
Jam makan siang pun tiba El langsung mengeluarkan kotak makanan nya dari dalam laci, Ia membuka kotak makan itu lalu mengambil sumpit dan memasukan rol sushi itu kedalam mulutnya.
"El kita makan ke cafe seberang jal......" Daniel menghentikan ucapannya saat melihat El menikmati makan siangnya didalam ruangan. Kaget dengan kedatangan Daniel yang selalu tiba-tiba dan memergokinya makan bekal yang dibawa dari rumah membuat El tersedak dan buru-buru meraih gelas berisi air di atas mejanya.
"El......Lo.....Sejak kapan lo bawa bekal kekantor?" Selidik Daniel membuat El bingung menjawab pertanyaan itu.
"Ya......Ya gue....Gue lagi pengen aja makan ini. Kenapa emang? Kantor, Kantor gue. Gue makan diruangan gue, Makanannya juga punya gue apa masalahnya?" Jawab El agak gagap membuat Daniel makin curiga dengannya. Daniel mendekati El dengan tatapan penuh selidik, Kotak makan milik El juga tidak lepas dari matanya. Ia mendekati kotak makan El lalu melihat isinya sedangkan El hanya memperhatikan tingkah aneh sahabatnya itu.
Dengan cepat Daniel mengambil isi kotak makan milik El lalu memasukannya kedalam mulut.
"Mmmmmm........Enak banget lo beli dimana?" Tanya Daniel ingin mengambilnya lagi tapi El sudah mengamankannya lebih dulu sebelum semua habis masuk kedalam mulut Daniel.
"Pelit banget sih, Baru juga satu gue nyicipin." Protes Daniel sedangkan El dengan wajah tidak tau menahu ia tetap menyembunyikan kotak makannya itu didalam laci.
"Kalo lo mau, Beli aja sana jangan ngerusuh mulu."
"Tadikan gue udah tanya, Lo beli dimana? Kalo gue tau gue juga mending beli daripada minta sama lo." Celetuk Daniel membela diri dengan segala alasan yang ia punya.
"Gak ada yang jual kek punya gue. Punya gue ini spesial, Makanya rasanya luar biasa enak." Jawaban El membuat Daniel tambah kesal.
"Untung gue lagi lapar dan butuh makan sekarang jadi gue gak pengen berdebat sama lo lebih lama, Tapi inget gue bakal balik lagi kesini buat introgasi lo tentang kotak makan itu." Daniel lalu pergi meninggalkan ruang kerja bosnya itu, Sedangkan El hanya memutar kedua bola matanya tidak menghiraukan ucapan Daniel dan ia kembali makan siang menikmati bekal yang dibuat oleh istrinya itu.
***
"Gue yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan El dari gue. Tapi apa ya?" Rasa penasaran yang tambah hari tambah besar membuat Daniel tidak tenang sebelum tau apa yang dirahasiakan El darinya. Maklum saja, Dari kecil mereka memang tumbuh bersama di panti asuhan hingga El diadopsi keluarga Wirayudha. Dan walaupun El sudah diadopsi hubungan pertemanan mereka berdua tidak berakhir sampai disitu.
Daniel memutuskan untuk mencari tau sendiri daripada menunggu El bicara rasanya tidak akan mungkin. Hari ini Daniel pergi dari kantor lebih awal dengan alasan akan ada meeting diluar kantor padahal ia berencana untuk pergi kerumah El tanpa sepengetahuan El.
***
Daniel kini berdiri didepan pintu rumah El menunggu bi Irah membuka pintu sambil sesekali celingak celinguk mengawasi sekitar rumah.
"Loh mas Daniel, Tumben kemari. Bukannya mas El ada dikantor ya? Silahkan masuk mas." Bi Irah langsung mempersilahkan Daniel masuk kerumah dan duduk diruang tamu.
"Iya, Saya ada meeting disekitar sini kebetulan pas lewat depan rumah, Karena lama banget gak main kesini dan ketemu sama bi Irah makanya saya mampir. Gak ngerepotin kan bi?" Alasan Daniel, Daniel memang sangat akrab dengan bi Irah sama halnya El yang menganggap bi Irah itu keluarganya sendiri.
"Oh, Iya mas Daniel lama banget sih gak kemari. Sibuk banget ya mas? Ya gak ngerepotin lah mas, Kok aneh gitu ngomongnya. Ya udah santai aja dulu disini, Bibi buatin minum dulu ya." Bi Irah tersenyum lalu pergi kedapur untuk membuatkan jus mangga kesukaan Daniel, Daniel memang sering menginap dirumah El jadi bi Irah sudah tau makanan dan minuman kesukaan pria berumur 29 tahun itu.
