
Daniel membawa Dara masuk kesebuah club malam yang sangat ramai dan Dara tidak protes toh pikirannya saat ini benar-benar kacau dan ia rasa ia memang memerlukan sedikit hiburan. El melihat-lihat sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa Dara kesebuah meja yang disana sudah ada dua orang wanita yang duduk berjauhan dan terlihat sangat tidak akrab.
"Daniel....." Ucap mereka bersamaan saat Daniel menghampiri meja itu.
"Sayang, Kok baru datang?" Ucap seorang wanita menggelayut manja dileher Daniel.
"Sayang? Daniel mending kamu jelasin deh sama dia tentang hubungan kita." Balas wanita yang satunya lagi menepis tangan wanita pertama. Dara melihat sinis kearah mereka bertiga ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi depannya saat ini, Ia bahkan berdiri jauh dibelakang Daniel.
"Listen to me." Ucap Daniel menyudahi keributan antara dua wanita cantik ini.
"Aku kesini emang mau ketemu sama kalian berdua, Dan aku mau bilang kita putus." Sontak dua wanita itu terlihat sangat marah pada Daniel.
"Maksud kamu apa? Jadi selama ini kamu mainin aku?" Kata salah satunya belum sempat Daniel menjawab wanita yang satunya lagi langsung menampar Daniel keras.
Dara yang melihat tersenyum bahagia, Bisa dibilang ia sangat bersyukur ketika ia tidak bisa melakukan hal itu pada Daniel ada yang bersedia menampar Daniel untuknya.
"Kamu ngerebut aku dari cowok ku sebelumnya, Saat itu kamu bilang kamu akan setia sampai akhir tapi ternyata kamu pecundang!" Segelas air pun disiram tepat kewajah tampan pria itu. Dara makin antusias melihat tontonan yang ada didepannya, Ia terus bersyukur atas apa yang didapat oleh Daniel.
"Apa bikin kamu senang sampai tertawa sangat lepas?" Ucap seorang pria dari arah belakang menegur Dara. Dara kaget dan langsung melihat kearah pria itu, Pria bertubuh tinggi memakai kemeja berwarna biru malam sedang berdiri dibelakang nya. Ditangannya memegang sebuah gelas berisi wine.
"Mau minum denganku?" Ucap pria itu, Namun Dara tidak menghiraukannya dan kembali memperhatikan Daniel dengan kedua wanitanya.
"Sombong banget sih, Kamu yakin mau nolak aku? Gak tau aku siapa?" Sambung pria itu menarik tangan Dara hingga ia jatuh dalam pelukannya. Karena kesal atas sikap pria kurang ajar itu Dara meraih gelas yang ada ditangan pria tadi pria itupun tersenyum karena Dara menerima tawarannya.
Namun tidak disangka, Dara malah menyiramkan minuman itu kewajah pria tadi.
"Tangan kamu sudah terlalu lancang." Ucap Dara menyunggingkan senyuman sinis, Beberapa orang juga sedang menonton bahkan ada yang mengabadikannya lewat hape mereka.
Sikap Dara membuat pria itu benar-benar marah, Ia langsung melayangkan tangannya mengarah pada wajah cantik Dara.
"Jangan pernah berani untuk nyentuh dia walau sedikit, Kalo gak lo bakal berhadapan sama gue!" Tangan Daniel lebih dulu menangkap tangan pria itu. Pria itu berdecih meludah lalu memukul Daniel namun lebih dulu Daniel yang memukulnya membuat pria itu terjungkang.
"Sialan! Hajar mereka berdua!" Katanya memerintah sekelompok orang berbaju hitam dan bertubuh besar. Suasana club pun tambah ramai akibat Daniel. Daniel melindungi Dara dari sekumpulan orang-orang itu ia mulai melawan satu persatu perkelahian pun tidak bisa dihindari lagi.
"Daniel awas!" Teriak Dara saat salah satu pria mengeluarkan pisau untungnya Daniel cukup cekatan hingga ia bisa menghindari pisau itu. Karena mereka membawa senjata tajam, Daniel memilih untuk membawa Dara pergi dari tempat itu ia menggenggam erat tangan Dara sambil berlari.
"Kenapa gak kamu lawan?" Ucap Dara saat berlari menuju parkiran mobil.
