Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
.....



"Apa lo masih punya perasaan sama Dara?" Tanya El lagi. Dengan cepat Ken menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan itu.


"Seperti yang gue bilang, Gue cuma pengen kita kembali berteman itu aja. Gue tau Dara cinta banget sama Daniel, Gue juga liat hal sebaliknya dari Daniel dan gue ikut bahagia ngeliatnya. Gak pernah terlintas sedikitpun untuk mengganggu apa lagi merebut Dara dari Daniel. Gue punya hati walaupun gue bukan orang yang baik tapi gue juga gak sejahat itu."


"Tadi gak sengaja gue ketemu bang Rendy lagi liat-liat mainan. Gue langsung datangin dia dan gendong anaknya Dara, Tapi gak lama Dara datang. Dia marah, Marah banget ngeliat gue main sama anaknya. Dia langsung ngambil anaknya dari gendongan gue dan sebelum pergi dia ngomong ke gue. Dia marah bahkan masih sangat sama gue karena dulu gue tinggalin dia gitu aja dan dia juga minta agar gue menjauh dari keluarganya. Gue terima itu semua karena gue sadar emang gue yang salah. Dan gue sama sekali gak tau kalo waktu itu anak buah Baron lagi ngawasin gue dan hasilnya ya seperti yang lo liat sekarang di photo itu. Dia ngancem gue kalo gue gak menuhin semua yang dia minta dia bakal kasih photo itu ke Daniel dan lo terus ngasih tau Daniel kalo gue dan Dara dulunya pernah bersama." Mendengar hal itu El menyunggingkan senyumnya, Ia tau betul sifat Baron yang tidak bisa dipercaya.


"Terus lo kasih mau dia?" Tanya El penasaran.


"Gue udah siapin uang tunai, Dia minta setengah dari saham gue tapi gue gak bisa kasih itu karena sebelum bokap gue meninggal dia peringatin gue supaya jaga baik-baik semua saham yang dia kasih dan jangan sampai jatuh ke tangan Baron."


"Dan rencana lo selanjutnya?" Ken menggeleng pelan karena saat ini ia memang tidak tau harus berbuat apa selain mengikuti apa kata Baron.


"Menurut lo gue harus apa?" Tanya Ken pada El. El diam ia juga sedang bingung apa yang harus dilakukan, Bukan bingung karena Baron yang mengancam tapi bagaimana caranya agar Daniel tau dan mengerti dengan keadaan yang sedang mereka hadapi saat ini.


"Gue juga gak tau mesti gimana. Tapi baiknya Daniel harus tau lebih dulu sebelum Baron nyuci otaknya Daniel duluan."


"Caranya?" Tanya Ken makin bingung.


"Lewat Dara. Cuma Dara yang bisa ngomong pelan-pelan sama Daniel. Gue yakin kalo Dara yang ngomong Daniel gak akan salah faham." Ken mengangguk, Ucapan El masuk akal daripada Daniel tau dari orang lain lebih baik Dara yang memberitahu nya lebih dulu.


"Entar gue bakal minta istri gue buat ngomong sama Dara ngebahas masalah ini. Dan untuk sementara lo kasih aja uang ini sama Baron buat nutup mulutnya."


"Makasih El, Daniel beruntung banget punya temen kek lo. Gue bener-bener salut sama sikap lo." El tersenyum mendengar hal itu.


"Ya udah kalo gitu gue balik dulu, Udah sore juga nih gue mau langsung pulang kerumah." Kata El melihat kearah jam tangannya.


***


Malam itu Daniel sedang sibuk dengan laptopnya, Ini sudah akhir bulan jadi jangan heran jika El dan Daniel disibukan oleh setumpuk pekerjaan. Dara membawakan segelas cokelat hangat untuk suaminya, Itu adalah minuman kesukaan Daniel.


"Sibuk ya ay?" Kata Dara memeluk Daniel dari belakang setelah meletakan gelas ke atas meja kerja Daniel.


"Iya beib, Biasalah akhir bulan." Sahut Daniel lalu mengecup pipi Dara yang bertopang dibahu Daniel.


"Beib... "


"Hmmmmm......" Sahut Dara masih dalam posisi yang sama. Daniel lalu menghentikan aktifitasnya lalu memutar kursinya hingga berhadapan dengan Dara yang saat ini berdiri. Daniel menarik Dara hingga Dara duduk dipangkuan Daniel.


"Menurut kamu pak Ken itu orang seperti apa?" Ucap Daniel bertanya pada Dara yang tidak mengira dengan pertanyaan suaminya.


"Maksud kamu?" Tanya Dara bingung karena Daniel tiba-tiba membahas masalah Kenan dengan nya.


