
Kenan membuka mata saat sinar matahari menyentuh lembut kulitnya. Dan gadis itu masih berada disamping Kenan tertidur nyenyak sambil memegangi lengan pria itu.
"Van, Vanny." Kata Ken membangunkan Vanny pelan. Vanny membuka kedua matanya perlahan dan mengangkat kepalanya yang masih terasa berat. Berjalan kaki dibawah hujan salju dan hawa dingin yang menusuk hingga ketulang membuat gadis itu terkena flu.
"Gimana keadaan bapak? Bapak sudah merasa labih baik?" Tanya Vanny terlihat khawatir. Kenan bangun dan meletakan handuk kecil bekas kompresannya diatas meja.
"Saya sudah sehat, kamu disini semalaman?" Tanya Ken penasaran melihat gadis itu masih memakai baju yang sama seperti semalam.
"I...iya pak, tadi malam saat mau pulang lampu ruangan bapak masih menyala. Karena tadi malam akan ada badai salju saya ketuk pintu ruangan bapak tapi bapak tidak menjawab. Akhirnya saya beranikan diri untuk masuk dan ternyata bapak tertidur diatas meja badan bapak panas tinggi dan saya gak bisa tinggalin bapak sendirian dalam keadaan seperti tadi malam. Tapi syukurlah sekarang bapak sudah sehat." Kata Vanny menjelaskan pada Ken.
"Jadi semalaman kamu ngerawat saya disini?" Vanny langsung menggeleng cepat.
"Untungnya masih ada dokter yang buka pak, saya minta dokter tersebut datang kemari untuk memeriksa keadaan bapak." Jawab Vanny berbohong menyembunyikan kebenarannya dari Kenan.
"Oh, terimakasih untuk bantuannya. Kamu boleh pulang sekarang dan jangan lupa istirahat." Karena ini hari minggu cafe memang sengaja diliburkan. Vanny mengangguk menuruti semua perintah bosnya terlebih kepalanya juga terasa berat akibat flu.
"Kalo gitu saya permisi dulu pak, bapak jangan lupa sarapan dan minum obatnya." Kenan tersenyum menjawab gadis itu, lalu Vanny pergi dari ruangan Ken.
Kenan berdiri lalu berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu membuka laci meja itu mencari harta paling berharga untuk untuknya, apalagi kalau bukan selembar photo Eriska.
"Kok gak ada." Ucap Ken mengobrak-abrik isi laci tersebut namun tidak juga menemukan benda yang ia cari. Laci lain juga tidak luput dari matanya hingga sampai ke sofa bekas ia berbaring namun selembar kertas yang tercetak photo kekasih hatinya tersebut tidak juga terlihat.
Ken mulai fruatasi, pria itu mengacak-acak setiap tempat bahakn beberapa buku diatas meja ia lemparkan. Kini ruangan yang biasanya terlihat bersih dan rapi itu berubah menjadi ruangan yang sangat berantakan.
Satu-satunya yang terlintas dalam pikiran Ken saat itu ialah Vanny karena Vanny yang memindahkannya ke sofa untuk berbaring. Tanpa pikir panjang Ken meraih kunci mobil dengan perasaan teramat marah ia melajukan mobilnya menuju kontrakan kecil tempat Vanny tinggal. Kenan sendiri tau alamat tempat itu dari kartu indentitas yang belum sempat ia kembalikan pada pemiliknya.
***
Vanny membuat segelas teh hangat yang ia beri campuran lemon dan madu, itu bisa membantu mengurangi flu yang ia derita. Gadis itu duduk diatas ranjang kecil dengan memeluk kedua kakinya. Ia kembali teringat saat Kenan merintih memanggil nama Eriska.
"Apa dia kekasih bapak? Pasti dia adalah wanita yang sangat beruntung karena memiliki cinta yang begitu besar dari bapak." Ucap Vanny sambil tersenyum.
Baru saja Vanny merebahkan diri untuk beristirahat karena semalaman ia bergadang menjaga Kenan yang sakit, pintu rumah kecilnya diketuk dengan keras bahkan terdengar setengah menggedor.
"Siapa? Perasaan semua hutang udah aku bayar, siapa lagi yang datang?" Ucap Vanny bertanya pada diri sendiri. Gadis itu turun dari ranjang kayu kecilnya berjalan menuju pintu.