"Aku gak cukup ahli untuk menghadapi mereka apa lagi mereka pakai senjata semua." Sedikit lagi mereka sampai di mobil Daniel namun para pria itu lebih dulu menghadang Dara dan Daniel.
"Mau lari kemana?" Ucap pria berkemeja biru malam tadi tersenyum licik. Daniel mengeluarkan kunci mobil dari sakunya untuk diberikan pada Dara.
"Kamu lari ke mobil, Aku bakal halangin mereka. Kunci mobil dan jangan keluar dari sana satu lagu hubungi El dan suruh dia datang secepatnya."
"Kamu gila ya, Terus kamu gimana? Ayo kita sama-sama ke mobil." Protes Dara tidak setuju dengan ide yang diberikan Daniel.
"Gak ada waktu, Dalam hitungan ketiga lari cepat kemobil oke." Dara akhirnya menyetujui saat para pria tadi berjalan makin dekat kearah mereka berdua.
"1 2 3." Daniel dan Dara lari bersamaan dan saat para preman itu mengejar mereka pun berpisah. Dara berlari cepat menuju mobil sesuai perintah Daniel dan ia langsung masuk kedalam mobil mengunci mobil rapat. Tangannya dengan cepat mengambil hape dan menelepon Luna karena ia tidak memiliki nomer hape El.
"Ayo dong Luna, Angkat kamu kemana sih? Gak mungkin tidur kan? Ini baru jam 9 please......" Ucap Dara sambil terus menghubungi Luna.
Sedangkan Luna saat ini sedang dalam pelukan El yang enggan melepasnya hanya untuk menerima panggilan telepon.
"Abang, Kali aja itu penting." Kata Luna membujuk El, El menarik nafas panjang dan akhirnya membiarkan istrinya itu menerima panggilan telepon yang berdering sejak tadi.
"Luna, Akhirnya kamu ngangkat. Mana bang El? Gawat, Daniel Lun." Ucap Dara cepat saat telepon diangkat oleh Luna.
"Dara kamu kenapa? Pelan-pelan dong ngomongnya. Kenapa sama kak Daniel?" Tanya Luna penasaran, Mendengar nama Luna mengucapkan nama Daniel El langsung bangun dan mendekati Luna.
"Daniel lagi dikeroyok, Dia nyuruh aku buat panggilin bang El. Makanya tolong banget kasih hapenya ke bang El sekarang juga." Dengan cepat Luna memberikan hapenya pada El.
"Halo.....Kenapa Ra? Daniel kenapa?" Tanya El yang juga penasaran.
"Bang, Cepat kesini bang. Daniel dikeroyok sama orang-orang bang." Suara Dara terdengar ketakutan, Sesekali ia melihat kearah Daniel yang benar-benar sedang dikeroyok saat itu.
"Apa? Kalian dimana?"
"Di club star night." Dengan cepat El memakai baju kaosnya lalu pergi.
"Abang aku ikut." Luna langsung menyusul El. Dengan cepat El melajukan mobilnya dan tidak begitu lama El sampai disana.
"Kamu tetap didalam mobil jangan keluar." Pesannya pada Luna setelah itu ia langsung pergi kearah Daniel yang sudah hampir pingsan.
Berbeda dengan Daniel yang memang tidak begitu menguasai seni bela diri, El lebih cekatan dan pandai. Jelas saja ia adalah pemegang sabuk hitam beberapa jenis bela diri ditambah dengan hobinya yang terbilang kasar yaitu muay thai.
"Lama banget sih lo?" Ucap Daniel yang wajah nya sudah penuh darah, Sambil terbatuk darah ia masih sempat mengacungkan jempolnya kearah El saat El menghajar semua preman itu dan membuat preman-preman itu lari ketakutan meninggalkan pria berbaju biru malam tadi.
"Woy, Kalian semua pengecut banget sih! ***!" Katanya mengeluarkan pisau mengancam El namun itu tidak membuat El takut ia tetap berjalan kearah pria itu dengan tatapan tajam seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
"Maju lo! Gue pastiin lo dan temen lo mati malam ini!" Kata pria tadi tapi sedikit pun El tidak merasa takut membuat pria tadi berkali-kali menelan ludahnya.
