
Setelah selesai memakai kembali baju mereka, Luna dan El langsung menemui Daniel di ruang tengah. Mungkin hanya Daniel yang saat ini mengerti raut wajah El.
"Lun....Luna kamu harus bantu aku." Ucap Daniel yang langsung menghampiri Luna tanpa melihat kearah El, Membuat El serasa ingin mencekik nya saat ini juga.
"Jangan pegang-pegang!" Bentak El sambil memukul keras tangan Daniel saat Daniel memegangi kedua bahu Luna. Sontak Daniel langsung melepaskan tangan nya dari bahu Luna.
"Ba....Bantu apa?"
"Tolong atur waktu biar aku bisa ketemu sama Dara." Luna menggaruk kepalanya tidak yakin jika ia bisa membantu Daniel.
"Gimana ya kak, Aku gak yakin bisa bantu kak Daniel."
"Lo yang bikin masalah kenapa kita yang repot sih?" Celetuk El membawa istrinya duduk di sofa.
"Ya maaf, Kalo gak kalian siapa lagi yang mau nolongin gue. Lo kan juga tau, Perasaan gue buat Dara itu tulus banget. Gue rela mutusin semua cewek-cewek gue, Gue rela dipukulin sama preman-preman gila di club kemaren itu semua gue lakuin tulus buat Dara." Luna menghela nafasnya, Sebenarnya ia tau perasaan Daniel memang tulus itu terlihat sangat jelas. Tapi, Luna juga tau gimana keras kepalanya Dara. Apalagi kalo dia udah bener-bener marah sama orang. Jangankan untuk ketemu nyebut namanya aja udah bisa bikin dia emosi berat.
"Ummmmm gini aja deh kak, Kalo sekarang aku gak bisa ngebujuk Dara karena kakak tau sendiri dan liat sendiri kan gimana marahnya dia tadi siang. Tapi pelan-pelan aku bakal bujuk dia kok biar dia mau ketemu sama kakak dan maafin kakak."
"Dah dibantuin tuh, Jangan ngelunjak lagi! Lo udah cukup nyusahin gue sama Luna." Ucap El benar-benar ketus sejak tadi.
"El lo kenapa sih marah-marah mulu? Gak asik banget sih lo gak tau apa gue lagi pusing gini." Balas Daniel membuat El melihat heran kearah Daniel.
"Kok lo yang jadi marah-marahin gue?" Tantang El mulai meluapkan emosinya. Daniel langsung menciut seketika saat melihat bosnya itu membusungkan dada.
"I.....Iya maaf, Lo kan tau gue lagi kalut gini."
"Udah sih dari tadi deh perasaan betengkar mulu." Tegur Luna menengahi antara El dan Daniel.
"Kalo udah gak ada urusan lagi buruan pulang." Tanpa basa-basi El dengan percaya diri mengusir Daniel.
"Ish abang." Kata Luna sambil menepuk paha El.
"Iya-iya, Gue pulang. Malam ini gue pasrah lo hinakan didepan istri lo, Tapi lain kali kalo lo gedor-gedor pintu rumah gue gak bakal gue bukain." Ancam Daniel yang baru saja mulai merasa kesal dengan El.
"Bodo amat." Sahut El cuek, Luna hanya bisa menggeleng heran melihat kedua orang pria dihadapan nya saat ini.
"Makasih ya Lun, Udah mau bantuin aku. Dan satu lagi tolong bujuk Dara ya." Luna mengangguk menyanggupi permintaan Daniel.
"Tunggu bentar." Kata El menghentikan langkah Daniel didepan pintu. El berjalan kearah Daniel membuat Luna dan Daniel sama-sama bingung.
"Kunci rumah gue." Kata El sambil menadahkan telapak tangan meminta kunci rumah nya yang dipegang Daniel. Daniel melihat kesal kearah bos nya itu lalu memberikan kunci rumah El pada tuannya.
"Dah pulang sana." Usir El.
"Sialan lo!" Jawab Daniel langsung pergi dari rumah El. Setelah Daniel pergi dari rumahnya El langsung mengunci rapat dan kuat pintu rumahnya agar tidak ada lagi yang bisa mengganggu kebersamaan nya dan Luna. El melihat kearah Luna dengan wajah tersenyum puas.
"Apa?" Tanya Luna, Tanpa membuang waktu lagi El langsung mengangkat tubuh istrinya itu menuju kamar mereka berdua.
