Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Night Romance



Luna dan Dara baru saja tiba di bandara untuk menunggu kedatangan para lelaki mereka.


"Sini Zea sama bunda yuk." Kata Dara mengambil Zea dari gendongan Luna. Dara memang tidak mengajak kedua anak laki-lakinya karena mereka berdua sedang kurang sehat mungkin karena efek dari vaksin.


Mereka berdua berjalan menuju lobi dan duduk dibangku yang sudah disediakan.


"Dara....." Ucap seorang yang menghampiri mereka bertiga saat mereka asik mengobrol.


"Ken." Ucap Dara pelan tersenyum kaku, Itu Kenan Abner pria tampan berumur 30 tahun memiliki postur tubuh seperti El dan ia adalah mantan terindah bagi Dara.


"I.....Itu anak kamu?" Tanya Ken menunjuk kearah Zea yang terus mengoceh sambil memainkan rambut panjang Dara.


"Oh....I....Ini anak temen aku." Sahut Dara melihat kearah Luna, Luna pun tersenyum saat Ken melihat kearahnya.


"Oh ya ampun, Aku kira ini kamu. Kamu apa kabar? Lama banget ya gak ketemu dan kamu tetap sama seperti yang dulu." Dara hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia bingung harus bersikap seperti apa bukan karena ia masih mencintai atau memiliki rasa pada pria itu melainkan hanya perasaan kaget yang tiba-tiba bertemu kembali dengan pria itu setelah kurang lebih 10 tahun tidak bertemu.


"Aku baik, Kamu bukannya tinggal di Australia?" Tanya Dara lagi sedangkan Luna asik bermain dengan Zea saat ini.


"Mulai hari ini aku tinggal di Indonesia. Papa ku baru meninggal satu minggu yang lalu dan aku yang bakalan ngurus semua perusahaan nya disini."


"Oh, Aku turut berduka cita atas meninggalnya om Donny." Kata Dara yang mulai merasa risih karena terlalu lama mengobrol.


"Sayang...." Teriak El yang sudah mendarat dengan selamat, Ia melambaikan tangan kearah Luna dan Zea. Luna yang melihat langsung membalas lambaian itu dengan senyum mengembang diwajahnya ia berdiri dan segera menghampiri El yang sudah tidak sabar ingin memeluk dan mencium kedua wanita nya itu.


"Maaf, Aku duluan ya." Kata Dara langsung mengakhiri obrolannya dan menyusul Luna. Ken tersenyum menatap wanita berambut panjang itu lalu ia pun pergi dari sana.


"Anak Daddy, Daddy kangen...." Kata El yang langsung menggendong Zea sambil terus menciumi pipi yang sangat montok itu.


"Sama Zea aja kangennya?" Tanya Luna sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Ya sama Mommy nya Zea juga lah." Sahut El tersenyum membawa Luna kedalam pelukannya.


"Ummmm maaf nih bukannya mau ngerusak momentum kangen-kangenan nya. Tapi Daniel kok gak ada keliatan dia gak ketinggalan kan?" Tanya Dara yang sejak tadi tidak melihat suaminya. Luna langsung ikut celingak celinguk mencari wajah Daniel tapi tidak didapatinya.


"Iya kok kak Daniel gak ada?" Tambah Luna menanyai suaminya.


"Ada tuh jauh dibelakang, Keberatan bawa koper." Sahut El santai bahkan terkesan tidak perduli pada sahabatnya itu. Terkadang orang-orang heran kenapa bisa mereka disebut sahabat padahal nyatanya sikap mereka berdua jauh dari kata akur.


"Kok gak dibantuin?" Tanya Luna pada El. El hanya diam mengangkat kedua bahunya membuat Luna menggelengkan kepalanya.


"Honey bunny sweety stroberry terlope-lope." Teriak Daniel berlari kearah Dara yang baru saja ingin menyusulnya.


Daniel langsung memeluk Dara dan menciumi wajahnya tertubi-tubi lalu beralih pada Zea, Baru saja ia ingin mengambil Zea dari gendongan ayah kandung nya El keburu menepisnya.


"Gue kangen juga kali El sama anak gue. Iya kan Zea, Zea kangen juga kan sama ayah?" Ucap Daniel sambil menepuk tangan membuat Zea tertawa nyaring.


"Gue aja masih kangen lo main rebut-rebut aja." Sahut El sinis memeluk erat Zea.


"Bakhil emang!" Bentak Daniel kesal tidak mendapat izin untuk menggendong Zea.


