
Luna sedang menyiapkan baju kerja suaminya sedangkan Zea kini sedang diasuh oleh pengasuhnya.
Wanita itu selalu memilih baju yang membuat suaminya makin terlihat sempurna.
Tidak lama El keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggang nya. Tetesan air dari rambut nya yang basah ditambah bulir-bulir sisa air yang masih menempel di tubuhnya membuat jantung Luna serasa berhenti berdetak. Luna mengambil handuk kecil lalu menghampiri suaminya yang sedang berdiri di depan kaca.
"Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan pria sesempurna abang" Ucap Luna sambil mengeringkan rambut El dengan handuk yang ia bawa tadi.
El yang mendengar hal itu serasa melayang dibuat nya, Tanpa banyak kata ia mengecup bibir Luna membuat dahi wanita itu mengernyit.
"Pagi-pagi udah ngegombalin suaminya aja sih." Ucap El tersenyum manis hingga kedua lesung pipi di wajahnya nampak terlihat.
Luna meletakan handuk yang ia pegang lalu memeluk tubuh El tidak peduli dengan butiran air yang masih menempel si dada bidang nya. Saat ini ia hanya ingin memeluk suaminya itu, Rasa cinta yang kian hari makin bertambah membuat Luna tidak bisa menahan diri.
"***Lewat abang aku mengenal banyak hal, Hanyut dalam rasa seperti bagai candu, Membuat semua yang nyata menjadi lebih masuk akal. Terima kasih untuk semua hal yang udah abang lakuin, Terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku***."
Ucap Luna dalam pelukan El membuat El makin berbunga-bunga dan tidak tau harus mengatakan apa lagi sangking ia bahagianya.
"Apa abang perlu libur hari ini ke kantor?" Tanya El yang tidak ingin berpisah dari istrinya walau hanya sebentar.
"Tetap harus kerja Daddy." Sahut Luna mencubit pelan hidung mancung El.
"Tapi gak mau pisah, Maunya gini terus." Ucap El manja dan makin mengeratkan pelukan nya ditubuh Luna. Luna menangkup kedua pipi El lalu menghujani wajah tampannya dengan banyak ciuman.
"Buat bekal dikantor entar." Sontak El membalasnya bertubi-tubi membuat Luna tertawa geli.
"Terimakasih selalu ada walau hanya dengan cara yang sederhana." Ucap El tersenyum pada Luna. Luna mengangguk lalu cepat-cepat menyuruh suaminya mengenakan baju sebelum terjadi hal-hal yang diinginkan El.
***
"Bang Rendy......" Sapa Kenan saat mereka tidak sengaja bertemu di sebuah cafe siang itu.
"Masih inget gue?" Tanya Kenan saat Rendy menatapnya bingung. Dan benar saja Rendy menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Kenan.
"Gue Ken.....Masa lo lupa?" Ucap Ken mengingatkan Rendy, Dulu mereka memang memiliki hubungan yang cukup baik karena Ken memang berbakat mengambil perhatian orang lain hingga semua anggota keluarga Dara dekat dan akrab dengan nya.
"Oh, Lo Ken mantannya ade gue?" Sahut Rendy yang akhirnya ingat dengan pria yang kini ikut duduk dibangku kosong sebelahnya itu.
"Iya, Lama gak ketemu apa kabar lo bang?" Tanya Kenan yang langsung akrab padahal sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Baik, Lo bukannya pindah ke luar Negeri?" Tanya Rendy sambil menyeruput segelas espresso miliknya.
"Iya bang, Tapi udah balik lagi kesini. Gue diminta fokus untuk ngurus perusahaan almarhum papa yang ada disini jadi ya mau gak mau gue balik lagi kesini."
"Papa lo meninggal?" Tanya Rendy kaget mendengar hal itu, Mengingat Rendy juga mengenal pak Donny ayah dari Kenan.
"Iya bang satu minggu yang lalu, Papa mengidap pneumonia."
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya om Donny."
"Makasih bang. Oh iya gimana kabar om tante?" Tanya Kenan menanyai kedua orang tua Rendy.
"Mereka baik-baik aja dan sekarang udah jadi kakek-nenek."
"Oh lo udah punya anak bang? Selamat ya." Ucap Kenan ikut senang mendengar hal itu.
"Bukan gue, Tapi Dara." Mendengar hal itu Kenan kaget, Ia memang sudah tau kalau Dara sudah menikah tapi ia tidak tau jika Dara juga sudah memiliki anak terlebih penampilan dan bentuk tubuh Dara tidak berubah sama sekali, Masih sama seperti saat mereka berpacaran dulu.
