Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Jangan menutup mata dan telingamu



Hari-hari El menjadi suram penuh beban pikiran, Bagaimana bisa ia harus bertahan dengan kediaman setiap kali melihat wajah bahagia Luna. Luna tau apa yang sedang dihadapinya saat ini, Yaitu kematian. Namun ia tidak perduli dan tetap berusaha mempertahankan bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Ia bahkan bisa bertahan sejauh ini walau selama hamil ia merasa cukup menderita.


Semenjak hamil Luna sering sakit-sakitan, Bahkan kerap kali dirawat dirumah sakit. Tubuhnya makin kurus dan terlihat sangat pucat. Jauh berbeda dengan dirinya dulu, El dan juga orang-orang terdekatnya sudah berusaha keras membuat Luna mengerti akan keadaan terburuk yang bakal ia hadapi. Tapi ibu mana yang tega membunuh darah dagingnya sendiri disaat janin itu juga sedang berusaha bertahan didalam sana.


"Mommy, Zea gak mau ade." Kata Zea polos dengan wajah sedih.


"Kenapa?" Tanya Luna yang saat ini sedang makan buah-buahan bersama anaknya itu sambil menikmati waktu sore hari.


"Gara-gara ade ini, Mommy jadi sering sakit. Zea gak suka, Kalo mommy sakit gak ada yang temenin Zea kalo Zea mau bobo, Daddy sibuk ngurusin mommy. Gak ada yang bantuin Zea ngerjain PR, Gak ada yang temenin Zea main. Walaupun Zea sering sama bunda, Ayah, Devan dan bang Davin tetap aja Zea kangen waktu sama mommy." Kata Zea jujur dan polos sambil menundukan wajahnya, Terlihat sangat kesepian saat ini dan hal itu membuat Luna merasa bersalah sebagai orangtua.


"Sayang, Mommy sakit bukan karena salah ade. Masa Zea gak mau punya ade yang lucu dan bisa Zea ajak main?" Bujuk Luna pelan melihat kearah anaknya.


"Zea gak mau!" Kata Zea tegas lalu pergi ke kamarnya dengan wajah kesal. Luna menarik nafasnya panjang, Ia tau tidak semua anak bisa menerima kehadiran seorang adik dalam kehidupannya. Apalagi anak seperti Zea sangat manja dan merasa dirinya lah paling muda serta paling kecil di dalam keluarganya tentu ia tidak ingin memberikan tempat itu untuk orang lain. Ia tidak ingin perhatian yang selama ini tertuju untuknya diambil oleh kehadiran seorang bayi.


Luna berdiri pelan berat mengangkat perut besarnya yang kini mulai menginjak usia ke tujuh bulan. Ia menyusul Zea yang sedang mengurung diri didalam kamarnya.


"Sayang, Mommy boleh masuk?" Tanya Luna mengetuk pintu kamar anaknya.


"Gak dikunci." Sahut Zea singkat dari dalam kamar yang sedang merajuk dan merasa kesal. Mendengar hal itu Luna tersenyum lalu masuk kedalam kamar berwarna putih bercampur merah muda itu. Luna berjalan kearah tempat tidur Zea dimana saat ini ia sedang duduk diam sambil memeluk kedua lututnya.


"Zea marah sama mommy karena mommy jarang bisa temani Zea bobo ya?" Tanya Luna bicara pelan. Zea menggeleng cepat namun enggan melihat kearah ibunya.


"Zea marah sama daddy karena daddy sering jagain mommy pas mommy sakit?" Tanya nya lagi dan lagi-lagi Zea menggeleng kencang tanpa melihat kearah ibunya.


"Zea marah sama ade?" Mendengar hal itu Zea langsung melihat kearah ibunya yang saat ini juga sedang melihat kearahnya.


"Zea gak suka liat mommy sakit. Zea gak suka liat mommy bolak-balik rumah sakit, Zea gak suka liat mommy minum banyak obat pait." Katanya merendahkan suara, Terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan Luna saat ini namun ia tidak tau cara mengungkapkannya. Luna tersenyum meraih tangan kecil Zea lalu tangan itu diletakannya tepat diatas perutnya.


"Ade, Ini kakak Zea. Kakak Zea anak yang baik, Anak yang pintar, Anak yang manis dan ceria. Ade mau kenalan gak sama kak Zea?" Ucap Luna membuat Zea heran karena Luna bicara pada perutnya sendiri.


"Mommy, Dia didalam perut mommy, Gak mungkin denger dan ngerti omongan mommy." Kata Zea ingin buru-buru menarik tangan nya dari perut Luna, Namun sebuah tendangan kecil mengenai telapak tangan Zea dan berhasil membuat Zea kaget bukan main karena ini pertama kalinya ia meletakan tangan diperut besar ibunya.