"Hai Luna..." Sapa Daniel sambil melambaikan tangannya kearah Luna. Luna tersenyum dan membalas lambaian tangan Daniel.


"Davin Devan kok gak ikutan?" Tanya Daniel merangkul bahu istrinya.


"Iya, Badan mereka panas habis vaksin. Jadi mereka tinggal dirumah sama oma, Opa dan om Rendy." Sahut Dara.


"Ayo buruan kita pulang, Kasian mereka kelamaan ditinggal. Aku juga udah kangen berat sama mereka." Kata Daniel santai berjalan menggandeng tangan Dara.


"Lah terus barang lo mana?" Tanya El penasaran melihat Daniel tidak membawa apa-apa ditangannya.


"Ini gunanya otak, Makanya jangan cuma andelin otot. Semua barang gue udah gue kirim lewat jasa pengirim cargo, Bentar lagi juga nyampe rumah. Ngapain gue susah payah bawanya." Sahut Daniel sombong sambil merapikan rambutnya bermaksud Dara sadar jika ada hal baru pada diri Daniel.


"Tumben otak lo jalan sesuai alurnya, Biasanya kan nabrak kanan kiri." Sahut El membuat Luna memukul pundak suaminya itu.


"Dari dulu hobinya ya nindas yang lemah, Merasa jago gitu dia mentang-mentang badan nya segede hulk." Kata Daniel meminta pembelaan dari Luna.


"**** lo kek kasih ibu sepanjang masa dan tak terhingga." Sahut El cuek.


"Udah ah apaan sih kek anak kecil gitu. Dimana aja kalo ketemu pasti berantem, Kalo dipisah kangen-kangenan." Kata Dara menyudahi perdebatan antara El dan Daniel.


"Wamit-amit kangenin dia beib. Ayo pulang, Males lama-lama liat muka El. Dah Lun, Kita duluan ya. Dadah Zea, Oleh-oleh buat Zea entar ayah kirim ya." Katanya lagi sambil mencium pipi Zea lalu menarik tangan Dara berjalan cepat meninggalkan El.


"Kamu bawa mobil?" Tanya El pada istrinya.


"Gak, Aku dianter sama supir."


Mereka berdua pun segera pulang, Selain lelah El juga sudah tidak sabar lagi ingin bermanja ria dengan istrinya itu.


***


"Sayang ada yang ada gak dari aku?" Tanya Daniel saat mereka sudah ada dirumah. Daniel yang baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk di pinggangnya langsung memeluk Dara dari arah belakang.


Mendengar hal itu Dara memutar tubuhnya menghadap Daniel. Diperhatikan secara rinci dan jeli dari atas kepala hingga ujung jari kaki tapi ia tidak menemukan hal yang dimaksud oleh Daniel.


"Apa yang beda ay?" Tanya Dara membuat Daniel merasa kecewa bahwa Dara tidak menyadari perubahan menyolok pada rambut Daniel.


"Ya ampun beib, Gak bedarah tapi kok sakit gini ya?" Kata Daniel melepaskan pelukan nya dengan wajah masam.


Buru-buru Dara menarik Daniel dan langsung memeluknya.


"Apa sih ay? Serius gak tau." Sambungnya lagi melihat wajah Daniel. Namun lagi-lagi Daniel melepaskan diri dari pelukan Dara dan duduk di tepi ranjang.


"Aku loh sengaja ngerubah model dan warna rambutku buat kamu, Biar mirip idola kamu. Tapi kamu gak nyadar gitu sih beib?" Katanya manja dengan wajah masam bergaya merajuk.


"Ya ampun ay, Kamu keren banget sih. Seriusan aku baru nyadar bener-bener keren. Uch makin sayang sama kamu deh." Ucap Dara memeluk manja Daniel tapi Daniel masih bertahan dengan cerita ngambeknya.


"Ay......Ayah..." Kata Dara manja terus menggoda suaminya tapi Daniel tetep kekeuh bahkan tidak ingin melihat kearah Dara yang menarik-narik tangannya.


"Jangan marah gitu dong, Jelek tau. Kan sayang udah sekeren ini tiba-tiba jadi jelek. Maaf deh maaf ya." Bujuk Dara berharap suaminya langsung memaafkan nya.


"Aku tuh gak marah beib, Tapi kok ngerasa kesel aja gitu loh. Ini dari Korea loh aku nata rambutnya spesial buat kamu, Eh kamu nya malah gak nyadar gitu." Jawab Daniel yang masih belum bisa terima.