"Ya menurut kamu pak Ken itu gimana orangnya selain dia ganteng dan sukses." Dara diam menatap heran suaminya, Tumben Daniel bisa dengan mudah mengatakan ganteng pada pria lain padahal selama ini Daniel adalah tipe orang yang suka memuji diri sendiri. Bahkan sosok sempurna seperti El pun tidak pernah dapat pujian seorang Daniel.


"Menurutku biasa aja, Satu-satunya pria yang sangat luar biasa itu cuma kamu suami aku." Sahut Dara sambil mencolek hidung mancung milik Daniel membuat pria itu tertawa lucu.


"Kamu akhir-akhir ini kenapa sih beib? Kok keknya makin sayang aja gitu sama aku. Biasanya kamu jutek jarang mau manja-manjaan gini apalagi sampai muji-muji aku." Ucap Daniel melingkarkan tangannya dipinggang Dara.


"Ya karena emang aku makin sayang sama kamu. Setiap hari eh bukan setiap detik sayang dan cinta aku makin bertamabah buat kamu, Selalu pengen deket kamu, Selalu pengen manja-manjaan sama kamu, Pengen hidup bersama sampai akhir sama kamu." Dara memeluk suaminya dengan penuh rasa cinta, Ia baru sadar betapa ia sangat mencintai pria itu. Pria yang rela melakukan apapun untuknya, Pria yang bahkan lebih mencintai dirinya dibanding apapun. Pria yang selalu berusaha membahagiakan nya walau ia sedang terluka.


"Apa yang kamu lakukan seandainya ada pria yang lebih dari aku dalam segala hal datang dan nyatain perasaannya ke kamu?" Dara mengerucutkan alisnya mendengar pertanyaan Daniel. Apa Daniel sedang ragu pada dirinya? Atau itu hanya sebuah pertanyaan biasa untuk bahasan perbincangan malam ini.


"Kamu sendiri? Gimana kalo pertanyaan itu aku balik ke diri kamu sendiri. Apa yang bakalan kamu lakuin seandainya ada seorang perempuan yang lebih daripada aku datang dan rela menjadi yang kedua untuk kamu." Daniel memiringkan kepalanya melihat kearah Dara.


"Kalo dia mau jadi yang kedua its oke, Gak masalah selama aku masih bisa adil." Jawab Daniel santai dan sontak membuat Dara melepaskan pelukannya dari leher Daniel dan langsung ingin menjauh dari pangkuan Daniel namun Daniel lebih dulu menariknya dan membawanya kembali untuk duduk di pangkuannya.


"Becanda cinta..." Ucap Daniel tersenyum lucu melihat wajah masam Dara.


"Walaupun seorang bidadari langsung turun dari surga yang datang aku gak akan bisa dan gak akan mau karena hati aku udah terisi penuh sama bidadariku yang satu ini. Cukup kamu yang menjadi sempurnaku, Cukup kamu yang menjadi nyawaku karena aku hidup untuk mu dan mati tanpa mu." Mendengar hal itu Dara yang tadinya kesal langsung luluh. Matanya berkaca menahan rasa bahagia, Bahkan dengan sejuta pelukan dan ciuman pun rasanya tidak cukup sangking ia bahagianya mendengar hal itu dari Daniel.


"Kamu manis banget sih, Kok bisa jadi gini? Sejak kapan coba bisa seromantis ini?" Ucap Dara dan air matanya pun menetes tanpa ia sadari......Daniel tersenyum sambil menghapus airmata Dara lalu memeluknya erat.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Sekarang giliran kamu." Ucap Daniel melihat kearah Dara yang masih melayang di langit ketujuh karena ucapan nya.


"Aku gak bisa hidup tanpa kamu." Jawab Dara singkat dan langsung mencium bibir Daniel membuat Daniel kaget atas kelakuan istrinya.


***


El dan Luna saat ini sedang berada dikamar Zea, Mereka menemani Zea yang sedang tertidur lelap. El sangat merasa kangen dengan putri kecilnya itu karena akhir-akhir ini ia sangat sibuk di kantor dan ketika pulang gadis kecil itu sudah tidur dengan nyenyak.


"Sayang, Kamu mimpi apa sih sampai senyum-senyum gitu bobo nya." Ucap El melihat senyum mengembang di wajah anaknya padahal ia sedang tidur.


"Makin besar dia makin mirip sama Daddy nya." Ucap Luna menunjuk pipi El dengan jari telunjuknya.


"Masa sih? Tapi banyak yang bilang kalo Zea ini mirip Mommy, Iya kan nak...." Sahut El sambil mencium jari kecil Zea.


"Bukan mukanya Daddy.....Tapi kelakuannya, Contohnya sekarang lagi bobo sambil senyum-senyum gitu." Seketika El melihat kearah Luna, Tidak percaya dengan yang ia katakan.


