
Sambungan telefon pun terputus, mobil yang membawa Ana kembali melaju meninggalkan mobil Ana begitu saja di pingir jalan.
Di saat yang bersamaan tampak Arsenio bangkit dari kursinya menatap Rangga yang berada di sofa sambil mengcek beberapa berkas.
"Kita berangkat sekarang!" ucap Arsenio.
Rangga yang mendengarnya pun menoleh kearahnya "Baik tuan" jawabnya lalu merapikan kertas yang masih berhamburan di atas meja.
Arsenio melangkah keluar lebih dulu dan langsung disusul oleh Rangga, mereka tampak memasuki lift dan lift akan membawan mereka rurun ke lantai bawah.
Selang beberapa menit pintu lift kembali tebuka, Arsenio melangkah keluar lebih dulu kemudian disusul oleh Rangga, beberapa karyawan yang melihat mereka pun sedikit menundukan kepalannya memberi hormat.
Namun seperti biasanya Arsenio tetap dengan sikap dinginnya tidak memperdulikan hal itu, berjalan menuju pintu keluar, setelah verada di luar Rangga bergegas membukakan pintu untuk tuannya, setelah itu dia tampak memutari mobil dan ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi.
Mobil melaju membawah mereka jauh dari halaman perusahaan dan akan menuju daerah B.
"Pastikan kita sampai disana istriku belum membawa pergi anakku!" ucap Arsenio menatap layar ponselnya.
Rangga melirik tuanya melalui kaca spion "Baik tuan" jawabnya.
Rangga dengan cepat mengeluarkan ponselnya, lalu menelfon seseorang. Setelah selesai Rangga kembali fokus menyetir.
Karena perjalanan dari perusahaan ke daetah B cukup jauh, Arsenio memutuskan untuk tidur sebentar sementara Rangga tampak fokus mengendarai mobil melewati ramainya jalan saat itu.
Rangga melirik benda kecil yang melingkar di tangan kirinya, dia telah menghabiskan waktu satu jam saat mengemudi. Perlahan mobilnya memasuki daerah B.
Rangga melirik tuannya yang berada di belakang "Setelah sampai saja baru di bangunin" pikir Rangga lalu kembali fokus menyetir.
"Mari lewat jalan pintas, dengan begitu kita akan secepatnya sampai di sana" gumam Rangga dalam hati.
Karena Rangga cukup mengenal daerah B tak perlu waktu lama mereka pun sampai, menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah yang memiliki 4 lantai.
Rangga mengerutkan dahi bingung saat menatap keluar dan tidak menemukan mobil Ana di sana "Aku tidak salah kan memberikan alamat pada nona Ana?" ucap Rangga kembali mengcek alamat yang dikirimkannya pada Ana.
"Alamatnya sudah benar, tapi kok nona Ana belum juga sampai apa nona masih dalam perjalanan?" Rangga menatap layar ponselnya.
Sementara di kursi tengah Arsenio tampak mengeliat "Apa kita sudah sampai?" tanya Arsenio dengan mata masih terpejam.
"Sudah tuan" jawab Rangga menoleh kebelakang.
"Tapi tuan..."
"Tapi apa?" Arsenio memperbaiki duduknya dan juga jasnya.
"Sepertinya nona Ana belum sampai" lanjut Rangga.
Arsenio mengangkat kepalanya menatap lurus Rangga "Kenapa bisa?, kau tidak memberikan alamat yang salah kan?"
"Saya sudah cek kembali alamat yang saya krimkan pada nona dan alamatnya sudah benar"
"Ngak mungkin kan dia tidak ingin menjemput Alvis?" pikir Arsenio.
"Ngapain masih diam?, cepat cek Alvis kali saja istriku telah membawahnya" ujar Arsenio yang membuat Rangga segera keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah untuk mengcek keberadaan Alvis, sementara Arsenio pun ikut keluat dan segera menyusul Rangga.
Arsenio melakah melewati satu persatu anak tangga, perasaannya mulai gelisah memikirkan keberadaan istrinya sekarang.
"Bagaiamana?" tanya Arsenio saat bertemu Rangga di atas.
"tuan muda masih ada di dalam, saya sudah bertanya pada sekuriti dan juga ibu yang menjaga tuan muda..."
"Lalu apa yang di katakan mereka?" tanya Arsenio sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya.
"Mereka berkata bahwa belum ada siapa-siapa yang datang ke sini selain kami tuan" sahut Rangga.
"Kau yakin mereka berkata seperti itu?" tanya Arsenio masik tak percaya.
"Iya tuan" sahut Rangga lagi.
Arsenio menyapu dengan kasar wajahnya mendengar jawaban Rangga. Mengeluarkan ponselnya lalu segera menelfon Ana.
Rangga yang melihat kepanikan tuanya pun segera berjalan memberi jaraj dan mengeluarkan ponselnya lalu menelfon seseorang.
"Ayo dong di anggkat!" ucap Arsenio meletakan ponselnya ke telinganya.
Arsenio terus mengubungi istrinya hingga beberapa kali, namun tidak ada juga jawaban.
Arsenio menoleh menatap Rangga "Bagaimana?, apa kau sudah menyuruh orang untuk melacak keberadaan istriku?" tanya Arsenio.
Rangga mengangguk "Sudah tuan, mereka memita waktu 15 menit untuk melacak keberadaan nona" sahut Rangga.
"15 menit?"
"Benar tuan" jawab Rangga dengan anggukan kepala.
"15 menit itu lama loh, kita harus mencarinya sekarang!"
