Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Jika ada kesemepatan lagi



"Jadi gimana entar pas Luna datang? Gue mesti pura-pura gak tau atau kasih karangan bunga sambil bilang Happy wedding moga langgeng sampai maut memisahkan, Cepat dikasih keturunan." Celetuk Daniel, Mereka berdua saat ini ada di rumah El bersantai menikmati malam yang cerah.


"Lama-lama kok lo tambah nyebelin ya?" Sahut El sambil menghirup secangkir coffe.


"Loh, Kan gue tanya baik-baik. Lagian gue juga belom ngucapin selamat atas pernikahan lo dan Luna, Ya gue pengen aja gitu ngucapin selamat ke Luna."


"Gak perlu. Lo cukup tutup mulut itu udah ngebantu banget." Jawab El singkat.


"Padahal dulu gue sempet suka loh sama Luna....." Pancing Daniel, Mendengar itu El langsung melihat tajam kearah Daniel sambil meletakan cangkir coffe nya.


"Slow.....Slow....Gue bilang kan dulu, Dulu pas gue gak tau. Sekarang sih dia udah jadi ipar gue." Ucap Daniel cepat sebelum El melemparkan cangkir kopi itu ke wajahnya.


"Oh iya, Ngomong-ngomong kapan bi Irah pulang? Kangen gue pengen makan masakan dia."


"Dia minta cuti dan belum tau kapan kembali. Suaminya kena stroke, Jadi ya mungkin bakal lama sampai suami nya bener-bener sehat lagi."


"Lo jangan sampai lupa ya, Lo tetep harus ngebantu dia walaupun dia lagi gak kerja buat lo." Kali ini El benar-benar tidak bisa menahan emosinya menghadapi ke konyolan Daniel, El meraih kacang kulit yang ada diatas meja lalu menjentik nya tepat mengenai sasaran yaitu dahi Daniel membuat pria itu kesakitan memegangi kepalanya.


"Lo!....Gue gak yakin kalo istrinya tau sifat aslinya gimana." Celetuk Daniel, Namun El cuek tidak memberikan tanggapan. Ia hanya tersenyum puas.


***


"Karena ini malam terakhir, Kita akan segera melakukan acara puncak. Yaitu mengumpulkan bendera simbol universitas kita dan yang paling banyak mengumpulkan bendera akan menjadi pemenang nya sekaligus mendapatkan nilai tertinggi." Ucap pembimbing itu menjelaskan acara akhir dari tour tersebut. Anak-anak pun bersorak ramai ada yang sangat bersemangat dan sebagian lagi lebih ingin cepat tidur didalam tenda karena habis diguyur hujan tentu hawa diluar sangat dingin.


"Didalam hutan sudah diberi tanda agar kalian tidak tersesat, Pastikan untuk selalu berhati-hati karena jalan sedikit licin dan satu lagi jangan sampai terpisah dari team kalian."


Karena hari makin gelap, Kita bisa mulai sekarang." Barisan pun dibubarkan, Mereka langsung bergerak cepat mengikuti perintah pembimbing.


"Gue mana ngerti baca peta begini." Ucap Andra menggaruk kepalanya bingung harus bergerak kemana membawa anggotanya.


"Dra, Kita mau kemana? Team lain udah pada mulai tuh." Tegur Tessa salah satu anggota team.


"Be....Bentar." Jawabnya sambil memutar-mutar peta yang sudah dibagikan oleh para pembimbing. Ia benar-benar lemah membaca peta, Melihat Andra yang sangat nyata kebingungan Luna menghampirinya dan melihat peta yang sejak tadi hanya di bolak-balik dan diputar-putar oleh Andra.


"Kita mulai dari arah sini, Ini jalan yang harus kita ikuti dan ini tanda-tanda yang harus kita perhatikan selama perjalanan." Kata Luna menjelaskan, Andra mengangguk mulai paham. Mereka pun langsung bergegas menyusul rombongan lain.