"Maksudnya abang sering senyum-senyum kea Zea gitu kalo lagi tidur?" Tanya El ragu dengan ucapan istrinya. Istrinya pun mengangguk cepat menjawab pertanyaan El.


"Gak mungkin lah ngarang aja sih Mommy nya Zea." Bantah El cepat tidak terima dengan ucapan Luna.


"Ih kok ngarang? Serius gak bohong. Emang abang lagi mimpiin apa sih sampai-sampai senyum gitu?" Pertanyaan Luna makin membuat El tidak percaya sama sekali.


"Mimpiin kalian lah, Tapi masa sih abang sampai senyum gitu?" Tanya El yang masih tidak yakin.


"Iya, Mau aku videoin entar pas lagi tidur sambil senyum?" Dengan cepat El menggelengkan kepalanya menolak tawaran Luna. Sedangkan Luna langsung tertawa melihat hal itu.


"Sayang, Tadi abang ketemu sama pak Ken untuk ngebahas masalah yang sedang mereka hadapi saat ini." Ucap El mendadak serius.


"Oh ya? Aku juga tadi siang ketemu sama Dara, Aku coba bujuk dia supaya mau ngomong langsung ke kak Daniel tentang dia dan pak Ken di masa lalu. Dan ternyata dugaan kita bener kalo dulunya pak Kena itu mantan pacar Dara." El yang juga tau tidak lagi kaget, Sekarang ia hanya bisa berharap jika Dara bisa secepatnya mengatakan pada Daniel tentang siapa Kenan. Sebelum pria b******k yang bernama Baron muncul dan langsung mengacaukan segalanya begitu saja mengingat El tidak memberikan apa yang ia inginkan.


"Iya, Abang tau kok pak Kenan juga udah ceritain semua ke abang. Ya sebagai laki-laki abang juga gak bisa nyalahin dia sepenuhnya karena emang jujur dia gak ada niatan mau merusak atau merebut Dara dari Daniel. Dia cuma pengen jelasin ke Dara kenapa dulu dia pergi gitu aja ninggalin Dara tanpa mengucapkan apapun dan satu katapun. Hal itu yang mengganggu pikiran Ken sampai sekarang, Dara dan Kenan bahkan tidak mengucapkan kata putus saat itu. Kenan cuma merasa gak nyaman dan gak tenang karena Dara sudah pasti sangat membenci dia." Luna mengangguk pelan, Ia bisa melihat dari sudut pandang Kenan dan mengerti maksud dari Ken.


"Semoga aja semua cepat berlalu dan masalah ini cepat selesai tanpa ada pihak yang merasa tersakiti." Sahut Luna karena ia juga ikut merasa tegang efek dari masalah ini. Luna dan El kembali ke kamar mereka lalu beristirahat karena ini sudah sangat malam.


Begitu juga dengan Daniel dan Dara, Daniel mengecup kening Dara yang sudah lebih dulu tidur dalam pelukannya. Ia diam sambil memandangi wajah Dara dengan tatapan sayu.


"Aku percaya kamu, Karena kamu adalah aku." Ucapnya lalu.mematikan lampu dan ikut tidur sambil memeluk istrinya.


***


Keesokan paginya seperti hari-hari biasanya. Daniel dan El juga sudah berada di kantor saat ini mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Begitu juga dengan Kenan yang sedang asik bekerja saat ini hingga ia lupa janji dengan Baron. Tidak lama Baron datang dan langsung masuk kedalam ruangan Ken sambil terus menghisap sebatang rokok tidak perduli jika ia sedang berada di kawasan tidak boleh merokok. Ia datang bersama Eriska kali ini, Ini pertama kalinya Eriska diajak keluar oleh Baron untuk urusan seperti ini biasanya ia selalu membawa orang lain untuk menemaninya. Entah itu beberapa anak buahnya atau para penjaganya agar selalu aman kemanapun ia pergi.


"Lo lupa sama janji kita?" Tanya Baron melihat Ken yang malah asik bekerja. Kenan langsung berdiri dari kursi CEO miliknya yang menjadi incaran Baron saat ini. Lalu Ken mengambil koper yang penuh dengan uang itu untuk diberikan pada Baron agar a****g yang sedang berada di hadapannya saat ini berhenti melolong.


Baron memeriksa isi tas itu, Ia tersenyum saat melihat jejeran uang tersusun rapi didalam sana lalu ia menutup kembali koper itu.


"Dan lain nya?" Tanya Baron menagih aset yang ia inginkan.


"Untuk urusan saham, Gue gak bisa langsung ngasih sesuai keinginan lo karena itu semua butuh proses yang panjang dan harus disaksikan oleh pengacara almarhum papa. Gak bisa sembarang urus, Jadi selama menunggu proses balik nama gue bakal nyediain uang tunai buat lo." Kata Ken beralasan, Untung saja Baron bukanlah orang yang cukup pintar untuk memahami semua yang dibicarakan oleh Kenan. Mendengar hal itu ia langsung percaya begitu saja yang dikatakan oleh Kenan.