"Da.....Dara udah punya anak?" Tanya Kenan tidak percaya mendengar hal itu dari Rendy.
"Iya. Dia udah punya dua anak laki-laki dan mereka kembar, Usia mereka saat ini sekitar 4/5 bulan kalo gak salah. Kamu sendiri gimana sekarang?" Mendengar semua hal itu tentu membuat Kenan merasa kaget, Ia juga bukan tipe pria pengganggu istri orang atau perusak rumah tangga orang hanya saja jujur dari dalam hatinya ia memang belum bisa melupakan sosok wanita yang kini sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu.
"Huh? Gue.......Ya gue gini-gini aja gak ada yang berubah. Oh iya, Lo kerja dimana bang?" Tanya Ken mengalihkan pembicaraan.
"Gue kerja disalah satu Dealer mobil, Ya lumayan lah daripada yang dulu jadi berandalan sampah masyarakat doang." Sahut Rendy tertawa, Kenan pun ikut tertawa mendengar hal itu jika mengingat seorang Rendy pada waktu itu.
"Bener banget, Gue aja hampir di hajar untung Dara buru-buru datang nyelametin gue. Kalo gak pasti bakal bonyok-bonyok gue."
"Iya, Dan lo tau gak suaminya Dara pernah gue hajar sampai dia koma dan untungnya dia sadar. Sejak saat itu gue gak lagi bertindak anarkis, Gue sadar kalo selama ini gue salah."
"Lo kenal sama Daniel?" Tanya balik Rendy mendengar Kenan menyebut nama Daniel.
"Iya, Perusahaan gue bekerjasama dengan perusahaan Elang Edgar Wirayudha pemilik DM Group dan kebetulan Daniel menjadi orang kepercayaan pak El. Saat membahas kontrak gue dikenalin sama dia awalnya gue gak tau kalo dia itu suami Dara, Dan saat gue ngundang mereka berdua untuk datang ke pesta yang gue adaain akhirnya gue tau kalo Daniel itu suami dari ade lo bang " Jawab Kenan menjelaskan pada Rendy.
"Ternyata benar kata orang ya kalo dunia itu gak selebar daun kelor." Sahut Rendy lagi.
"Terus apa alasan lo mukulin ade ipar lo sendiri sampai koma? Dia selingkuh?" Kata Kenan menebak-nebak karena kesan pertama yang ia tangkap dari wajah Daniel ialah Daniel seorang playboy. Rendy menggelengkan kepalanya, Ia juga tidak langsung bercerita tentang alasan nya memukuli Daniel saat itu karena baginya itu adalah sebuah rahasia keluarga yang tidak pantas jika diceritakan pada orang lain.
"Karena suatu alasan yang gak bisa gue ceritain. Tapi semua udah berlalu dan sekarang mereka udah bahagia sama keluarga kecil mereka dan yang paling penting Daniel bisa buat ade gue bahagia." Mendengar hal itu Kenan tersenyum, Ingin rasanya ikut bahagia seperti Rendy namun hatinya saat ini malah terasa sakit.
***
Semenjak kembali dari cafe, Pikiran Kenan terus terganggu oleh sosok Dara. Saat ini ia sedang berada di ruangan besar miliknya melamun sambil terus memandangi frame photo yang terpasang photo Dara bersama Ken saat mereka masih bersama dulu.
"Aku yang salah karena meninggalkan kamu tanpa satupun pesan saat itu, Harusnya aku lebih berani untuk mengambil keputusan sebagai seorang laki-laki. Aku yang salah karena membiarkan kamu mencari-cari keberadaan ku saat itu tanpa aku beri tau kemana aku pergi. Dan aku yang salah tidak menghubungimu sekalipun padahal aku tau kamu sedang menunggu kabar dariku. Maafin aku Ra, Seandainya dan seandainya mungkin kita masih bersama sampai saat ini. Aku pikir kembali saat ini masih bisa meminta satu kali kesempatan dari kamu, Tapi aku terlambat. Tempatku di hati kamu sudah terganti dengan yang lain walau aku bilang aku kembali untuk kamu, Itu semua sia-sia." Katanya bicara pada photo Dara yang masih memakai seragam SMA di photo itu.
Tok.....Tok......Tok........
Kenan langsung menyimpan kembali photo itu saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk." Pintu berwarna cokelat kayu itupun langsung terbuka.
"Welcome back to home Kenan Abner." Sapa pria yang baru saja datang. Wajah Ken mendadak datar saat tau bahwa pria itu yang datang.
