
Waktu seakan berlalu dengan cepat, dari sudut sebuah ruangan yang tertata rapi tampak sebuah jam dinding yang telah menunjukan pukul 16.00.
Arsenio yang melihat itu segera meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Rangga.
"Sekalian jemput sahabat istriku"
Begitu kiranya pesan yang di krimkan pada asistenya itu.
Di luar tampak Ana berjalan kesana-kemari mencari keberadaan suaminya, hingga ia bertemu salah satu Art dan memutuskan untuk bertanya kepadanya.
"Bu" pangil Ana.
Art berjalan menghampirinya "Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan kepala sedikit di tundukan.
"Ibu lihat suami saya ngak?" tanya Ana.
"Lihat nona" sahut Art.
"Dimana?" tanya Ana lagi.
"Tadi saya lihat tuan masuk ke ruangan kerjanya" jawab Art.
"Duh, dimana lagi letak ruang kerjanya itu?" gumam Ana dalam hati sambil berusaha mengingat letak ruanganya.
Ana mendengus kesal setelah beberapa detik mencoba mengingatnya namun hanya ruanganya saja yang dapat di ingatnya. Untuk jalan menuju kesana ia tidak dapat mengingatnya.
"Maaf bu, bisa tolong antarkan saya kesana?, soalnya saya sudah tidak mengingat di mana letak ruang kerja suami saya" ujar Ana pada Art.
"Bisa nona, mari.. " sahut Art lalu berjalan lebih dulu dan di susul oleh Ana dari belakang.
"Ngapain coba beli rumah sebesar ini?, buat susah saja" gerutu Ana dalam hati.
Setelah cukup lama berjalan dan melewati berbagai ruangan-ruangan lainnya yang entah apa fungsingnya Ana pun tak tahu, mereka pun akhirnya sampai.
Art berhenti di depan sebuah ruangan dan segera menoleh menatap Ana.
"Kita sudah sampai nona, disini ruangannya" ucap Art sambil menunjuk ruangan yang ada di depannya.
"Baik terima kasih bu" ucap Ana sambil tersenyum.
"Sama-sama nona, kalau sudah tidak ada lagi saya pamit pergi ingin melanjutkan pekerjaan" kata Art.
"Ya silakan" ujar Ana.
Art pun berjalan pergi sementara Ana masih berdiri dan melihatnya samapai Art itu menghilang dari pandangannya.
Ana kembali menoleh ke belakang melihar jalan yang telah di lewatinya tadi bersama Art.
"Aku membutukan beberapa hari untuk menghafal semua letak ruangan-ruangan ini" ucapnya.
Ana berjalan mendekati ruangan tersebut lalu mengetuk pintunya.
Tok... Tok..
"Masuk!" sahut Arsenio dari dalam.
Ana yang mendengarnya pun menghela nafas
"Akhirnya aku menemukanmu" ucap Ana.
Sementara di dalam ruangan tampak Arsenio mengerutkan dahi bingung karena belum juga ada orang yang masuk.
Ana meraih daun pintu, lalu memutarnya. Perlahan pintu terbuka menampakan hampir sebagian ruangan. Ana pun melangkah masuk tak lupa kembali pintunya.
"Sayang?" ucap Arsenio bangkit dari duduknya.
Arsenio berjalan menghampiri istrinya "Kenapa ngak langsung masuk saja?" tanya Arsenio setelah sampai.
"Dimana-mana orang masuk di ruangan itu harus ketuk pintu dulu" ucap Ana.
"Kenapa?, kamu kan istriku. Bahkan kamu bebas masuk ke semua ruangan yang ada di rumah ini" ucap Arsenio.
"Tau ah, terserah mas saja. Aku lagi malas berdebat" ucap Ana cemberut.
Arsenio yang melihat itu pun tersenyum, meletakan kedua tanganya ke bahu istrinya.
"Ada apa sayang?, belum juga beberapa jam aku meninggalkanmu kamu sudah merindukanku" ucap Arsenio.
Ana yang mendengarnya pun segera menurunkan kedua tangan suaminya dari bahunya "Jangan mengada-ngada, siapa juga yang merindukanmu?. Sepertinya kebalik, seharusnya aku yang mengatakan itu pada mas" ucpa Ana.
"Udah, ngak usah malu-malu!. Kalau rindu ya tinggal bilang aja, gitu saja ko susah" ucap Arsenio masih mode mengoda istrinya.
"Mana ada aku rindu, ngak ada kali di kamus seorang Larissa Putri Hana merindukan seseorang, biar cari sampai bolak-balik pun pasti tidak akan di temukan" ucap Ana.
"Aku tuh datang kesini hanya ingin bertanya, kapan kita akan pulang?, bukan karena rindu" lanjut Ana.
Arsenio yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya.
"Pulang?, memangnya kamu mau pulang kemana?. Ini kan rumahmu, rumah kita" ucap Arsenio.
"Ya aku tahu, ini rumah kita. Tapi bukankah kita kesini hanya untuk melihat-lihat bukan untuk pindah kan?" ujar Ana.
