya udah Zea permisi dulu ya mau bantuin bunda dan mommy." Rendy tersenyum mengangguk lalu Zea kembali menghampiri Luna serta Dara. Sedangkan Tian masih betah menatap kagum sosok Zea dari kejauhan.


"Tian, gak gabung sama Davin dan Devan? Mereka berdua keponakan abang tapi seumuran sama kamu. Tuh yang pakai jaket hitam lagi asik sama hpnya namanya Devan atau orang lebih banyak kenal dia sebagai Dave85."


"Dave85....Kok kedengaran nya gak asing ya bang?" Sahut Tian melihat kearah kakak iparnya.


"Dave85 or Black devil." Jawab Rendy menyunggingkan sudut bibirnya.


"Black Dave! Maksud abang Dave85 itu?" Rendy mengangguk yakin menjawab pertanyaan Tian. Tian sendiri baru pindah dua hari yang lalu kerumah Rendy dan belum sempat mengenal siapapun keluarga besar Rendy termasuk para keponakannya.


"Wah, jadi dia ponakan abang? Kenalin ke aku dong bang semua ponakan abang." Kata Tian bersemangat.


"Ayo ikut abang." Sahut Rendy berdiri, Tian tersenyum lalu berdiri mengikuti kakak iparnya yangbsudah seperti kakaknya sendiri.


Rendy membawa Tian menghampiri Davin, Devan dan Calla yang asik mengobrol.


"Baru aja datang, tadi Zea tanya Ghea sekarang kamu juga tanya Ghea. Kalian gak ada yang kangen sama om?" Tanya Rendy bercanda memasang wajah masam membuat ketiga keponakannya tertawa.


"Kangen sih, tapi aneh kalo tiba-tiba langsung lari meluk om sambil bilang kangen." Sahut Dave tersenyum. Rendy ikut tersenyum lalu ikut duduk bersama mereka.


"Kenalin namanya Tian, dia adenya tante Nayla dan rencananya bakalan om masukin ke kampus yang sama dengan kalian."


"Kenalin, gue Tian." Ucap Tian mengulurkan tangannya.


"Ohooo welcome, gue Davin." Sambut Davin hangat.


"Devan." Jawab Devan singkat sambil tersenyum.


"Gue Calla." Kata Calla yang tidak bisa jauh dari Devan sang idolanya.


"Heh yang sopan ngomong sama yang lebih tua." Tegur Devan.


"Lah bang, gue kan sopan." Sahut Calla tidak mau kalah membuat Devan menyunggingkan senyum disudut bibirnya. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang berkaca saat melihat Calla.


"Ya udah kalo gitu masuk sana, yang lain udah pada ngumpul didalam. Om masih nunggu om Ken." Kata Rendy menyuruh para anak muda itu untuk segera bergabung.


" Kalo gitu kita duluan ya bang." Jawab Tian berpamitan.


"Duluan ya om." Sambung Davin, lalu mereka berempat pergi meninggalkan Rendy sendirian ditempat itu.


"Welcome to my home." Teriak seorang pria yang tidak lain adalah Kenan Abner. Pria itu datang bersama anak juga istrinya dan ini pertama kalinya Vanny bertemu para sahabatnya.


"Wohhhhh sia*an lama banget sih lo!" Hujat Rendy berdiri sambil berkacak pinggang. Ken berlari kearah Rendy dan langsung memeluk pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu.


"Kangen gue sama lo bang, astaga lo dah tua ternyata." Katanya bicara sangat santai.


"Bangke! Lo pikir lo masih muda huh?" Umpat Rendy kesal.


"Hahahahaha bodo amat yang penting gue kangen sama lo. Eh iya kenalin, ini Vanny istri gue." Vanny tersenyum sambil menyambut uluran tangan Rendy dan memperkenalkan diri.


"Si cantik ini pasti yang namanya Cinta." Tebak Rendy melihat kearah Cinta, anak dari Kenan.


"Iya, kok om tau nama aku Cinta?" Sahut Cinta gadis berumur 11 tahun.


"Tau dong. Siapa sih yang gak tau sama cewek secantik Cinta." Jawab Rendy membuat Cinta tersenyum malu.


"Papi, mana kak Dave? Kata papi ini rumah kak Dave. Cinta udah gak sabar ketemu sama kak Dave." Rengek Cinta pada Ken.


"Eh iya, yang lain dimana bang? Cinta fans beratnya Dave, udah gak sabar banget dia mau ketemu Davan."


"Semua udah ngumpul didalam, ayo gabung." Ken, Rendy, Vanny serta Cinta langsung masuk untuk bergabung dengan yang lain.


"KAK DAVE!" Teriak Cinta saat matanya melihat sosok Devan yang sedang duduk sendirian dan asik dengan hp nya. Karena memakai earphone ia tidak mendengar saat Cinta meneriaki namanya dan tentu itu membuat Cinta merasa diabaikan. Gadis belia itu berlari menghampiri Dave dan tanpa permisi ia langsung duduk disamping Devan membuat pria itu kaget bukan main.


"Lo siapa?" Tanya Devan berdiri dari tempat duduknya sambil melepaskan earphone dari telinganya.


"My name Cinta, and you are my boyfriend." Ucap Cinta tersenyum manis membuat mata Dave terbuka lebar karena baru pertama kali ada seorang gadis kecil yang menyatakan hal seperti itu padanya.


"Lu anak siapa? Ganjen amat, masih kecil juga." Celetuk Dave tidak perduli.


"Maaf Dave kalo Cinta terlalu berlebihan. Dia anak om Ken." Kata Ken tersenyum membuat Dave kembali kaget.


"Om Ken." Katanya, pria ini senang bisa kembali bertemu Ken tapi rasa gengsi masih menyelimuti diri Dave hingga ia bingung harus bersikap seperti apa pada Ken.


"Ja.....jadi dia anak om?" Tanya Dave bingung.


"Iya, dia fans kamu. Kamarnya penuh sama poster kamu." Jawab Ken membuat Dave tersenyum bingung harus bersikap seperti apa pada gadis kecil yang menurutnya centil itu sedangkan ia sendiri sangat tidak menyukai gadis centil.


Bersambung.....