"Lo nyakitin sodara gue, Sama aja lo nyari mati." Jawab El datar dan dingin. Tidak lagi terlihat diwajahnya El yang seperti biasa, El yang baik hati, Ramah, Sopan, Dan selalu tersenyum wajah El saat ini benar-benar seperti seorang pembunuh.
"Lo gak tau siapa gue? Lo bakal nyesel saat lo tau siapa gue." Ancam pria tadi sambil melangkah mundur menjauh dari El.
"Dan lo gak tau dengan siapa lo sedang berhadapan saat ini! Elang Edgar Leondra(Nama asli El sebelum diangkat oleh keluarga Wirayudha)." Mata pria itu seketika membelalak menatap mata El yang sama seperti elang dan singa. Pisau yang ia pegang tadi langsung jatuh dan ia lari sangat cepat sebelum El menerkam nya.
Melihat kondisi sekitar aman Luna dan Dara keluar dari mobil masing-masing Dara berlari kearah Daniel yang sudah hampir pingsan. Wajahnya penuh darah saat ini membuat gadis itu shock melihatnya. Sedangkan Luna langsung menghampiri El.
"Aku pikir kamu bakal lari kearah El dan nanya apa dia baik-baik aja." Ucap Daniel pada Dara dengan sisa tenaganya karena keadaan Daniel saat ini sangat terlihat tidak baik Dara tidak bisa mengatakan hal apapun hanya bisa diam melihat darah Daniel yang terus keluar.
"Abang gak apa?" Tanya Luna menggenggam tangan El yang masih mengepal kuat.
"Gak apa-apa." Jawab El mengusap kepala istrinya. Mereka lalu menghampiri Daniel dan Dara.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ucap El lalu memapah tubuh Daniel membawanya masuk kedalam mobil. Dara yang masih terlihat shock dibawa Luna.
"Cowok brengsek bangun! Kamu harus kuat, Bentar lagi kita sampai kerumah sakit." Ucap Dara saat Daniel sudah tidak sadarkan diri. Saat ini Daniel berbaring dipangkuan Dara dan Dara menggenggam erat tangan Daniel. Sebenarnya El dan Luna ingin sekali bertanya ada apa dan kenapa tadi mereka urungkan melihat keadaan Dara yang cukup shock.
Tidak lama mereka tiba dirumah sakit, El mengeluarkan Daniel dan pihak rumah sakit langsung menanganinya.
"Kamu tunggu disini sebentar ya." Ucap El pada Luna lalu ia pergi meninggalkan Luna dan Dara.
***
El saat ini sedang berada dekat mobilnya menelepon seseorang.
"Sekarang juga cari tau orang yang udah ngehajar Daniel di club star night, Bawa dia kehadapan gue besok sore." Ucap El lalu mematikan sambungan teleponnya dan segera kembali kedalam rumah sakit.
"Gimana? Apa kata dokter?" Ucap El saat ia datang, Dilihatnya Dara menangis dalam pelukan Luna.
"Dokter belum keluar, Tapi tadi suster ngambil kantong darah buat kak Daniel. Ternyata kak Daniel kena tusuk dibagian perut dan mengeluarkan banyak darah." Jelas Luna, El mengusap wajahnya kasar saat mendengar keadaan Daniel.
"Ini semua salahku, Andai aku gak nyari masalah sama cowok itu ini semua gak akan terjadi." Ucap Dara dalam tangisnya.
"Udah jangan nangis, Kak Daniel orang yang baik dan kuat dia pasti bisa lewati itu semua." Kata Luna berusaha menenangkan sahabatnya, El menyentuh baru Dara agar ia bisa lebih tenang.
Setelah lama menunggu dokter yang menangani Daniel keluar. Saat itu juga El, Luna dan Dara menghampiri dokter itu.
"Gimana keadaan Daniel dok?" Tanya El penasaran.
"Saat ini pasien masih dalam pengaruh bius. Untung saja luka diperutnya tidak dalam dan hanya robekan kecil di kulitnya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jelas dokter membuat El merasa lega.
"Oh, Terimakasih dok." Dokter itupun meninggalkan El, Luna dan Dara.
"Aku mau ketemu dia." Kata Dara langsung masuk keruangan perawatan Daniel. El dan Luna saling melempar tatapan bertanya satu sama lain, Namun mereka membiarkan Dara masuk kesana. Setelah Dara masuk, Luna langsung memeluk El dengan erat.
