My Love Story

My Love Story
Bab 99



Alin menatap Ayahnya "Bagaimana ini pa?, apa kita percaya begitu saja apa yang di katakan Arsenio?, dan bagaimana jika yang dikatakannya itu benar?" tanya Alin berurutan.


"Kita jagan asal mepercayainya sebelum kita melihat buktinya langsung!. Kita harus secepatnya menyusul mereka" ucap Nicholas.


"Aku setuju pa, kita harus pastikan langsung apa benar Ana benar masuk rumah sakit atau tidak" ujar Alin.


Keduanya pun bergegas keluar dari gedung dan menuju mobil.


"Ayo pa jangan sampai kita kehilangan mereka!" ucap Alin.


"Iya sebentar, ini sudah mau jalan" sahut Nicholas, perlahan mobil melaju keluar dari halaman gedung, terus melaju mengikuti mobil Gibran dari jarak jauh.


"Aku tuh suka heran dengan jalan pikiran mereka, sudah tahu anaknya sudah menikah masih saja ingin menikahkan lagi dengan wanita lain" ucap Sarah membuka topik pembicaraan.


"Aku juga bingung ma, memangnya salah Ana apa sampai mereka sebenci itu padanya!" ujar Gibran.


"Ana tidak salah apa-apa, merekalah yang belum mengenal Ana dengan baik. Aku yakin jika mereka telah mengenal Ana dengan baik maka mereka tidak akan punya alasan lagi untuk membencinya bahkan mereka akan menyesal telah memperlakukan Ana seperti sekarang ini" kata Sarah.


"Aku berharap mereka akan secepatnya menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu kesalahan" ucap Gibran.


"Mama juga berharap seperti itu"


"Oh iya, apa Rangga sudah Share lokasinya?"


Gibran menggangguk "Sudah ma, kita tinggal langsung menuju lokasinya" sahut Gibran.


"Baguslah kalau begitu, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ana"


Gibran yang mendengarnya pun tersenyum sambil fokus menyetir.


"Maaf tuan, teman nona Ana sudah berapa kali menghubungiku, mereka pasti sudah melihat berita mengenai pernikahan tuan di sosial media" ucap Rangga dengan pandangan lurus ke jalan.


"Terus apa kau mengangkatnya?" Rangga mengeleng "Tidak tuan" sahut Rangga.


"Bagus, mereka juga akan secepatnya tahu jika pernikahan itu batal" ujar Arsenio dengan pandangan tertuju pada layar ponselnya.


"Tolong jangan dulu beritahu soal istriku kepada temannya apalagi pada ibunya, saya hanya tidak mereka melihat kondisi istriku saat ini, karena hal itu akan membuat mertuaku cemas. Jika keadaan istriku sudah membaik barulah beritahukan mereka" jelas Arsenio.


"Baik tuan"


Rangga kembali fokus menyetir dengan tujuan ke daerah B untuk menjemput Alvis.


Rumah sakit.


Gibran berjalan melewati koridor rumah sakit di ikuti oleh Sarah dari belakang.


"Apa Rangga juga memberitahukan di ruangan mana Ana di rawat?" tanya Sarah di selah-selah langlahnya.


"Iya ma, Ana berada di ruangan VVIP nomor 1" sahut Gibran.


"Baguslah kalau begitu, kita harus secepatnya kesana, kasihan tidak ada yang menjaga Ana" ucap Sarah.


Keduanya terus berjalan dan pada akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan.


"Selamat datang tuan, selamat datang nyonya" ucap dua pria yang berdiri di depan ruangan.


"Apa kita boleh masuk?" tanya Gibran.


"Maaf tuan, tapi tuan tidak mengizinkan siapapun menjenguk nona" sahut salah satu dari mereka sambil sedikit menundukan kepanya.


"Tapi, kami sudah mendapat izin dari Arsenio untuk menjenguk Ana" ucap Sarah.


"Tapi nyonya... "


"Ya udah saya telefon Arsenio dulu, biar kalian dengar sendiri" ucap Gibran sebelum pria itu menyelesaikan ucapanya.


Pria itu menggagguk setuju, Gibran segerah mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Arsenio.


📞"Halo pa" ucap Arsenio setelah sambungan telefon terhubung.


📞"Kami sudah di depan ruang rawat Ana, namun di depan ada dua pria yang berjaga"


📞"Berikan ponselnya pada salah satu dari meraka!"


Gibran bergantian menatap kedua pria tersebut "Nih Arsenio ingin bicara" Gibran memberikan ponselnya kepada salah satu dari kedua pria tersebut.


📞"Halo tuan"


📞"Izikan mereka masuk!, tapi ingat hanya mereka dan tidak ada yang lain!"


📞"Baik tuan"


Sambungan telefon pun terputus, pria itu mengembalikan benda kecil itu kepada Gibran.


"Bagaimana?" tanya Gibran.


"Silakan masuk tuan" ucap pria itu lalu sedikit bergeser dari pintu untuk memberi jalan.