" Sekarang gak akan ada yang bakal ganggu lagi." Ucap El saat merebahkan tubuh Luna di atas ranjang dan langsung melepaskan kaosnya memperlihatkan tubuh yang dipenuhi otot dan tato dipunggung nya itu. Luna tersenyum pasrah menerima semua serangan dari suaminya. Tidak ingin berlama-lama membuang waktu El kembali mengulang semua yang ia lakukan tadi pada Luna. Luna mulai menikmati permainan suaminya sambil terus meng-gigit bibir bawahnya membuat El makin mempercepat gerakan nya dibawah sana. Keringat pun mulai membasahi tubuh bugil kedua manusia ini, Dingin nya AC seolah tidak mempan untuk keduanya. Mereka terus berpacu saling memberikan kenikmatan.
"El kamu udah tidur nak?" Suara langkah sepatu itupun makin mendekat ke arah kamar El. El dan Luna saling melempar pandangan.
"Bunda!" Ucap mereka bersamaan, Namun El tidak separah Luna yang langsung mendorong tubuh El hingga El jatuh kelantai.
"Aaauuuuu......Sayang, Kamu kok tega banget sih?" Protes El, Luna langsung kalang kabut mencari pakaian nya berserakan entah dimana El melemparnya terpisah.
"Itu ada bunda didepan, Buruan pakai baju." Ucap Luna panik, El bangun lalu memakai semua pakaianya, Ia juga membantu Luna memakai baju.
"Ya kalo bunda nanya kita jawab aja."
"Ya tapi kalo tiba-tiba bunda masuk dan kita lagi-.... Bunda kan belum tau status kita berdua."
"Lagi apa? Lagi nanggung iya. Daritadi gak kelar-kelar, Padahal dikit lagi." Gerutu El yang malam indahnya benar-benar dihancur leburkan oleh orang-orang terdekat.
"El, Sayang......Kamu udah tidur?" Bunda mengetuk pintu kamar El, Untungnya El dan Luna sudah selesai memakai baju. Luna juga sudah merapikan tempat tidur itu seolah tidak terjadi apa-apa disana.
"Iya, Bentar bun." El membuka pintunya, Disana bu Mela sudah berdiri dan langsung memeluk El.
"Kamu habis ngapain? Kok badan kamu basah keringetan gini?" Ucap bu Mela mengelap leher El yang basah dengan tangan nya.
"Huh? Ha.....Habis fitnes bun." Jawab El gugup. Saat bu Mela memeluk El ia melihat Luna berdiri disamping pintu tersenyum padanya.
"Loh Luna......" Ucap bu Mela heran dan melepaskan pelukannya. El melihat kearah Luna dan meraih tangan Luna membawanya kehadapan bu Mela.
"Kok Luna ada dikamar kamu?" Tanya bu Mela heran.
"Ummmmm, Kita kebawah yuk bun. Ada yang mau El bicarain sama bunda." El lalu membawa kedua wanita yang ia cintai itu menuju ruang tengah, Disana juga sudah ada pak Angga ayah angkat El tersenyum pada Luna dan El.
"Ummmm......Sebelumnya El mau minta maaf sama ayah dan bunda karena mungkin kabar ini cukup membuat ayah dan bunda kaget." Kata El yang duduk disamping Luna.
"Ayo dong El cepetan kamu mau ngomong apa? Gak usah pakai kata-kata sambutan, Iyakan yah."
"Ya sabar dong bun, Biarlah El nya cerita dengan santai." Bela pak Angga untuk anaknya.
"Ish ayah ini, Kalo udah ketemu anaknya langsung selalu kontra sama bunda." Protes bu Mela memasang wajah cemberut membuat suaminya tertawa.
"Ya udah iya, Dah buruan El mau ngomong apa kamu?" Kata pak Angga memburu El karena istrinya.
"Ummmm.....Sebenernya El dan Luna, Kita bedua udah nikah."
"APA? MENIKAH?" Ucap kedua bersamaan dan sama kagetnya. El meraih tangan Luna yang diam sejak tadi tidak berani ikut bicara, Sangking gugupnya tangan Luna terasa dingin didalam genggaman El.
"El jangan main-main, Becanda kamu gak lucu ah." Ucap bu Mela yang tidak percaya dengan yang baru saja El katakan.
"Iya El, Jangan main-main sama pernikahan. Ayah ngerti banget perasaan kamu saat bunda terus-terusan mendesak kamu untuk menikah. Tapi kamu gak boleh terbebani sama hal itu. Maksud bunda itu baik, Supaya kamu ada yang ngurus, Ada yang ngejaga dan yang lebih penting mencintai kamu." Tambah pak Angga yang juga ikut tidak percaya dengan ucapan El.
