Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Lupakan semua



Daniel mulai membuka lembar buku nikah itu seketika matanya terbuka lebar melihat photo siapa yang ada disana.


"Luna, El." Ucapnya penuh tanda tanya. Daniel membuka lagi lembarannya melihat tanggal pernikahan El dan Luna.


"12 April 2019. Ini apa sih maksudnya? El dan Luna menikah? Tapi bukannya El bilang kalo Luna itu keponakan tante Mela." Karena Daniel sedang buru-buru ia mengeluarkan hape lalu mengambil photo buku nikah Luna dan El dan kembali menyimpannya. Ia juga mengambil file yang dimaksud oleh El dilaci sebelah kiri lalu membawanya pergi.


***


Setelah Daniel pergi El tidak benar-benar tidur. Ia kembali mengingat kejadian tadi malam sambil terus mengomeli dirinya sendiri.


"Lo gila El, Lo pasti udah gila. Serius gila gue kok bisa sih gue lepas kendali gitu? Ah, Terus kalo entar ketemu Luna gimana? Gue mesti ngomong apa?" El sangat frustasi karena ulahnya sendiri.


"Ah tau ah, Entar aja dipikirin lagi pusing kepala gue." El menghentikan otaknya untuk berpikir keras dan istirahat.


Sedangkan Daniel, Sejak kembali dari rumah El ia terus memikirkan tentang buku nikah itu. Didalam ruangannya ia terus melihat photo buku nikah yang ia ambil sebelum pergi.


"El.....El apa sih yang lo sembunyiin dari gue? privasinya ya sampai-sampai lo gak ngasih tau gue." Gumamnya sendirian setelah selesai meeting dengan bagian perencanaan.


Daniel melihat jam yang melingkar ditangannya, Ia masih memiliki satu tugas yaitu makan siang bersama pak Betrand kontraktor baru diperusahaan mereka. Daniel memasang kembali jas hitamnya lalu pergi sesuai perintah El.


Daniel saat ini pergi menuju sebuah restoran bintang tujuh yang dipilih untuk acara makan siang. Mobilnya berjalan pelan saat melewati sebuah universitas yaitu kampus dimana Luna kuliah.


"Ini kampusnya Luna ya. Entah apa yang ada didalam pikiran Daniel saat itu tapi rasa penasarannya tentang hubungan Luna dan El sangat besar hingga membuatnya berhenti didepan kampus dan turun mencari Luna.


Banyak pasangan mata yang saat ini sedang menatap kearahnya terlebih mata para gadis-gadis kampus. Jelas saja dengan wajah tampan yang ia miliki dan keluar dari mobil bermerk mahal gadis mana yang bisa berpaling saat melihatnya.


"Ummm......Sorry." Kata Daniel menghentikan seorang gadis berambut ikal berwarna coklat dan membawa dua botol minuman soda ditangannya. Gadis itupun berhenti dan melihat kearah Daniel.


"Ummmm saya mau nanya, Apa kamu kenal sama Luna?"


"Luna? Disini banyak yang namanya Luna. Ada 4 orang. Luna Nathasya, Irenaluna, Laluna Adinda, Dan Aluna Dewi mentari." Jawab gadis itu, Daniel sempat bingung dengan jawaban yang diberikan gadis yang ada didepannya saat ini, Namun ia ingat nama lengkap Luna yang tertera di buku nikah.


"Iya, Aluna Dewi Mentari." Katanya yakin.


"Oh, Luna. Ayo ikut aku." Ajak gadis itu membawa El untuk menemui Luna. Luna saat ini sedang berada ditaman membaca novel sambil menunggu Dara yang sedang membeli minuman dingin.


"Luna....." Teriak Dara yang baru datang, Luna melihat kearah Dara namun bukan Dara yang menjadi pusat perhatiannya saat ini melainkan Daniel yang ada dibelakang Dara.


"Lun, Nih ada yang nyari kamu." Kata Dara sambil memberikan sebotol minuman soda ketangan Luna.


"Kak Daniel." Ucap Luna heran melihat kedatangan Daniel ke kampusnya.