"Terima kasih" Gibran menoleh ke belakang menatap Sarah "Ayo ma" ucapnya lalu masuk, sementara Sarah tampak menggangguk lalu ikut masuk menyusul Gibran.


"Ya ampun sayang, kenapa jadi seperti ini sih?" ucap Sarah yang kini berdiri di samling hospital bed.


Gibran pun ikut menghampiri, menatap lekat wajah Ana yang nampak pucat "Maafkan papa, papa tidak bisa menjagamu dengan baik" Gibran meraih tangan Ana, tatapannya tertuju pada pergelangan tangan Ana.


"Sepertinya apa yang di katakan Arsenio benar, kalau Ana telah di culik. Mama lihat ini!, di pergelangan tangannya terdapat bekas berwarna biru" ucap Gibran.


Sarah yang mendengarnya pun menatap berganti menatap tangan Ana "Kasihan Ana, ia pasti trauma dengan apa yang di alaminya"


Sarah berganti menatap Gibran "Kamu harus mencari orang-orang yang telah membuat Ana seperti ini, jangan biarkan mereka hidup bahagia di luar sana!"


"Tentu saja ma, aku tidak akan melepaskan orang-orang yang telah menyakiti Ana"


Selang beberapa menit Gibran dan Sarah secara bersamaan melihat kearah pintu, mereka dapat mendengar suara bising di luar.


"Menyingkirlah!, kami ingin masuk" ucap Alin pada dua pria yang bertugas berjaga di depan pintu.


"Maaf nyonya, tapi tuan tidak mengizinkan nyonya masuk" ucap mereka hampir bersamaan.


"Hey, ngak mungkin Arsenio tidak mengizinkan kita masuk!, ini pasti hanya akal-akalan kalian saja kan?" lanjut Nicholas.


"Tidak, kami tidak berani seperti itu. Kami benar-benar mendapat peritah seperti itu dari tuan. Kami akan mengizinkan nyonya dan tuan masuk jika kami di beritahu tuan untuk mengizinkan nyonya dan tuan masuk"


Alin dan Nicholas mendengus kesal "Sial! Apa anak benar-benar tidak lagi mengagap lagi kita keluaga" ucap Nicholas.


"Tapi kenapa mama dan suamiku di izinkan masuk sementara kami tidak?" tanya Alin.


"Karena tuan telah meminta kepada kami untuk mengizinkan tuan Gibran dan nyonya Sarah masuk" sahut salah satu dari mereka.


"Ada apa ini?"


"Tuan" ucap dua pria itu sambil sedikit menundukan kepalannya.


"Sayang.. lihat orang-orang kepercayaanmu tidak mengizinkan mama dan kakek masuk" ucap Alin menghampiri Arsenio.


"Saya yang menyuruh mereka" ucap Arsenio dingin.


Nicholas dan Alin yang mendengarnya pun terkejut tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Kenapa mama dan kakek ke sini?, bukankah kalian harus menyusul wanita pilihan kalian itu"


"Sayang, kenapa ngomongnya gitu sih?. Kami tuh kesini mau jenguk Ana istri kamu" ucap Alin.


"Benar tuh apa yang di katakan mamamu, kami ke sini hanya ingin melihat kondisi Ana, kami harus memastikan apa yang di katakan kamu itu benar atau tidak" sambung Nicholas.


"Daddy.. daddy" pangil Alvis yang kini sedang di peluk oleh Arsenio.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Arsenio dengan suara lembut.


"Mommyku mana?, aku ingin bertemu" ucap Alvis.


"Oh iya, Daddy hampir lupa kalau Alvis ingin bertemu mommy. Okley waktunya masuk" ucap Arsenio lalu berjalan menuju pintu sementara kedua pria itu secepatnya beranjak dari tempat mereka berdiri.


Sementara Alin dan Nicholas ikut menyusul Arsenio namun segerah di tahan oleh dua pria itu.


"Apapan ini?, lepaskan aku!. Aku mau lihat keadaan menantuku" ucap Alin berusaha lepas dari cengraman pria suruhan Rangga.


Sebelum melangkah masuk Arsenio kembali menoleh kearah mereka "Udah, biarkan saja mereka masuk" ucapnya lalu melangkah masuk.


"Baik tuan" sahut pria itu lalu melepaskan Alin dan juga Nicholas.


"Aku akan membalas perlakuanmu terhadap kami" pikir Nicholas.


Sarah dan Gibran tersenyum melihat Arsenio datang membawah Alvis. Namun seketika seyum itu pudar saat Alin dan Nicholas masuk.


"Kalian, ngapain kesini?. Bukankah kalian tidak peduli dengan Ana?, sana urus saja wanita pilihan kalian itu" ucap Sarah.


"Ma tenang, kasihan Ana dia kan lagi istirahat" ucap Gibran berusaha menenangkan mertuannya.


"Memangnya salah ma?, jika kami ingin menjenguk menantuku" ucap Alin.


