My Love Story

My Love Story
Chaptb| 037



Sehingga, tangan Magie yang melayanghendak menamparku berhasil ditangkis oleh Akira. Pipi kiriku pun selamat dari tamparan Magic.


"Apa-apaan kalian ini? Seperti anak kecil saja! Sudah kubilang, tidak pantas membuat keributan di rumah sakit! Kak Hajime butuh doa dan dukungan kita semua untuk


melewati masa-masa kritis, bukan malah ribut begini!"


Aku dan Magie sama-sama terdiam. Tak dapat kupung kiri dadaku mulai terbakar, hatiku hancur, dan jantungku terasa tersulut. Bagiku, Magie terlalu pongah dengan posisinya saat ini, ia terlalu memandang sebelah mata gadis sepertiku. Jika pun benar dia adalah calon istri untuk Hajime, tak perlu dia terlalu memamerkan di hadapanku. Karena, aku sendiri memiliki rasa mengasihi kepada Hajime. Satu yang perlu dicatat, aku tidak pernah memulai untuk suka kepada Hajime, namun Hajimelah yang memulai semuanya. Hajimelah yang datang kepadaku dan menyalakan lampu hijau, bukan diriku.


"Kak Ran, sebaiknya kita pergi," ujar Akira, seraya merangkul pundakku. Aku mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk, kupadamkan sinar mata kebencian untuk Magie. Kulihat Magie masih pongah dengan tatapan iblisnya padaku. "Aku tidak mau kita ribut di hadapan orang sakit.


Saat ini, Kak Hajime sedang berjuang melawan maut, rasa rasanya tidak pantas jika kita bertikai di hadapannya. Ayo! Kita pergi saja dari sini, Kak Ran!"


Tanpa banyak kata sebagai bentuk keberatan, aku menyambut lengan Akira yang berusaha merangkulku dengan menyusupkan kepala dan wajahku ke dada Akira. Selantasnya, Akira melangkah pergi. Dan seperti pemain sepak bola yang timnya menderita kekalahan telak, aku berjalan dipapah oleh Akira. saja ayah dan ibu kami melihat keromantisan ini, tentulah mereka berdua bangga kepada kami, karena tidak jarang aku dan Akira berselisih.


"Kalau kau mencintai Hajime, sebaiknya kubur mim pimu untuk bisa hidup bersama dengan dia!" pekik Magie, mengiringi kepergianku dan Akira. Dengan penuh kelem butan, Akira meremas pundak kananku. Kutahu maksud Akira adalah agar aku tidak usah melayani Magie lagi "Kau harus tahu, aku dan Hajime adalah sepasang kekasih, dan kami akan menikah!"


Hati ini perih mendengar seruan Magie, dadaku terasa panas terbakar. Sambil berjalan dengan menunduk, kubela napas panjang memenuhi paru-paru Sentuhan lembut Akira di lengan kananku berhasil memberi sedikit ketenangan, dan akhirnya aku harus percaya bahwa keluarga adalah lambang kasih sayang yang tulus.


Ada ada saja cerita zaman sekarang Dari sebuah surat kabar, aku pernah mende ngar berita tentang seorang anak laki-laki usia 14 tahun yang nekat melompat dari sebuah gedung apartemen setelah mengetahui karakter Itachi Uchida dalam anime Naruto diceritakan tewas dalam cerita fiktif tersebut. Aneh. Bisa-bisanya cerita fiktif berdampak besar terhadap hidup seseorang?


Beda lagi dengan cerita seorang pelajar di Maedakita Junior High School, Sapporo, yang nekat bunuh diri setelah dirinya jadi korban bullying oleh kakak kelasnya.


Rasa malu dan batin yang sangat tertekan mengantar pelajar itu ke sebuah apartemen di Teine-ku. Dan, keputusan untuk mengakhiri hidup dengan cara melompat dari lantai sembilan apartemen akhirnya terjadi juga Pelajar itu pun tewas mengenaskan dengan batok kepala pecah. Mengenaskan!


Kumohon jangan bilang siapa-siapa, apalagi Akira da kedua orang tuaku. Saat ini, aku berada di lantai sembilan sebuah apartemen di kota Tokyo. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan helaian rambut di sekitar leher dan jidatku, hingga helaiannya tercecah di seputar wajah Kubuka masker bedah penutup wajah, dan seketika itu kurasakan angin menyusup ke lubang hidungku. Wangi bunga sakura yang dibawa terbang oleh angin musim semi sempat membuatku teringat sebuah musim di mana hari hari yang kulalui adalah hari-hari penuh kasih sayang. Saat itu, Kamasaki masih berada di negeri ini, dan kami adalah sepasang kekasih


Memandang ke bawah, melihat orang-orang yang serupa semut kecil sedang berlalu-lalang memenuhi sejuta agenda, aku merasa sangat kerdil. Siapalah aku di negeri sakura ini? Tidak lebih, aku adalah gadis patah hati yang mulai merasakan kejenuhan bermain asmara.