"Mau apa lo?" Tanya Ken langsung pada point.
"Santai dong brother, Kita ini sodara dan gue abang lo seenggak nya lo persilahkan abang lo ini untuk duduk dulu." Ia adalah Baron kakak tiri dari Ken, Itu sebabnya mendiang ayah Ken menyuruh Ken untuk pulang ke Indonesia mengingat Ken adalah anak satu-satunya yang ia miliki dan lagi beliau tau kalau Baron memiliki bisnis obat terlarang hingga semua aset dan warisan jatuh ke tangan Ken dan sudah tentu itu akan membuat Baron murka.
"Dari lahir sampai detik ini gue gak punya sodara." Sahut Ken datar, Ia tau betul apa yang di inginkan saudara tirinya ini.
"Lo gak bisa gitu aja ngebuang gue kek yang dilakuin sama pria tua yang penyakitan itu. Liat akhirnya apa yang terjadi sama dia, Dia mampus kan." Rasanya ingin sekali Kenan menampar pria b******n yang ada dihadapannya saat ini, Walau Kenan dan sang ayah tidak memiliki hubungan yang cukup baik tetapi tetap saja beliau ayah kandung Ken dan ucapan Baron membuat hati Ken sangat marah.
"Oh denger-denger lo juga jalin kerjasama dengan perusahaan DM Group kan? Nice, Pilihan yang sangat tepat. Lo pasti tau kan alasan gue kesini? Gue pengen setengah dari saham lo." Mendengar hal itu Kenan tertawa keras ia berdiri lalu berjalan mendekati Baron yang saat itu duduk dengan kaki ia letakan diatas meja sambil menghisap sebatang rokok.
"Gue pikir lo cukup tau diri dan bisa bedain siapa gue dan siapa lo. Darah kita jelas berbeda, Dan sangat nyata kalau status kita juga berbeda. Gue harap lo bisa terima kenyataan dan satu lagi, Diruangan gue dilarang merorok jadi silahkan keluar sebelum gue panggil security buat bantu tunjukin sama lo jalan keluar." Balas Kenan tersenyum sinis membuat wajah Baron merah padam menahan emosinya.
"Gue ingetin sama lo, Jangan coba main-main sama gue karena lo gak tau lo berhadapan sama siapa." Ucap Baron murka setelah itu ia segera pergi dari sana.
"Udah aku bilang dari dulu kalo papa itu melihara manusia yang salah, Dan sekarang terbukti kan apa yang aku bilang." Kata Kenan bicara pada photo berukuran besar yang menempel di dinding yang tidak lain ialah photo mendiang ayah nya.
***
"Perempuan itu kalo dibilang cantik jutaan kali gak akan percaya tapi kalo dibilang gendut satu kali dia gak bakal lupa." Kata Daniel saat yang saat ini sedang makan siang bersama El, Karena banyaknya pekerjaan mereka berdua baru sempat makan.
"Emang lo pernah bilangin Dara gendut?" Tanya Daniel disela makannya.
"Gak gue bilang gendut, Gue cuma bilang pipinya itu tembem gitu doang habis gue di omelin sepanjang malam tau gak." Mendengar hal itu El tertawa lucu, Padahal Daniel sangat berpengalaman dengan mahluk yang bernama wanita. Tidak sedikit mantan yang ia punya bahkan ia lupa ada berapa mantan yang ia miliki. Tapi menangani satu wanita seperti Dara ia benar-benar kelimpungan. Mungkin ini yang di namakan pembalasan untuk pria hidung belang.
"Ya lo juga salah, Udah tau hal itu paling sensitif buat perempuan lo masih bisa santai nyinggung hal itu." Sahut El yang masih tertawa lucu mendengar curhatan Daniel.
"Ya gak gitu El, Lo kan tau istri gue itu emang tipe cewek yang punya pipi chubby. Ya biarpun badan nya sekurus tiang listrik tetep aja pipinya itu tembem. Gue belum sempat bilang kalo gue suka perempuan yang pipinya chubby gitu eh di kasih ayat-ayat cinta duluan." Sambung Daniel lagi, Saat ini mereka sedang akur tidak saling serang satu sama lain melainkan sedang bercurhat ria sambil menikmati makan siang di cafe andalan.
"Iya juga sih, Menurut gue badannya Dara itu udah proporsional banget sama tinggi badannya. Cuma pipinya ya emang keliatan tembem." Sahut El ikut berkomentar, Untung saja tidak ada Dara disana jika ia sampai tau kedua pria ini membahas tentang pipi tembemnya maka sudah jelas apa yang akan terjadi pada mereka.