"Oke gak masalah, Tapi gue mau secepatnya lo urus itu atau kalo gak lo bakalan tau akibatnya." Ancam Baron lagi, Setelah itu ia langsung pergi membawa hasil jarahan nya hari ini. Tentu uang itu akan langsung dipakainya untuk membeli obat-obatan terlarang untuk memperlancar bisnisnya.


"Gimana sama El?" tanya Eriska karena sejak kembali dari kantor El kemarin Baron tidak mengatakan hal apapun.


"Setelah aku menguasai setengah dari saham milik Kenan aku bakalan kasih El kejutan. Bakalan aku buktiin bahwa aku bisa mengendalikannya dan saat itu juga semua yang dia miliki bakalan dia kasih ke aku dengan senang hati." Sahut Baron tertawa licik, Ia merangkul Eriska lalu pergi dari tempat itu.


***


Di rumah El saat ini sedang kedatangan tamu dan tamu itu tidak lain adalah pak Bram ayah kandung El yang ingin menjenguk cucu semata wayangnya itu. Selama ini Luna selalu menerima dengan baik kedatangan mertuanya itu, Luna juga memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Semenjak ia melihat Zea untuk pertama kalinya sifat kasarnya seolah berkurang sedikit demi sedikit. Ia juga menerima Zea dengan sangat senang walaupun cucunya itu terlahir sebagai seorang perempuan dan bukan seorang laki-laki seperti keinginannya saat itu..


"Apa kamu gak takut Elang marah kalo sampai dia tau kamu menerima saya datang kemari?" Tanya pak Bram yang sedang menggendong Zea, Luna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ia meletakan segelas teh yang ia bawa untuk mertuanya itu.


"Elang sangat membenci saya, Saya tau dan sadar kalau saya bukanlah orangtua yang baik untuknya. Dan saya sangat bersyukur kelurganya yang sekarang mendidik El hingga ia menjadi orang yang sangat baik dan orang yang berguna untuk orang lain disekitarnya." Tambahnya lagi, Mendengar hal itu entah kenapa Luna merasa sangat iba, Seketika ia sangat merindukan sosok sang ayah yang sudah lama pergi meninggalkan nya.


Melihat pak Bram bercanda dengan Zea membuatnya berandai jika ayahnya masih hidup mungkin seperti inilah beliau saat ini, Menikmati hari tua bersama cucunya. Namun Tuhan lebih menyayangi orang yang baik itu sebabnya pak Dewa diambil oleh NYA dan IA berikan El sebagai pengganti sosok sang ayah.


"Zea, Kalo Zea sudah besar nanti dan bigbos udah gak ada Zea jangan lupain hari-hari saat bersama bigbos ya, Karena ayah kamu gak akan mau mengingat bigbos dalam hidupnya." Ucap pak Bram yang mendadak diam melamun setelah mengucapkan hal itu. Pria itu kini sudah menua, Pria itu kini makin melemah tidak sekuat dulu. Dan disaat seperti ini bahkan anak satu-satunya yang ia miliki enggan ada didekatnya, Luna sangat mengerti perasaan ayah mertuanya itu. Walaupun tidak mengucapkannya secara langsung tapi Luna tau bahwa ia sangat merindukan sosok El anaknya yang telah lama hilang enggan untuk kembali.


"Semoga papa panjang umur dan selalu sehat karena Zea perlu belajar bela diri dari kakeknya untuk melindungi dirinya kelak." Kata Luna menghibur pak Bram, Pak Bram pun tertawa sambil mencium gemas pipi Zea.


Tidak lama orang kepercayaan pak Bram datang itu tandanya ia harus segera pergi karena masih banyak hal yang perlu ia urus. Walaupun ia sudah tua, Namun ia tetap aktif di perusahaan miliknya sendiri yang bakal ia wariskan pada Zea cucu semata wayangnya.


"Bigbos pulang dulu ya, Nanti kalo ada waktu kosong bigbos datang lagi. Semoga kamu selalu sehat dan dilindungi kemanapun dan di manapun kamu berada." Kata pak Bram sebelum pergi ia menciumi pipi Zea membuat Zea tertawa geli. Rasanya ia tidak ingin berpisah dengan Zea melihat tingkah Zea yang makin hari makin menggemaskan.


"Hati-hati ya pa, Sering-sering main kesini. Kalo El lagi kerja Zea gak ada temennya selain mbak pengasuh dan bi Irah." Kata Luna pada mertuanya itu. Pak Bram bukanlah orang jahat menurut Luna bahkan pria itu sangat baik dan juga penyayang.


Bersambung