Yang berembus. Sama sekali tidak ada yang menarik dari Hajime atau Kamazaki saat ini. Tidak lebih mereka adalah pria sok tampan yang gemar menyakiti hati lembut seorang wanita. Kurang ajar memang!


Berdiri di atas gedung apartemen tinggi begini, aku teringat sebuah film anime berjudul "My Neighbor Totoro", sebuah film yang berkisah tentang dua gadis kakak beradik di suatu pedesaan Jepang bersama dengan makhluk makhluk ajaib. Banyak yang percaya, bahwa Totoro adalah Dewa Kematian. Totoro ini bisa dilihat oleh orang-orang yang sudah atau akan meninggal.


Karena setting cerita film "My Negihbor Totoro" berada di Sayama, akan tidak lengkap jika tidak kukaitkan dengan cerita "Insiden Sayama". Konon, dua kakak beradik pernah ada yang meninggal secara tragis di tempat ini. Sang kakak lebih dulu meninggal, kemudian si adik depresi dan nekat bunuh diri dengan cara melompat dari gedung. Konon, sebelum bunuh diri, si adik melihat penampakan seekor kucing hitam. Hal ini sangat sesuai dengan cerita "My Neighbor Totoro", yang menggambarkan Totoro dengan wujud menyerupai seekor kucing


Percaya atau tidak, aku seperti sedang mengalami sendiri peristiwa bunuh dirinya si adik yang depresi ditinggal sang kakak. Kini, seorang diri aku berdiri di puncak gedung dan siap melompat kapan saja. Teringat Kamazaki dan Hajime, rasanya aku ingin lekas-lekas terjun dari gedung ini, mungkin itu lebih baik.


Cerita bocah bunuh diri ditinggal tokoh fiktif dalam film Naruto, cerita bunuh diri bocah yang mengalami bully di sekolah, hingga cerita tentang Totoro sebagai Dewa Kematian, akan kembali dikait-kaitkan oleh seseorang kelak, jika aku memutuskan diri untuk lompat bunuh diri dari gedung ini.


Tapi, Tuhan, haruskah aku yang menjadi giliran beri kutnya? Haruskah aku mati bunuh diri karena ditinggal kekasih?


Melalui film anime "My Neighbor Totoro", kini banyak orang percaya bahwa Totoro adalah Dewa Kematian yang sering kali menjelma berupa kucing atau kelinci hitam. Percaya atau tidak, kini aku benar-benar melihat sosok kucing hitam sedang berjalan hati-hati di tepian gedung. Kematian itu serasa sangat dekat denganku. Kuusap tengkuk dengan telapak tangan kanan, kurasakan bulu-bulu roma mulai berdiri. Kubayangkan kehidupan setelah mati, kugambar pada kanvas langit yang bening. Jika kuputuskan untuk mengakhiri hidup, apakah kelak aku bisa bertemu


Dengan Kamazaki atau Hajime di surga? Jika tidak, maka percuma saja aku mati!


Tapi, untuk apa juga aku hidup? Sementara orang orang yang kucintai seperti Kamazaki dan Hajime, terlalu tega menyakiti hatiku. Tanpa kabar, tanpa cerita, Kamazaki menghilang bagai ditelan bumi setelah hijrah ke Manchester. Bahkan, apakah dia masih hidup ataukah sudah mati, aku saja tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar kabar apa pun tentang dirinya.


Dan percaya atau tidak, kini seekor kucing hitam tadi justru berjalan menuju ke arahku. Dengan tatapan mata yang tajam, kucing hitam itu menghunjam anak mataku. Kusentuh lagi tengkuk belakang, terasa semakin merinding saja bulu-bulu roma. Kubayangkan surga ada di depan mataku. Jika aku mati, mati terjun bunuh diri dari gedung ini, ingin jiwaku membumbung ke angkasa bersama wangi bunga sakura, menuju puncak keabadian. Barangkali, di sanalah kutemukan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada lagi cerita laki-laki tanpa kabar seperti Kamazaki, atau laki-laki sok romantis yang ternyata telah bertunangan dengan gadis lain seperti Hajime.


"Hajime, kau juga sama saja," desisku putus asa. "Aku kira kau bisa menggantikan Kamazaki di hidupku. Aku-


_____________________________________


Bersambung~