"Ya karena emang gitu bawaan dari lahir. Tau gak sampai sekarang dia itu masih aktif sama yang namanya diet, Heran gue apa lagi coba yang mau dikurusin? Entar kalo gue ngomong salah lagi makanya gue diem aja, Ikutin aja mau dia pokoknya asal dia seneng dan gak sakit gak masalah lah buat gue."
"Kalo Luna sih keknya kebalikan dari Dara deh, Dia itu tipe wanita yang hobinya makan tapi gak bisa gemuk. Serius kalo dirumah dia tuh sukanya ngemil kadang sambil nemenin gue nyelesein kerjaan ada aja yang dia makan malahan gue yang takut kalo berat badan gue tiba-tiba naik karena dibuatin makanan mulu sama dia makanya sampai saat ini gue masih sering nge-gym ya selain emang hobi gue, Ya biar timbangan gue gak naik." Kini giliran El yang bercerita tentang istrinya.
"Dia gak takut gendut? Biasanya kan cewek-cewek paling anti banget tuh sama yang namanya makan malam termasuk istri gue sendiri."
"Dia gak pernah musingin masalah badan, Dia bilang yang penting itu hatinya bahagia badan nya juga pasti ikutan sehat. Tapi dia rajin yoga juga, Gue rasa sih karena bawaan pikiran yang positif terus yoga yang teratur makanya badannya bisa dikontrol gitu. Dan gue juga gak repot mau dia kurus atau gendut bagi gue tetap aja dia sempurna walau gue tau kesempurnaan itu cuma milik Tuhan tapi porsi sempurna untuk mata gue dan hati gue ya Luna." Jawab El tidak memusingkan hal-hal seperti itu berbeda dengan sebagian pria yang mengartikan takaran cantik untuk seorang wanita itu harus bertubuh langsing padahal mereka sendiri belum tentu tahan jika disuruh melakukan yang namanya DIET.
"Berarti pikiran Dara sering negatif dong, Ada aja yang di keluhin tentang penampilan nya bahkan masalah kuku aja dibuat ribet tau gak. Padahal lo tau sendiri, Gue cinta kelebihan dan kekurangan nya kalo gue cuma mau nyari cantik doang lo tau sendiri mantan-mantan gue mana ada yang dibilang jelek terus kalo gue cuma mau nyari yang seksi dikantor kita juga banyak tuh model-model blasteran tau sendiri kan body nya model itu gimana apalagi model majalah dewasa. Ya maksud gue itu ngerawat diri sih its oke gak masalah tapi jangan terlalu over gitu loh, Bukan gue gak seneng atau apa tapi ngeliat dia diet ketat gitu ya tersiksa juga lah gue sebagai suami. Kadang dia nemenin gue makan, Ya maksud gue itu biar kita bisa makan bareng gitu tapi dia gak mau dengan alasan ya si diet tadi jadi gue makan sendiri dan dia cuma ngeliatin gue makan doang. Lo pikir aja gimana rasanya yang tadinya lapar kebalik gak lapar, Pengen makan banyak kasian sama dia. Masa gue kenyang sedangkan dia nahan lapar sendirian."
"Mungkin karena dia tau mantan-mantan lo semua cantik-cantik dan seksi-seksi makanya dia gak mau kalah. Dia gak mau sampai ada mantan lo yang bilang "Itu istri lo? Gak ada apa-apanya sama gue." sama halnya kek kita, yang selalu pengen lebih unggul dan baik daripada pria-pria lain apalagi mantan mereka. Coba deh kalo mood nya Dara lagi bagus lo ajak dia ngomong pelan-pelan, Lo kasih dia pengertian. Atau lo saranin aja buat ikutan yoga kek yang dilakuin Luna, Itu lebih baik ketimbang dia jalanin program diet ketat itu juga gak bagus untuk kesehatannya." Saran El pada Daniel, Ia percaya dengan perasaan Daniel untuk Dara itu bukan karena bentuk fisik atau hanya karena suatu kelebihan yang Dara miliki tapi karena memang Daniel mencintai wanita itu apa adanya dalam pengertian apapun yang ada pada wanita tersebut ia bisa menerima dan mencintainya mau itu dalam hal yang positif atau negatif.
***Bersambung........
Note : DM group itu singkatan dari Diamond Group ya bukan Dangdut Mania group......Takut salah tanggap entar dikira acara yang ada di tivi-tivi itu.
Terus maaf kalo eps kali ini ngebosenin, Sesekali lah mereka curhat daripada berantem mulukan gak ada faedahnya. Mending curhat dapat solusi***.