"Ya namanya aku sibuk ngurus anak-anak mana nyadar sama hal begitu."


"Masa sama perubahan besar gini kamu gak nyadar? Aku aja kalo pipi kamu mulai tembem aku nyadar kok." Kata Daniel, Mendengar hal itu Dara langsung melepaskan tangan nya dari tangan Daniel dan memasang wajah pembunuh.


"Jadi kamu bilangin aku gendut?!" Kata Dara nyaring dan terlihat sangat marah.


"Tadi kamu bilang pipiku tembem, Jadi secara gak langsung kamu bilangin aku GENDUT!"


"Ya ampun beib, Kok malah kebalik kamu yang jadi marah gini sih? Kamu itu cantik, Cantik banget malahan. Bahkan kamu gak keliatan udah punya anak."


"Alah udah deh gak usah alasan! Kamu nyebelin banget sih! Tadinya aku tuh kangen banget sama kamu, Pengen sayang-sayangan, Pengen manja-manjaan tapi sekarang ngeliat muka kamu aja aku males!" Daniel serasa disengat seribu tawon mendengar ucapan Dara, Dara berdiri lalu meninggalkan Daniel dikamar mereka.


"Sayang, Dengerin aku dulu dong. Beib jangan marah gitu dong, Kamu salah faham sayang maksud aku gak gitu, Sumpah." Teriak Daniel berusaha menjelaskan namun Dara tidak perduli. Andai ia sudah mengenakan pakaian lengkap ia sudah mengejar Dara sebelum Dara keluar dari kamar. Walaupun Daniel terbilang manusia kebal dan tidak tau malu, Ia tetap harus menjaga sikap dan aurat karena dirumahnya kini ada ART dan dua pengasuh anak kembarnya.


"Ya ampun beib, Yang marah siapa yang minta maaf siapa. Nih mulut juga kenapa lancang banget sih ngomong tembem segala jadi gini kan ceritanya." Ucap Daniel bicara sendiri, Menyesal sudah pasti datangnya belakangan karena kalo datangnya dari awal itu sudah pasti pendaftaran.


Daniel memutuskan untuk memakai pakaiannya lebih dulu sambil menunggu Dara tenang.


Keadaan Daniel berbanding terbalik dengan El dan Luna. El dan Luna saat ini sedang menikmati makan malam bersama dihalaman belakang yang sudah disulap Luna seperti cafe bertema outdoor. Ditambah lagi Zea sedang diasuh oleh kedua orangtua El, menambah romantisme makan makan mereka berdua tanpa diganggu oleh hal apapun.


"Kamu nyiapin ini sendirian?" Tanya El, Luna mengangguk tersenyum manis pada suaminya.


"Niatnya mau ngajak abang makan malam diluar, Tapi kasian pasti capek karena perjalanan. Jadi aku sulap aja halaman kita begini." El tidak tau lagi harus berbuat apa pada wanita yang ada didepannya saat ini. Makin hari cinta yang ia rasakan untuk Luna makin bertambah, Setiap detik ia merasa jatuh cinta pada Luna. Jatuh cinta dalam segala hal. Mungkin ini yang dibilang mencintai tanpa batas, Mencintai segala kelebihan juga kekurangan nya.


"Sayang, Aku pengen kita selalu bersama. Bersama dalam duka dan suka, Bersama menjaga buah hati kita, Bersama dihari tua. Hingga jika saatnya kita berpisah bukan karena orang ketiga atau karena hati yang tidak lagi mencinta melainkan di saat aku gak mampu berdiri dan bernafas untuk kamu. Terimakasih untuk semua kebahagian ini, Terimakasih karena sudah menjadi tulang rusukku."


Ucap El mengecup punggung tangan istrinya itu dengan lembut dan penuh rasa membuat mata Luna berkaca-kaca karena ia merasa sangat bahagia.


"Untuk kamu yang selalu menjadi butiran rindu di setiap detik waktu ku. Terimakasih karena sudah menjadi sebagian dari hidupku, Terimakasih sudah meletakan ku didalam hatimu dan terimakasih sudah menjadi atap yang selalu menaungi mimpi-mimpiku."


Jawab Luna seraya tersenyum, Air matanya pun tanpa sadar langsung mengalir begitu saja tanpa permisi.


El mengeluarkan kotak hitam berukuran kecil dari saku celananya, Dibukanya kotak kecil itu dihadapan Luna. Sebuah kalung berwarna silver dan memiliki liontin batu berlian yang melambangkan cinta tiada akhir dan kesetiaan juga kekuatan. El berdiri lalu memasangkan kalung itu dileher Luna.