"Aku takut terjadi apa-apa sama abang." Katanya dalam pelukan El, El mencium pucuk kepala Luna berulang kali sambil memeluk tubuh istrinya.
"Segini susahnya ya buat kita ngabisin waktu bersama, Ada aja yang ganggu." Keluh El karena sudah pasti malam ini ia akan menunggu Daniel di rumah sakit dan semua fantasi liarnya bersama Luna hancur lebur tidak tersisa. Luna mencium cepat bibir El membuat El kaget dan tersenyum.
"Jangan nambahin penderitaan abang dong." Katanya disela senyuman nya mencubit mesra pipi Luna. Melihat tingkah El Luna kembali mengulang perbuatannya membuat El makin gemas dengan istrinya itu.
"Malam ini abang pulang gak mau nunggu Daniel titik."
"Jangan dong, Kasian kan kak Daniel."
"Ya udah iya, Anggap aja itu buat bekal malam ini jagain kak Daniel. Oke....." Luna tersenyum membuat El tidak ingin berpisah dengannya.
Sedangkan Dara saat ini menatap pria tengil yang sudah mengambil kesuciannya itu.
"Kamu, Sebaik apapun kamu tetap aja kamu itu brengsek." Katanya sambil menangis menggenggam tangan Daniel yang belum sadarkan diri.
"Kamu cowok brengsek, Kamu juga cowok yang gila. Cepat sadar, Masih banyak kata-kata kasar harus kamu dengar." Sambungnya lagi, Jemari Daniel sedikit bergerak saat itu.
Tidak lama El dan Luna masuk, Dara pun langsung menghapus air matanya agar El dan Luna tidak tau kalau ia habis nangis sesegukan karena menghawatirkan Daniel.
"Udah malam, Abang anterin kalian pulang. Biar abang yang jagain Daniel malam ini." Ucap El, Luna mengangguk tapi tidak dengan Dara ia bersikeras ingin tetap tinggal dan menjaga Daniel malam ini...
"Aku aja yang jaga Daniel bang, Kalian pulang aja." Kata Dara membantah.
"Besok kamu ada acara kampus kan? Baiknya kamu pulang sama Luna. Besok pagi sebelum kalian berangkat kalian bisa mampir kesini untuk ngeliat keadaan Daniel. Lagian kata dokter kan gak ada yang perlu dikhawatirkan." Setelah El dan Luna membujuk Dara, Ia akhirnya mengikuti keinginan El.
"Tapi aku gak mau pulang kerumah." Ucap Dara memberi syarat.
"Ya udah kamu tidur dirumah abang aja temenin Luna. Iya kan sa-..... Ummm Lun." Untung El sadar dan tidak melanjutkan ucapannya saat itu.
"Emmmm.....Kamu kerumah bang El aja." Dara mengangguk pelan. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Daniel sendirian, El akan mengantarkan Luna lalu kembali keruamah sakit.
***
Setelah sampai dirumah El langsung kembali kerumah sakit, Luna dan Dara langsung pergi kekamarnya.
"Luna, Dara.....Kalian darimana?" Tanya Clara yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Dari rumah sakit." Jawab Luna singkat. Mendengar itu Clara langsung menghampiri Luna dan Dara.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? El mana?" Nama itu yang paling pertama keluar dari mulut Clara membuat Luna jengah mendengarnya.
"Kak Daniel, Tapi udah gak apa-apa kok. Bang El juga udah disana."Jawabnya lagi.
"Daniel?" Clara langsung berlari menuju kamarnya untuk menelepon Daniel, Luna memutar bola matanya lalu kembali membawa Dara ke kamarnya.
"El, Daniel dirumah sakit mana? Aku mau kesana sekarang." Ucap Clara saat menelepon Daniel yang baru saja sampai dirumah sakit.
"Di rumah sakit harapan, Kamu gak usah kesini. Daniel gak apa-apa kok lagian ini udah malam dan jam besuknya udah habis." Jawab El, Sebenarnya bukan itu yang jadi masalah ia hanya tidak ingin Clara menyusulnya kerumah sakit dan membuat Luna marah.
"Oh, Ya udah besok pagi aku kesana. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku ya."
"Oke.....Aku tutup dulu telepon nya ya." Kata El memutuskan sambungan telepon dan langsung menuju keruangan Daniel.