"Tuh ade mau kenalan." Ucap Luna tertawa, Karena rasa penasaran Zea mengusap lembut perut Luna dan seperti sedang berinteraksi tangan Zea kembali merasakan tendangan itu.


"Mom, Tadi beneran ade?" Tanya Zea tidak percaya. Luna tersenyum dan memgangguk menjawab pertanyaan anaknya.


"Dia denger kita ngomong?" Tanya nya lagi polos dan sangat ingin tau.


"Dia merasa apa yang mommy rasakan dan dia denger apa yang kita bicarakan." Mendengar hal itu Zea mendekatkan telinganya keperut Luna.


"De, Kamu ngapain?" Tanyanya membuat Luna tertawa lucu. Perut Luna kembali ditendang namun lebih kuat hingga Luna meringis merasa ngilu.


"Iya mom, Dia denger Zea ngomong." Katanya terlihat sangat senang tidak seperti tadi saat ia marah.


"Bun adenya cewek atau cowok?" Tanya Zea penasaran membuat Luna mengernyit.


"Zea maunya apa?" Kata Luna balik bertanya.


"Cowok." Kata Zea yakin tidak ingin menginginkan seorang adik perempuan.


"Kenapa?" Tanya Luna lagi heran.


"Zea mau jadi satu-satunya anak ceweknya mommy sama daddy, Ayah sama bunda." Katanya cuek, Mendengar ucapan anaknya Luna tertawa senang akhirnya Zea bisa menerima kehadiran calon adiknya yang selama ini ia tolak.


***


Setelah gagal menyuap para Investor pak Tommy terus berusaha memberikan tekanan pada El dengan segala macam cara namun ia terus gagal hingga membuatnya frustasi.


"Cari tau apa saja yang dilakukan oleh si miskin itu hingga membuang waktu selama ini!" Kata pak Tommy menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki orang suruhannya yang bekerja diperusahaan El. Mendengar perintah dari atasannya, Orang itupun langsung buru-buru pergi untuk menjalankan tugasnya.


"Aku tidak akan membiarkan keturunan kalian berada dimuka bumi ini hidup dengan nyaman dan tenang. Kalian bertiga harus melihat bagaimana mereka menderita dan hancur!" Kata pak Tommy mengepal tangannya kuat hingga memutih.


***


Dan semakin hari hubungan Ken juga Eriska makin dekat, Mereka sering menghabiskan waktu bersama hingga membuat sebagian karyawan betul-betul membenci wanita itu. Eriska kerap kali mendapatkan perlakuan buruk hingga sering dikerjai oleh beberapa karyawan sekaligus rekan kerjannya namun itu tidak membuat sikapnya berubah pada Kenan, Bagianya Kenan seperti malaikat penolong yang sudah sering membantunya tentu akan lebih kurang pantas jika ia merubah sikapnya pada Kenan.


"Daritadi kan kamu udah ngomong." Jawab Eriska yang tetap fokus merapikan lembaran-lembaran kertas yang sengaja Ken acak-acak agar bisa menyuruh Eriska datang keruangannya. Kenan mendekat berdiri tepat dibelakang Eriska saat ini.


"Kamu mau jadi pacarku?" Tanyanya dekat telinga membuat Eriska kaget sekaligus terdiam hingga kertas yang ia pegang jatuh. Kenan lalu berpindah tempat dan kini berada di hadapan Eriska menatap wajah Eriska yang tidak percaya jika Kenan baru saja menyatakan perasaannya pada dirinya.


"Aku sayang sama kamu, Dan ini bukan perasaan biasa. Aku merasa nyaman didekat kamu, Aku gak tenang kalo gak liat kamu walau cuma semenit." Katanya lagi membuat tubuh Eriska kaku, Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan rasa cintanya secara terhormat pada Eriska. Biasanya laki-laki hanya melihatnya sebagai wanita penghibur atau cuma seorang pelayan mur*han yang tidak pantas untuk mendapatkan kehormatan.


Eriska buru-buru mengambil kesadarannya sebelum makin hanyut dan terbawa. Lalu cepat-cepat ia membereskan kertas-kertas itu.


"Udah selesai, Aku keluar dulu banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." Kata Eriska ingin pergi namun Kenan menahannya.


"Ris, Aku serius. Please pikirkan betul-betul." Kata Kenan, Lalu melepaskan tangannya yang sedang menahan Eriska. Eriska langsung keluar dari dalam sana dengan wajah merah.


