
Cukup lama Devan melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa dimana ia merasa bersalah akan sesuatu, masa dimana ia merasa sendirian saat ditempat ramai. Devan menjadi anak yang lebih tertutup dari biasanya, lebih diam dari biasanya dan lebih dingin dari biasanya.
Saat ini Devan bersama kedua orang tuanya sedang berada di sebuah Rumah Sakit besar untuk menemui seorang psikiater.
"Bunda, ayo kita pulang. Devan gak sakit bun." Rengek Devan pada Dara membuat hati Dara terasa perih.
"Kita ketemu Dokter dulu ya sayang, Bunda tau kok Devan gak sakit. Kita kesini cuma untuk tes aja sayang." Sahut Dara menenangkan Devan. Wanita itu sekuat mungkin menahan rasa sakit dan air mata agar tidak jatuh didepan anaknya. Terlihat gurat sedih di wajah Devan mendengar ucapan ibunya. Dara menarik nafas dalam berusaha lalu duduk berjongkok tepat dihadapan Devan yang saat ini hanya diam sambil menundukan kepalanya.
"Sayang, hei dengerin bunda. Bunda dan ayah tau Devan gak sakit. Devan anak yang kuat, Devan juga anak yang pemberani. Tapi bunda juga tau Devan, bunda kenal Devan juga Davin. Bukan badan Devan yang saat ini sedang terluka dan butuh pertolongan tapi disini (Meletakan telunjuknya di dada Devan). Dan saat hati Devan terluka percaya atau enggak hati bunda lebih terluka. Hati bunda dan ayah juga terasa sakit bahkan sangat sakit. Devan tau sekuat-kuatnya orang tua saat menanggung beban hidup mereka akan lemah jika itu berhubungan dengan anak-anak mereka. Sekarang bunda tanya, Devan mau kita sama-sama ngerasa sakit atau nyembuhin luka itu bareng-bareng?" Kata Dara sambil menggenggam erat tangan Devan untuk memberikan dukungan dan rasa percaya diri.
Devan diam sejenak sambil menatap wajah Dara yang terlihat sedih dan menahan air mata yang hampir tumpah. Anak itu menyentuh lembut pipi Dara.
"Jangan nangis bunda, Devan baik-baik aja. Devan anak yang kuat seperti ayah dan Devan anak yang hebat seperti bunda." Ucap bocah itu, mendengar hal itu Dara tidak bisa lagi menahan air matanya. Dara memeluk Devan erat sambil menumpahkan semua perasaan yang ia tahan sejak tadi.
"Hi, my hero." Ucap Daniel menghampiri Devan dan Dara. Pria itu baru saja menemui psikiater terlebih dulu untuk menceritakan secara detail keadaan Devan dan apa yang baru saja dialami Devan hingga ia bersikap seperti sekarang.
Daniel ikut duduk di samping Dara sambil menggenggam tangan anak laki-lakinya itu.
"Do you want to fly? Let Daddy and mommy to be your wings. Hold our hands, like us to hold your hands." Ucap Daniel tersenyum berusaha membuat perasaan Devan menjadi lebih baik. Dara ikut tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala Devan. Devan melihat wajah kedua orang tuanya dengan tatapan sendu. Dengan yakin Dave kecil mengangguk dan bersedia untuk menemui dokter untuk membantunya.
Daniel dan Dara tersenyum, mereka lalu pergi menuju ruangan Dokter untuk menemani Dave. Setelah dokter memeriksa keadaan Devan, dokter menyarankan untuk memberikan hipnoterapi yaitu untuk memberikan sugesti tertentu pada pasien yang ditangani.
Devan mulai menjalani pengobatan pertamanya. Melupakan kejadian yang sudah berlalu sekitar tiga bulan itu tidaklah mudah bagi anak seusia Devan. Terlebih Devan tipe anak perasa dan peka akan suatu masalah. Tangan Daniel dan Dara terus menggenggam erat tangan Devan menandakan jika Devan tidak pernah sendirian.