***
"Kamu mandi dulu, Bersihin badan kamu." Kata Luna menyerahkan handuk ketangan Dara, Dara mengangguk lalu segera pergi kekamar mandi.
Saat Dara masuk kekamar mandi Luna, Ada baju kaos bang El yang berserakan dilantai kamar mandi lengkap dengan celana pendeknya. Tapi Dara tidak berpikiran macam-macam mungkin bang El sedang meminjam kamar mandi adiknya itu biasa terjadi bahkan kakak laki-laki Dara juga sering seperti itu.
Ia masuk kedalam bathtub dan merendam diri dalamnya dengan air hangat agar pikirannya bisa lebih tenang.
***
"Lo pasti habis ngerebut cewek orang lagi makanya lo dihajar begini." Ucap El melihat keadaan Daniel saat ini.
"Siapa yang ngerebut cewek orang sih? Justru gue habis mutusin semua cewek gue." Sahut Daniel pelan membuat El kaget.....
"Lo cepet banget sadarnya? Harusnya lo boleh sadar besok. Kenapa udah sadar jam segini?"
"Heeee brengsek lo." Jawab Daniel menyumpahi El.
"Sekarang ayo kita lakukan interview, Jelasin semua ke gue secara rinci dan detail." El duduk melipat tangannya didepan dada menunggu penjelasan dari Daniel.
"Kek nya pengaruh bius kerja lagi, Kesadaran gue mulai berkurang dan bentar lagi gue gak sadar." Daniel menutup matanya pelan menghindari pertanyaan El.
"Silahkan kembali pingsan Daniel Putrawan, Gue tinggal kirim pesan ke Luna buat ngasih tau Dara kalo Daniel udah sehat dan boleh pulang jadi dia gak perlu lagi merasa bersalah dan datang kemari untuk minta maaf." Ancam El membuat mata Daniel langsung terbuka lebar sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
"Oke oke.....Gue ceritain, Tapi lo harus bilang sama Dara kalo gue gak sadar selama semalaman penuh. Kalopun gue sadar, Gue cuma bisa mengerang kesakitan gimana? Oke, Kalo gak ya gue gak mau cerita sama lo."
"Ya terserah elu mau cerita atau gak. Yang jelas lo tau kan gue bisa ngelakuin apa aja."
"Hehehehe Oke brother, Oke slow.....Ceritanya panjang, Yakin mau denger? Lo gak ngantuk? Lo kan tadi habis ngelawan preman-preman yang badan nya kek gajah badan lo gak pegel emang? Enak loh kalo dibawa tidur."
"Gak!" Sahut El singkat, Membuat Daniel menghembuskan nafasnya panjang dan akhirnya mengalah.
***
Luna dan Dara saat ini berada didalam bus menuju bandung. Luna benar-benar merasa berat harus berpisah dengan El dalam waktu yang cukup lama.
"Chatingan sama siapa sih?" Tanya Dara yang duduk disebelah Luna, Luna langsung menutupi hapenya tidak ingin Dara tau jika ia sedang chating bersama El.
"Bang El, Biasalah." Jawab Luna singkat, Dara kembali melanjutkan tidurnya.
Luna terus memikirkan El yang saat ini sedang bersama Clara di studio photo.
***
El menunggu Clara mengganti bajunya sementara ia sedang di tata rambutnya dan wajahnya diberi riasan agar terlihat lebih sempurna. Tidak lama Clara keluar dengan mengenakan gaun panjang yang sangat terbuka bahkan terlihat hampir tidak mengenakan pakaian, Melihat itu El langsung memalingkan wajahnya padahal Clara sedang tersenyum padanya.
"Apa baju kamu gak berlebihan? Jujur aku keganggu sama baju kamu saat ini. Mending kamu ganti sama yang lebih ketutup." Ucap El enggan melihat Clara yang sudah berdiri dihadapannya.
"El-El kamu gimana sih? Baju ini emang udah diatur sama photographer nya, Mana bisa seenak nya aku ganti baju. Saat itu juga photographer memanggil El dan Clara untuk sesi pemotretan. Mau tidak mau El mengikuti aturan main Clara. Mereka berdua pun mulai bergaya didepan kamera sesuai arahan, Awalnya El masih bisa menerima pose-pose itu karena masih ada dibatas kewajaran namun lama-kelamaan pose mereka terlalu intim dan berani dari adegan peluk, Cium dan bahkan seperti seorang kekasih yang sedang bercinta.
