
Melihat El yang tetap ramah dan sopan oada pak Rudi, Daniel hanya tercengang. Harusnya ia tau selalu seperti ini pada hasil akhirnya.
"El, Gue dengan segenap rasa yang ada didalam lubuk hati yang paliiiinnng dalam gak terima banget lo tetap sebaik itu sama pak Rudi. Lo tau gak tadi malam gimana usaha gue buat dapetin hasil rekaman cctv nya. Dan lo malam ngobrol manis sama bapaknya pelaku?" Protes Daniel saat pak Rudi meninggalkan ruangan El. El hanya tersenyum menanggapi ucapan Daniel yang cukup menohok itu.
"Ya terus masa iya kita mau hukum bapaknya? Yang salah kan anaknya." Jawab El santai sambil mulai membuka-buka berkas yang ada dimejanya.
"Ya paling gak kasih ancaman kek atau sekalian lo kasih pelajaran gitu. Gue pikir lo bener-bener marah saat ngeliat ade lo digituin sama orang lain, Tapi tetep aja lo El yang selama ini gue kenal." Mendengar itu El menghentikan aktifitasnya lalu menutup berkas yang tadi ia buka.
"Gue mau tanya sama lo, Kalo lo digigit anjing apa lo bakalan gigit balik anjing itu saat itu juga?" Kata El menyandarkan tubuhnya di bangku. Daniel mengernyitkan alisnya saat mendengar pertanyaan El.
"Ya gue lari lah, Ngapain gue gigit balik anjingnya? Najis tau pegang aja haram apa lagi gigit, Gila aja lo." Sahut Daniel percaya diri, Seketika El tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu membuat Daniel makin bingung dengan jalan pikiran El.
"Jadi lo tau kan maksud gue? Kita gak perlu berubah menjadi anjing hanya untuk membalas sakit yang kita terima. Dan cb lo ingat-ingat berapa lama perusahaan kita bekerjasama dengan perusahaan pak Rudi? 10 tahun bukan waktu yang singkat, Apa selama ini pak Rudi pernah ngecewain kita walaupun sedikit?" Daniel menggelengkan. kepalanya menjawab pertanyaan El.
"Itu artinya pak Rudi orang yang sangat bertanggung jawab kan? Jadi akan lebih baik kalo pak Rudi sendiri yang bicara sama anaknya tentang masalah tadi malam." Mendengar semua ucapan El membuat Daniel merasa kesal, Ia mulai melonggarkan dasinya tanda frustasi.
"Jujur ya, Ini tuh sebenernya gak ada hubungannya sama gue. Tapi kok gue ngerasa jengkel banget ya sumpah." Balas Daniel dengan wajah serius.
"Gue juga marah, Marah banget. Bahkan kalo gue ikutin amarah gue memutuskan hubungan kerja perusahaan kita itu belum cukup memuaskan hati gue. Tapi apa lo tau? Terkadang diam adalah cara terbaik untuk menghukum seseorang."
"Bodo amatlah, Terserah elu. Gue jadi males ikut campur serius, Gue gak marah sama pak Rudi. Tapi jengkel sama sikap lo yang kelewat baik sama orang." Daniel menyudahi perdebadatan pagi itu, Ia keluar dari ruangan El dengan wajah kesal. El hanya tersenyum menyakapi Daniel.
"Lo bahkan gak tau gimana marahnya gue saat ada orang yang berbuat jahat sama istri gue. Lo bahkan gak tau rasanya gue pengen ngebunuh orang itu saat ini juga. Tapi lo gak tau ada hati yang gue jaga, Itu sebabnya gue diam." Ucap El pelan saat ia benar-benar sendirian diruangannya.
***
"Sejak kapan kamu jadi anak berandalan? Kamu tau gadis yang kamu bawa itu siapa? Dia adik perempuan pak El klien kita." Teriak pak Rudi dirumahnya. Saat ini ia sedang memarahi anaknya yang bernama Andra itu.
"Pa, Udahlah jangan berlebihan. Andra juga gak ngapa-ngapain dia. Tadi malam dia keliatan bosan banget dipesta makanya Andra bawa dia keluar dari pesta dan saat Andra mau kembali untuk jemput dia, Dia udah dijemput sama orang-orangnya." Jelas Andra dengan santai tanpa ada rasa salah sedikitpun. Mendengar penjelasan anaknya yang membela diri dan merasa hal itu tidak penting membuat pak Rudi makin marah.
"Plaaakkkkk....."Dan tangan pak Rudi pun mewakili emosinya.
"Pa......Cukup pa, Jangan gini sama Andra." Teriak ibu Lita istri pak Rudi. Ia menangis sambil memeluk tubuh tinggi Andra.
"Mulai saat ini kamu gak akan kembali lagi ke LA. Kamu kuliah disini, Hidup diluar negri bikin kamu jadi anak berandalan, Gak tau sopan santun dan tidak merasa bersalah atas semua yang sudah kamu lakukan!" Setelah menghakimi Andra pak Rudi pergi dari rumahnya menuju kantornya. Meninggalkan Andra yang terdiam membisu dan bu Lita yang menangis sambil mengusap pipi anaknya itu.
"Gak papa nak ya, Kamu nurut ya apa kata papa kamu." Bujuk bu Lita pada anaknya.