"Karena kamu suami saya meninggal! Karena kenakalan dan kebodohan kamu suami saya pergi! Harusnya kamu yang pergi bukan suami saya!" Kata-kata bu Mela langsung terdengar nyaring di telinga Devan membuat bocah itu melepaskan genggaman tangan kedua orang tuanya lalu menutup telinganya dengan kuat.
"Maaf oma, maafin Devan." Kata Devan mulai terisak. Melihat kondisi anaknya yang cukup serius Dara tidak kuasa menahan air mata. Seketika wanita itu menangis kedalam pelukan suaminya.
"Maafin Devan oma, Maafin Devan opa." Ucap Devan yang terus menerus meminta maaf. Hanya kata itu yang terucap dari mulut Devan. Cairan bening terus menerus keluar dari matanya sambil mengiba meminta maaf pada bu Mela dan almarhum pak Angga.
"Dev..." Panggil Dara pelan didalam pelukan Daniel. Daniel mengusap punggung istrinya berusaha menenangkan Dara.
"Dia sedang berjuang. Doakan dia agar bisa secepatnya melewati fase ini, kamu adalah surganya, kamu adalah bidadari untuknya maka doamu adalah kekuatan untuknya. Untuknya kamu harus kuat, demi dia kamu gak boleh lemah." Ucap Daniel sembari memeluk istrinya.
"Gimana aku bisa kuat sedangkan yang menjadi kekuatanku saat ini sedang terluka." Sahut Dara terisak.
"Maka mari saling menguatkan satu sama lain. Devan gak sendirian, dia punya kita untuk berpegangan." Mendengar hal itu Dara mengangguk pelan mencoba lebih tenang.
Setelah hampir 20 menit, terapi yang dijalani Devan selesai. Dokter memberikan hasil laporan untuk kedua orang tua Devan.
"Minggu depan kita akan kembali melakukan terapi. Semoga cara ini berhasil dan mengembalikan Devan seperti sedia kala." Ucap dokter tersebut, Daniel dan Dara meng-aamiin-kan ucapan dokter tadi lalu mereka berpamitan untuk pulang.
Dalam perjalanan Devan hanya diam sambil melihat kearah jendela. Jujur, cara ini tidak membantu sama sekali bagi Devan. Namun karena kedua orang tuanya ia rela menjalani semua ini.
***
"Bun, El boleh ngomong sesuatu gak?" Tanya El yang saat ini dalam perjalanan pulang setelah mengantar ibunya berkunjung ke makam almarhum ayahnya.
"Ngomongin apa sih sampai kamu minta izin segala?" Sahut bu Mela tersenyum. Elenarik nafas dalam sebelum bicara, pria itu ingin membahas masalah tentang Devan.
"Bun, busa gak bunda bersikap seperti biasa ke Devan. Kasian bun, ini semua bukan salah Devan. Anak itu bahkan sekarang tersiksa, mentalnya terluka dan saat ini dia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja." Ucap El mencoba membujuk ibunya. Mendengar topik pembicaraan El, mendadak wajah bu Mela yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar. Senyum hangat itu seketika hilang berganti dengan wajah dingin dan tatapan emosi.
"Bunda tau ini bukan salahnya, tapi setiap kali ngeliat wajah Devan. Kejadian itu langsung datang dengan tiba-tiba dan itu membuat hati bunda sakit. Daripada bunda harus bersikap kasar sama dia, lebih baik jika bunda diam." Sahut bu Mela yang masih enggan memaafkan Devan.
"Bunda tau gak hari ini Devan menjalani hipnoterapi. Ini bukan masalah kecil dan sepele bun, ini menyangkut masa depan Devan. Kasian kalo terus-terusan tertekan seperti itu." Ucap El terus membujuk ibunya agar bisa melupakan masalah yang sudah menjadi takdir tersebut.
"Cukup El, bunda gak mau ngomongin masalah ini lagi. Bunda harap kamu ngerti perasaan bunda. Bunda akan kembali bersikap seperti biasanya tapi bukan sekarang. Jangan paksa bunda untuk melupakan semua itu sekarang." El menghela nafasnya dan memilih untuk diam, ia hanya memikirkan keadaan Devan saat ini. Kasian anak itu, hari-harinya tidak lagi ceria seperti anak-anak lain.
