Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Cemburu?



Ken masih betah berada ditempat itu, Ken memang tipe pria yang sangat setia, apalagi dengan statusnya saat ini sebagai seorang pria beristri. Hanya saja saat ini ia benar-benar merindukan sosok Eriska. Eriska bagai sebuah kenangan terindah yang bahkan memiliki tempat tersendiri didalam hati Ken. Seperti sebuah drama percintaan yang belum menemui akhir dan harus berakhir dengan paksa begitulah kisah yang sudah lama terkubur pergi bersama wanita yang bernama Eriska Lynara.


"Hun, ada satu cerita yang pengen banget aku ceritain ke kamu. Tentang gimana aku bisa bangkit dari sebuah keterpurukan, tentang bagaimana sosok wanita yang bisa mencuri hati dan perhatian. Dia wanita yang baik, manis, lembut, perhatian dan juga sederhana. Jujur, dia memiliki sifat yang sama seperti kamu. Awalnya aku berfikir, aku mencintai Vanny karena melihat sosok Eriska didalam sana tapi ternyata bukan itu. Akan menjadi pria ban*sat jika aku mencintai seorang wanita sempurna karena melihat sisi orang lain didalamnya." Ucap Kenan menceritakan semua hal pada Eriska.


Setelah 6 bulan Ken pindah ke negeri kanguru, pria itu mulai membuka sebuah bisnis kecil yang bergerak dibidang kuliner. Ya, Ken membuka sebuah cafe dan ia mengelola bisnis itu sendiri. Malam itu saat cafe sudah sepi dan Ken berniat untuk segera menutupnya seorang gadis dengan pakaian sederhana datang sambil membawa sebuah map ditangannya.


"Maaf, cafe kami sudah tutup. Anda bisa kembali lagi besok siang." Ucap Ken ramah menggunakan bahasa setempat. Namun gadis itu tidak bersuara sedikitpun, ia malah duduk diam tanpa respon menatap kosong kearah sudut cafe membuat Ken ikut bingung melihatnya.


"Apa anda lapar? Atau ingin memesan sesuatu, saya bisa buatkan walaupun koki kami sudah pulang. Tapi, saya bisa membuat sedikit makanan." Kata Kenan sambil memasang celemek yang baru saja ia lepas.


"Tolong beri saya pekerjaan. Apapun itu, walau hanya untuk sekedar membuang sampah atau mencuci piring kotor akan saya kerjakan selama itu pekerjaan yang baik." Ucap Vanny saat itu yang langsung berkata jujur.


"Anda orang Indonesia? Wajah dan cara bicara anda sangat tidak asing." Sahut Kenan memperhatikan gadia berwajah melayu tersebut.


"Ya, saya orang Indonesia." Mendengar hal itu, Kenan mulai bicara santai menggunakan bahasa Indonesia.


"Apa anda sangat membutuhkan pekerjaan? Cafe ini baru saja dibuka, masih terbilang sepi pengunjung." Kata Ken bicara santai. Gadis itu berdiri menatap serius kearah Ken, terlihat cahaya sendu dari bola mata Vanny seolah sedang sangat membutuhkan pekerjaan.


"Saya mohon, tidak masalah dengan gaji yang kecil asal saya bisa makan." Katanya sangat jujur. Ken berdeham, antar ingin membantu namun ia sedikit ragu terlebih ia sama sekali tidak mengenal gadis yang ada dihadapannya saat ini.


"Ini kartu identitas saya, anda bisa pegang ini untuk jaminan. Sungguh saya hanya butuh pekerjaan hanya untuk makan dan membayar sewa rumah. Katanya bersungguh-sungguh membuat Ken mulai merasa iba. Ken manerima kartu identitas tersebut dan membaca nama yang tertera disana.


"Vanny. Oke, mulai besok kamu bisa bekerja disini." Ucap Ken yang memutuskan untuk menerima Vanny untuk bekerja dicafenya.


***


Sementara itu Dave yang baru hari pertama masuk kuliah sudah membuat kehebohan dikampusnya. Bukan karena ia bertengkar atau melakukan hal buruk, melainkan karena menjadi pusat perhatian dan sorotan utama para gadis kampus. Apalagi saat ini Dave sedang bermain basket ikut bersama team saudara kembarnya yang juga merupakan idola ditempat itu.


"Liat deh keren banget, dan ternyata dia itu sodara kembarnya Davin. Davinnya aja udah bikin meleleh ditambah lagi sama kedatangan sodaranya yang bener-bener bikin jantungan sambil meleleh." Kata seorang gadis yang sedang menonton aksi 2D bermain basket.