"Bener kata ayah kamu El, Kamu terbebani ya sama sikap bunda selama ini? Sampai-sampai kamu minta tolong sama Luna untuk pura-pura jadi istri kamu?"
"Yah, Bun El serius kami berdua udah nikah. Ini cincin kawin kami berdua dan ini buku nikah kita." El menyerahkan buku nikah yang memang ia bawa untuk ditunjukan pada kedua orangtua nya sebagai bukti, Karena El sudah tau jika kedua orangtua nya itu tidak akan percaya jika El tidak membawa bukti.
Bu Mela dan pak Angga mengambil buku nikah itu, Memeriksa nya satu persatu.
"El kamu beneran udah nikah nak?" Tanya bu Mela lagi masih tidak percaya dengan semua bukti nyata itu. El mengangguk sambil terus menggenggam tangan Luna yang makin basah karena keringat dingin.
"Kamu udah menikah selama 8 delapan bulan dan baru sekarang kamu ngomong sama bunda dan ayah?" Suara bu Mela mulai meninggi merasa tidak terima dengan sikap anaknya yang menutupi status pernikahan nya.
"Sabar bun, Denger dulu penjelasan El. Dia gak akan berbuat seperti itu kalo gak ada alasan yang jelas. Bunda kenal El kan? Apa pernah dia bohong sama kita? Gak kan? Tenanglah dulu." Bujuk pak Angga menenangkan istrinya agar tidak emosi.
"Tapi yah, Ini udah kelewatan namanya. El, Bunda tau ayah dan bunda ini bukan orangtua kandung kamu. Tapi ayah dan bunda mencintai kamu melebihi apapun di dunia ini nak, Gak ada yang lebih berharga untuk kami selain kamu." Mata bu Mela mulai berkaca-kaca menahan airmata nya agar tidak jatuh.
Melihat itu hati El langsung terasa sakit luar biasa. El langsung duduk dihadapan ibu angkatnya, Ia merebahkan kepala nya dipangkuan sang bunda seperti seorang anak kecil yang ingin mengadu pada ibunya.
"Bun, Sejak hari pertama ayah dan bunda manggil nama El dengan sebutan "Nak" sejak hari itu juga El jadi bagian dari hidup ayah dan bunda. Gak peduli darah siapa yang mengalir ditubuh El, Yang El tau ayah bunda lah orangtua El. Yang El tau ayah bunda lah yang ngasih kehidupan ini untuk El. Maaf, El memang salah bukan maksud El untuk menutupi pernikahan El dan Luna. Tapi saat itu El dan Luna masih sama-sama belum bisa nerima takdir kami sebagai suami istri. Hari itu El nganterin ayah Luna kerumah sakit karena beliau kecelakaan. El dan ayah Luna emang punya hubungan yang baik dan cukup dekat, Beliau kerja diperusahaan El sebagai wakil manager HRD.
El udah berusaha sebisa mungkin untuk menolong beliau tapi Tuhan lebih sayang pada beliau. Sebelum meninggal beliau meminta El untuk menikahi Luna, Kita berdua sama-sama shock, Kaget dan bahkan sempat menolak satu sama lain. Jangankan untuk menikah, Bertemu aja baru dirumah sakit itu.
Awalnya kita berdua baik-baik aja ngelewatin semua itu dengan lancar, Tapi karena cukup lama tinggal bersama perasaan itu mulai tumbuh ada rasa kagum saat kami saling bertatapan, Ada rasa malu saat kami bersama dan lambat laun hati kami dipenuhi oleh satu rasa yaitu cinta.
Itu sebabnya El baru ngasih tau ini ke bunda dan ayah. Sekali lagi maafin El bunda ayah maafin El." Kata El, El memang pria kuat dan tangguh tapi jika berhubungan dengan kedua orangtua nya ia akan lemah dan rapuh. Luna yang sejak tadi sudah banjir air mata ikut duduk dilantai bersama El dihadapan bu Mela.
"Maafin Luna, Maaf untuk semua yang udah Luna lakuin. Bukan bang El yang salah, Tapi Luna. Luna yang minta bang El berjanji untuk nge-rahasiain hubungan kami." Kata Luna menangis dihadapan Mela. Bu Mela tidak bisa lagi menahan airmata nya begitu juga pak Angga yang merasa airmata nya hampir jatuh. Bu Mela memegangi bahu kedua anak muda yang duduk dihadapan nya itu dan membawanya untuk duduk disamping kanan kirinya.