"Kamu masih ada kuliah?" Tanya Daniel, Luna menggeleng menjawab pertanyaan Daniel.


"Oh, Syukurlah. Berarti kamu bisa pulang cepat. El saat ini lagi sakit, Badannya panas dia demam tinggi. Bi Irah belum kembali, Tadi habis nganter obat kakak langsung balik lagi ke kantor karena masih banyak kerjaan dan....-"


"Bang El sakit?" Potong Luna menghentikan ucapan Daniel. Terlihat wajah cemasnya mendengar El sakit. Daniel mengangguk membenarkan yang ia ucapkan pada Luna.


"Ra, Kamu bawa mobil kan? Anterin aku pulang sekarang ya." Kata Luna tergesa-gesa membuat Dara bingung.


"Makasih ya kak udah ngasih tau aku. Ya udah kalo gitu aku pulang dulu, Sekali lagi makasih ya." Luna langsung pergi meninggalkan Daniel disana dengan seribu pertanyaan yang ada didalam pikirannya. Setelah Luna pergi Daniel juga langsung pergi dari sana menuju restaurant.


***


"Makasih ya Ra udah anterin aku. Kamu hati-hati dijalan ya." Dara mengangguk lalu pergi dari rumah El. Luna langsung masuk kerumah dengan cepat dan langsung menuju kamar El.


"Bang..... " Panggil Luna sambil mengetuk pintu kamar El. Namun El tidak memberikan jawaban. Tidak ingin menunggu lama Luna langsung masuk ke kamar El. Dilihatnya El sedang tidur pulas wajahnya terlihat pucat. Luna mendekati El lalu memegang dahi El.


"Badannya panas banget." Kata Luna, Ia langsung keluar dari kamar El dan pergi kekamarnya untuk mengambil minyak gosok untuk El.


Setelah kembali membawa minyak gosok ditangannya ia membuka kaki El yang sangat dingin. Digosokan nya minyak itu ditelapak kaki El hingga betisnya agar terasa hangat lalu menutupnya kembali dengan selimut. Luna juga membawa kompres untuk El agar panasnya berkurang.


"Kok abang gak bilang sih kalo lagi sakit gini? Maaf ya, Tadi pagi aku buru-buru sampai-sampai aku gak tau kalo abang lagi sakit." Ucap Luna sambil mengompres kepala El yang panas. Karena terasa dingin, El membuka matanya dan menyentuh dahinya yang ditempeli handuk kecil oleh tangan Luna.


"Kamu udah pulang." Ucap El lemah tersenyum sayu pada Luna.


"Hmmmm.......Abang kenapa gak bilang kalo abang lagi sakit?" El tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu.


"Abang gak apa-apa." Sahut El meyakinkan Luna.


"Gak papa apanya? Abang demam tinggi kaki abang juga dingin kek es muka abang kek gak punya darah sangking pucatnya. Gitu abang bilang abang gak apa-apa." Suara Luna meninggi memprotes El yang berusaha baik-baik saja didepan Luna.


"Abang udah minum obat dari Daniel. Bentar lagi juga udah pasti sehat lagi."


"Abang tau aku gak punya siapa-siapa lagi didunia ini selain abang. Jadi tolong, Tolong baik-baik." Air mata Luna tidak bisa lagi ia tahan, Ia hanya menunduk menyembunyikan tangisannya dari El.


El meraih tangan Luna lalu menggenggam nya erat dengan sisa tenaganya yang lemah saat ini.


"Dalam keadaan apapun, Abang akan selalu ada untuk kamu. Gak akan tinggalin kamu, Abang akan terus ngejagain kamu berdiri disamping kamu, Dibelakang kamu dan didepan kamu." Ucap El sambil menghapus air mata Luna. Ada rasa yang teramat bahagia yang El rasakan saat ini saat melihat Luna mengkhawatir kan nya dan menangis karena takut kehilangannya. Walau ia tidak tau dianggap apa saat ini oleh Luna, Tetapi ia benar-benar merasa bahagia.