"Bahkan berlian inipun tidak bisa mengalahkan kecantikan kamu, Karena bukan hanya wajah kamu yang bersinar seperti sinar matahari di pagi hari, Tetapi hatimu juga memancarkan kehangatan sinar itu." Ucap El berbisik ditelinga istrinya. Sontak tangis bahagia Luna langsung pecah ia berdiri lalu mencium bibir El sambil memeluknya erat.


***


Daniel melihat kearah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 11 malam tapi Dara tidak juga ingin kembali kekamar merek. Ia malah betah didalam kamar Davin dan Devan yang sudah tertidur nyenyak.


Segala cara sudah dilakukan Daniel untuk membujuk Dara, Namun Dara sepertinya benar-benar kesal pada suaminya itu.


Daniel yang sudah kehabisan akal frustasi, Ia meraih gitar lama kesayangan nya lalu pergi ke taman yang tempatnya tepat berada dibawah kamar Davin dan Devan.


***Ku tuliskan kenangan tentang caraku


menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu


Tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu


Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena tlah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu


Aku pernah berfikir tentang hidupku tanpamu


Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai kini


Aku slalu bermimpi tentang indahnya hari tua bersama mu


Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi


Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu


Untukmu hidup dan matiku


Bila musim berganti sampai waktu terhenti


Walau dunia membenci ku kan tetap disini


Karna tlah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu***.


Daniel menyanyikan lagu romantis itu agar Dara memaafkan nya. Walaupun Daniel terlalu bobrok untuk El tetapi ia memiliki suara lebih indah dibanding El bahkan yang mengajarkan El bermain gitar adalah Daniel karena saat kecil Daniel bekerja sebagai musisi jalanan.


Daniel masih menengadahkan kepalanya melihat kearah kamar Davin dan Devan berharap Dara membuka jendela dan memaafkannya namun Dara tidak juga bereaksi.


"Beib, Please maafin aku." Kata Daniel terus berharap tapi jendela tetap tertutup rapat.


"Maafin aku juga." Sahut Dara yang sudah berdiri dibelakang Daniel membuat Daniel terkejut. Bahkan bukan hanya Dara yang ada disana, Kedua pengasuh dan ART mereka juga ikut menyaksikan dan menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Daniel.


Dara langsung memeluk Daniel, Wanita itu benar-benar tidak menyangka jika suaminya bisa seromantis ini. Biasanya Daniel selalu bersikap manja dan terkesan tidak romantis tapi ia salah. Nyatanya Daniel melakukan hal sesederhana ini namun bisa meluluhkan hati Dara.


"Maafin aku." Ucap Daniel dalam pelukan Dara, Dara mengangguk cepat menerima maaf Daniel. Sontak ketiga penonton tadi langsung menyoraki dan bertepuk tangan untuk suami istri sekaligus majikan mereka itu.


Daniel langsung menggendong Dara untuk masuk kerumah dan menuju kamar mereka berdua.


"Pokoknya malam ini bakalan jadi malam yang panjang." Ucap Daniel tidak sabar ingin segera mengambil jatahnya.


"Ay turunin." Kata Dara namun tidak dihiraukan oleh Daniel. Ia langsung merebahkan Dara di atas ranjang lalu dengan cepat ia membuka baju kaos berwarna putih yang ia kenakan.


"Ay gak bisa...." Ucap Dara lagi, Namun lagi-lagi Daniel tidak menggubrisnya. Sudah cukup ia puasa selama tiga hari tiga malam dan malam ini ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Daniel mulai menindihi tubuh Dara menciumi seluruh wajahnya.


"Ay......Aku lagi tanggal merah." Kata Dara lagi, Mendengar pernyataan Dara serasa ia mendapatkan Double kill.


"Beib, Serius kamu lagi dapet?" Tanya Daniel menghentikan aktifitasnya, Semangatnya langsung turun drastis.


"Ia, Baru hari pertama. Kamu lupa kalo hari ini tanggal 17." Kata Dara memberikan jawaban pasti.


"Beib.....Teganya." Sahut Daniel hanya bisa meratapi nasibnya yang akan terus melanjutkan puasanya selama beberapa hari kedepan sedangkan Dara hanya bisa terkikik melihat suaminya itu.


***Bersambung


Mulai sepi ya biasanya komen bs sampai 35 an bahkan 100 likenya sampain 300 an skg menurun bgt sedih author tuh.....😭😭😭😭😭😭😭***