"El, Bunda bangga sama kamu. Kamu laki-laki terbaik yang bunda miliki setelah ayah kamu. Dan Luna, Kamu gak salah. Kamu hanya belum bisa menerima saat itu." Ucap bu Mela menggenggam erat tangan El dan Luna.
"Syukurlah sekarang semua sudah jelas. Jadi mulai sekarang bunda jangan lagi ya nyari-nyari jodoh buat El karena anak kita udah punya istri." Sambung pak Angga sontak mereka berempat tertawa.
"El tetaplah jadi seorang pria hebat untuk istri dan anak-anak kamu nanti, Entah itu dalam keadaan apapun. Jangan pernah menyakiti istri kamu, Apalagi membuatnya menangis karena dia adalah tempat ternyaman saat kamu lelah, Tempat terindah saat kamu merasa bosan dengan kesibukan mu, Dan tempat paling bahagia saat kamu merasa sedih." Pesan pak Angga untuk anak lelakinya itu, El mengangguk dan memeluk pak Angga.
"Ah...... Senangnya akhirnya bunda punya memantu. Luna, Mulai sekarang panggil aku bunda ya nak, Anggap bunda seperti ibu kamu sendiri." Luna tersenyum mengangguk lalu memeluk bu Mela.
"Jadi tadi bunda ganggu kalian berdua? Dan itu sebabnya kamu keringetan El?" El dan Luna langsung gelagapan saat bu Mela sadar mendapati El penuh keringat tadi.
"A.....Apa sih bun? El kan udah bilang kalo El tadi lagi fitnes." Sahut El gugup, Luna mengangguk cepat membenarkan kebohongan suaminya itu.
"Keringet? Fitnes?" Ucap pak Angga masih bingung dengan maksud dari ucapan istrinya itu.
"Itu loh yah, Pengantin baru." Sahut bu Mela sambil melempar senyum pada El dan Luna membuat keduanya kikuk tertunduk malu.
"Oooooohhh......Itu toh maksudnya. Haahahaha, Ya udah kalo gitu silahkan dilanjutkan." Ucapan pak Angga makin membuat Luna Dan El mati kutu.
"Lu.....Luna bikinin minum dulu." Ucap Luna ingin segera kabur dari tempat itu namun tangan ibu mertuanya lebih dulu menahan Luna.
"Itu teh ayah, Bunda kan kalo malam gak minum teh." Ucap bu Mela tersenyum sambil menunjuk kearah meja.
"Ummm....El mau lanjutin kerjaan El dulu ya yah, Bun." Kini giliran El yang ingin kabur tapi usaha gagal juga sama seperti Luna. Pak Angga menahan nya dan menyuruh nya untuk tetap duduk disamping nya.
"Jadi kapan dong kalian kasih ayah sama bunda cucu? Bunda udah gak sabar pengen dipanggil oma sama malaikat-malaikat kecil itu." Mendengar ucapan bu Mela yang cukup frontal membuat El dan Luna salah tingkah saat itu juga. Bahkan El tersedak dibuatnya.
"Kapan bisa jadi kalo diganggu mulu. Belum sempat nanam udah harus berenti." Ucap El dalam hati.
"Loh kenapa? Ya wajar dong kalo kalian punya anak. Lagian El, Kamu itu udah 30 tahun udah sangat pantas dipanggil ayah." Tambah bu Mela, Dulu saat El masih sendiri ia dipusingkan dengan perjodohan agar cepat menikah dan setelah menikah ia kembali dipusingkan dengan anak.
"Ayah?" Ucap El masih merasa kikuk.
"Ya ayah lah, Masa bunda?" Sahut pak Angga santai sambil meminum teh nya yang mulai hangat.
"Kalo gitu kalian cepet kembali ke kamar sana." Bu Mela mendorong El dan Luna menyuruh mereka berdua kembali ke kamar. Luna dan El benar-benar mati kutu dibuat bu Mela hingga mereka tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Sebenarnya Luna merasa malu jika ia harus kembali ke kamar saat ini juga tapi jujur mental nya juga tidak kuat jika harus terus-terusan mendengarkan kata-kata bu Mela.
***
El dan Luna kini berada dikamar namun tidak seperti biasanya, El yang biasa nya selalu menyosor pada Luna malah sibuk memainkan ponselnya. Dan Luna juga melakukan hal yang sama.
"Bunda...... " Ucap El dari dalam kamar saat tau bu Mela masih berdiri didepan pintu kamarnya secara diam-diam.
"A.....Aku tidur duluan." Ucap Luna, El mengangguk lalu Luna masuk kedalam selimut untuk tidur lebih dulu sedangkan El masih menyibukan diri sendiri agar tidak menganggu Luna, Karena jika sudah dekat Luna ia tidak bisa menahan semua rasa yang ada.