Tanpa pikir panjang El langsung menolak semua pose-pose itu. Ia langsung pergi meninggalkan Clara.
"El tunggu El, Tunggu bentar." Teriak Clara yang menyusul El. El berhenti disebuah ruangan dan mulai melepasi aksesoris yang ada ditubuhnya.
"Kamu bilang cuma photo iklan biasa, Terus yang tadi itu apa? Maaf Clara, Tapi aku gak bisa lanjutin." Ucap El tegas.
"Tapi itu cuma adegan biasa, Toh kita gak ngelakuin apa-apa. Ayolah, Itu cuma pose." Kata Clara membujuk El, Namun El tidak menghiraukan nya. Karena El tidak juga merespon nya Clara mendekati El dan memeluk tubuh El berusaha memancing hasrat El sebagai seorang laki-laki. Ia yakin laki-laki mana yang akan tahan jika berhadapan dengannya saat ini, Tanpa merasa malu Clara meraih tangan El dan membawa kedadanya.
"Clara kamu apa-apaan sih?" El mendorong tubuh Clara hingga ia terduduk di sofa yang ada didalam ruangan itu.
"Cukup Clara, Jangan buat aku bertindak lebih kasar lagi." Ucap El memperingati Clara, Clara bangun dari sofa itu menatap tajam kearah El.
"Apa karena perempuan itu? Perempuan yang kamu kenalkan sebagai ade sepupu kamu padahal dia.......Dia adalah istri kamu!" El kaget mendengar Clara yang sudah mengetahui statusnya dengan Luna.
"Kamu....."
"Ya, Aku udah tau semuanya El. Awalnya aku percaya kalo dia itu ade kamu, Hingga saat itu, Saat aku ngeliat dengan mata kepalaku sendiri kamu.........Kamu mencium mesra perempuan itu. Dan saat itu, Saat dia ada dikamar mu dan kamu dikamarnya juga tadi malam. Bukannya kalian menghabiskan waktu bersama?" Clara mulai menangis saat mengingat semua kejadian itu.
"Apa lebihnya perempuan itu El? Aku yang selalu ada buat kamu, Aku yang dari kecil udah punya perasaan untuk kamu, Dan aku yang sampai saat ini masih menjaga perasaan itu. Apa lebihnya dibanding semua yang aku miliki untuk kamu?"
"Kamu benar, Dibandingkan kamu dia gak ada apa-apanya, Bahkan dia gak pantas kalo harus dibandingkan sama kamu. Dia cuma seorang gadis biasa yang diam-diam mencuri hatiku, Dia cuma seorang gadis biasa yang benar-benar aku cintai. Sesederhana itu dia hingga aku gak bisa hidup tanpanya." Jawab El, Ia tidak lagi perduli jika semua orang tau bahwa ia dan Luna sudah menikah.
"Gak! Kamu gak boleh ngomong gitu. Kita masih bisa menjalin hubungan tanpa sepengetahuan nya. Aku rela walau cuma sebagai simpanan kamu, Aku rela walau hanya sebagai pemuas nafsu mu. Aku rela, Asal bisa bersama kamu." Katanya ingin memeluk El namun dengan cepat El menghindar.
"Maaf, Tapi kamu salah orang." Ucap El lalu pergi meninggalkan Clara yang duduk sambil menangis sejadi-jadinya. Jangankan untuk perduli, Menoleh pun El tidak ingin.
***Bersambung......
Nah yang kemaren bertanya2 udah dijawab ya di chapter ini.....dah pada seneng tuh pastinya......Nah author kan udah bikin seneng di chapter ini sampai 3200 kata loh, Jadi bagilah poinnya buat vote author, Pengen juga dong author dapet ranking dan story ini banyak yang tau biar tambah rame ðŸ¤
Yang masih suka menerka-nerka lanjutan story Luna dan El ikuti terus biar gak ketinggalan cerita.
Dan satu lagi, Di story ini author sengaja mau angkat kisah percintaan 2 pasangan
El dan Luna
Daniel dan Dara
tapi tetap lebih dominan ke percintaan El dan Luna ya. Daniel dan Dara cuma bumbu nya aja biar gak bosen***.