"Hati-hati jalannya licin, Pastikan kaki kalian lebih kuat saat berpijak." Seru Andra memperingati anggotanya. Mereka mulai memasuki kawan hutan lindung yang dijaga oleh pemerintah setempat, Hawa dingin makin terasa saat berada di dalam hutan suara jangkrik pun terdengar sangat nyaring bersahutan. Dan momen ini digunakan sangat baik oleh Queenza, Sepanjang jalan ia terus menempel pada Andra membuat Andra merasa sangat risih dan terganggu.


"Dra, Jangan cepat-cepat jalannya." Rengek Queenza menarik tangan Andra membuat pria itu jengah. Andra malah buru-buru berjalan disamping Luna karena ia memang harus meminta bantuan Luna saat ini untuk membaca peta, Tentu hal itu membuat Queenza kesal.


"Oh itu benderanya." Ucap Tessa menunjuk kearah batang pohon akasia yang terdapat bendera itu. Andra pun dengan cepat meraih benda itu dan memberi tanda warna biru di kain bendera itu lalu menyimpannya.


"Semangat, Ini baru satu bendera." Ucap Andra padahal semua anggota lain bersemangat hanya Queenza yang terlihat malas.


Mereka kembali melanjutkan pencarian, Kini Andra benar-benar berjalan disamping Luna. Mereka berdua bekerja sama dan saling membantu membuat Queenza merasa tersaingi dan marah.


"Auu......" Teriak Queenza memegangi kakinya, Serentak mereka berempat yang berjalan terlebih dulu menoleh melihat kearahnya saat itu.


"Kaki aku keknya keseleo deh." Ucap Queenza memegangi kaki kirinya. Luna yang melihat langsung menghampiri Queenza memastikan keadaan Queeza.


"Kalian ikuti jalan lurus kedepan, Disana ada pos untuk istirahat." Kata Andra menyuruh dua anggota lain itu pergi lebih dulu lalu ia menghampiri Queen dan Luna.


"Kaki lo keseleo? Bisa jalan sampai kedepan gak? Didepan ada pos. Kita bisa istirahat disana." Ucap Andra, Queen mengangguk.


"Ummmmm Luna, Bantuin aku jalan ya." Ucap Queen meminta Luna untuk membantunya berjalan. Luna pun langsung setuju, Ia langsung menolong gadis itu berjalan menuju pos. Sedangkan Andra berjalan didepan sebagai penunjuk jalan karena tanah sangat licin saat ini.


Dengan sabar dan pelan Luna memapah Queen melewati hutan dan jalan yang licin.


"Kita berenti sebentar ya kaki aku sakit banget." Ucap Queen, Luna lalu mendudukan nya dibatang kayu besar.


"Keknya aku gak kuat lagi deh kalo harus jalan lebih jauh lagi, Tolong minta Andra untuk cari bantuan." Luna berpikir sejenak lalu memanggil Andra.


"Andra......" Panggil Luna. Andra langsung menoleh dan menghampiri dua gadis itu.


"Dia udah gak kuat jalan lebih jauh lagi. Kamu bisa cari bantuan gak? Biar aku yang temani dia disini." Saran Luna, Andra melihat kearah Queen yang terus meringis memegangi kakinya.


"Lo yakin berani?" Tanya Andra memastikan pada Luna, Luna langsung mengangguk yakin. Akhirnya sesuai rencana Andra meninggalkan dua gadis ini didalam hutan untuk mencari pertolongan. Setelah Andra pergi Luna menyusul Queen untuk istirahat karena tidak mudah memapah orang dijalan terjal dan licin seperti saat ini.


"Luna bisa minta tolong ambilin air di tas gue, Gue haus." Queen menunjuk kearah tas yang ia letakan di dekat pohon. Luna mengangguk lalu berdiri untuk mengambil botol air minum. Luna melihat kebawah jurang yang sangat gelap dibawah sana yang tepat berada di sampingnya berdiri saat ini.