"Abang udah makan siang?" Tanya Luna yang sudah sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan El tadi. El menggeleng pelan, Tenaganya makin melemah.


"Aku bikinin sup daging ya." Ucap Luna, El hanya mengangguk pelan lalu Luna segera pergi kedapur memasak untuk El.


***


"Maaf pak Betrand, Karena kondisi pak Elang sedang kurang sehat. Beliau meminta saya untuk menemani makan siang anda sekaligus membahas tentang penerbitan majalah baru kita." Kata Daniel saat bertemu klien nya.


"Oh, Oke gak masalah. Tetapi saya merasa sedikit kecewa karena sebenarnya saya ingin bertemu langsung dengan pak Elang. Tapi ya sudahlah, Semoga pak Elang cepat pulih dan sehat."


Sesampainya dirumah sakit El langsung pergi ke meja resepsionis.


"Permisi, Bisakah saya bertanya tentang suatu hal. Apakah dirumah sakit ini ada sebuah pernikahan atau semacamnya yang terjadi sekitar 5 bulan yang lalu."


"Maaf, Saya tidak tau akan hal itu." Jawab Resepsionis itu yakin, Namun Daniel tetap berusaha menanyainya.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Seorang dokter laki-laki separuh baya mengenakan kaca mata menghampiri Daniel yang saat itu bersikeras bertanya pada resepsionis.


"Oh, Saya hanya ingin tau apa 5 bulan lalu ada sebuah pernikahan disini?" Tanya Daniel langsung ke poin. Ia memang bukan orang yang pintar berbasa-basi saat bicara.


"Anda siapa?" Tanya dokter itu balik, Melihat reaksi dokter tersebut Daniel merasa jika dokter itu mengetahui sesuatu.


"Saya, Saya Daniel." Daniel lalu mengulurkan tangannya pada dokter tersebut.


"Mari ikut saya." Kata dokter itu lagi setelah menyambut jabat tangan Daniel. Daniel lalu mengikuti dokter itu menuju ruangannya.


"Silahkan duduk." Daniel duduk mengikuti saran dokter itu.


"5 bulan yang lalu memang ada pernikahan dirumah sakit ini, Tapi tidak semua orang tau." Kata dokter tadi menjelaskan pada Daniel, Membuat Daniel benar-benar kaget dengan ucapan dokter tersebut.


"Berarti mereka berdua memang bener udah menikah dan sah sebagai pasangan suami istri. Tapi, Kenapa mereka menutupi status itu?" Kata Daniel dalam hatinya, Penjelasan dokter tadi makin membuatnya penasaran pada El dan Luna.


"Kenapa mereka bisa menikah? Ummmmm maksud saya kenapa harus dirumah sakit?"


"Itu permintaan ayah si gadis. Saat itu pasien sangat lemah bisa dibilang kritis dan ia meminta disaat-saat terakhirnya ingin melihat anaknya menikah. Dan pernikahan itu terjadi." Daniel mengangguk pelan, Kini ia tau alasan El menikahi Luna karena permintaan orangtua Luna.


"Ummmm.....Kalo gitu saya permisi dulu dokter. Terimakasih sudah membantu." Daniel lalu berpamitan dan segera pergi dari rumah sakit. Walau hanya sedikit informasi yang ia dapat tetapi ini sudah cukup membantu daripada ia harus bertanya langsung pada El pasti El tidak akan mau menjawabnya.


***


Luna manaruh semangkok sup daging yang masih panas diatas meja ranjang El lalu membangunkan El.


"Bang, Abang........Makan dulu." Ucap Luna membangunkan El. Tubuh El makin panas hingga mengeluarkan keringat dingin disekujur tubuhnya.


"Jangan, Ampun.....Jangan pukul lagi." Kata El mengigau dalam tidurnya. Luna kembali memanggil El berusaha membangunkannya namun El tidak juga bangun.


"Bang, Bang El bangun. Ini aku Luna, Bangun bang." Ucap Luna mulai panik karena El terus mengigau dan tidak juga membuka matanya.