"Kenapa sih ma dari dulu papa gak pernah berubah? Selalu maksain kehendaknya dan gak pernah mau dengerin Andra. Dulu papa juga yang maksa Andra untuk kuliah di LA dan setelah Andra merasa nyaman disana dengan gampangnya papa bilang Andra kuliah disini dan gak boleh lagi kembali kesana. Apa Andra ini boneka bagi papa yang bebas mau diapakan aja sesuai kemauannya?" Ucap Andra putus asa, Membuat tangis bu Lita makin pecah. Ia memeluk tubuh Andra anak semata wayangnya itu.
"Gak sayang, Papa cuma pengen yang terbaik buat kamu." Kata bu Lita disela tangusannya. Andra mengusap kasar wajahnya
"Ya udah ma, Kalo gitu Andra pamit dulu mau kerumah Ryan. Mama udah jangan nangis lagi ya, Jangan mikirin macem-macem Andra baik-baik aja kok." Kata Andra menenangkan ibunya itu. Setelah berpamitan pada bu Lita, Andra pun langsung pergi dari rumahnya menuju rumah Ryan sahabatnya.
"Dimana lo?" Tanya Andra lewat telepon saat dalam perjalanan menuju apartemen Ryan.
"Dikampus gue."
"Lo gak asik banget sih, Gue lagi bete nih pengen kerumah lo eh lo nya gak ada."
"Lo tunggu aja dirumah gue, Bentar lagi juga gue balik."
"Oke deh kalo gitu." Andra langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Ryan.
***
El sedang asik bekerja, Setelah perdebatan tadi pagi Daniel belum menampakan wajahnya dihadapan El. Biasanya ia sibuk mengganggu El dengan semua tingkah jahilnya. Karena merasa sepi El meraih hapenya niatnya ingin menghubungi Luna dan menanyakan keadaannya namun Luna lebih dulu menghubunginya. Merasa sangat senang menerima telepon dari Luna El dengan cepat langsung menerima panggilan telepon itu.
"Hallo......" Kata Luna ditelepon.
"Iya, Kenapa Lun? Baru aja abang mau telepon kamu."
"Belum tau, Tapi gak banyak kerjaan kok jadi mungkin bakalan cepat pulang. Kenapa?"
"Ummmmm.......Pengen ngajak abang makan malem aja, Sekalian sama temen abang."
"Daniel?" Ucap El memastikan yang dimaksud Luna.
"Iya."
"Oh, Ya udah entar sekalian abang kesana sama Daniel. Kamu santai aja dulu hari ini dirumah."
"Mmmmmm......" Jawab Luna singkat lalu telepon berakhir.
"Mana si Daniel, Biasanya dia ngerusuh mulu tiap detiknya. Beneran marah kek nya tuh anak." Gerutu El lalu ia segera keluar ruangan untuk mencari Daniel.
"Gladis, Pak Daniel ada diruanganya?" Tanya El pada staf Daniel.
"Pak Daniel baru aja keluar pak."
"Kemana?"
"Pak Daniel gak bilang pak dia mau kemana."
"Oke, Makasih ya." Gladis pun tersenyum pada El. El mengambil hapenya lalu menelepon Daniel.
"Dimana lo?" Sambar El, Ia tau hati sahabatnya itu sedang tidak baik karena masalah tadi pagi.
"Kenapa? Kerjaan gue udah beres semua. Gue taro diatas meja ruangan gue. Entar gue suruh Gladis buat anter keruangan lo pak." Jawab Daniel malas-malasan tidak bersemangat.
"Gaya elu manggil gue bapak, Biasanya juga lo gak ada sopan-sopannya sama gue. Buruan lo dimana? Gue mau ngomong."
"Gue diatas ruangan lo." Kata Daniel, El langsung melihat langit-langit ruangannya lalu mematikan sambungan telepon.
***
Diliatnya Daniel sedang santai dengan sebatang rokok dan sekaleng minuman soda sambil melihat pemandangan dari puncak gedung yang memiliki 30 lantai ini.
"Wah, Korupsi waktu ini namanya." Ucap El menghampiri Daniel.
"Kan tadi gue udah bilang, Kerjaan gue udah selesai. Jadi bos jangan semena-mena sama bawahan, Masa kita gak boleh santai disaat kerjaan udah pada kelar." Sahut Daniel cuek dan santai.
"Woooo......Slow dong. Kenapa lo masih ngambek sama gue huh?" El mengambil sebatang rokok milik Daniel menyalakannya dan ikut menikmati batangan nikotin itu.
"Biasa aja sih gue sama sifat lo yang nyebelin gitu."
"Udahlah lupain aja, Oh iya Luna nyuruh lo mampir kerumah buat makan malam."
"Kapan?" Sahut Daniel mendadak antusias sambil mematikan puntung rokoknya.
"Semangat banget lo." Tegur El melihat Daniel.
"Ya tadi malam kan gue gak sempat kenalan tuh sama Luna." Sahutnya menyembunyikan senyuman. El yang melihat Daniel memiliki tujuan lain langsung nenatapnya tajam.
"Jangan berani-berani deketin Luna ya." Katanya penuh penekanan sambil mematikan puntung rokok membuat Daniel menelan ludah melihat ekspresi El saat ini.
"Hehehe......Slow brother, Gak berani gue." Sahut Daniel, El pun langsung mengajak Daniel kembali keruangan masing&masing.
Bersambung.......
Maafkan chapter kali ini kurang menarik