"Aaaaaaaaaaaaaaa...... " Suara Luna terdengar nyaring, Tubuhnya masuk kejurang gelap itu hingga tidak terlihat lagi.


"Rasain lo! Good night and goodbye Luna si cewek sok pintar!" Ucap Queen berdiri disana. Ia juga membuang tas ransel milik Luna kebawah jurang agar tidak ada yang tau jika Luna masuk kedalam sana lalu ia segera pergi dari tempat itu. Ya karena rasa cemburunya pada Luna, Queen nekat mendorong Luna kedalam jurang itu.


***


"Loh Queen, Kamu disini? Luna mana?" Tanya Andra saat melihat Queen berjalan menuju pos pemberhentian.


"Loh, Bukannya dia nyusul kamu? Dia bilang mau nyusul kamu dan karena lama gak kembali aku putuskan untuk jalan sendiri. Kaki aku juga udah gak seberapa sakit makanya bisa sampai disini."


"Gak mungkin Luna ninggalin Queen sendirian ditempat itu. Walaupun gue gak deket sama Luna tapi gue tau gimana dia." Pikir Andra, Tanpa banyak membuang waktu Andra langsung berlari kembali kearah hutan untuk mencari Luna.


"Lun......Lunaaaa......Lo dimana?" Teriak Andra memanggil Luna namun tidak terdengar suara Luna. Ia kembali berjalan sambil terus memanggil Luna tanpa henti hingga ia berada ditempat tadi saat meninggalkan Luna dan Queen.


"Lun....Lunaaa......" Teriak Andra namun tidak dapat jawaban. Karena lelah ia duduk di batang kayu tadi namun saat ia duduk ia melihat seutas akar pohon yang terus bergerak. Penasaran Andra langsung meraih senter dan melihatnya.


"Lunaaaaa!" Teriak Andra kaget saat melihat Luna tergantung dibawah sana. Dengan cepat Andra menarik akar itu namun karena kondisi tanah yang licin membuat Andra kesusahan.


Ia terus menarik tali itu tidak perduli jika telapak tangannya terluka karena gesekan akar kayu yang ia tarik. Andra kini berhasil meraih tangan Luna.


"Jangan lepasin tangan gue." Kata Andra berusaha sekuat tenaga menarik Luna.


"Tangan kamu licin, Aku gak bisa bertahan lebih lama. Kamu kembali ke perkemahan untuk minta bantuan." Ucap Luna menyuruh Andra pergi meninggalkan nya dan meminta bantuan yang lain.


"Gak! Gue akan tinggalin lo. Bukannya lo juga pernah ada diposisi gue saat ini." Sahut Andra tetap bertahan menggenggam tangan Luna sekuat mungkin agar tidak terlepas. Karena kondisi tanah berair dan becek membuat tubuh Andra sedikit demi sedikit ikut terbawa Luna dan hingga akhirnya mereka berdua jatuh masuk kedalam jurang yang lebih dalam lagi.


***


"Woy......Lo kenapa melamun?" Sontak El kaget lalu melihat kearah Daniel.


"Kok perasaan gue gak enak gini ya? Gue kepikiran Luna." Jawabnya serius.


***


Andra bangun dari pingsannya, Kepalanya terasa sakit dan perih karena luka. Ia langsung mencari hape disaku celana nya dan syukurlah hape itu tetap ada disana tidak terlempar dari dalam saku. Andra langsung menyalakan senter dan mencari Luna.


"Lun....Luna... " Panggil Andra namun tidak dapat sahutan ia terus berputar mengitari tempat itu hingga ia melihat tubuh Luna terbaring di genangan air. Dengan cepat Andra berlari kesana menghampiri Luna.


"Lun....Luna sadar Lun...." Kata Andra menggoyang tubuh Luna. Andra lalu menggendong Luna menjauhkannya dari genangan air yang membuat tubuhnya basah kuyup dan bibirnya membiru karena kedinginan.