Sambil menunggu bi Irah yang sedang sibuk didapur, Daniel memulai penyelidikannya. Ia berjalan melihat-lihat sekitaran rumah, Tapi sedikitpun tidak ada yang mencurigakan dari rumah El.
Hingga ia sampai di taman tempat ia biasa santai dan menghabiskan waktu bila berkunjung kerumah El. Matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang sedang membaca sebuah buku ditangannya. Ia duduk diayunan yang dibuat oleh El dan dirinya.
Rasa penasaran tidak dapat lagi ditahan oleh Daniel, Ia langsung menghampiri Luna yang asik membaca sebuah novel dan tidak sadar akan kedatangan Daniel.
"Ka......Kamu siapa?" Ucap Daniel sedikit ragu-ragu takut mengagetkan Luna. Dan betul saja, Luna benar-benar kaget dengan kedatangan Daniel. Ia menurunkan buku yang menutupi wajahnya dan langsung melihat kearah Daniel yang saat itu juga melihatnya. Luna menelan saliva nya, Selama ini tidak pernah ada yang tau keberadaannya dirumah El tentu hal ini membuat Luna sedikit merasa takut kalau status hubungannya dan El terbongkar.
"Mas Daniel......" Panggil bi Irah, Saat Daniel menoleh kearah bi Irah yang membawa segelas jus ditangannya Luna buru-buru pergi dari sana sebelum Daniel banyak bertanya tentangnya.
"Bibi nyariin, Ternyata mas Daniel disini. Ini minumannya kesukaan mas Daniel udah siap."Kata bi Irah menyerahkan gelas itu pada Daniel, Daniel meraih gelas itu dan berterimakasih pada bi Irah.
"Oh iya bi, Dia sia......" Ucapan Daniel berhenti ketika Luna yang ia liat tadi sudah tidak ada disana, Ia langsung mendekati ayunan yang baru saja Luna pakai memastikan kalau yang baru saja ia lihat benar nyata dan ada.
"Kenapa mas?" Tanya bi Irah menyusul Daniel, Daniel benar-benar bingung karena tidak mungkin ia salah lihat katanya dalam hati.
"Cewek yang barusan duduk disini, Dia pakai celana jeans panjang baju kaos pink. Rambutnya panjang lurus, Kulitnya putih, Dia barusan duduk disini sambil baca buku." Kata Daniel menjelaskan apa yang baru saja ia lihat ditempat itu.
"Tapi daritadi bibi gak liat siapa-siapa cuma liat mas Daniel aja." Bi Irah sebenarnya tau gadis yang dimaksudkan oleh Daniel, Tapi bukan hak nya untuk bicara dan menjelaskan pada Daniel tentang Luna.
"Bi serius deh, Saya liat dengan mata kepala saya sendiri. Nih bibi liat, Ayunan nya aja masih gerak kek habis dipake kan?" Daniel tidak mau kalah, Ia sangat yakin dengan yang ia lihat.
"Ini sih karena ditiup angin mas, Inikan musim kemarau angin cukup deras ditambah lagi ditaman ini banyak pepohonan. Ayo kita masuk, Entar jusnya keburu gak seger lagi loh." Bi Irah mendorong pelan tubuh Daniel membawanya masuk kerumah dan kembali duduk di ruang tamu. Sedangkan Daniel masih dengan keyakinan nya yang kuat kalau ia baru saja melihat seorang gadis disana.
"Bi, Serius bi saya gak lagi berkhayal. Saya juga gak mungkin salah liat." Daniel tetap bersikeras dengan pendapatnya.
"Oh bisa jadi itu tetangga sebelah yang lagi numpang santai. Biasa kok itu." Daniel mengerucutkan alisnya mendengar asumsi bi Irah. Ia terus berpikir jika itu adalah tetangga sebelah seperti yang dikatakan bi Irah lewat mana ia datang dan pergi? Sedangkan rumah ini dikelilingi tembok pagar tinggi dan lagi ini adalah kawasan perumahan elite, Semua rumah pasti memiliki taman masing-masing apa mungkin ada tetangga yang ingin numpang bersantai ditaman rumah El? Semua tidak masuk diakal untuk Daniel.
"Oh.....Gitu, Ya udah lah kalo gitu lupain aja." Jawab Daniel mengalah pada Bi Irah, Tapi tetap saja ia yakin ada yang disembunyikan El dan bi Irah didalam istananya ini, Dan Daniel bukanlah tipe orang yang gampang menyerah akan suatu hal yang mengganggu pikirannya.
Bi Irah tersenyum lega, Akhirnya Daniel tidak lagi bertanya atau membicarakan Luna dengannya. Daniel meminum jus buatan bi Irah lalu melihat kearah jam tangannya.