***
"Gimana hasil pemeriksaan Devan?" Tanya El pada Daniel saat mereka berdua bertemu di kantor.
"Masih sama seperti biasanya. Minggu depan dia akan kembali menjalani terapi. Gue bahkan mulai gak yakin ini semua bisa membantu." Ucap Daniel mulai pesimis, pria itu hanyalah seorang manusia biasa. Sekuat apapun menyembunyikan rasa sedih ia tetap merasa hancur dan terluka apalagi melihat anaknya seperti itu. El tau benar perasaan Daniel saat ini, ia bahkan merasa ikut bersalah pada Daniel dan keluarga karena sifat bu Mela.
"Lo gak boleh pesimis. Gue tau gimana perasaan lo saat ini, tapi kalo Devan tau keadaan lo begini gimana dia bisa kuat dan bertahan. Anak itu istimewa, dia bahkan memiliki pikiran yang lebih dewasa untuk anak seumurnya. Maafin gue, maaf banget. Jujur gue ngerasa bersalah karena sikap bunda." Kata El duduk disamping Daniel. Daniel tersenyum, ia bahkan sama sekali tidak menyalahkan siapapun atas kejadian yang menimpa anaknya.
***
Sore itu Zea memaksa ingin pergi ke rumah Daniel dan Luna pun pergi membawa Zea kerumah ayah dan ibu angkatnya tersebut.
"Zea bawa apa?" Tanya Luna saat melihat Zea membawa tas ransel besar yang hampir terisi penuh dan menutupi tubuhnya yang mungil.
"Bawa sesuatu buat Devan mom. Devan kenapa sih mom sekarang gak mau main lagi? Kenapa Devan sekarang diam aja terus gitu dikamar mulu. Dia lagi ngambek ya? Gak dibeliin ayah bunda mainan ya?" Kata Zea bertanya tanpa henti membuat Luna tersenyum.
"Oh gitu, kenapa gak ke dokter aja mom? Pasti Devan gak mau karena takut disuruh minum obat. Dasar Devan cengeng." Ejek Zea sambil berkacak pinggang. Luna tersenyum mendengar celotehan dari mulut anaknya. Walau dijelaskan ia tidak akan mengerti dengan keadaan Devan saat ini.
"Ya udah ayo kita berangkat. Entar kesorean." Zea mengangguk mereka berdua lalu pergi kerumah Daniel.
***
Sesampainya dirumah Daniel Zea langsung berlari masuk kedalam rumah. Rumah mewah ini rumah kedua bagi Zea jadi saat berada di rumah ini, ia sama saja seperti sedang berada dirumahnya dirumahnya sendiri.
"Bunda...." Teriak Zea menghampiri Dara dan langsung memeluk Dara. Dara tersenyum penuh kasih menyambut pelukan hangat Zea.
"Zea sama siapa kesini?" Tanya Dara penasaran.
"Sama mommy, tuh mommy didepan." Tidak lama Luna muncul dari balik pintu sambil membawa dua kotak kue ditangannya.
"Kok gak ngabarin kalo mau main kesini?" Tanya Dara mencium pipi Luna.
"Dadakan. Zea tuh ngerengek minta anter kesini. Oh iya Vanilla buat abang, red velvet punya Davin." Kata Luna sambil memberikan kotak kue tersebut pada Dara.
"Ya ampun repot-repot. Terus Calla mana? Kok gak diajak?"
"Calla baru aja tidur, seharian dia main jadi aku tinggal sama mbak nya dirumah."
"Bunda Devan mana?" Tanya Zea sudah tidak sabar ingin memberikan hadiah yang ia bawa untuk Devan.
"Ada dikamarnya sayang. Zea susulin gih ajak ngobrol." Sahut Dara tersenyum sambil menyentuh pipi Zea.
"Mommy, Zea ke kamar Devan ya." Kata Zea meminta izin pada ibunya. Luna mengangguk dan Zea pun segera berjalan cepat menuju kamar Devan.