"Lun.....Luna sadar Lun." Andra menggosok tangan Luna yang pucat dingin seperti mayat......Ia terus menggosok hingga hangat tubuhnya bisa meresap ke tubuh Luna.


"Luna.....Please bangun, Kalo dibiarin begini dia bisa kena hipotermia karena kedinginan. Maaf Lun, Tapi ini cara satu-satunya buat nyelamatin lo." Andra langsung membuka membuka jaket dan baju kaos Luna. Sebenarnya ia sangat gugup saat itu, Ini pertama kalinya ia menggantikan baju seorang gadis tentu ia juga mengalami tekanan batin yang sangat luar biasa namun kalau dibiarkan Luna memakai bajunya yang basah ia bisa kedinginan.


Andra melepas jaket tebal miliknya lalu memakaikan nya pada tubuh dingin Luna. Ia juga mengumpulkan beberapa ranting kecil lalu membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh juga mengeringkan baju Luna, Walaupun Andra bukan seorang perokok tapi ia selalu membawa korek api kemana pun ia pergi.


Andra membersihkan wajah Luna dari tanah, Ia menatap dalam wajah Luna saat itu membuat hatinya serasa dihinggapi banyak kupu-kupu jantungnya pun berdetak sangat kuat dan cepat dan pada saat yang bersamaan Luna mulai membuka matanya membuat Andra langsung merasa kebingungan.


Luna memegangi kepalanya yang terasa pusing ia melihat disekitar nya juga baju yang sedang terjemur disamping api unggun.


"Aaaaaaa.......Kamu! A......Apa yang udah kamu lakuin?" Teriak Luna saat sadar ia sudah berganti pakaian. Ia menutupi dadanya dengan kedua tangan membuat Andra bingung.


"I......Ini gak seperti yang kamu pikirin, Tadi lo jatuh di genangan air disana (Menunjuk kearah tempat Luna jatuh) terus baju lo basah semua, Badan lo dingin banget bibir lo biru, Dan pucat kek gak punya darah. Makanya gue......Gue ganti baju lo. Tapi serius gue gak ngapa-ngapain, Sumpah gue cuma ganti cepet-cepet setelah selesai gue bikin api unggun." Jelas Andra agar Luna tidak salah paham padanya, Luna diam sebentar mencerna semua penjelasan Andra.


"Gimana cara kita balik ke perkemahan?" Tanya Luna sambil merentangkan tangannya kearah api unggun agar terasa hangat.


"Ya kita berdoa aja semoga mereka cepat nemuin kita. Oh iya, Kok bisa kamu jatuh kesini? Dan Queen....."


"Aku kepeleset waktu mau ambil air minum untuk Queen." Ucap Luna menyembunyikan kebenaran pada Andra.


"Terus kok dia gak tau lo jatuh?"


"Mungkin karena gelap dia gak liat aku, Dan dia ngira aku kembali ninggalin dia." Jelas Luna, Tapi tetap saja Andra tidak bisa ditipu semudah itu. Andra sudah cukup mengenal sifat buruk Queen, Tapi ia tetap berusaha percaya pada Luna.


Luna mengeluarkan hapenya dari dalam saku celana, Niatnya ingin menelepon Dara tapi itu sia-sia karena hapenya ikut basah.


"Ma.....Maaf karena hape lo ada disaku celana, Gue gak berani ngambil lagian walaupun hape lo gak mati percuma aja disini gak ada sinyal." Hilang sudah harapan Luna saat itu, Ia berdiri ingin mencari tas ransel miliknya yang sengaja dibuang oleh Queen.


"Aaaaauuuuu..." Luna hampir terjatuh jika Andra tidak menangkapnya dan menahan tubuhnya.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Andra membantu Luna duduk pelan-pelan.


"Gak tau, Sakit banget perih dan gak bisa bediri rasanya."


"Kaki lo luka." Ucap Andra saat melihat kearah celana jeans Luna yang mengeluarkan bercak merah.