"Ayo Dave, aku padamu Dave. Davin, semangat Davin." Teriak histeris para gadis.


Zea yang kebetulan lewat ikut duduk melihat permainan kedua orang saudara angkatnya.


"Ze, kenalin aku dong sama sodaranya Davin. Kamu sama Davin kan deket, pasti sama Dave deket juga dong." Ucap Freya, salah satu teman Zea yang baru saja datang menghampiri.


"Gak kata siapa deket. Udah ah, aku mau kekantin." Ucap Zea yang langsung berdiri dari tempat tidurnya hendak berlalu.


"Yach, serius deh. Masa gak deket juga sih? Dave itu cowok tipeku banget." Tambah Freya mengikuti langkah Zea sambil terus membujuk gadis itu.


"Gak deket astaga, kenal aja baru kemaren." Tegas Zea tidak ingin membahas Dave.


"Min!" Teriak Dave menghentikan langkah Zea dan Freya. Dave berlari keluar lapangan menghampiri Zea.


"Min siapa min?" Tanya Freya bingung.


"Tau, gak jelas." Sahut Zea kembali melangkah namun langsung dihalangi oleh Dave yang berdiri tepat dihadapannya dengan keringat yang membahasi wajah, rambut dan tubuhnya membuat pesona pria itu makin menjadi dan menjadi pula teriakan para gadis disana.


"Ha......hai D....Dave." Sapa Freya gugup tidak berkedip sedikitpun dari Save.


"Hai." Balas Dave tersenyum membuat Freya merasa seperti terkena serangan jantung saat itu juga.


"Min, ayo kekantin sama gue." Kata Dave menundukan tubuhnya lalu tersenyum manis kearah Zea membuat mata Zea terbuka lebar.


"Si*lan nih cowok, kenapa mendadak manis mulu sih dari tadi pagi." Celetuk Zea dalam hati memejamkan kedua matanya enggan melihat pesona Dave yang sedang bertebaran dihadapannya saat ini.


"A....aku bo...boleh gabung gak?" Tanya Freya maju, jelas terlihat gadis itu korban hipnotis pesona Dave.


"Boleh, ayo min buruan. Gak boleh nolak lho." Dave langsung menarik tangan Zea dengan santai, tidak perduli dengan tatapan serta teriakan para gadis yang memanggil namanya.


Dengan langkah berat Zea mengikuti Dave tanpa mengatakan apapun karena percuma saja jika ia bicara, toh Dave tidak akan mendengar semua ucapan gadis itu.


"Mending kamu ganti baju sana, basah gitu kemana-kemana jorok." Celetuk Zea saat Dave mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


"Apanya yang jorok? Justru itu keliatan laki banget. Maskulin tau, apalagi wanginya oh my gosh, I feel dead." Sahut Freya memandang kagum kearah Dave.


"Dih, lebay." Sahut Zea malas.


"Mimin, sini duduk dekat gue."


"GAK! Aku gak suka deket-deket orang yang keringetan." Tolak Zea tegas. Mendengar hal itu Freya yang sejak tadi berusaha mencari perhatian Dave langsung duduk disamping Dave dengan tingkah manis dan imut.


"Aku suka, aku aja yang duduk disini." Kata Freya duduk disamping Dave membuat mata Zea melotot sedangkan Dave malah bergeser karena Freya duduk sangat dekat dengannya membuat pria itu merasa risih.


"Sok kecakepan, sok ganteng, sok cool, sok keren. Emang dia siapa? Artis? Lebay!" Kata Zea bicara dengan diri sendiri merasa kesal entah karena apa.


"Kenapa ngomel." Kata Tian mengagetkan Zea yang benar-benar kaget.


"Tian, ngagetin deh."


"Sorry, habisnya kamu ngomong sendiri gitu." Kata Tian tersenyum, lalu mereka berdua memesan makanan bersamaan.


"Yach udah penuh." Kata Tian saat melihat tempat duduk yang sudah penuh terisi karena ini memang sudah jam makan siang.


"Gabung sama aku aja. Tuh ada Freya dan Dave." Ucap Zea menawari Tian tempat duduk.


"Boleh. Ayo, aku lapar." Mereka berdua berjalan menuju meja yang sama dan dari kejauhan Dave sudah memoerhatikan keduanya.


"Tuh orang ada dimana-mana kek kumat, Sia*an." Gerutu Dave pelan.


"Kenapa Dave?" Tanya Freya yang sekilas mendengar Dave bicara sendiri.