Sementara itu Luna langsung menanyakan hasil pengobatan yang dijalani oleh Devan.
***
Zea mengetuk pintu kamar Devan dengan pelan. Semenjak Devan mengalami masa sulit Zea tidak lagi bertingkah usil pada Devan.
"Devan, aku boleh masuk gak?" Ucap Zea dari balik pintu. Devan yang saat ini sedang main dengan hpnya memilih untuk diam tidak menghiraukan Zea.
"Devan, bukain pintu.....Kalo enggak aku suruh bunda marahin kamu." Ancam Zea namun itu sama sekali tidak mempengaruhi Devan. Devan malah memakai earphone agar tidak mendengar suara Zea dari luar kamarnya.
Lama menunggu membuat gadis kecil itu kesal, ia mengeluarkan benda yang ada didalam tasnya. Selembar kertas bergambar seorang anak laki-laki yang sedang asik bermain dengan senyum mengembang diwajahnya. Awalnya Devan mengabaikan kertas yang diselipkan oleh Zea lewat bawah pintu. Namun Zea kembali mengirimkan selembar kertas lagi dan kini gambar seorang anak laki-laki yang duduk menyendiri dengan raut wajah sedih.
Devan mulai mendekati pintu dan melihat dua gambar yang dikirim Zea. Dan kertas lain yang berisikan gambar kembali muncul. Namun kini gambar seorang gadis kecil yang sedang berusaha menghibur anak laki-laki tersebut. Lalu gambar ke empat anak laki-laki tersebut masih memilih untuk diam dan mengacuhkan gadis yang menghiburnya. Dan gambar ke lima, akhirnya gadis kecil itu pergi meninggalkan anak laki-laki yang tidak juga menghiraukannya. Devan pun menunggu kertas ke enam namun tidak juga dikirim oleh Zea.
Karena Zea tidak juga mengirim gambar selanjutnya, Devan merasa penasaran apakah Zea masih berada di depan kamarnya atau pergi seperti gambar yang ia buat. Devan mulai membuka kunci pintu kamarnya lalu membuka pintu kamar dengan perlahan.
Betapa kagetnya Devan saat membuka pintu dan melihat Zea berdiri tepat di depan pintu sambil memegangi gambar ke enam yang menutupi wajahnya.
Mendengar suara pintu terbuka, Zea langsung membuka wajahnya yang ia sembunyikan dibalik kertas tadi. Devan yang masih tanpa ekspresi langsung kembali masuk kedalam kamarnya.
"Eh tunggu dulu." Tarik Zea menghentikan langkah Devan. Devan hanya membalik badannya, anak itu enggan untuk bicara.
"Suit, kalo kamu yang menang aku bakal pulang sekarang juga. Kalo aku yang menang, siap-siap ikuti semua ucapanku. Kamu gak bisa nolak, kalo nolak ak bakalan terus ganggu kamu kalo perlu aku nginap disini. Dan satu lagi, yang namanya Devan gak pernah lari dari tantangan." Kata Zea menantang. Karena tidak ada pilihan lain Devan mengikuti permainan Zea. Anak itu beradu suit.
"Gunting, kertas, batu." Ucap Zea, putaran pertama Devan yang menang.
"Gunting, kertas, batu." Kini giliran Zea yang mendapat poin. Tinggal satu kali lagi permainan berakhir. Dalam hati, keduanya sama-sama berharap jika mereka menang.
"Gunting, kertas, batu."
"Yes." Ucap Zea mengepal tangannya, anak perempuan itu menang dan otomatis Devan harus mengikuti semua ucapan Zea.
"Oke, sekarang kamu harus panggil aku Ratu." Perintah pertama dari Zea sambil tersenyum bangga. Devan tidak menghiraukan anak perempuan itu dan tidak berniat membuka mulutnya.
"Heiii sportif dong jadi cowok. Kalah ya terima aja." Protes Zea berkacak pinggang.
"Ratu." Ucap Devan singkat membuat Zea mengerutkan dahi.
Bersambung