"Maaf...." Kata Andra, Ia lalu menggulung celana panjang Luna hingga terlihat luka yang cukup besar juga biru memar mungkin karena terkena kayu saat ia jatuh.


"Luka lo cukup parah."


"Tolong cariin tas ransel aku, Disana ada obat-obatan yang emang sengaja aku bawa." Andra mengangguk lalu pergi mencari benda yang dimaksud oleh Luna.


"Abang, Kalo kamu ada disini mungkin aku gak akan setakut ini. Aku kangen kamu, Kangen banget. Ya Tuhan, Seandainya aku masih dikasih kesempatan aku bakal bilang ke seleruh dunia kalo dia milikku." Ucap Luna sambil menangis, Tidak bisa dipungkiri saat ini ia benar-benar merasa sangat takut karena gelap tapi untung saja Andra membuat api unggun yang dapat meneranginya.


Tidak lama Andra datang membawa tas ransel pink milik Luna, Dan dengan cepat Luna menghapus air matanya tidak ingin ia tau. Andra langsung mengeluarkan isi tas Luna yang isinya berupa obat-obatan dan beberapa bungkus snack untuk mereka makan.


"Sini biar gue bantu." Andra langsung mengambil alih untuk mengobati luka di kaki Luna. Luna memicingkan matanya saat Andra menyiram alkohol ke luka itu.


"Tahan ya....." Kata Andra sambil meniup pelan luka itu agar rasa perihnya sedikit berkurang. Setelah Luna merasa lebih baik, Ia memberikan obat Luka pada kaki Luna dan langsung membungkusnya dengan kain kasa.


"Makasih ya. Nih buat kamu, Lumayan buat ganjel perut disaat lapar." Kata Luna memberikan 2 batang cokelat penunda lapar pada Andra. Andra tersenyum dan meraih cokelat itu.


"Ini pertama kalinya aku liat kamu senyum." Ucap Luna sambil memakan cokelat miliknya. Mendengar itu Andra kembali tersenyum.


"Dan ini kedua kalinya." Ucap Andra membuat Luna yang kini kembali tersenyum. Sambil menunggu bantuan datang mereka asik mengobrol.


***


"Luna.......Lun......" Teriak Dara memanggil Luna.....Semua orang saat ini sedang mencari keberadaan Luna dan Andra didalam hutan. Dan pada saat yang bersaman El menelepon Dara.


"Halo...." Ucap Dara, Ia tidak tau kalau El yang meneleponya.


"Ummmm Ra, Ni abang El. Luna kemana ya kok dari tadi abang telepon gak bisa." Tanya El, Ia mendapatkan nomer telepon Dara setelah memaksa Daniel untuk memberikannya.


"Ummmmm Luna......."


"Luna kenapa?"


"Luna hilang bang, Kemungkinan dia jatuh kejurang. Kita disini lagi nyariin dia dibantu sama warga sekitar." Mendengar itu El langsung kaget, Ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung memutus sambungan telepon. El langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya membuat Daniel bingung.


"El lo kau kemana jam segini?" Tanya Daniel penasaran.


"Luna hilang, Kemungkinan jatuh kedalam jurang. Gue mau kesana sekarang juga." Daniel kaget mendengar itu, Tanpa banyak bicara ia juga ikut masuk kedalam mobil El.


Semua orang terus mencari Luna dan Andra, Ini juga sudah subuh tidak lama matahari terbit namun belum ada kabar dari Luna dan Andra, Sementara El dan Daniel masih dalam perjalanan......


***Bersambung......Next ada kejutan dari Eluna yak.....Stay trs jgn smpai ketingglan.....


vote


like


komen sll diharapakn***....


Oh iya udah pada liat iklan belum? Ituloh yg ngucapin met tahun baru buat author......


Mau dong dikirim ucapan selamat juga buat mak comblangx El dan Luna......


Biar perfect Husband dapt Ranking gitu 🤭