Setelah satu jam berlalu, El memutuskan untuk tidur. Bayangan bu Mela juga sudah tidak terlihat lagi didepan pintu. El merebahkan tubuhnya disamping Luna dan memeluk istrinya itu.
"Kamu udah tidur?" Tanya El, Luna langsung membuka matanya yang sejak tadi tidak bisa tidur. El tersenyum dan mengecup bibir Luna. Luna menempeli tubuh El masuk kedalam pelukannya.
"Abang."
"Hmmmmm....."
"Abang pengen segera punya anak ya?" Tanya Luna ragu. El menghela nafasnya sambil terus memeluk istrinya.
"Apalagi yang abang cari sebagai laki-laki? Abang udah punya semuanya. Tapi abang juga gak mau kamu terbebani sama masalah ini. Abang tau kamu masih muda, Kamu masih pengen gapai cita-cita kamu. Jadi biarkan semua berjalan sesuai rencana-NYA kita gak perlu terburu-buru." Ucap El sambil mengecup kening Luna.
Saat takdir menyerahkan secara paksa Luna pada El ia sangat tidak terima namun ketika cinta datang dan menyatukan keduanya Luna merasa El pria paling sempurna yang ia miliki. Tidak ada wanita yang paling bahagia selain Luna saat ini. Ia memeluk erat suaminya itu lalu tidur dalam pelukan El.
***
Dara mengintip kearah jendelanya, Disana Daniel masih berdiri menunggu Dara keluar dari kamarnya dan bicara padanya.
"Bodo amat dia mau bediri sampai kapan disana bukan urusan gue." Ucap Dara cuek tidak perduli.
"Ra,Please kasih aku kesempatan untuk jelasin ke kamu." Ucap Daniel memohon pada Dara, Namun Dara tidak bergeming sedikitpun . Ia malah menutup kedua telinga nya dengan headseat.
"Ra, Aku gak akan pergi dari sini sebelum kamu keluar dan dengerin aku ngomong." Katanya lagi serius.
***
Luna buru-buru lari kekamar mandi perutnya terasa mual dan kepalanya terasa pusing.
"Sayang, Kamu kenapa?" Tanya El yang bangun saat mendengar Luna muntah dikamar mandi. El langsung menghampiri Luna kekamar mandi dan mengusap punggungnya.
"Gak tau, Perut aku mual banget." Ucap Luna menjelaskan keadaan nya pada El. El membawa Luna ke tempat tidur dan mengusapkan minyak kayu putih diperut Luna.
"Kita ke dokter ya."
"Gak usah lah, Paling aku masuk angin aja." Ucap Luna menduga-duga.
"Ya udah kalo gitu abang bikinin teh hangat ya. Kamu tunggu disini aja." Luna mengangguk lalu pergi membuatkan teh hangat untuk Luna.
***
"Saat bangun Dara langsung melihat kembali kearah jendela. Ternyata Daniel benar-benar masih berdiri ditempat itu.
"Tu orang gila ya? Dari malam sampai pagi bediri disana. Gak mau pulang apa?" Celetuk Dara melihat Daniel kelelahan berdiri disana.
Dara berdiri dan langsung kekamar mandi, Setelah mandi ia akan bersiap-siap ke kampus dan menemui Daniel.
Setelah selesai dengan semua urusan nya Dara membuka pintu rumah kos nya, Daniel langsung melihat dan menghampiri Dara dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Dara awas......" Teriak Daniel saat ada motor yang melaju cepat dari arah kiri, Daniel mengejar Dara dan syukurnya ia sempat menyelamatkan Dara dari tabrakan motor itu. Daniel memeluk tubuh Dara kuat hingga ia terguling cukup jauh.
"Ra, Dara kamu gak apa-apa?" Ucap Daniel panik, Tapi Dara tidak menjawab. Ia pingsan dalam pelukan Daniel. Daniel mengangkat tubuh Dara dan langsung membawanya kerumah sakit.
Sedangkan Luna yang tidak juga saat itu tidak sadarkan diri karena terus-terusan muntah tanpa henti dilarikan kerumah sakit.
***
"Selamat istri anda positif hamil."
***Bersambung......
Author lelah mau liburan dulu, Biarkan author ngerefresh otak sejenak biar banyak dapat wangsit untuk terus nge-up babang El dan akak Daniel yang tampan.
Like, Vote, Komen.......Diminta pokoknya* ðŸ¤ðŸ¤—😘😘😘😘**