Tidak bisa dibohongi, Hatinya juga berdegup kencang saat ini namun ia berusaha keras menyembunyikan semua itu.


***


"Bos, Orang yang kita kirim untuk menghancurkan perusahaan itu ternyata malah bekerja sama dengan mereka, Ini beberapa bukti yang kami dapat." Pak Tommy melihat beberapa lembar photo yang menggambarkan El, Daniel dan orang suruhannya itu sedang bicara 6 mata.


"Ba*gsat! Berani sekali dia bermain denganku! Segera cari anak dari pria itu!" Teriak pak Tommy murka setelah melihat bukti itu.


"Maafkan kami pak, Kami kehilangan jejak. Sepertinya mereka selangkah lebih cepat dari kita." Mendengar hal itu pak Tommy bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri anak buahnya tersebut dan langsung menghantamnya keras.


"Apa yang baru saja kamu bilang? Mereka lebih cepat daripada kita? Msksud kamu anak Bram ba*gsat itu ada didepan saya huh!" Katanya terus memukuli anak buahnya melampiaskan kekesalan dan marahnya pada orang yang hanya bekerja padanya itu.


"Ma.....Maafkan saya bos. Bukan maksud saya bicara seperti itu."


"Keluar kamu dan jangan pernah muncul lagi dihadapan saya!" Teriaknya, Anak buahnya pun berlari cepat keluar dari ruangan yang lebih mirip neraka itu.


"Kamu pikir kamu bisa menghindari takdirmu? Kamu tidak tau siapa saya, Bahkan saya bisa membun*h orang yang saya cintai karena rasa benci. Kamu liat saja apa yang bisa saya lakukan nanti!" Katanya mulai frustasi seperti seorang psi*opat yang terobsesi untuk membu*uh seseorang ia akan terus mengincar orang tersebut sampai ia mendapatkan apa yang bisa membuat hatinya merasa puas.


***


Siang berganti malam pun datang pertanda akan berlewatnya hari ini, Sebagian orang masih bergelud dengan urusannya hari ini hingga besok hari dan sebagian lagi menutup harinya dengan sebuah cerita yang sengaja mereka akhiri sampai hari itu juga. Namun tidak bagi El, Baginya setiap hari bahkan tiap detik menjadi sebuah bayangan menakutkan untuk dilewatinya. Luna memang bisa bertahan sampai sejauh ini, Tapi tetap saja ia seperti sedang diapit oleh malaikat maut yang kapan saja siap untuk mencabut nyawanya.


"Sayang...." Panggil El, Saat ini Luna sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah buku. Hobi yang tidak pernah ia tinggalkan sejak dulu.


"Iya..." Sahut Luna meletakan bukunya, El tersenyum lalu duduk disamping Luna membawa istrinya untuk bersandar dalam pelukannya.


"Kamu gak capek? Kok belum istirahat?"


"Sebentar lagi aku tidur." Kata Luna bermanja dalam pelukan suaminya.


"Sayang...." Panggil El lagi


"Iya...."


"Sayang...." Katanya lagi mengulang membuat Luna bingung dengan sikap El.


"Iya...Kenapa?" Tanya Luna melihat wajah suaminya yang melihat datar kearah dinding.


"Berjanjilah akan selalu menjawab setiap abang panggil kamu, Jangan pernah diam." Katanya lagi dengan nada lirih, Luna mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Luna menyandarkan kepalanya didada El dan memeluk erat tubuh El, Ia mencium dalam aroma tubuh El yang sangat ia sukai. Ia tau kemungkinan terburuk ia tidak akan bisa memeluk erat tubuh itu lagi serta mencium aroma tubuh itu lagi.l


"Maka saat aku tidak mendengar, Teruslah panggil namaku sampai aku menjawab panggilan dari abang." Kata Luna, Airmata El jatuh begitu saja mendengar ucapan Luna. Sungguh keadaan ini membuat El menjadi pria yang sangat lemah, Rasanya ia tidak akan sanggup menghadapi ini semua. Doanya bahkan tidak pernah putus untuk keselamatan istri dan juga anaknya.


El memeluk Luna erat-erat, Semenit waktu pun ia tidak ingin melepaskan pelukan itu.


"Jangan pernah menutup mata mu dan mengabaikan panggilanku. Berjanjilah kamu akan terus memandangiku dengan kedua mata indahmu serta menjawab semua panggilanku dengan suara lembutmu, Berjanjilah tanganmu akan terus memelukku serta menggenggam tanganku hingga aku merasa dunia ini tercipta hanya untuk kita berdua."


Bersambung....


Moga malam bisa lanjut


Jan lupa komen, Like, Vote, Rate n fav ya kesayanganku 😘😘😘