"Pak Kenan." Ucap Vanny setengah kaget melihat pria itu berdiri didepan pintu rumahnya
"Kamu taruh dimana photo itu?" Tanya Kenan langsung pada intinya dengan tatapan marah membuat Vanny bingung harus menjawab apa.
"Silahkan masuk dulu pak. Diluar dingin." Sahut Vanny sopan seperti biasanya namun Ken seperti sedang kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
"Gak usah! Saya cuma mau tanya dimana kamu simpan photo yang tadi malam saya pegang." Jawab Ken ketus dan dingin tidak seperti biasanya membuat Vanny mengernyit.
"Maksud bapak photo apa? Saya bahkan tidak menemukan apa-apa saat memindahkan bapak ke sofa." Vanny benar-benar bingung atas sikap Kenan yang seolah menuduhnya itu.
"Van, cuma kita berdua yang ada didalam ruangan itu tadi malam. Kamu tau betapa pentingnya benda itu bagi saya?" Kata Ken tetap bersikeras pada pemikirannya jika yang menghilangkan photo tersebut adalah Vanny yang bahkan tidak pernah melihat photo tersebut.
"Pak, pak Kenan." Panggil Vanny nyaring sambil berlari mengejar Kenan namun Kenan lebih dulu masuk kedalam mobil.
"Pak, saya benar-benar tidak tau apa-apa pak. Sumpah, saya gak tau tentang benda yang baoak maksud." Kata Vanny kelelahan mengejar mobil Kenan ditambah lagi saat ini ia sedang tidak sehat.
Kenan yang sedang dikuasai emosi langsung pulang kerumahnya, apa lagi yang bisa dilakukan oleh pria itu selain mengurung diri didalam kamar.
***
Kenan duduk dalam kamar yang gelap tanpa cahaya terang, ia lebih suka suasana gelap jika sedang merasa kacau.
"**Sejahat inikah takdir? Suatu hari saat semua baik-baik saja, kamu mulai mengatur rencana lain. Diam-diam kamu simpan niat untuk melepaskanku. Kamu berharap semua berjalan sesuai rencanamu.
Entah Tuhan sedang baik padamu, atau Tuhan sedang mengujiku. Kamu berhasil melakukannya. Kamu meminta semua yang terikat selama ini hal yang sungguh kujaga sekuat hati ingin kamu akhiri.
Aku berharap itu hanya sebuah gurauan, meski hal seperti itu tidak pernah lucu untuk dijadikan sebuah gurauan.
Namun ternyata kamu serius, benar-benar serius. Menyiapkan semuanya dengan sempurna hingga aku tidak bisa melihat sedikitpun rencanamu.
Hal yang aku sesalkan, kemana saja aku selama ini?
Katamu, kamu tidak suka kebohongan tetapi kamu membohongiku.
Katamu, kamu tidak suka dikhianati tetapi kamu meninggalkanku.
Aku berharap semua hanya bunga tidur, bukan sesuatu yang membuat harapanku hancur.
Sungguh, aku ingin menyapamu lagi. Mengirimi mu banyak pesan singkat untuk bertanya kabar atau untuk mengucapkan selamat tidur dan selamat pagi.
Kini pesan itu hanya bisa kutitipkan lewat doa, lewat doa aku menyapamu, lewat doa aku bertanya kabarmu dan lewat doa ku kirim ribuan bahkan jutaan ucapan selamat tidur. Aku hanya sedang rindu, sangat rindu suaramu saat memanggil manja namaku.
Aku rindu senyum mu saat aku menyapamu, aku rindu sangat rindu. Tuhan, kutitipkan ia pada-MU dan tolong untuk satu kali saja suruh ia menyapaku walau hanya lewat sebuah mimpi."
Puisi by : boy chandra (chanel Fiksionalisme)
Bersambung....
Hai para sahabat Eluna, aku mau kasih pengumuman.
Untuk lanjutan cerita DAVE, ZEA, DAVIN dkk aku buatin lapak untuk mereka sendiri yang akan secepatnya aku publish. Jadi entar di novel ini aku buat khusus story babang El dkk ya. Semoga cepat diriview biar bisa ketemu Dave n Zea lagi.
oh iya, Judul untuk novel Dave dkk entar aku umumin ya di chap selanjutnya.
mskasii semua 😘😘😘😘**