"Ummmm.....Ya udah bi saya permisi dulu, Sebentar lagi klien saya datang. Gak enak kalo dia yang harus nungguin saya." Kata Daniel pamit pada bi Irah, Tapi bukan berarti ia menyerah. Ia akan kembali lagi nanti untuk membuktikan kalau yang ia lihat itu benar adanya.
"Oh iya mas, Hati-hati dijalan ya mas." Sahut bi Irah mengantar Daniel kedepan pintu. Setelah Daniel pergi dari rumah El bi Irah buru-buru mengunci pintu dan pergi kekamar Luna.
"Mba.....Mba Luna...." Ketok bi Irah didepan pintu kamar Luna. Luna pun segera membukakan pintu kamar dan bi Irah masuk kekamar Luna.
"Udah pulang?" Tanya Luna pada bi Irah. bi Irah mengangguk dan Luna menghembuskan nafas lega.
"Dia siapa bi?" Tanya Luna lagi, Karena selama dua bulan ia tinggal ditempat ini belum pernah ada orang lain yang datang.
"Namanya mas Daniel, Dia udah kayak sodara sediri buat mas El. Mereka bersahabat dari kecil dan sampai sekarang dan mas Daniel juga kerja diperusahaan nya mas El." Luna mengangguk mendengar bi Irah menjelaskan padanya.
"Terus bibi bilang apa tadi sama dia?"
"Ya bibi bilang kalo yang dia liat barusan mungkin tetangga yang lagi numpang santai."
"Makasih ya bi, Tadi hampir aja. Untung bibi cepat datang jadi saya bisa langsung lari dari sana."
"Iya mba, Pokoknya aman tenang aja." Setelah bicara cukup panjang, Bi Irah keluar dari kamar Luna dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti karena Daniel.
Luna berbaring dikamar luas miliknya, Ia sedang berpikir mau sampai kapan ia bersembunyi dari orang-orang. Toh kalau ditanya ia sudah memiliki jawabannya, Lagipula untuk apa ia bersembunyi? Tidak ada yang perlu ia takutkan. Hubungan nya dan El pun hanya sebatas kakak dan adik.
Karena lelah pulang dari kuliah tidak terasa ia tertidur nyenyak dikamarnya.
***
"Lun.....Luna....Kamu gak makan malam?" Ucap El didepan pintu kamar Luna, Ia mengetuk pintu kamar Luna sejak tadi tapi Luna belum juga bangun.
"Luna......." Katanya lagi, Karena cukup lama ia berdiri dan mengetuk pintu namun tidak ada balasan dari Luna, El memutuskan untuk masuk ke kamar Luna. Ditariknya gagang pintu perlahan lalu masuk kedalam kamar Luna.
Ini rumahnya sendiri tetapi kenapa ia harus berjalan pelan dan berjingkit agar tidak menimbulkan suara seperti seorang pencuri.
Dan benar saja dugaan El, Luna masih tertidur pulas dikasur empuknya. Ia mendekati Luna niatnya ingin segera membangunkan Luna dan mengajaknya untuk makan malam tetapi niatnya berubah begitu saja saat melihat wajah Luna.
El berjongkok sambil memperhatikan wajah Luna yang tenang saat ia tidur.
"Bahkan kamu terlihat cantik walaupun tanpa riasan dan saat sedang tidur seperti ini." Katanya tidak sadar, Senyumnya pun mengembang menampakan dua lesung pipinya yang dalam. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, Tetapi El terus mendekatkan wajahnya kearah Luna dan saat bibir El sedikit lagi nyaris menyentuh bibir merah muda milik Luna ia langsung menghentikan aksinya.
"Apa yang gue lakuin?" Katanya menjauh dari Luna, Luna pun bergerak membetulkan posisi tidurnya dan membelakangi El. Dengan cepat El keluar dari kamar Luna dan langsung pergi kekamarnya. Sesampainya didalam kamar El memegangi dadanya, Terdengar keras detak jantungnya seperti orang yang sedang lari maraton.
"Jantung gue kenapa jadi gini?" Katanya lalu ia berjalan menuju meja disamping tempat tidur dan menuang segelas air lalu meminumnya hingga gelas itu kosong tak bersisa.
"Sadar.....Sadar......Ya, Tenang....Tenang.....Tenang." Katanya lagi sambil mengatur nafas agar jantungnya bisa lebih tenang dari sebelumnya.
Bersambung dulu ya, Inshaallah up nya gak bakal lama-lama kok, Paling lama sangkut di direview aja......Ikuti terus cerita El dan Luna ya,......Tp jgn lupa likenya biar author semangat gtukan....😌😌😌
Okelah kasih kissbye dulu buat babang El n mba Luna.....😘😘😘