"Jangan, Jangan pukul lagi aku mohon. Aku janji akan menuruti semua perintah mu, Tolong jangan pukul aku lagi." Katanya seperti orang yang memohon pada seseorang.


Luna tidak tau lagi harus berbuat apa, Ia berbaring disebelah El dan hanya bisa memeluk tubuh El yang basah berkeringat dan panas sambil diusapnya pelan kepala El seperti sedang menenangkan seorang anak yang menangis.


"Apapun yang sedang kamu mimpikan saat ini, Lupakan jika itu menyakitimu. Karena aku ada disamping kamu." Kata Luna sambil terus memeluk El. Dalam pelukan Luna El menjadi lebih tenang dan berhenti mengigau. Ia tidur nyenyak begitu juga dengan Luna karena yang akhirnya ikut tertidur sambil memeluk tubuh El.


Ini pertama kalinya setelah menikah mereka tidur satu ranjang.


***


El membuka matanya saat matahari masuk menyentuh pelan kulit wajahnya. Tubuhnya juga sudah terasa enakan dibanding kemarin, El meregangkan otot-otot yang menempel ditubuh kekarnya.


Saat berbalik El kaget bukan main melihat Luna yang masih tertidur pulas disampingnya.


"Di.....Dia tidur disini?" Kata El gagap, Ia langsung melihat pakaian Luna.


"Ah syukurlah." Katanya sambil mengusap dada, El takut kalau ia melakukan hal-hal aneh pada Luna karena saat sakit El biasa mengigau dan bahkan bisa berjalan dalam tidurnya.


"Lu.....Luna....." Ucap El pelan seakan bingung harus membangunkannya atau membiarkannya tetap tidur. El menatap dalam wajah cantik istrinya yang tertidur pulas sambil memeluk bantal guling.


Perasaan nyaman langsung menyelimuti hati El, Membuat pria berlesung pipi itu tersenyum sendiri.


"Morning brot........her." Daniel yang tiba-tiba masuk menerobos kamar El tanpa permisi langsung mengagetkan El. Begitu juga dengan Daniel yang langsung menganga melihat El dan Luna tidur disatu ranjang yang sama.


Dengan cepat Daniel menutup kembali pintu itu, Jantungnya berdetak cepat masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Begitu juga dengan El yang langsung kalang kabut membangunkan Luna.


"Abang udah bangun? Gimana keadaan abang?" Tanya Luna yang masih belum tau tentang Daniel.


"Daniel......Ada Daniel." Kata El menunjuk kearah pintu, Luna bingung dengan maksud ucapan El yang menyebut nama Daniel.


"Daniel, Ta......Tadi Daniel liat kamu tidur disini." El memperjelas ucapannya agar Luna paham.


"HAAAAAAAAA! Ja......Jadi kak Daniel." Luna langsung melompat turun dari ranjang dan berlari kearah pintu.


"Gu......Gue kenapa gue bisa lupa kalo El usah nikah? Aah......Sialan, Kalo gini gue jadi ikutan kikuk kan." Gerutu Daniel didepan pintu El. Pintu berwarna coklat itupun terbuka membuat Daniel kaget.


"K.......Kak Daniel, Pagi." Ucap Luna kaku dan bingung. Ia melambaikan tangan cepat pada Daniel lalu pergi dari sana dengan cepat sebelum Daniel menjawabya sapaannya.


"Gu..... Gue gak ngeganggu olahraga pagi mereka kan?" Daniel benar-benar merasa kacau saat ini, Semua rasa campur aduk saat ini.


"L......Lo ummm.....Lo." Kata El bingung saat keluar dari kamarnya dan menemui Daniel. Sama halnya dengan El Daniel pun menjadi salah tingkah namun masih wajar karena ia tau keadaan El sekarang ini yang sudah menikah.


Bersambung.......


Karena author lg kurang sehat jd chapter kali ini pendek banget.....


Like n komen n vote ditunggu y.......Drpada koinx gak kepake mending buat vote "perfect husband" biar semangat nulisnya.