Arsenio yang mendengarnya pun berjalan mendekati istrinya.
"Siapa bilang?, kita ke sini itu bukan semata-mata hanya untuk melihat-lihat. Kita ke sini itu untuk tinggal" ucap Arsenio.
"Ha?, serius mas?" Tanya Ana tak percaya.
"Tatap wajahku!, memangnya ada tampang-tampang ngak serius?" Ana mengelengkan kepalanya "Ngak ada" sahutnya.
"Nah itu artinya, kita kesini itu untuk tinggal bukan semata-mata hanya melihat-lihat saja" ucap Arsenio.
"Tapi kan mas, aku belum memberitahukan soal ini sama mama, bahkan kita tidak membawah baju selembar pun"
"Bagaimana kalau mama marah?, karena belum memberitahukan hal ini padanya, aku ngak mau loh membuat mama marah lagi sama aku" lanjut Ana dengan raut wajah khawtir bercampur takut.
Arsenio yang melihat itu pun segera menarik tangan istrinya dan membawahnya ke dalam pelukannya.
"Tenang sayang, kamu tidak perlu khawatir soal itu" ucap Arsenio sambil membelai rambut Ana yang sengaja di biarkan terurai begitu saja.
Ana yang mendengarnya pun menegadah menatap suaminya.
"Bagaimana aku bisa tenang mas?, mas tahu?, aku sangat takut membuat ibu marah" ucap Ana.
Arsenio melepaskan pelukanya, kedua tanganya memegang bahu istrinya.
"Kamu tenang dulu, terus dengarkan aku!" ucap Arsenio.
Mendengar itu, Ana pun diam dan saja menatap suaminya saja.
"Aku sudah memeberitahukan mama, aku juga sudah mendapat izin darinya. Maka dari itu aku berani membawahmu dikesini" jelas Arsenio lalu sedikit menjeda ucapannya.
"Maaf karena tidak memberitahukanmu lebih dulu, aku hanya ingin memberi kejutan kecil-kecilan kepada istriku. Jika aku memberitahumu bukan kejutan dong namannya" lanjut Arsenio.
"Kapan mas memberitahu ibu?, ko aku ngak tahu?" ucap Ana yang kini terlihat lebih tenang.
Arsenio melepaskan tanganya dari bahu istrinya lalu berjalan mengelilingin istrinya.
"Semalam" sahut Arsenio.
"Setelah kamu tertidur, aku memutuskan untuk menemui mama. Aku memberitahukan semua keinginanku termasuk mepertahankan pernikahan kita"
"Awalnya sih mama ngak setuju namun aku ngak menyerah. Aku terus meyakinkan mama, aku juga memberitahukan soal rumah ini yang telah aku beli buat kamu dan juga Alvis"
"Hingga akhirnya, sampai dimana mama percaya sama aku dan memberikan satu kesempatan lagi buatku untuk memperbaiki rumah tangga kita, dan juga mengizinkan aku membawahmu tinggal di sini, di rumah kita" jelas Arsenio panjang lebar.
Arsenoi berhenti berjalan tepat di depan istrinya "Dan soal baju, kamu tidak perlu khawatir. Aku telah menyiapkan semuanya, kalau ngak percaya silakan saja lihat di lemari di kamar kita" lanjut Arsenio.
"Benaran nih apa yang mas ucapakan barusan?, mas ngak sedang membohongiku kan?" tanya Ana.
Arsenio melangkah lebih dekat, menatap lekat wajah istrinya dan meraih kedua tanganya.
"Aku selalu serius dengan apa yang keluar dari mulutku" ucap Arsenio menjeda ucapannya.
"Larissa Putri Hana, maukah kau memaafkanku, memberiku kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita, beri aku kesempatan membahagiakanmu, menjagamu, mencintaimu, menyayangimu hingga mau yang memisahkan kita?" ucap Arsenio serius.
Ana tampak diam, kedua sudut matanya kini sudah menganak suangai dan pada akhirnya air matanya jatuh membasahi pipinya.
Arsenio yang melihat itu pun terkejut, dan segera menghampus air matanya.
"Kamu kenapa sayang?, apa ada kata-kataku yang melukai hatimu?. Jika ada tolong maafkan aku" ucap Arsenio, sangat jelas terlihat rasa khawatir dari raut wajahnya.
Ana tersenyum sambil mengelengkan kepalanya "Aku ngak apa-apa mas, aku memaafkanmu mas dan mau memulai semuanya dari awal" ucap Ana.
Arsenio membulatkan matanya "Aku ngak salah dengar kan sayang?, tolong katakan padaku kalau aku ngak salah mendengarnya!" ucap Arsenio masih tak percaya.
Ana tersenyum "Kamu tidak salah mendengarnya ko mas" ucap Ana.
Arsenio yang mendengarnya pun langsung menarik Ana dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku sangat mencintaimu" ucap Arsenio dengan mata berbinar-binar.