My Love Story

My Love Story
Bab 144



Kana mengangkat kedua tanganya menatap jari-jemarinya yang nampak gemetar.


Diwaktu yang sama sesorang berjalan hendak memasuki ruang kerja namun langkahnya terhenti saat melihat Kana.


"Kana?" pangilnya sementara Kana yang mendengarnya segera menoleh kearahnya.


Bukanya segera menghapus air matanya, Kana justru menangis sejadi-jadinya.


"Anaaa... " ucap Kana.


Ya orang itu adalah Ana yang sengaja datang ke kantor untuk bertemu dengan sahabatnya.


Ana yang melihat itu segera berlari menghampirinya dan langsung memeluknya, Ana bahkan dapat merasakan tubuh Kana gemetar.


"Kamu tenang ya!, ngak apa-apa aku ada sekarang!" ucap Ana berusaha menenangkan Kana.


Kana membalas pelukan Ana dengan isak tangis.


"Kamu tenang, aku ada disini bersamamu" ucap Ana lagi sambil membelai dengan lembut rambut hitam milik Kana.


"Apa yang terjadi?, kenapa tubuhnya sampai gemetar seperti ini" gumam Ana dalam hati.


Setelah beberapa menit Kana pun mulai tenang, Ana tampak membantunya berdiri.


"Kita pulang ya?, aku akan mengantarmu" ucap Ana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kana.


Keduanya berjalan melewati koridor kantor yang nampak sunyi karena semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Mereka menggunakan lift agar mempercepat langkah mereka. tidak perlu waktu lama mereka berhasil keluar dari kantor, Ana membawah Kana menuju mobilnya.


"Naik mobil aku aja, soal mobil kamu nanti orangku akan mengurusnya" ucap Ana membukakan pintu mobil dan mempersilakan Kana masuk.


Ana menutup kembali pintu mobil, lalu berjalan mengintari mobil dan juga ikut masuk ke dalam mobil.


Deru kendaraan membawa mereka jauh dari halaman kantor, Ana sesekali melirik Kana yang nampak diam dengan pandangan lurus ke depan.


Ana memilih untuk tidak bertanya walaupun hatinya meronta-ronta untuk meminta keterangan dari Kana. Ana kembali fokus menyetir mobilnya yang akan menuju kediaman Kana.


"Kamu sebenarnya kenapa sih?, tiga hari hilang kabar dan tiba-tiba bertemu konsimu seperti ini" ucap Ana menatap Kana sebelum kembali menatap jalan. Sementara orang yang di tanya sudah memasuki alam mimpi.


Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Ana, Ana bergerak mengeluarkan ponselnya dari tas dan menatap layar ponselnya sebelum pandangan kembali fokus ke jalan.


"Pas sekali dia menelfon" gumam Ana sambil memasang Earphone miliknya lalu menerima pangilan telefon.


📞"Halo sayang, lagi dimana?" ucap Arsenio setelah sambungan telefon terhubung.


📞"Lagi di jalan nih, mau ke rumah Kana" jawab Ana.


📞"Jadi ngak makan siang bersama?" tanya Arsenio.


📞"Maaf ya mas, sepertinya aku belum bisa, soalnya mau temanin Kana" ucap Ana.


📞"Kana sakit?"


📞"Ya sepertinya begitu" jawab Ana sambil melirik Kana.


📞"Ya udah kamu temani saja dia, tapi ingat jangan sampai lupa makan!"


📞"Iya sayang. Oh iya mas, nanti Alvis ke kantor boleh ngak?"


📞"Tentu saja boleh, kamu tenang aja, urusan Alvis biar aku yang urus. Kamu fokus aja dulu pada kesehatan Kana" ujar Arsenio.


📞"Terima kasih sayang" ucap Kana.


📞"Iya sama-sama"


📞"Ingat Alvisnya di jaga baik-baik!" ucap Ana.


📞"Iya sayang, Alvis akan aman bersamaku" Kata Arsenio.


📞"Oke mas aku tutup telefonnya, sampai bertemu di rumah"


📞"Ya"


Sambungan telefon terputus, Ana pun kembali fokus menyetir.


Disaat yang sama, tampak Arsenio menghubungi pak Surya dan juga pak Benito untuk mengantar Alvis ke kantor setelah pulang dari sekolah.


Tok... Tok


Suara ketukan pintu dari luar ruangan.


"Masuk!" ujar Arsenio sambil melihat ke arah pintu.


Rangga masuk dengan beberapa berkas di tangannya, sementara Arsenio yang melihatnya mengerutkan dahi binggung.


"Ini tuan, ada beberapa dokumen yang memerlukan tanda tangan tuan" ucap Rangga setelah sampai, meletakan beberapa dokumen yang dimaksudnya.


Arsenio menatapnya dengan tangan Kanan kembali meletakan ponselnya di atas meja.


"Bukankah kamu sedang cuti?" tanya Arsenio.


"Ya, tapi cutinya sudah selesai dan sudah waktunya saya kembali bekerja" sahut Rangga.


"Tapi cuti yang saya berikan dua minggu loh, bagaimana bisa selesai hanya dengan empat hari?" ucap Arsenio.


"Cutinya simpan nanti aja tuan, sekarang saya hanya ingin kembali bekerja" ucap Rangga.


Arsenio diam, terus menatap Rangga yang nampak mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sebuah map berwarna merah.


"Kana sakit, sekarang istriku lagi dalam perjalanan ke rumahnya" ucap Arsenio yang membuat Rangga menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearahnya.


"Kana sakit?, jadi ini alasannya dia tidak pernah mau menerima pangilan telefon dariku dan juga engan untuk bertemu denganku" batin Rangga.