"Baik tuan"
"Kamu tunggu sebentar!" ucap Arsenio bergegas masuk ke sebuah ruangan.
"Bu tolong jaga dengan baik anakku!. Dan jangan biarkan seseorang bertemu dengan anakku! " pinta Arsenio pada seorang wanita paru baya yang bertugas menjaga Alvis.
Baru saja Arsedio hendak keluar, langkahnya di tahan oleh Alvis.
"Uncle II" pangil Alvis.
Arsenio yang mendengarnya segera menoleh "Dimana mommyku?, kata mbo itu mommy menjemputku hari ini" ucap Alvis.
"Alvis rindu mommy, Alvis ingin bertemu mommy sekarang!, Alvis ngak mau tinggal di sini lagi maunya pulang ke rumah Oma" lanjut Alvis.
Arsenio yang mendengarnya segera duduk berjongkok di depan Alvis sambil menepuk lembut kepala putranya "My boy, kamu tunggu sebentar ya, uncle masih mencari mommy" ucap Arsenio.
"Memangnya mommy hilang?"
"Duh salah bicara!. Alvis ngak boleh tahu bahwa Ana belum juga sampai" pikir Arsenio.
Arsenio segera mengelengkan kepalanya "Tidak, mommy tidak hilang kok, kamu tunggu saja disini tuh di jaga oleh mbo. Uncle janji akan membawah mommymu di sini tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?" tanya Alvis antusias.
"Syaratnya..muda ko, Alvis cukup memanggil uncle dengan sebutan daddy" ucap Arsenio.
"Daddy?" Alvis mengerutkan dahi bingung.
"Ya Daddy, karena uncle ini adalah daddy Alvis" jelas Arsenio.
Alvis tampak berpikir dan pada akhirnya ia pun mengangguk setuju "Good boy"
Arsenio kembali berdiri, sebelumnya ia mengecup alis Alvis ya walaupun Alvis sempat menolaknya namun Arsenio berhasil memberi ciuman hangat pada putranya sebelum ia pergi.
Arsenio keluar dari ruangan tersebut lalu berjalan menuruni satu persatu anak tangga, sementara di luar Rangga telah berdiri di samping mobil siap untuk membukakan pintu buat tuannya.
Setelah Arsenio sampai, ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Rangga, mobil yang di kendarai Rangga melaju melewati jalan yang seharusnya dilewatinya saat mau pergi tadi.
Rangga tampak sesekali melihat layar ponselnya berharap orang-orang suruhanya sudah berhasil melacak keberadaan nona Ana.
"Apa mereka belum juga berhasil melacak keberadaan istriku?" Arsenio menatap Rangga.
"Belum tuan" sahut Rangga bersamaan dengan suara notifikasi masuk hal itu membuat Rangga segera mengecek pesan tersebut.
"Sudah tuan, mereka telah berhasil melacak keberadaan nona" ucap Rangga yang masih menatap layar ponselnya.
"Terus dimana keberadaan istriku sekarang?"
Rangga memberhentikan mobil sejenak, melihat baik-baik alamat yang di berikan orang-orang suruhannya "Nona anak berada di jalan x" sahut Rangga.
"Bukankah jalan itu berada tak jauh dari sini?"
"Benar tuan"
"Cepat kita menyusulnya sekarang!"
"Baik tuan" Rangga meletakan ponselnya lalu kembali menyalakan mesin mobil dan mobil kembali melaju.
"Semoga istriku baik-baik saja " pikir Arsenio.
"Rangga percepat mobilnya!" pinta Arsenio.
"Baik tuan" Rangga kembali menambah kecepatan mobilnya.
Karena jaraknya cukup dekat, mereka hanya memerlukan waktu 10 menit untuk sampai di jalan x.
Dari kejauhan tatapan Rangga terfokus pada sebuah mobil yang parkir di depan mereka posisi mobilnya berlawanan arah dengan mereka.
Rangga mengerutkan dahi binggung "Mobil itu, bukankah mobil itu milik nona Ana?" pikir Rangga yang terus memperhatikan mobil yang semakin lama semakin jelas terlihat.
"Tuan, coba tuan lihat mobil di depan sana!, bukankah itu mobil nona?" ucap Rangga.
Mendengar itu Arsenio segera menutunkan kaca mobilnya lalu melihat keluar, seketika ia pun membulatkan matanya "Benar itu mobil istriku" ucap Arsenio yang juga mengenali mobil itu.
Rangga yang mendengarnya segera manambah kecepatan mobil dan berhenti tepat di samping mobil Ana.
Keduanya secara bersamaan turun dari mobil berlari menghampiri mobil Ana.
"Sayang.... kamu apa kamu didalam?" Arsenio mengetuk kaca jendela mobil.
Rangga dan Arsenio saling melempar pandangan saat tidak ada jawaban dari dalam.
Keduanya sama-sama mengagguk lalu bersamaan mereka membuka pintu mobil.
Deg
Arsenio terkejut saat tidak mendapat siapa-siapa di dalam mobil, mobil tampak kosong hanya terdapat ponsel milik Ana dan juga tasnya.
Rangga mengambil tas Ana lalu memberikan pada Arsenio untuk memeriksanya.
"Bagaimana tuan?, apakah semuanya lengkap?" tanya Rangga.
"Atm, ktp, sim dan uang, sepertinya semuanya lengkap" sahut Arsenio dengan tatapan masih tertuju pada tas kecil milik istrinya.
"Melihat semua barang-barang nona lengkap, sepertinya nona tidak di rampok!, tapi nona Ana yang di culik" ucap Rangga yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arsenio.