"Gak apa-apa, kamu udah lama temenan sama Zea?" Tanya Dave mengalihkan pembicaraan.


"Ummm gak juga sih, pas masuk kuliah baru kenal Zea. itupun karena kami satu meja dikelas."


"Oh, aku pikir udah lama."


"Dave, gue boleh gabung." Kata Tian sambil meletakan nampan berisi makanan. Dave tersenyum menjawab pertanyaan Tian.


"H....hai." Sapa Freya yang kembali terhipnotis karena wajah manis Tian. Tian tersenyum kearah Freya membuat gadis itu salah tingkah dan pipinya merah merona.


"Ze, temen lo cowok ganteng semua. Kok bisa sih? Kenalin gue juga dong sama dia." Ucap Freya berbisik ditelinga Zea membuat Zea menarik nafas panjang.


"Tian kenalin ini Freya, dan Freya kenalin ini Tian." Kata Zea lalu melanjutkan makannya.


"Min, duduk disamping gue." Kata Dave mulai bertingkah dan memerintah. Mendengar hal itu Zea tidak bergeming dan tetap santai melanjutkan makan siangnya.


"Min?" Ucap Freya mengulang dengan nada bingung.


"Iya, Zea asisten gue." Sahut Dave memperkenalkan status Zea dengan bangga membuat Zea memutar kedua matanya merasa jengah.


"Bisa gak aku makan dengan tenang?" Tanya Zea tanpa melihat kearah lawan bicara. Dave menghembuskan nafasnya, rasanya sedikit keterlaluan jika ia mengganggu jam makan siang gadis itu maka Dave membiarkan Zea menikmati makan siangnya dengan tenang.


"Nih buat kamu, kamu suka kuning telur kan." Tian meletakan kuning telur utuh kedalam piring Zea.


"Woooooaaah, kamu tau darimana aku suka kuning telur?" Tanya Zea langsung memakan dengan nikmat kuning telur tersebut.


"Ada deh. Kamu juga suka makanan yang pedes dan asem kan? Soto, bakso, seblak." Sahut Tian tersenyum. Dan hal itu tentu membuat Dave kembali kesal. Dave berdiri lalu berjalan kearah kulkas dan membeli beberapa minuman dingin.


"Wooaaahhh, Kamu bener semua lain waktu kalo mau traktir aku kita makan itu aja ya." Jawab Zea tersenyum.


"Ummmm mau gak ya? Soalnya kan kamu juga punya penyakit asam lambung."


"Woooah, bahkan kamu tau aku juga punya penyakit itu. Apa aku harus kasih hadiah karena kamu bener semua?" Tanya Zea tertawa seolah hanya ada ia dan Tian ditempat itu. Dave yang benar-benar kesal dan jengah langsung melihat kearah Freya dan mengajak gadis itu mengobrol.


"Fey ah maksudnya Frey, kamu suka rasa stroberi?" Tanya Dave tersenyum manis membuat lawan bicaranya merasa stroke tidak dapat melakukan apa-apa selain mengangguk.


"Ka....kalo kamu suka, kamu boleh panggil aku Fey." Sahut Freya tidak lepas tatapannya dari wajah tampan Dave.


"Oke, mulai sekarang aku panggil kamu Fey. Aku suka nama itu, manis." Sahut Dave tersenyum. Zea yang melihat hal itu langsung tersedak makanannya sendiri dan Tian buru-buru memberikan botol minuman miliknya untuk Zea.


"Hati-hati dong makannya." Kata Tian meraih tisue dan langsung mengelap sudut bibir Zea dengan palan membuat darah Dave serasa mendidih. Dave meraih sekotak jus rasa stroberi dan membukanya lalu diberikan pada Freya.


"Buat kamu, sengaja pilih rasa stroberi karena gak begitu manis soalnya kamu udah kelewat manis." Kata Dave tersenyum sambil memberikan jus tersebut pada Freya.


"Tian, mau cicipin nasi goreng aku gak? Enak lho, ciba deh." Zea meraih sendok milik Tian lalu menyuapi Tian sesendok nasi goreng.


"Bangke! Sia*an!" Umpat Dave dalam hati melihat hal itu, apa lagi saat Zea tersenyum pada Tian dan Tian membalas senyuman itu.


"Heh, min buruan makan habis itu ikut gue!" Ucap Dave yang tidak tahan lagi dengan kelakuan Zea juga Tian. Zea melihat sinis kearah Dave lalu melanjutkan makan siangnya.


Bersambung.....