"Oh, saya turut perhihatin. Semoga nona Kana secepatnya sembuh dari sakitnya" ucap Rangga berusaha terlihat tenang.


Namun rasa khawatir sulit di sembunyikan olehnya, Arsenio masih dapat melihat itu dari reaksi dan juga ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah saat mendengar kabar itu.


"Apakah dia tahu soal perasaanku pada Kana?" batin Rangga.


"Hmm saya tahu, bahkan saya melihat langsung bagaimana semangatnya kamu mengutarakan perasaanmu saat itu" ucap Arsenio seakan tahu apa yang ada di pikiran asistennya itu.


"Jadi... jadi tuan ada.. " ucap Rangga terbata-bata.


"Ya, aku ada di sana juga bersama istri dan anakku" kata Arsenio yang membuat Rangga semakin salah tingkah.


"Kamu ngak perlu malu, apalagi menyembunyikan hal ini pada kami. Kami justru mendukung hubungan kalian berdua" lanjut Arsenio.


Rangga diam dengan kepalanya sengaja di tundukan.


"Kenapa masih diam di sini?" tanya Arsenio yang membuat Rangga segera menatap kearahnya.


"Apa kamu ngak ingin melihat kondisinya?" lanjut Arsenio.


"Mau... Mau, saya mau tuan, itu pun jika diizinkan pergi" sahut Rangga.


Arsenio tersenyum "Sekarang aku punya teman yang sama bucinnya denganku" batin Arsenio.


"Pergilah, Kana lebih membutuhkanmu saat ini" ucap Arsenio.


"Terima kasih tuan, saya akan pergi sekarang" ucap Rangga dan berlalu pergi.


Selang beberapa menit, Arsenio kembali mendengar ketukan pintu dari luar.


"Siapa?" tanya Arsenio tanpa melihat ke arah pintu.


"Kami tuan" sahut pak Surya dari luar.


"Udah pak langsung masuk aja!" ujar sekertaris Arsenio yang juga ada bersama pak surya.


"Sebentar, nanti di persilakan masuk" sahut Pak Surya.


"Ya udah, kalau begitu saya kembali ke meja saya untuk melanjutkan pekerjaan" ujar sekertaris Arsenio.


"Iya sialakan" jawab pak Benito.


Sementara di dalam, Arsenio yang sangat mengenali suara itu langsung bergerak bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu untuk mereka.


"Daddy... " ucap Alvis setelah pintu berhasil terbuka.


"Uduh... Uduh anak daddy sudah selesai sekolahnya?" Arsenio duduk berjongkon, memeluk Alvis lalu kembali berdiri dengan posisi Alvis terus di peluknya.


"Sudah daddy, lihat ibu guru memeberikan bintang lima untuku" ucap Alvis sambil memperlihatkan gambaran miliknya.


"Wah, hebat anak daddy" ucap Arsenio sambil mencupit lembut hidung putranya.


Pandangan Arsenik beralih pada pak Surya dan juga pak Benito.


"Terima kasih sudah mau membawah anak saya kesini, kalian bisa kembali, dia biar saya yang akan menjaganya" ucap Arsenio.


"Baik tuan" sahut mereka bersama lalu berpamitan untuk kembali.


"Mba" pangil Arsenio kepada sekertarianya.


Sekertarisnya berjalan menghampirinya "Iya tuan" setelah sampai.


"Tolong jangan izinkan siapapun masuk ke ruangan saya!, kecuali istri saya"


"Baik tuan"


"Dan satu lagi, tolong pesankan makanan buat saya dan anak saya!"


"Baik tuan" ucap sekertarisnya lalu berpamitan kembali, sementara Arsenio dan Alvis bergerak masuk ke dalam ruangan.


15 menit kemudian makanan yang telah di pesan sekertarisnya pun datang dan tanpa menunggu lama lagi Arsenio dan Alvis segera menyantap makan siang mereka.


Sementara diluar tampak seseorang keluar dari lift, sekertaris Arsenio yang melihat itu segerah menghampirinya.


"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya setelah sampai.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Arsenio, dimanakah ruangannya?"


"Maaf pak, apakah bapak sudah membuat janji sebelumnya?"


Pria dengan setelan jas itu menatap tajam kearahnya "Kenapa saya harus membuat janji jika ingin bertemu dengannya?, apakah ini ruanganya?" ucap pria itu sembari menunjuk ruangan yang memang milik Arsenio.


"Iya pak, tapi sebelum bertemu harus buat janji terlebih dulu"


"Saya ngak peduli, pokoknya saya ingin bertemu dia sekarang!"


"Jangan pak!, pak!" cegah sekertaris Arsenio namun pria itu memaksa masuk.


Suara pintu terbuka membuat Arsenio dan Alvis melihat kearah pintu.


"Maaf tuan, saya sudah melarangnya untuk masuk namun... " Arsenio memberikan isyarat agar sekertarisnya berhenti berbicara dan kembali bekerja yang langsung di ikuti oleh sekertarisnya.


"Sayang, kamu disini dulu ya, dilanjutkan makannya. Daddy mau ke situ sebentar" ucap Arsenio pada putranya.


"Iya daddy"


Arsenio bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri pria yang memaksa untuk bertemu denganya.


"Mari sialakan duduk!" ucap Arsenio.


"Terima kasih"


Keduanya pun duduk di sofa yang berada tak jauh dari Alvis berada.


"Apakah anak kecil itu putramu?" tanya pria itu melihat ke arah Alvis.


Arsenio menatap Alvis sekilas sebelum kembali menatap pria itu.


"Langsung ke intinya saja, apa yang membuatmu datang mencariku?" Arsenio dengan mode serius.