"Sudah... sudah!, ini bukan waktunya bertengkar" ucap Arsenio, sontak membuat semuanya diam.


"Opa?, Opa ada di sini juga?. Mau ketemu mommy ya?" ucap Alvis.


"Iya sayang, kamu juga mau ketemu mommy?. Sini sama opa"


Arsenio memberikan Alvis pada Gibran.


"Iya Opa, aku sudah lama ngak ketemu mommy"


Arsenio berjalan mendekati Ana, tatapanya sedu. Menarik kursi lalu duduk di dekat hospital bed.


"Sayang, kamu tahu siapa yang datang?" tanya Arsenio pada Ana yang masih memejamkan matanya.


"Kamu harus sepat sembuh, nih aku membawa Alvis ke sini. Aku tahu kamu sangat merindukannya, Alvis juga sangat merindukanmu loh" lanjut Arsenio.


Alin dan Nicholas pun berjalan mendekati mereka semuanya tampak mengelilingi hospital bed memposisikan Ana berada di tengah-tengah mereka.


"Ana benar masuk rumah sakit, itu artinya Arsenio ngak bohong. Tapi aku masih ngak percaya saja kalau Clarissa termasuk dalang semua ini" pikir Alin menatap Ana yang masih terbaring lemah.


"Mommy... Mommy. Mommy kenapa?, kok di impus segala. Mommy sakit ya?" ucap Alvis sambil mengoyang-ngoyang bahu ibunya.


"Mommy jangan sakit!, kalau mommy sakit siapa yang akan menjaga Alvis. Alvis hanya punya mommy"


"Mommy dengar kan apa yang Alvis bilang barusan?, ayo mommy bagun, lihat Alvis sudah ada di sini!, Alvis janji tidak akan ikut bersama orang-orang yang Alvis tidak kenal" Kedua sudut matanya sudah menganak sungai.


Semua mata kini tertuju pada sosok anak kecil di depan mereka, ia berbicara seakan seperti orang dewasa.


"Sayang, kamu ngak sendiri ko. Kamu masih punya Opa, Oma, Aunt dan juga punya Daddy" ucap Gibran membelai rambut hitam anak kecil itu.


"Aku ngak mau sama daddy!" ucap Alvis.


Arsenio yang mendengarnya pun terkejut "Loh kenapa ngak mau sama daddy?"


"Semua ini salah Daddy, karena daddy menculiku dan membawahku jauh dari mommy, lihat sekarang mommy jadi sakit karena jauh-jauh dari Alvis" ucapnya.


Arsenio diam mematung, ucapan anaknya sekan menampar dirinya, ya ia benar-benar merasa bersalah dalam hal ini, jika ia tidak membawah Alvis, Ana tidak akan seperti sekarang.


"Anak ini benar-benar gemas, persis Arsenio waktu kecil" pikir Alin.


"Ngak sayang, semua yang terjadi pada mommy sudah merupakan takdirnya" ucap Gibran.


Alvis berbalik menatap Gibran "Takdir itu apa Opa?"


"Apa takdir adalah orang yang sudah membuat mommy sakit?" lanjut Alvis.


Gibran menghela nafas panjang "Hmm, sepertinya aku sudah salah ngomong" pikir Gibran.


"Opa ayo jawab!, jika benar aku akan menyuruh daddy mencari orang itu"


"Daddy kan punnya banyak teman-teman yang tiap harinya pakai baju hitam-hitam seperti ngak pernah ganti baju saja" ucap Alvis kembali menatap Arsenio.


Semua orang yang tadinya diam, akhirnya tersenyum saat mendengar ucapanya.


"Alvis ngak bohong loh, bayak teman-teman daddy yang seperti itu, mereka setiap harinya menjaga Alvis kemana pun Alvis berjalan mereka selalu saja ikut di belakangku"


"Opa tahu?, Teman-teman daddy itu membuat Alvis seperti tahanan loh. Kasihan Alvia ngak bisa pergi main-main dengan teman-teman Alvis"


"Opa percaya kan sama Alvis?" ucapnya.


"Iya Opa percaya ko" sahut Gibran.


"Wah... Wah anak siapa nih yang pintar bicara?, jadi gemes ingin cubit pipinya" ucap Sarah.


Alvis berganti menatap Sarah "Anak mommy lah, mommykan cantik dan juga pintar, tapi..."


Semua menunggu kelanjutan ucapan Alvis "Tapi kenapa?" tanya Alin yang juga ikut penasaran.


Semua yang mendengrnya melihat ke arahnya termasuk Alvis.


"Tapi Uncle I, ngak mau menikah dengan mommy" lanjut Alvis.


"Uncle I ?" ucap Alin, Gibran, Sarah dan juga Nicholas bersamaan sementara Arsenio diam tak merespon apapun.


"Mati aku! , dia malah memebahasnya di sini" pikir Rangga yang berdiri tak jauh dari mereka.